Thursday, 18 October 2012

J A K A R T A

Ketika masih tinggal dengan orang tuaku, banyak masyarakat di daerahku sangat mengangungkan orang-orang yang merantau ke Jakarta. Beberapa teman sebaya juga sangat bangga sekali apabila mereka memiliki keluarga yang tinggal di Jakarta. Ketika keluarganya itu melakukan kunjungan ke kampung halaman dan membawa oleh-oleh, maka mereka akan melakukan tindakan pamer yang luar biasa. Aku nyaris tidak mengerti mengapa mereka melakukan hal seperti itu. Aku juga bingung, mengapa orang yang merantau ke Jakarta dianggap seperti hal yang sangat bergengsi.

Hipotesaku, (mencoba berpikiran positif) mungkin karena Jakarta sangat jauh dari kampung halamanhu (empat hari tiga malam dengan bis) dan membutuhkan biaya yang tidak sedikit untuk bekal di perjalanan. Jadi, setiap orang yang berhasil melalui "perjuangan" itu dianggap orang yang hebat. Walaupun bisa dibilang, mayoritas orang yang menyombongkan diri itu adalah mereka yang sudah memiliki bibit sok jago dan kesombongan di kampung halaman. Jujur, aku sendiri tidak pernah menganggap bahwa orang yang merantau ke Jakarta itu adalah sesuatu yang harus disombongkan.

Aku pernah sangat marah sekali kepada almarhum Bouku (kakak perempuan papaku yang kebenaran tinggal dengan kami). Saat itu, saudara sepupuku yang dari Jakarta berkunjung ke rumah orang tuaku. Kebiasaan di kampung, makan siang maupun makan malam selalu dilakukan bersama-sama, apalagi kalau sedang kedatangan tamu. Dan di rumah orang tuaku, setiap anak gadis seharusnya  mempersiapkan kebutuhan untuk makan makan malam dan makan siang tersebut. Bouku pun menyuruhku untuk melakukan ini dan itu, dengan kata lain sebagai seksi repot. Saat itu, aku langsung protes ke Bouku, mengapa aku disuruh untuk melakukan ini dan itu sementara saudari sepupuku yang datang dari Jakarta dibiarkan saja duduk tenang seperti putri raja.
Lalu Bouku pun menjawab, "Dia kan anak Jakarta."
"Kenapa dengan dia sebagai anak Jakarta?", balasku.
Bouku pun balik membentakku,  "Tidak usah banyak tanya kerjakan saja apa yang kusuruh."
Aku yang saat itu masih berusia 8 tahun, terdiam - melakukan apa yang Bouku suruh. Sejak saat itu, aku mulai berprasangka negatif bahwa orang Jakarta itu adalah orang-orang manja yang tidak bisa melakukan hal-hal kecil untuk dirinya sendiri!

Penilaian negatifku kembali muncul ke permukaan menyaksikan beberapa orang yang aku kenal merantau ke Jakarta dan bertingkah laku super berlebihan ketika pulang ke kampung halaman. Misalnya, tidak mau memakai bahasa Batak alias selalu memakai bahasa Indonesia yang tentu saja dengan kosa kata "gue-lu" dan dengan dialek Batak! Hampir setiap kalimat yang muncul, "waktu gue di Jakarta", blablablabla. Rambut dicat, pakai make up super norak, gaya berbusana yang tidak pada tempatnya, dsb. Benar-benar sangat butuh pengakuan bahwa dia adalah anak Jakarta. Sangat ingin dianggap kota tapi pemikiran tetap kampungan terbukti dari topik pembicaraan yang diangkat hanya seputar dia di Jakarta yang tentu saja telah ditambah dengan berbagai "bumbu". Hal ini hampir terjadi kepada setiap orang Batak yang merantau ke Jakarta. Kesombongan yang berlebihan ketika pulang kampung, padahal di Jakarta, makan pun sangat susah! Tapi di kampung sudah berlagak seperti orang besar.

Beberapa pengalaman di atas membuatku bertanya-tanya segitu dasyatnyakah Jakarta mengubah karakter manusia?

Waktu SD, aku tergoda untuk ke Jakarta hanya karena satu alasan, yaitu untuk melihat tempat-tempat bersejerah, misalnya Lubang Buaya, berbagai macam museum, perpustakaan nasional, dan sejenisnya. Selebihnya tak pernah terlintas di pikiranku untuk tinggal di Jakarta ini.

Sampai sekarang aku masih suka bertanya-tanya dalam hati, mengapa merantau ke Jakarta menjadi sesuatu yang sangat disombongkan ketika pulang kampung? Apa yang mengakibatkan hal ini bisa terjadi? Aku tidak tahu dengan suku yang lain, akan tetapi di kampungku hal ini sangat terlihat jelas. Demikian halnya dengan mereka yang tinggal di kampung. Sikap yang mengagung-agungkan mereka yang merantau ke Jakarta super duper berlebihan dilakukan oleh masyarakat di kampung.

Satu hal lagi yang membuatku terkadang sampai harus menarik napas panjang adalah ketika banyak dari mereka yang kukenal sangat malu apabila diketahui bahwa dia berasal dari kampung. Apa salahnya memiliki kampung halaman? Menurutku memiliki kampung halaman adalah sebuah harta yang tak ternilai harganya. Jutaan orang di Jakarta ini tidak memiliki kampung halaman. Tentu saja, kampung halaman yang kumaksud adalah kampung dimana tempat hati dan pikiran kita berakar. Bukan hanya sekedar KTP saja! Atau menumpang lahir. Atau menumpang dari silsilah orang tua.

Kepada siapapun yang bertanya kepadaku, aku akan menjawab bahwa aku berasal dari kampung. Dan aku bangga serta bersyukur menghabiskan 18 tahun hidupku di kampung. Walaupun fisikku berkembang di kampung, akan tetapi otakku berkembang dengan global. Aku tidak perlu menyembunyikan identitasku dengan menampilkan yang bukan aku, misalnya menjadi orang lain, meniru orang lain, mengangagungkan orang lain, atau bahkan menggunakan berbagai macam "topeng" hanya untuk menutupi identitas diri. Jadilah menjadi diri sendiri.

Banyak orang yang aku kenal kehilangan identitas setelah tinggal di Jakarta. Ingin dianggap kota, ingin dianggap gaul, ingin dianggap keren, ingin dianggap rock, dan sebagainya tanpa melihat ke dalam diri sendiri, sesuaikah itu dengan jiwaku yang sesungguhnya? Itukah peran yang diberikan kepadaku? Untuk itukah aku diberikan kesempatan menghirup oksigen dengan gratis?

Sekarang aku paham, banyak orang mengatakan kejamnya ibu tiri tapi lebih kejam Ibu Kota Negara. Itu adalah idiom kuno dan ketinggalan zaman. Yang terbaru adalah  kejamnya manusia yang tinggal di Jakarta lebih kejam ketika kita berusaha "membunuh" identitas diri kita sendiri.

Jakarta tidak pernah melukai siapapun. Jakarta tidak pernah mengambil apapun. Jakarta tidak pernah merugikan siapapun. Yang ada adalah manusia yang ada di dalamnya melakukan "pembunuhan" terhadap identitas diri sendiri yang menjadikan kita berubah menjadi manusia yang bukan seharusnya. Menjadi egois, cuek, mengutamakan kepentingan pribadi dan keluarga, tidak ada empati, tamak, serakah, arogan dan berbagai karakter negatif lainnya.

Kita semua yang merantau ke Jakarta memiliki identitas masing-masing, tapi kita "membunuhnya" demi obsesi negatif kita. Dan ketika obsesi itu belum atau tidak tercapai, kita mengutuk Jakarta, mempersalahkan pemerintah yang tidak proaktif memuluskan obsesi negatif kita. Hal ini mengakibatkan Jakarta menjadi kota yang paling sering mendapatkan kutukan dari setiap mulut yang tinggal di Jakarta ini.

Di minggu-minggu pertama pemerintahan Jokowi sebagai Gubernur DKI Jakarta, adalah sesuatu yang positif jika kita sebagai manusia berbudaya, memberikan waktu untuk intropeksi diri,
JAKARTA SUDAH MEMBERIKAN BANYAK HAL KEPADA KITA, LALU APAKAH YANG BISA KITA BERIKAN KEPADA JAKARTA?

No comments: