Wednesday, 18 July 2012

KITA atau KAMI

 


Hari ini saya mengikuti acara bedah buku di kampus BINUS University dalam rangka ulang tahun jurusan Psikologi BINUS University yang kelima. Pertama kali membaca undangan ini, saya langsung tertarik karena Papua adalah tempat yang ingin saya kunjungi sejak saya masih di bangku SMA. Bukan hanya karena disana ada pantai yang sangat bagus (Raja Empat) akan tetapi lebih dikarenakan alasan kemanusiaan. Dulu, saya pernah bercita-cita menjadi misionaris ke sana (gini-gini saya orangnya memiliki empati yang luar biasa juga lho untuk sesama, yang mau muntah, muntahlah pada tematnya ya, dimana tempatnya itu yang jelas bukan di saya atau di sekitar saya, hehehe).

Kembali ke bedah buku ini. Saya sangat tertarik dengan judul yang diberikan dalam acara ini, yaitu  " Membingkai ke-kita-an di Ufuk Timur". Pernyataan pertama yang muncul sebelum saya hadir dalam acara ini adalah Mengapa ke-kita-an di Ufuk Timur harus dibingkai? Kurang terbingkai apalagi ke-kita-an yang telah ada di Papua sana? Kalaupun standar yang dipakai adalah banyaknya pertentangan yang terjadi sekarang disana, justru menurut saya itu ada karena mereka telah terbingkai dengan sangat baik sebagai bagian dari kita orang Indonesia, akan tetapi tidak mendapatkan pengakuan yang sama dari Indonesia itu sendiri. Menurutku pembingkaian ke-kita-an itu justru paling penting dilakukan di Pulau Jawa ini bukan di Ufuk Timur maupun di Ufuk Barat Indonesia. Apakah orang-orang yang tinggal di Pulau Jawa ini sudah benar-benar terbingkai dalam ke-kita-an Indonesia? Atau malah ke-kami-an Indonesia yang terbingkai dengan sangat baik disini?

Selama hampir delapan tahun saya tinggal di Pulau Jawa, saya tidak pernah merasakan bahwa masyarakat tempat saya tinggal disini merasa dan mencerminkan diri sebagai kita orang Indonesia. Salah satu contohnya adalah apabila kita pergi ke pelosok daerah di Pulau Jawa ini, ada banyak yang tidak tahu bahasa Indonesia, yang mereka tahu adalah bahasa Jawa, bahasa Betawi, atau bahasa Sunda. Sementara, kami anak-anak yang berasal dari luar Pulau Jawa diwajibkan untuk mengetahui bahasa Indonesia. Bahkan berdasarkan penuturan salah satu orang Papua yang juga hadir dalam acara bedah buku ini, beliau mengatakan bahwa apabila kita pergi ke pelosok Papua sana, setiap orang yang kita jumpai pasti  tahu bahasa Indonesia. Di sana sangat jarang sekali ditemukan masyarakat yang tidak mengerti bahasa Indonesia.

Bukan hanya itu, mengenai sejarah Indonesia (walaupun kebenarannya masih dipertanyakan), pahlawan daerah dan lagu-lagu nasional, kami anak-anak yang lahir dan besar di luar Pulau Jawa diwajibkan untuk hafal di luar kepala. Tapi bagaimana dengan anak-anak yang lahir dan besar di Pulau Jawa ini?

Demikian halnya dengan letak geografis, kami juga diwajibkan untuk menghafal nama-nama provinsi dan ibukotanya serta julukan yang diberikan untuk setiap kota di Pulau Jawa ini, misalnya Yogyakarta sebagai kota pendidikan, Bandung sebagai kota kembang, Surabaya sebagai kota pahlawan. Lalu bagaimana dengan anak-anak yang lahir dan besar di Pulau Jawa, apakah mereka juga diwajibkan untuk melakukan hal yang sama?

JAWABANNYA ADALAH TIDAK!!!

Ini adalah pengalaman pribadi saya, dimana banyak orang-orang seusia saya yang menghabiskan seluruh hidupnya di Pulau Jawa ini tidak memiliki pengetahuan apapun mengenai Indonesia!

Pemerataan pembangunan juga selalu difokuskan di Pulau Jawa ini. Pertama sekali datang ke Pulau Jawa ini, saya sangat iri sekali terhadap kemudahan sarana dan prasarana yang ada di Pulau Jawa ini, mulai dari pendidikan, kesehatan, transportasi, dan hiburan. Dan sayangnya, semua sarana dan prasarana itu, khususnya di bidang pendidikan tidak berbanding lurus dengan pemanfaatan yang dilakukan oleh masyarakat disini. Akhirnya banyak museum dan perpustakaan rusak bukan karena sering dikunjungi akan tetapi rusak karena tidak ada yang mengunjungi. Sementara kami anak-anak yang di luar Pulau Jawa kehausan akan sarana dan prasarana yang seperti ini.

Sebenarnya siapa sih bangsa Indonesia itu? Apakah benar, Pulau Jawa bisa dijadikan representatif dari Indonesia seperti yang telah terjadi selama ini?

Menurut saya, pembingkaian ke-kita-an itu sebaiknya disosialisasikan di Pulau Jawa ini. Hal ini sangat penting untuk menggugah para generasi baru yang lahir dan besar di Pulau Jawa ini untuk lebih mendalami peran mereka sebagai bangsa Indonesia yang memiliki berjuta-juta kebudayaan. Karena menurut saya, pemahaman mengenai perbedaan yang ada di Indonesia lebih minim ditemukan di Pulau Jawa ini. Alhasil, karena pemahaman yang kurang dan bahkan tidak ada terhadap perbedaan, yang terjadi adalah chauvinisme, yaitu menganggap suku sendiri paling  hebat dibandingkan dengan suku yang lain. Dengan adanya persepsi yang demikian, alhasil tujuan untuk bersatu juga akan sangat sulit untuk dilakukan.

Kita BUKAN kami - bangsa Indonesia, sebuah kata yang harus selalu dikumandangkan kembali di Pulau Jawa ini.

Karena kita bangsa Indonesia, jadi adalah hak setiap orang untuk memiliki kedudukan yang sama di negara ini. Tidak ada lagi streotype kesukuan, seperti Batak kali kau kawan! Kita memang berbeda budaya dan kebiasaan, akan tetapi kita pernah sama-sama mengalami penjajahan. Dan memory inilah yang membuat kita harus bersatu untuk tidak dijajah lagi, bukan untuk saling menjajah satu sama lain seperti yang telah terjadi sekarang ini. Itu yang harus dipahami betul oleh semua generasi muda sekarang. Jangan pernah menyamakan apa yang beda, dan membedakan apa yang sama!

Inilah hal mendasar yang dialami oleh saudara kita di Papua sana. Kita berusaha untuk menyamakan budaya mereka dengan budaya kita. Kalau memang mereka nyaman dengan kotekanya, tidaklah tindakan yang intelek ketika kita harus menilai buruk terhadap hal ini. Dan bukan tindakan manusia dewasa juga untuk membedakan warna kulit mereka serta kemampuan intelektual kita dengan mereka. Kalau kita merasa memiliki intelektual yang lebih unggul dari mereka, itu hanyalah dampak dari ketidakmerataan pembangunan dimana apabila mereka juga mendapatkan sarana dan prasarana yang sama seperti masyarakat yang ada di Pulau Jawa, menurutku kemampuan intelektual mereka juga tidak akan jauh beda dengan masyarakat yang ada di Pulau Jawa ini.

Jadi, mau memilih yang mana? KITA bangsa Indonesia atau KAMI bangsa Indonesia?



No comments: