Saturday, 25 August 2012

aku dan dia (2)

Pacaran adalah proses intim untuk mengenal orang lain secara personal, dimana proses pengenalan ini melibatkan cinta, komitmen, dan napsu. karena adanya ketiga hal inilah, menurutku mengapa kebanyakan orang tua  menyarankan untuk tidak pacaran sedini mungkin pada anak-anak mereka. Dan 100 % aku setuju dengan kebijakan ini. Tapi sayangnya, banyak orang tua tidak mampu memberikan alasan yang jelas kepada anak-anak mereka ketika memperlakukan kebijakan ini. Akhirnya, yang ada adalah anak memberontak dan pacaran sembunyi-sembunyi. Dari pada sembunyi-sembunyi, sebagian orang tua akhirnya memberikan izin bersyarat. Akibatnya, hasil observasiku sampai tulisan ini aku buat, mayoritas anak sekolah dari SMP- tahun kedua kedua perkuliahan, membuat status di jejaring sosialnya dengan topik kegalauan mereka terhadap hubungannya dengan pasangan. Tentu saja dangan bahasa-bahasa alay dan "rayuan pulau kelapa".
Cara pacaran mereka juga sangat "unik". Anak-anak sekolah sekarang pacarannya dewasa bangat sementara cara pacaran mereka yang berusia 30-40 tahun seperti anak-anak SMP. Yeah, walaupun aku sendiri juga tidak tahu, pacaran yang ideal itu seperti apa sih seharusnya.

Om Erik Erikson (tokoh psikologi perkembangan sosial)  mengatakan,  usia 20 - 30 tahun adalah tahapan perkembangan yang tepat untuk mengenal orang lain (baca pacaran). Mengapa? Karena pada tahapan perkembangan sebelumnya adalah waktu yang tepat untuk mengeksplor diri kita sendiri, mengetahui kelemahan dan kelebihan, menyadari kebiasaan kita, dan menemukan identitas, dan yang pasti kita tahu dulu manusia seperti apa kita. Barulah setelah semua tahapan itu selesai kita lalui, hati kita pun siap untuk mengenal orang lain (baca pacaran).

Itulah teori yang pernah aku pelajari di bangku kuliah. Untuk prakteknya kembali kepada setiap orang. Aku tidak mau bersikap seolah-olah sempurna dalam pelaksanaan tersebut. Aku tahu betapa sulitnya untuk mempraktekkan sebuah teori apalagi ketika itu sudah bersinggungan dengan yang namanya C.I.N.T.A. Dan sebelum aku mengenal teori ini, aku juga pernah berusaha untuk mengenal orang lain secara intim sebelum usia 20 tahun. Jadi, jangan terlalu berpatokan terhadap teori, sebisa mungkin mari berusaha merespon dengan dinamais asal tetap di jalurnya (mencari pembenaran).

Saat ini, usiaku 25 tahun. Waktu yang tepat untuk pacaran menurut Om Erik Erikson. Dan kebenaran sekali, sekarang aku sedang dalam proses mengenal seseorang dengan intim. Sebut saja namanya Josua (nama sebenarnya). Secara umum, aku sudah lama mengenalnya, apalagi kami dibesarkan di desa yang sama dan menghabiskan masa sekolah dengan seragam yang sama.

Seperti teori yang mengatakan, lupa namanya siapa semakin kita dekat dengan seseorang, maka peluang terjadinya konflik juga akan semakin besar. Demikian juga aku dengan Josua. Ada banyak hal yang menjadi perdebatan di antara kami. Dua topik menarik yang menjadi pemicu konflik di antara kami adalah masalah Short Message Service (SMS) dan SPACIAL.

Tentunya kedua pemicu ini disebabkan oleh adanya perbedaan karakter di antara kami. Josua yang lebih bersikap konvensional dalam beberapa hal dibandingkan aku, misalnya perempuan tidak baik berjalan sendirian pada malam hari, apalagi di kota Jakarta. Pengikut aturan atau kebiasaan, sementara aku adalah orang yang cenderung membuat kebiasaan sendiri. Lebih mampu menciptakan keadaan yang bersih dan rapi dibandingkan dengan aku. Dia juga suka dengan sesuatu yang berbau rutinitas dan kesunyian sementara aku lebih cenderung tentatif dan suka keramaian.

Aku  dididik untuk mandiri dan berjuang  sehingga membuatku menjadi seorang pemimpi dan pengambil keputusan yang pada akhirnya membuatku terlihat lebih dominan. Dan inilah salah satu tantangan yang ada dalam hubungan kami, yaitu bilamana  warnaku menutupi warnanya. Syukur-syukur warna kami bisa melebur, tapi bagaimana jika warnaku yang menutupi warnanya? Biarkan waktu yang menjawabnya :D

Mungkin, bila ini yang disebut alasan mencinta, salah satu alasan mengapa aku masih betah mengenal Josua lebih dalam lagi adalah karena dia berbeda dari laki-laki Batak Toba pada umumnya. Dia mengakui adanya persamaan gender, dimana laki-laki dan perempuan memiliki tanggung jawab yang sama dalam rumah tangga, misalnya memasak, mencuci pakaian, dan membersihkan rumah. Sebuah karakter yang jarang aku temukan di laki-laki Batak Toba, apalagi kalau dalam posisi keluarga tersebut dia adalah anak laki-laki pertama dan memiliki adik-adik perempuan. Bisa dipastikan untuk urusan memasak, mencuci pakaian, menyetrika, dan bersih-bersih akan diberikan kepada adik-adik perempuannya.
Walaupun dalam beberapa hal, aku tahu Josua sering sekali melakukan pengeditan dalam meresponku. (mumpung masih pacaran).

Dalam mengekspresikan emosi, Josua memang di bawah rata-rata. Bahkan untuk mengatakan apa yang ingin dia mau juga masih belum leluasa. Aku tidak tahu, apakah ini efek dari keeksisanku yang melebihi keeksisannya selama ini sehingga membuat dia memperlakukanku seperti gelas kaca belah. Padahal sebenarnya perempuan yang memberikan waktu untuk mengenal dia sekarang ini adalah besi baja. Dia berusaha membuatku sebahagia mungkin sampai dia melupakan bahwa dalam sebuah hubungan yang paling diutamakan adalah kebahagiaan bersama, bukan kebahagiaanku saja atau bukan kebahagiaan dia, melainkan kebahagiaan kami.

Aku sendiri bukanlah karakter perempuan yang terlalu menuntut kesempurnaan. Aku adalah perempuan bebas, mandiri, pejuang, dan hangat yang siap berkomitmen sepanjang itu sejalan dengan visiku di dunia ini. Aku bukan perempuan yang gila merk dan glamor secara fisik, tapi secara otak, pastinya iya!
Aku orang yang prinsipil dan terkadang sangat frontal dalam menyuarakan pendapat sehingga membuat orang menilainya bahwa aku adalah orang yang keras kepala yang sukar menerima pendapat orang lain apalagi pendapat yang asal bunyi, karena akan aku kritisi terlebih dahulu. Untuk semua ini, Josua berada di posisi yang bertolak belakang denganku.

Josua itu orang genius, dia mampu mengembangan otak kiri dan otak kanannya dengan baik. Sayangnya, kemalasan membuat dia berhenti untuk lebih bersinar lagi. Dia bisa bermain gitar dan drum tanpa ada yang mengajari dan dengan sarana yang terbatas. Alasan kedua mengapa aku mendambanya. Dia memiliki otak yang seksi!

Tak akan habis waktu untuk membicarakan orang yang kita damba. Tak akan ada kata atau kalimat yang bisa mendeskripsikan emosi kita kepada pasangan kita. Terkadang aku bertanya-tanya kepada mereka yang saat ini sedang dalam posisi yang sama denganku, adakah mereka juga melalui hal yang sama? Mengenal pasangan dengan cinta?
Adakah mereka mampu untuk melakukan tugas itu serentak? Mencari identitas diri dan mengenal pasangan (pacaran)? Karena, aku sendiri yang sudah cukup percaya diri mengatakan bahwa aku telah memiliki identitas masih kewalahan untuk mengenal Josua sebagai pasanganku, sebagai laki-laki yang menemaniku menghabiskan waktuku.

Beruntungnya aku memiliki latar belakang psikologi yang membantuku untuk mengenal Josua dengan bersikap terbuka. Dan semakin aku mengenalnya, semakin aku tahu betapa sangat berbedanya kami. Satu-satunya persamaan di antara kami yang membuat kami masih bersama hingga sekarang adalah bahwa kami sama-sama memilih untuk tetap bertahan dengan hubungan ini sampai Tuhan memberikan restu.

.


1 comment:

Listra Mindo Lubis said...

Pengenalan akan pasangan kita sebenarnya adalah slah satu jalan pengenalan akan diri kita sendiri. :)
nice post ma'am.