Saturday, 10 November 2012

Mereka yang telah merajut kehidupanku


Saya merasa sangat beruntung sekali dapat menghabiskan masa sekolah di sebuah desa kecil di Sumatera Utara, namanya SOPOSURUNG. Soposurung berada di kecamatan Balige, dengan Toba Samosir sebagai Kabupatennya. Inilah kota kecil yang menjadi saksi bisu 18 tahun awal kehidupan saya.

Salah satu keunikan kota ini adalah ketika semua sekolah terpusat di sebuah kelurahan yaitu SOPOSURUNG (walaupun sekarang sudah berdiri beberapa sekolah yang tidak terletak di kelurahan ini). Jadi bisa dibayangkan jam masuk dan ke luar sekolah adalah jam-jam sibuk di kelurahan ini karena akan terlihat banyak anak sekolah yang berjalan kaki ke atau dari Soposurung. Sebuah pemandangan yang sangat langka terjadi di Ibukota Negeri ini.

Masa sekolah adalah masa yang paling indah dalam hidup saya. Masa dimana saya benar-benar mengalami transformasi dari tidak tahu menjadi tahu. Masa dimana saya bisa mengeksplor dunia luar tanpa harus menginjakkan kaki di tempat itu. Tentu saja ini semua tidak terlepas dari peran para guru yang telah ikut serta merajut masa depan saya.

Di setiap tahapan sekolah, saya memiliki guru favorit - tanpa mengurangi rasa hormat saya terhadap semua guru-guru saya yang lain tentunya. Di Sekolah Dasar, guru favorit saya adalah Ibu Siahaan yang telah mengari saya membaca dan menulis. Beliau adalah guru di tahun pertamaku di bangku Sekolah Dasar. Walaupun saya sering kena pukul karena kemampuan saya dalam bahasa sangat sulit, akan tetapi sekarang saya menyadari kalau bukan karena beliau mungkin saya tidak akan pernah bisa berbahasa Indonesia dengan baik dan benar. (Adalah hal yang lumrah apabila guru memukul siswa di zaman saya dan bahkan orang tua saya sudah memberikan hak dengan mengatakan kepada guru-guru saya, untuk memukul saya kalau memang saya bodoh atau tidak bisa mengikuti pelajaran. Sebuah fenomena yang dilematik, karena di satu sisi menimbulkan trauma terhadap siswa untuk belajar, walaupun dengan jujur saya harus mengatakan tindakan ini sangat efektif untuk saya sehingga membuat saya tetap di jalan saya untuk belajar).

Satu lagi guru  di Sekolah Dasar yang mengajarkan saya tentang kedisiplinan adalah Bapak Tampubolon. Beliau adalah guru saya di kelas 4 Sekolah Dasar. Satu hal yang saya ingat dari beliau sampai sekarang adalah tidak boleh menguap di kelas yaitu selama proses belajar berlangsung. Bagi siapa yang ketahuan menguap akan kena pukulan. Jadi, apabila ingin menguap, saya dan teman-teman harus menahan kedua bibir jangan sampai terbuka apalagi mengeluarkan suara. Perilaku ini sampai sekarang masih terdoktrin di otak saya, sehingga sampai sekarang saya terbiasa untuk tidak menguap lebar-lebar ketika di depan umum atau saat kondisi formal. Dan menurut saya ini adalah didikan yang baik untuk berperilaku sopan.

Masih dengan guru bahasa Indonesia, di SLTP guru favorit saya, yaitu Ibu Pakpahan. Dedikasi beliau dalam mengajari anak didiknya sangat profesional, mungkin karena beliau telah puluhan tahun mengajar jadi sudah sangat berpengalaman dalam mendidik siswa-siswi. Saat beliau mengajar saya, usianya sudah mencapai 60 tahun. Akan tetapi di usia 60 tahun, beliau masih sangat energik, bersih, dan selalu duduk dengan sikap sempurna. Peraturan yang beliau terapkan selama mengikuti pelajaran beliau adalah kami harus menulis dengan tulisan bersambung. Bagi siswa yang ketahuan tidak menulis dengan tulisan bersambung maka akan mendapatkan hukuman. (Sebuah didikan yang sangat langka, mengingat saat ini nyaris tidak ada siswa-siswi yang tulisannya dalam bentuk bersambung!). Beliau juga suka memberikan ulangan harian secara tiba-tiba dimana hanya ada dua soal saja, jadi pilihan nilai hanya 3, dapat angka 10, 5, atau 0. Dan tentu saja soal ulangan itu membutuhkan penjelasan dengan bahasa kita sendiri. Tidak seperti ulangan sekarang yang cenderung daam bentuk pilihan ganda, sehingga pengukuran terhadap pemahaman siswa akan pelajaran tidak terukur dengan tepat. Oh iya, kami juga diwajibkan untuk duduk dengan sikap sempurna sama seperti beliau, yaitu punggung tegak, tidak berpangku tangan, apalagi tiduran. Posisi badan akan membentuk sudut 90 derajat dengan meja, itulah duduk sikap sempurna ala Ibu Pakpahan.


Di tingkat SMA, saya tersanjung dengan guru sejarah saya yang membuat saya menyadari bahwa pelajaran sejarah itu bukanlah hafalan. Walaupun banyak tahun, nama, tempat, dan kejadian yang harus diingat akan tetapi melalui Bapak Pangaribuan, belajar sejarah menjadi sesuatu yang menyenangkan karena beliau "memaksa" kita untuk bercerita dengan pemahaman dan versi kita mengenai sejarah. Metode mengajar beliau adalah dengan memanggil setiap siswa satu-satu ke depan untuk menjawab pertanyaan dari suatu peristiwa sejarah dengan contoh pertanyaan "Apakah latar belakang terjadinya jalan sutra di Indonesia?" Dan apa tujuannya? Gambarkan peta dari perjalan sutra itu sampai ke Indonesia!

Sesungguhnya semua guru di setiap tahapan sekolah saya, sangat berkontribursi besar dalam pembentukan pemahaman saya mengenai dunia ini. Walaupun dalam tulisan ini saya hanya menyebutkan beberapa guru dari sekian banyak guru, itu bukan berari saya menganaktirikan yang lain. Saya tidak akan pernah bisa menjadi alumnus Psikologi Universitas Indonesia, bersaing dengan ribuan siswa se-Indonesia dalam Seleksi Penerimaan Mahasiswa Baru (SPMB 2006) jikalau bukan tanpa guru-guru TK, SD, SLTP, dan SMA yang membangun fondasinya. Hal ini tidak mungkin saya dapatkan di rumah saya, karena ibu saya tamat Sekolah Dasar pun tidak. Saya tidak akan pernah memiliki keberanian untuk melangkah ke luar dari desa dimana saya dilahirkan dan dibesarkan, jikalau bukan karena mereka yang telah memperkenalkan dunia luar bagi saya melalui proses belajar-mengajar di kelas. Merekalah yang telah menanamkan mimpi di benak saya bahwa melalui pendidikan, hidup akan lebih baik.

Pendidikan yang saya terima di desa memang tidak secanggih dan se-update di kota. Akan tetapi dengan berbagai kreativitas guru di desalah yang membuat saya dan teman-teman yang lainnya bisa duduk sejajar dan bersaing dengan siswa-siswa kota yang diperlengkapi dengan berbagai sarana dan prasarana yang memadai, misalnya perpustakaan, komputer, lapangan olah raga, dan sebagainya.

Hari ini, 10 November 2012 diperingati sebagai hari Pahlawan, tulisan ini saya dedikasikan kepada setiap guru yang telah bersedia mengabdi di desa khususnya untuk semua guru-guru saya, karena kalian adalah Pahlawanku. Terima kasih telah memperkenalkanku pada dunia ini.

No comments: