Wednesday, 21 November 2012

Duniaku

Hari ini sepertinya aku semakin menyadari bahwa di dunia ini yang paling berperan itu adalah uang. Jadi, tidak heran kalau semua orang yang ada di sekitarku ujung-ujungnya akan kembali ke uang. Uang menjadi tujuan utama dalam hidup.
Masih adakah di dunia ini yang tidak mengutamakan uang di dalam hidupnya?
Kalau ada mungki itu karena dia sudah pernah menikmati kehidupan yang sangat kaya raya sekali atau mungkin dia telah mengalami lahir baru, seperti kehidupan orang-orang yang melakukan meditasi di gua dan meninggalkan kenyamanan dunia ini.

Mengapa uang menjadi yang terutama dan menjadi tujuan hidup bagi banyak orang?

Padahal kalau direnungkan kembali, kebutuhan kita akan tercukupi tanpa harus menjadi tamak, tanpa harus mengeksploitasi sesuatu, tanpa harus menimbun uang, emas, dan kawan-kawannya.

Kita hanya memiliki perut sejengkal. Beras satu periuk tidak akan muat di dalam perut kita untuk sekali makan. Lalu, mengapa kita harus mengeksploitasi tanah untuk menghasilkan beras secara berlebihan? Yang ujung-ujungnya akan terbuang ke tempat sampah.
Kaki hanya satu pasang, tapi kita menimbun banyak sepatu dan sandal di kamar kita yang mana nyaris tidak pernah kita pakai. Tahukah kita, dari mana itu semua bahan-bahan sepatu itu? Dari alam. Kita telah mengeksplor alam dengan sangat luar biasa hanya untuk memenuhi ketamakan kita.
Aku tidak perlu menjabarkan satu-persatu segala sesuatu yang menempel di badan kita, yang oleh karena itu menyebabkan kita untuk mengeksploitasi alam ini dengan sangat berlebihan.
Bukan hanya alam yang kita eksploitasi, tapi juga manusia.

Hanya untuk memenuhi ketamakan kita dalam berpakaian, pernahkah kita menyadari bahwa jutawaan buruh di belahan bumi sana, yang di bawah umur yang harus berdiri 12 jam sehari tanpa duduk hanya untuk menjahit setiap benang dari pakaian yang kita pakai dan tentu saja upah yang mereka dapatkan sangat tidak layak!
Lalu di belahan bumi yang lain, manusia berjuang agar mampu meningkatkan taraf hidupnya melalui pendidikan. Belajar dengan baik, untuk mendapatkan pekerjaan dengan gaji yang besar dan pada akhirnya  kembali melakukan eksploitasi, baik terhadap alam maupun terhadap manusia.

Mengapa kita menjadi sangat tamak?

Memang benar, ada pepatah yang mengatakan jangan gampang untuk berpuas diri. Tapi, bisakah ini dijadikan alasan untuk mengekspploitasi alam dan sesamamu manusia?

Berhentilah mencintai diri sendiri dan mencintai UANG!

Mungkin aku terlalu idealis dengan semua keadaan ini. Tapi apa yang kualami akhir-akhir ini membuatku sangat syok dan frustasi. Aku frustasi melihat sekelilingku ketika cinta terhadap alam, cinta terhadap lingkungan telah memudar.

Sangat jarang ditemukan saat ini orang yang memikirkan orang lain, membantu orang lain saat dia terpuruk secara materi. Semua perusahaan besar maupun orang kaya berlomba-lomba melakukan kegiatan sosial dan menilai dirinya dengan menyuarakan melalui perusahaan yang dia didirikan mereka telah berperan dalam mensejahterahkan orang banyak. Omong kosong besar. Apa yang mereka sumbangkan melalui  kegiatan sosial hanya sekian persen dari hasil eksploitasi mereka dari alam dan manusia.

Masih adakah di dunia ini yang mau belajar, murni untuk kesejahteraan hidup bersama dan demi keberlangsungan alam untuk selanjutnya?
Ataukah semuanya sudah menjadi bisnis?

Seperti sepasang orang tua yang berusaha memiliki dan membesarkan anak-anaknya agar suatu hari kelak, anaknya bisa memberikan sesuatu kepada mereka. Membalas setiap usaha yang telah mereka keluarkan dalam membesarkan anak-anak mereka.
Mungkin banyak orang tua yang melakukan penyangkalan terhadap pernyataan ini. Mereka biasanya akan mengatakan bahwa semua orang tua di dunia ini selalu berusaha memberikan yang terbaik kepada anak-anaknya tanpa berharap itu kembali. Omong kosong besar. Kalau memang benar orang tua ikhlas dalam melahirkan dan membesarkan anak-anak mereka, mereka tidak akan memberikan tuntutan yang berlebihan terhadap anak-anaknya, seperti harus pintar di sekolah, harus menguasai berbagai macam bahasa agar nanti bisa melanjutkan sekolah yang bergengsi, dan bisa dapat pekerjaan dengan gaji yang besar.

Adakah orang yang ihklas memberi tanpa berharap akan kembali?




No comments: