Sunday, 30 December 2012

Gadis "JAKARTA"

Tidak pernah sekalipun terlintas di kepalaku untuk berkarier di Jakarta, di Ibukota Negara Indonesia ini. Bukan karena aku membenci kota ini melainkan karena aku sama sekali tidak mengenal kota ini selain dari lagu Iwan Fals yang menyuarakan betapa susahnya tinggal di Jakarta. Bahkan, selama empat tahun kuliah di Depok, yang merupakan tetangga dekat Jakarta tidak cukup untuk menanamkan ide di kepalaku berkarier di Jakarta ini. Mungkin, karena saat itu aku terlalu fokus dengan apa yang ada di depanku, yaitu menyelesaikan kuliah tepat waktu sebelum beasiswaku kedaluarsa alias diberhentikan seperti perjanjian yang sudah aku setujui sebelumnya bahwa aku hanya akan mendapatkan beasiswa selama 4 tahun saja. Oleh karena itu, saraf di otakku belum bisa melangkah lebih jauh lagi untuk memikirkan pintu mana nantinya yang akan aku masuki setelah melepaskan jaket kuning itu.

Singkat cerita ketika perlahan tapi pasti, masa kedaluarsa beasiswa sudah semakin mendekat, bak kebakaran jenggot aku pun mengirimkan lamaran sebanyak mungkin ke semua perusahaan yang aku tahu membutuhkan fresh graduate dengan latar belakang pendidikanku, yaitu psikologi. Dengan harap-harap cemas dan semangat untuk mendapatkan uang agar bisa bertahan hidup di Jakarta ini, aku mengirimkan surat lamaran dan CV sebanyak mungkin. Tak jarang, karena banyaknya perusahaan yang aku lamar, aku sering lupa dan tidak menyadari pernah melamar ke perusahaan itu ketika ada panggilan tes wawancara.

Puji Tuhan, sebelum aku wisuda, setelah memenuhi panggilan tes wawancara untuk kesekian kalinya dari perusahaan yang berbeda-beda, akhirnya ada perusahaan yang menerimaku. Aku memulai karierku di perusahaan konsultan bisnis dan manajemen. Aku ingat saat itu, aku dipanggil tes wawancara di hari Jumat dan diwawancara oleh tujuh orang sekaligus! Kaget, tentu saja! Karena ini menjadi pengalaman pertamaku ditest wawancara oleh tujuh orang sekaligus, dimana pertanyaannya tidak memiliki alur. Melompat-lompat seperti kutu di kepala yang menyebabkan gatal tidak menentu, kadang di bagian depan kepala, kadang di tengah, di belakang, dan kembali lagi ke tengah, kembali lagi ke depan, dan begitu seterusnya. Hal ini mengakibatkan durasi tes wawancara berjalan sampai lebih dari dua jam! Sidang skripsi saja, aku lalui hanya 15 menit dengan dua orang penguji! Belum lagi pengalamanku, sebelum sampai ke perusahaan ini dengan selamat aku melakukan kebiasaanku, yaitu NYASAR! Padahal alamat perusahaan yang aku datangi ini sangatlah strategis, Menara Karya, Jalan Rasuna Said, tetangga dengan keduataan Belanda dimana aku sudah sering ke sana!

Singkat cerita, sesampai di kostan (waktu itu masih di Depok), aku mendapat telepon dari perusahaan yang sama untuk tes wawancara kedua di keesokan harinya. Kali ini aku diwawancara oleh satu orang dengan durasi yang kurang lebih sama yaitu sekitar dua jam! Dan akhirnya aku pun diterima bekerja di sana dengan gaji Rp 3.500.000,00 di samping tunjangan dan bonus! Gaji yang cukup besar menurutku di kala itu, berhubung setelah tanya kesana-kemari ternyata teman-teman seangkatan banyak yang tidak mendapatkan gaji sebesar yang aku terima. Jadi, kesimpulannya, aku tidak ditipu dengan besarnya upah yang akan aku terima sebagai seorang fresh graduate.

Dengan semangat yang menggebu-gebu untuk mengaplikasikan ilmu dan ingin memberikan kesan yang baik terhadap almamater (pesan dari dosen masih menari-nari di kepala untuk tidak mempermalukan almamater, maklum fresh graduate), aku pun bekerja dengan sangat disiplin dengan berusaha memberikan yang terbaik, misalnya datang lebih pagi dan berusaha untuk pulang lebih lama dari waktu yang ada di surat perjanjian kerja. Di minggu - minggu pertama aku bekerja di sana, aku telah tiba di kantor sebelum MENARA KARYA dibuka (gedung tempat aku memulai karier). Terpaksa aku menunggu di luar bersama satpam dan OB gedung yang baru datang untuk melakukan tugas rutin mereka.

Akan tetapi, tsunami itu pun datang. Setelah satu tahun satu bulan bekerja disana, aku merasa tidak berjodoh dengan perusahaan itu. Aku memutuskan untuk mencari pekerjaan yang lebih baik dan tentunya yang lebih membuatku untuk nyaman mengaplikasikan ilmuku. Bisa dibilang, aku membawa kekecewaan dari perusahaan ini. Kekecewaan yang aku sendiri tidak bisa menjabarkannya karena tidak ada kalimat yang tepat untuk memaparkannya.

Setiap kali ada saja orang yang menanyakan mengapa aku meninggalkan perusahaan itu, apalagi dengan upah yang aku dapatkan (setelah enam bulan bekerja disana, aku diangkat jadi karyawan tetap dan tentunya diikuti dengan kenaikan upah) yang cukup besar untuk ukuran fresh graduate, menurut mereka! Tak banyak diantara mereka yang mengatakan bahwa aku menjadi manusia yang cinta uang dan tidak puas dengan apa yang sudah diberikan Yang Maha Kuasa. Ada pula diantara mereka yang mempertanyakan, apakah aku menyesal dengan keputusan yang aku ambil? Tentu saja dengan intonasi yang memaksaku untuk mengatakan, iya.

Kuakui, itu memang salah satu keputusan berat yang pernah aku ambil dari ratusan keputusan yang pernah kuambil sendiri -  Meninggalkan perusahaan itu sebelum mendapatkan pekerjaan lain. Untuk yang satu ini, aku sangat bersyukur sekali karena aku telah terbiasa untuk mengambil keputusan sendiri sehingga prosesnya berjalan dengan cepat (sisi positifnya). Walaupun aku mendapatkan rem dari pacarku untuk mempersiapkan hatiku menghadapi konsekuensinya. Keputusan untuk pergi semakin sulit untuk aku ambil selama sepersekian menit ketika pihak perusahaan masih mencoba menunda kepergianku dengan mengatakan aku boleh pergi setelah menemukan pekerjaan baru. Dengan kata lain aku masih  dibutuhkan di perusahaan itu. Betapa baiknya perusahaan itu, yang saat itu nyaris membuatku ingin menangis. Menangis karena aku merasa  semakin terluka untuk tetap bertahan bahkan untuk sehari saja.

Orang-orang terdekatku yang paling ribut mempertanyakan keputusanku ini, khususnya dari pihak keluargaku. Tentu saja mereka mengkuatirkan bagaimana aku bisa bertahan hidup di Jakarta ini tanpa pekerjaan. Karena sudah dapat dipastikan bahwa mereka tidak akan membantuku!

Seperti yang aku katakan di awal, aku meninggalkan perusahaan itu bukan karena kesombonganku seperti respon beberapa orang (karena mereka melihat dari sisi upah yang telah aku terima). Dan aku tidak pernah menyalahkan mereka untuk memberikan respon itu. Karena aku juga terlalu lelah untuk memberikan pembelaan terhadap diriku dengan suasana hatiku yang terluka (jiaah..!!). Cukuplah sahabat dan pacarku yang tahu bagaimana asap itu akhirnya bisa muncul. Sekarang, mungkin apinya telah lama padam, dan asapnya juga sudah tidak ada lagi, akan tetapi bekas dari api itu masih belum hilang. Walau sudah lebih dari setahun berlalu, bekasnya masih sangat nyata (salah satu ciri-ciri orang yang belum move on).

Puji Tuhan, tepat sebulan setelah saldoku nyaris menuju angka nol, aku menerima tantangan untuk bekerja di perusahaan yang bergerak di bidang pendidikan. Cukup memiliki brand di Jakarta ini - walau aku sama sekali tidak peduli! Bagiku yang terpenting adalah aku bisa mengaplikasikan ilmu yang ada di otakku ini sebelum menjadi rusak karena tidak dipakai. Seperti kebiasaan  lamaku, bekerja dengan sangat antusias, inisiatif, bertanggung jawab, dan berusaha memberikan yang terbaik, aku pun melanjutkannya di tempat yang baru ini. Dari segi pekerjaan, sekilas, ilmuku terasa lebih diterapkan di perusahaan ini. Sialnya, mimpi buruk itu belum berlalu, di tempat yang baru ini, aku bertemu dengan manusia-manusia yang memiliki karakter sangat berbeda denganku. Aku yang super duper mandiri, visioner, cekatan, dan tangkas, kelindas dengan tingkah laku teman sekerja yang berkebalikan denganku. Satu-satunya pilihan yang kumiliki adalah  BERTAHAN kalau tidak, aku diwajibkan untuk membayar denda, dimana sudah bisa dipastikan aku tidak akan pernah sanggup untuk membayarnya. Di samping itu, tujuan utamaku menerima tantangan bekerja di perusahaan ini adalah untuk mengaplikasikan ilmuku, bukan untuk MEMBAYAR DENDA! Jadilah selama setahun dua bulan aku lalui dengan helaan nafas yang sangat panjang, yang apabila diukur tidak akan ada meteran yang valid dan reliabel untuk menyatakan angkanya dan - mengeluarkan air mata. Singkat cerita, akhirnya aku menyadari kalau hatiku yang terbuat dari besi baja ini akhirnya karatan juga. Aku pun memutuskan untuk meninggalkan perusahaan ini setelah satu tahun dua bulan memberikan waktu, pikiran, tenaga, dan mentalku.

Pertanyaan yang sama juga kembali ditujukan kepadaku. Tidak menyesalkah meninggalkan pekerjaan ini dengan segala fasilitas yang aku dapatkan? Hampir dari setiap orang yang mengetahui keberadaanku bekerja di perusahaan ini menyayangkan keputusanku. Lagi - lagi, aku merasa tidak berkewajiban untuk mencari pembernaran atas penilaian yang mereka berikan kepadaku. Aku akui, aku telah gagal dua kali. Aku telah gagal dua kali bekerja sama dengan orang Cina. Alasan aku meninggalkan kedua perusahaan ini sama, yaitu karena sakit hati. Aku bahkan tidak tahu yang mana yang lebih sakit.

Dari pengalaman ini aku mulai bertanya-tanya dalam hatiku, apa yang salah denganku? Apakah memang aku ditakdirkan untuk tidak bisa bekerja sama dengan suku Cina. Di perusahaan yang pertama dan kedua adalah mayoritas Cina dan Kristen. Seharusnya, jikalau memang benar kami mengenal Tuhan yang sama, yang mengajarkan kasih seharusnya kami bisa bekerja sama dan berkarya dengan lebih baik. Akan tetapi yang kudapatkan adalah sebaliknya. Mengapa aku begitu sulit bekerja sama dengan orang yang seagama denganku (kejadian yang serupa tapi tak sama juga terjadi ketika di kampus = tidak memiliki hubungan yang harmonis dengan mahasiswa yang aktif di kegiatan agama Kristen).

 Mungkin pernyataanku yang selanjutnya ini  terlalu berlebihan, akan tetapi aku merasa karier pertama yang kulalui seperti masuk ke sarang singa keluar dari sana, masuk lagi ke sarang buaya yaitu di tempat kerjaku yang kedua. Dan pernyataan ini cukup membuatku puas dengan pertanyaanku di paragraf sebelumya. Ada tertulis, AKU MENGUTUS KAMU BUKAN KE PADANG BERUMPUT HIJAU, MELAINKAN KE SARANG SERIGALA. Atau mungkin, apabila sesama terang disatukan dalam suatu tempat, yang terjadi adalah SILAU, bukan terang lagi!

Untuk setiap helaan nafas dan air mata yang jatuh, aku tidak mau mengingkari, bahwa aku mendapatkan banyak pengetahuan dengan berkarier di kedua perusahaan itu. Banyak hal yang aku pelajari yang membuatku semakin terbentuk untuk menjadi manusia yang lebih hidup lagi. Hanya saja, mungkin aku harus mengakui bahwa aku kurang beruntung dengan dunia pekerjaan. Sama seperti Paulus, mungkin inilah "duri dalam dagingku", melalui pekerjaankulah maka kekuatan Tuhan akan nyata dalam hidupku. Sekarang, keputusan telah aku ambil dengan tegas bahwa aku katakan tidak akan ada penyesalan. Aku tidak tahu ke sarang mana lagi aku akan pergi, yang kuimani Tuhan adalah setia. Dia akan menguatkan hatiku dan memeliharaku terhadap yang jahat (2 Tesalonika 3:3).

Saat ini aku akan terus melangkah, berjalan, dan sesekali mungkin akan berlari untuk mengisi hidupku dengan Tuhan menjadi Rajaku. Aku sangat menyadari apa yang telah aku alami selama dua tahun belakang ini adalah tidak lepas dari setiap keputusan yang aku ambil. Dimana semua keputusan yang aku ambil adalah dalam keadaan sadar dan tentunya aku akan menjalani konsekuensinya dengan kekuatan yang Yesus berikan kepadaku. Karena setiap keputusan yang aku ambil, terlebih dahulu aku komunikasikan dengan Yesus. Mungkin aku tidak langsung mendapatkan jawabannya seperti kebanyakan orang yang mengkomunikasikannya dengan orang tua, saudara, atau yang lainnya. Yang kuimani akan selalu ada kekuatan dan pertolongan bagi yang membutuhkanNYA.

Seperti isi dari kebanyakan dialogku dengan Yesus, jadikan aku berkat bagi orang - orang di sekitarku. Jadi, mungkin ini adalah waktu yang tepat bagiku untuk kedua kalinya meninggalkan perusahaan ini sebelum mendapatkan pekerjaan baru yaitu karena aku sudah tidak menjadi berkat lagi disana.

Kesimpulanku, hidup di Jakarta itu tidak susah kalau kamu tahu tujuan kamu dilahirkan! Tujuanku dilahirkan adalah UNTUK MENJADI BERKAT BAGI ORANG-ORANG DI SEKITARKU. Bagaimana denganmu, apakah tujuanmu untuk dilahirkan di dunia ini?

No comments: