Sunday, 30 December 2012

Pelajaran selama menjadi "budak"

Bekerja selama setahun dua bulan di sebuah perusahaan yang bergerak di bidang pendidikan di Jakarta ini memberikan banyak wawasan baru bagi saya. Khususnya mengenai betapa buruknya pengetahuan para orang tua di Indonesia dalam hal mengasuh anak. Bukannya saya ingin menghakimi mereka, karena saya sadar betul adalah pilihan yang sangat sulit untuk menjadi orang tua, apalagi menjadi orang tua yang ideal bagi setiap anak-anak yang mereka lahirkan di tengah-tengah perkembangan teknologi sekarang ini.

Ceritanya dimulai ketika dengan sedikit terpaksa saya akhirnya bersedia untuk bekerja di antara mahasiswa- mahasiswa yang berasal dari berbagai daerah di Indonesia.  Mereka yang masuk ke dalam asrama ini adalah mereka yang memiliki orang tua dengan level ekomoni ke atas karena biaya untuk satu kamar single di asrama ini sebesar Rp 1.750.000,00 per bulannya. Itu hanya untuk biaya kamar saja belum termasuk biaya makan dan biaya sekunder lainnya, seperti biaya hiburan, dan tentu saja belum termasuk biaya kuliah. Bisa disimpulkan, rata-rata mahasiswa yang tinggal di sini menghabiskan MINIMAL Rp 3.000.000,00 per bulannya.

*Sementara UMR di Jakarta sekarang masih di bawah Rp 2.000.000,00. Bisa dibayangkan, kan bagaimana gap itu bisa menganga begitu besar?

Kembali ke tujuan tulisan ini dibuat. Seperti kebiasaan orang pada umumnya, semakin besar uang yang dikeluarkan untuk sebuah pelayanan jasa, maka pelayanan yang diharapkan pun akan semakin tinggi bahkan terkadang tidak mau tahu dengan prosedur yang harus dilalui. Demikian pulalah karakteristik mahasiswa yang ada di sana. Walaupun secara kasat mata, yang membayar biaya mereka di asrama itu adalah orang tua mereka akan tetapi mereka merasa sangat berhak untuk melakukan apapun yang menurut mereka hak mereka. Mereka tidak mau tahu dan tidak ingin tahu dengan prosedur yang berlaku, intinya segala sesuatu yang mereka butuhkan harus terpenuhi hanya karena orang tua mereka telah membayar.

Dalam banyak hal, keluhan mereka itu sangat sering tidak bisa diterima logika. Dan malangnya, saya yang telah menerima pekerjaan itu harus siap sedia menerima setiap ocehan mereka yang tidak mendasar sama sekali. Entah dari mana mereka akhirnya mendapatkan kesimpulan bahwa mereka harus dilayani seperti pangeran dan putri. Mereka sama sekali tidak memiliki sopan santun dan tidak tahu bagaimana caranya berkomunikasi dengan benar dan tepat. Untuk semua perlakuan mereka kepada saya, saya tidak terlalu menyalahkan mereka karena orang tua mereka juga kurang lebih memiliki perlakuan yang kurang lebih sama. Air cucuran atap jatuhnya ke pelimbahan juga, kan? Di samping itu, perusahaan yang mempekerjakan saya tidak pernah memberikan langkah yang konkrit untuk mengatasi hal ini karena bagi perusahaan, para mahasiswa itu adalah customer yang harus diperlakukan seperti raja. Jadi tidak heran kalau mahasiswa disana pada akhirnya menuntut untuk diperlakukan seperti raja.

Melallui tulisan ini, saya ingin menegaskan bahwa tulisan ini dibuat bukan untuk  menyalahkan perusahaan yang telah memperkerjakan saya dan para mahasiswa itu. Walaupun, saya tidak bisa menutup mata bahwa perilaku mahasiswa ini sedikit banyak karena "didukung" oleh perusahaan itu sendiri. Inti dari tulisan ini sendiri adalah saya ingin menyoroti  pola asuh yang telah diberikan orang tua para mahasiswa itu kepada mereka sehingga melahirkan karakter-karakter yang membuat saya nyaris sesak nafas dan menangis bombay.

Memiliki materi yang melimpah didukung dengan pengetahuan mendidik anak yang kurang membuat para orang tua mahasiswa tersebut mengandalkan barang-barang untuk menunjukkan perhatian dan kasih sayang mereka terhadap anak-anaknya. Para mahasiswa tersebut "dipaksa" untuk menghabiskan waktu mereka dengan bersentuhan pada barang-barang yang dibelikan oleh orang tua mereka. Barang-barang tersebut, misalnya handphone, laptop, kendaraan pribadi dan berbagai jenis alat elektronik yang lainnya. Di samping itu, adanya sosialiasi dari orang tua baik secara lisan maupun gestur tubuh yang mengklasifikan level mereka dibandingkan dengan level masyarakat lainnya di dalam taksonomi kehidupan bermasyarakat. Misalnya dengan mengatakan, kamu ini anak yang orang kaya, orang tuamu memiliki uang yang cukup untuk membiayai sekolahmu kemana pun kamu pilih. Bahkan banyak diantara mereka yang merasa terpaksa kuliah demi mendapatkan uang dari orang tuanya. Ada juga yang menganggap kuliah ini hanyalah formalitas saja. Daripada main game on line di kamar seharian  dan ketika para tetangga bertanya, kamu kuliah dimana - setidaknya mereka bisa memberikan nama universitas dimana nama mereka ada. Dan beruntungnya perusahaan tempat saya bekerja dulu, menangkap kebutuhan ini. Alhasil lahirlah perusahaan yang bertopengkan pendidikan.

Oops, kembali ke masalah pola asuh. Selama bekerja di sana saya banyak melakukan observasi dan analisa mengapa para mahasiswa disana sangat hobby dalam melakukan komplein. Dimana komplein yang mereka berikan itu tidak memiliki nilai argumentatif. Mereka hanya berani berkoar-koar di dunia maya, akan tetapi apabila diminta untuk bertemu, mereka jarang yang berani datang. Kalaupun datang mereka tidak seberani seperti di dunia maya dan kebanyakan pasti mengajak teman-temannya. Mereka mahasiswa, tapi sama sekali tidak memiliki dan tidak mau memiliki pemikiran yang kritis. Banyak diantara mereka menjadi anak TK yang terperangkap dalam tubuh orang dewasa.

Menurut analisa saya, hal ini disebabkan karena mereka tidak mendapatkan pola asuh yang benar. Orang tua mereka tetap mempertahankan mereka seperti bayi atau anak TK. Orang tua mereka tidak berusaha melakukan penolakan dalam diri mereka sendiri bahwa anak-anak mereka itu telah tumbuh menjadi manusia dewasa sama seperti mereka. Di mata dan pemikiran orang tua, para mahasiswa itu selamanya masih tetap menjadi putra-putri mereka seperti mereka dulu  dilahirkan ke dunia ini. Orang tua tersebut tidak mengajarkan kepada mereka bagaimana caranya untuk hidup mandiri, berperilaku sopan, menghargai dan mengasihi manusia, dan pastinya menerima kegagalan.

Minggu - minggu pertama saya bekerja disana, saya sangat shock dengan perilaku mahasiswa yang seperti anak SD. Berulang kali saya bertanya-tanya dalam hati, apakah saya tidak salah melihat, saya bekerja di universitas atau di sekolah dasar? Disana ada seribu lebih mahasiswa, bisa saya statistikakan bahwa, 80 % mahasiswa disana adalah mahasiswa yang sangat manja, pengeluh, dan tidak memiliki etika sama sekali. Kenakalan yang mereka tunjukkan itu bukan seperti kenakalan yang ditunjukkan oleh remaja pada umumnya yang masih mencari identitas diri, melainkan lebih ke kenalakan yang merendahkan orang lain. Mengganggap para karyawan yang bekerja disana adalah bawahan mereka atau pembantu mereka semuanya. Iya kalau mereka memiliki otak, masalahnya mereka hanya mengandalkan kekayaan orang tuanya saja.

Kalau kenalakan hanya karena pencarian identitas mungkin masih ada kemungkinan berubah setelah mereka menemukan identitasnya suatu hari nanti. Akan tetapi, masalahnya ini adalah perilaku yang telah berakar di hati mereka yang bersumber dari bahwa mereka harus dilayani karena mereka sudah membayar mahal untuk tinggal di sana. Dan perusahaan yang tempat saya bekerja juga mendukung hal tersebut, saya karyawan harus menerima sikap mereka. Inilah sisi negatif ketika pendidikan itu dibisniskan! Saya tidak memiliki kekuatan yang penuh untuk melakukan pembinaan karena perusahaan takut dengan demikian mereka akan pindah dari asrama itu. Dengan kata lain pemasukan pun akan berkurang.

Yang saya pelajari dari pengalaman ini adalah bahwa hampir semua orang tua di Indonesia ini yang memiliki materi yang berlebih gagal dalam membina anak-anaknya. Akar dari permasalahan ini semua adalah uang. Jikalau kita telah mencintai uang sebegitu besarnya melebihi dari hal-hal lain maka percayalah yang akan terjadi adalah seperti yang saya alami selama bekerja di perusahaan itu. Akan banyak anak-anak yang lahir yang lebih tamak, lebih anarkis, lebih tidak bermoral lagi di dunia ini.

Jadi bagaimana solusinya?
Untuk sementara ini, beberapa solusi yang bisa saya tawarkan adalah :

  1. Jangan pernah memberitahukan baik secara langsung maupun tersirat mengenai kekayaan yang Anda miliki.
  2. Mulailah memperkenalkan kepada anak-anak Anda apa itu uang. Kalau anda tahu sejarah uang, akan lebih bagus dalam memberikan pemahaman kepada anak-anak anda, bahwa uan itu bertujuan sebagai alat tukar. Apabila anak-anak anda sudah cukup bisa menerima penjelasan anda, anda bisa melanjutkannya dengan mengajari anak bagaimana caranya mendapatkan uang. Hal ini akan membantu anak anda untuk menghargai uang sebagaimana seharusnya.
  3. Kalau anda merasa tidak sanggup untuk membagi hidup anda dengan anak-anak anda, jangan pernah berniat untuk memiliki anak. Karena anak-anak itu bukan simbol kehormatan anda, melainkan anak ada untuk meminta komitmen anda dalam memperkenalkan dunia ini kepadanya. Tentunya tugas ini jatuh ke pundak anda, bukan ke pundak mertua anda atau baby sitter atau siapapun yang anda rencanakan untuk menjaga anak anda.
  4. Komunikasikan dan sepakati dengan pasangan anda, mengenai berbagai peraturan yang berlaku dalam rumah anda. Peraturan ini harus dilakukan secara konsisten dan tentu saja berlaku untuk semua penghuni rumah, bukan hanya kepada anak-anak anda saja, juga kepada anda.
  5. Berkaiatan dengan nomor tiga, sebisa mungkin jangan biarkan orang lain dalam hal ini di luar anda dan pasangan anda menggantikan posisi anda untuk memperkenalkan anak anda terhadap nilai agama, sosial, moral, dan etika. 
  6. Yang terakhir dan yang paling utama adalah semuanya itu hanya akan efektif dilakukan melalui tindakan bukan dengan ceramah apalagi dengan amarah. Manusia zaman sekarang akan lebih sensitif dan lebih gampang mengobservasi dan menirukan perilaku bukan perkataan.

Saya tahu, menjadi orang tua itu sangat sulit. Akan tetapi apabila anda telah memutuskan untuk memiliki anak, maka anda juga harus mempersiapkan diri untuk menghadapi konsekuensi yang nantinya akan anda dan pasangan anda hadapi. Mari bersama-sama untuk melahirkan generasi yang lebih baik untuk mengelola bumi ini menjadi lebih baik.
STOP untuk menyalahkan pemerintah yang tidak bisa mengatasi berbagai permasalahan di Indonesia ini. Karena setiap orang yang bekerja di pemerintah itu juga adalah seorang anak di dalam rumah mereka. Mereka memiliki karakter seperti itu karena pola asuh yang mereka terima dari orang tua mereka. Kalau anda merasa jenuh dengan keadaan negara ini yang tidak membawa kemajuan, maka kini saatnya anda dan pasangan anda harus berkontribursi untuk melahirkan generasi yang lebih berintegrasi dan layak untuk mengemban sebuah beban.

Kalau anda bisa menjadi seperti sekarang ini, masakan anda tidak mau anda juga akan mampu menjadi sama seperti anda tanpa harus mengharapkan warisan materi dari anda. Mari memanusiakan manusia. Jangan membiarkan anak anda tetap menjadi anak manusia, akan tetapi sudah saatnya dia bisa menjadi seorang
 manusia.



No comments: