Friday, 20 April 2012

DUTCH CREATIVITY

Ketika di bangku sekolah dasar, guru Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) saya mengatakan bahwa Belanda adalah satu-satunya negara di dunia ini yang mayoritas tanahnya berada di bawah permukaan laut. Pertanyaan saya waktu itu adalah, bagaimana mungkin mereka bisa bertahan hidup dan tidak tenggelam? Jawabannya adalah KREATIVITAS. Kreativitaslah yang membuat mereka akhirnya membangun  konstruksi tanggul. Afsluitdjik adalah konstruksi tanggul yang paling terkenal di Belanda dengan panjang 32 km dan lebar 90 meter. Sebuah tanggul yang  menjadi bukti bahwa alam pun bisa menjadi sahabat manusia apabila dikelola dengan benar dan efektif. Hal ini dibuktikan oleh anak bangsa Belanda dimana dengan adanya tanggul ini, Belanda akhirnya bisa terhindar dari banjir atau bahkan tidak tenggelam.


Tanggul Afsluitdjik ini resmi selesai dibangun pada tahun 1933, dimana tekhnologi belum berkembang seperti sekarang ini. Pertanyaan selanjutnya adalah bagaimana mereka membangun tanggul dengan begitu kuat dan bersentuhan langsung dengan alam yaitu air laut tanpa menimbulkan masalah baru? Jawabannya lagi-lagi adalah dengan KREATIVITAS!

Adalah H. A. Lorentz yang menjadi perintis pembangunan tanggul ini. Sebuah mahakarya yang sangat luar biasa sebelum dia meninggalkan dunia ini di tahun 1928. Zimmer dan Scarborough (2005) mengatakan orang yang kreatif itu adalah orang yang peka terhadap lingkungan dan perasaan orang-orang di sekitarnya. H. A Lorentz adalah orang kreatif terbukti dengan dirintisnya pembangunan tanggul ini. Oleh karena itu dapat disimpulkan bahwa H. A. Lorentz pasti memiliki karakter yang peka terhadap lingkungan dan orang - orang di sekitarnya.

Apa hubungan dari semua ini?

Mari kita mulai dengan fakta yang ada. Ada begitu banyak karya-karya kreativitas yang dihasilkan oleh anak-anak bangsa Belanda. Acara-acara show yang akhirnya mendunia seperti Big Brother, 1 VS 100, Deal or No Deal, dan The Voice. Seniman klasik Vincent van Gogh, duo desainer Victor & Rolf dan tanggul Asfluitdjik ini tentunya serta masih banyak lagi.

Berdasarkan teori yang dikemukakan oleh Zimmer dan Scarborough (2005) bahwa salah satu ciri orang yang kreatif itu adalah peka terhadap lingkungan dan orang-orang di sekitarnya. Hal ini dapat dilihat dari hasil kreatifitas mereka yang bersahabat dengan lingkungan maupun orang - orang disekitarnya, seperti yang dilakukan oleh anak-anak bangsa Belanda di atas.

Jadi, sekarang telah jelas terlihat bahwasannya, kreativitas itu ada kaitannya dengan karakter manusia yang ada di bangsa itu. Karakter yang seperti apakah? Karakter yang  peka terhadap lingkungan maupun orang lain. Hal ini membuat saya semakin kepo (istilah bagi anak-anak di Jakarta yang ingin tahu sesuatu dengan kuantitas tinggi) untuk mengetahui pola asuh seperti apa yang diberikan oleh para orang tua di sana dalam mendidik anak-anak mereka sehingga bisa menghasilkan anak yang sangat kreatif. Selain pola asuh, saya juga ingin mengetahui bagaimana proses kreatifitas itu bisa tumbuh dan berkembang sangat baik di sana.

Karena saya yakin, Indonesia juga memiliki banyak potensi yang bisa dikembangkan dan ditingkatkan, salah satunya adalah KREATIVITAS. Mengapa bangsaku sampai sekarang belum bisa sekreatif Belanda? Menurut saya karena manusia-manusia di negaraku belum memiliki  kepekaan terhadap lingkungan dan orang - orang di sekitarnya. Padahal, apabila diobservasi lebih lanjut, terkadang kreativitas itu akan muncul di saat adanya problema yang sangat tersesak untuk diselesaikan. Seperti masalah yang terjadi di Belanda yaitu keadaan geologis yang tidak mendukung. Akan tetapi hal ini sepertinya tidak berlaku di Indonesia. Negaraku yang memiliki banyak masalah yang mendesak untuk dicari penyelesaiannya, tapi KREATIVITAS belum juga muncul. Mengapa?

Jawabannya adalah karena manusianya. Adalah hal yang tepat untuk mencontoh pola asuh dan proses KREATIVITAS itu lahir. Dan menurut saya, disinilah kunci dari keberhasilan Belanda.


Refrensi :
http://www.lorentz.leidenuniv.nl/history/zuiderzee/zuiderzee.html

4 comments:

Listra Mindo Lubis said...

saya diikuti juga ya kanda... kita berbagi lewat blog juga,,, :)

Listra Mindo Lubis said...

kenapalah kita selalu dibayang bayangi Belanda ya ?

Langsa Informatika BOOK STORE said...

interesting! kurang lebih saya juga berpikir hal yang sama, mengapa indonesia yang nyatanya lebih banyak persoalan mendesak tapi toh tidak merasa "terdesak" untuk melakukan "sesuatu" seperti kata Syahrini. Hahah... Apakah perlu kita mengganti makan singkong dengan keju, dan tak perlu sungkan mengadopsi wooden clogs menggantikan batik? Ah, indonesia rayaku... :)

ohya, apakah tulisan ini sudah diiukutsertakan dalam lomba tulis tentang kreatifitas belanda? kalau belum, silahkan lihat info detilnya di link ini: http://www.nesoindonesia.or.id/indonesian-students/kompetiblog-2012

Langsa Informatika BOOK STORE said...

interesting! kurang lebih saya juga berpikir hal yang sama, mengapa indonesia yang nyatanya lebih banyak persoalan mendesak tapi toh tidak merasa "terdesak" untuk melakukan "sesuatu" seperti kata Syahrini. Hahah... Apakah perlu kita mengganti makan singkong dengan keju, dan tak perlu sungkan mengadopsi wooden clogs menggantikan batik? Ah, indonesia rayaku... :)

ohya, apakah tulisan ini sudah diiukutsertakan dalam lomba tulis tentang kreatifitas belanda? kalau belum, silahkan lihat info detilnya di link ini: http://www.nesoindonesia.or.id/indonesian-students/kompetiblog-2012