Sunday, 8 July 2012

dia dan aku

Dia seorang pemalu adalah salah satu karakternya yang pertama kali aku sadari. Karena itulah tidak banyak yang menyadari keberadaannya  di kampung kami yang sangat kecil ini. Walaupun sudah menjadi kebiasaan, bahwa hidup di kampung itu seharusnya saling mengenal satu sama lain, dengan sedikit penyesalan aku katakan bahwa sepertinya hal ini tidak berlaku bagi dia.

Namanya Bernad.

Kami berasal dari latar belakang yang berbeda. Kalau dia memiliki kakek dan nenek yang kaya raya di kampung, aku adalah sebaliknya. Kalau dia memiliki ayah dan ibu yang berpendidikan, aku masih tetap berada di posisi yang berlawanan. Kalau dia adalah cucu dari pemilik tanah di kampung ini, aku adalah cucu pendatang. Keluargaku dari ayahku berasal dari desa Aek Rihit Pulau Samosir dan ibuku dari desa Sigual, Dolok Sanggul.

Aku mengenalnya di bangku Sekolah Dasar kelas tiga SD. Saat itu, dia menjadi murid baru di kelasku dan kebenaran sekali dia satu kampung denganku. Dimana, sebelum dia kembali ke kampung halamannya, dia menghabiskan waktu di Kabupaten yang lain  karena pekerjaan orang tuanya. Dan sekarang, orang tuanya lebih tepatnya ibunya dipindahtugaskan ke Kabupaten tempat kami bertemu yang adalah kampung halaman dia berasal. 

Sejak pertama kali bertemu Bernad di bangku Sekolah Dasar, tentu saja kami  menjadi teman. Adalah Dollar, Mala, dan Syeba tempatku untuk menghabiskan masa kecilku sebelum dia datang. Hal ini lebih dikarenakan kami memiliki usia yang sama dan menyelesaikan sekolah dasar di tempat yang sama. Bedanya, Dollar dan Mala berada  di kelas A, sementara Syeba, aku serta Bernad  berada di kelas B.

Masa sekolah dasar kami lalui hanya dengan saling tahu dan sesekali saling bertegur sapa. Walaupun kami dari kampung yang sama, kami berlima jarang berangkat maupun pulang bersama-sama ke sekolah. Hal ini bukan berarti indikasi bahwa hubungan kami tidak baik, lho! Melainkan kami berlima memiliki cara masing-masing dalam menghabiskan masa sekolah dasar kami. 

Aku dan Syeba cukup dekat, akan tetapi hubungan ini hanya bertahan sampai di tahun pertama kami SLTP. Demikian halnya dengan Mala, hanya bertahan sampai di tahun akhir SD. Sementara dengan Dollar sedikit lebih lama, bertahan sampai di bangku SMA. Lalu bagaimana hubunganku dengan Bernad?

Selama masa sekolah dasar, hubungan kami biasa saja. Seperti yang telah aku katakan di awal, Bernad sangat pemalu dan lebih banyak menghabiskan waktu di rumahnya oleh karena itu aku nyaris tidak memiliki waktu yang banyak untuk bermain-main dengannya di kampung. Sementara di sekolah, perhatianku lebih banyak tersita ke hal-hal yang lain kecuali dia. Aku sibuk di OSIS SD dan aktif di berbagai event sekolah.

Di masa SLTP, Bernad, Dollar, dan aku banyak menghabiskan waktu bersama. Kami sering pulang sekolah bersama-sama dengan jalan kaki. Di tahun kedua SLTP, Dollar pindah sekolah ke Kabupaten yang berbeda dengan kami. Dia tinggal dengan kakeknya. Sehingga, dalam beberapa kali kesempatan, akhirnya tinggallah aku dan Bernad. Akan tetapi itu hanya bertahan sampai di tahun kedua kami. Perhatianku kembali tersita  setelah aku aktif di OSIS SLTP. Walaupun demikian, hubunganku dengan Bernad dan Dollar masih tetap seimbang. Mungkin inilah salah satu kelebihan bergaul dengan laki-laki, tidak terlalu banyak keluhan ketika pada akhirnya mereka bukan menjadi prioritas dalam pergaulan kita.

Di SMA, Dollar kembali ke Kabupaten dimana kami sekolah yang adalah kampung halaman mereka. Akan tetapi, dia tidak satu sekolah dengan kami. Syeba, Mala, Bernad, dan aku menghabiskan waktu SMA di tempat yang sama. Akan tetapi, pertemanan di antara kami, maksudku di antara aku dan Syeba dan Mala tidak pernah sama lagi. Kami telah memiliki cara yang berbeda dalam memandang sebuah pertemanan sehingga kami bukan lagi potongan puzzle yang tepat untuk gambar yang sama. 

Aku memiliki cara yang unik dalam menghabiskan masa SMA  dengan Bernad dan Dollar. Aku tidak satu sekolah dengan Dollar, akan tetapi kami sering berdiskusi bersama-sama dalam pengerjaan tugas-tugas sekolah. Sementara dengan Bernad, aku menghabiskan waktu tiga tahun di sekolah yang sama, akan tetapi sepertinya tidak sekalipun kami melakukan dialog di sekolah. Padahal, aku sering sekali meminjam buku-bukunya. For your information, selama aku sekolah, aku tidak pernah membeli buku bacaan. Aku selalu meminjam buku Bernad. Ketika SMP, transaksi ini sering sekali terjadi di sekolah tetapi tidak menutup kemungkinan aku yang datang ke rumah Bernad (karena masih satu kampung). Sementara, setelah SMA,  transaksi ini hanya dilakukan di kampung. Kami sama sekali tidak pernah melakukan transaksi di sekolah.

Tamat SMA, hubunganku dengan Dollar pudar sudah. Apa yang terjadi di antara aku, Syeba, dan Mala terjadi juga dengan Dollar. Pilihan hidup kami membuat kami menemukan potongan puzzle masing-masing. Dan Dollar sekarang telah menikah, hidup bahagia dengan istrinya di Pulau Berneo. Lalu bagaimana hubunganku dengan Bernad?

Aku dan Bernad sama-sama kuliah di Pulau Jawa, akan tetapi beda provinsi. Walaupun demikian, komunikasi diantara kami masih tetap terkontrol dengan seimbang walaupun itu awalnya hanya karena alasan kesopanan (teman satu kampung!)
Hubungan kami semakin intens ketika kami telah memperoleh gelar sarjana. Dan semakin intens lagi karena kami  mengumpulkan "mobil jaguar" di kota yang sama.

Dan disinilah kami sekarang, merangkai potongan-potongan puzzle potret masa depan kami bersama-sama, hingga Tuhan memberikan restu.

No comments: