Thursday, 27 December 2012

STOP

Dalam beberapa rentang perjalanan kehidupanku, banyak kutemukan pemikiran bahwa hidup ini tidak adil bagiku. Aku yang merasa memiliki hak akan sesuatu tapi hilang raup tertelan oleh mereka yang telah merampasnya. Aku yang mengeluarkan usaha maksimal dan terbaik dengan harapan mendapatkan yang terbaik, ternyata yang ada adalah luka dan sakit hati.

Adalah aku yang nyaris tiga tahun menjalani hidup sebagai wanita karier di Ibu Kota Negara ini.
Dengan jujur aku katakan, aku adalah pekerja yang setia dan yang siap sedia memberikan yang terbaik yang bisa kulakukan. Akan tetapi jika semua yang kulakukan tidaklah menjadi bumerang yang menyenangkan bagiku, sebodoh itukah aku untuk bertahan? Tidakkah hal yang lumrah untuk menemukan yang lebih baik?

Aku akui, aku adalah perempuan yang memiliki impian besar. Sama sekali tidak pernah terlintas dipikiranku untuk menjatuhkan orang lain apalagi untuk menjadi seorang penjilat! Mohon maaf bagi mereka yang merasa terganggu dengan cara kerjaku yang selalu berusaha memberikan yang terbaik. Itu kulakukan bukan untuk mendapatkan pujian dari atasan atau dari siapapun, akan tetapi karena impianku adalah memberikan yang terbaik semampuku.
Bagiku, pekerjaan adalah sebagai sarana untuk membuatku semakin hidup dan mengaplikasikan ilmu yang telah aku dalami selama kurang lebih empat tahun. Tentu saja, aku masih belum puas dengan ilmu yang telah kumiliki ini. Aku masih ingin terus menggali dan menggalinya. Salahkah aku dengan semua hal ini?
Jika kalian mengatakan ini adalah sebuah kesalahan, maka aku akan merespon dengan "GOOD BYE".

Jadi, apakah tepatnya pengalaman yang membuatku sampai pada kesimpulan bahwa hidup ini tidak adil?

Menjadi alumnus dari salah satu universitas terbaik di negara ini, di samping mendapatkan banyak pujian juga akan diikuti dengan beban yang sama besar. Bagaimana tidak, semua orang akan menilaimu dari setiap hal yang mereka bisa lakukan untuk menjatuhkanmu. Salah satu contoh komentar mereka adalah, "Jadi begini kualitas anak UI?". Bisa dipastikan mereka yang memberikan komentar ini adalah mereka yang bukan dari UI tentunya. Dan tentu saja mereka yang tidak memiliki kaca di rumahnya untuk berkaca. Bukan hal yang baru lagi bagiku ketika di dunia pekerjaan, yang kudapatkan adalah tuntutan yang lebih besar hanya karena almamater yang kumiliki. Padahal seharusnya, upah akan berbanding lurus dengan beban tanggung jawab. Yang kualami adalah beban kerja berbanding lurus dengan almamater. Dan tidak memiliki hubungan apapun dengan upah.
Seolah-olah, almamaterku sudah ditakdirkan untuk mendapatkan tuntutan yang lebih besar dibandingkan dengan almamater lain di negara ini.

Pengalaman lain yang kudapatkan adalah ketika aku berusaha dengan setiap helaan nafasku untuk memberikan yang terbaik, untuk mengumpulkan setiap rupiah, di bagian lain negara ini hanya dengan duduk dan bermalas-malasan saja bisa mendapatkan berlipat kali dari upah yang kudapatkan.

Di belahan Ibu Kota Negara yang lain kutemukan mereka yang selalu dengan gampangnya menghabiskan setiap rupiah tanpa memikirkan apapun. Seolah-olah hidup ini hanya untuk sehari saja. Hanya memikirkan diri sendiri. Dan sialnya itu adalah hal yang sulit kulakukan. Memikirkan diri sendiri!

Ada lagi yang tidak memiliki rasa bersalah dengan menghabiskan waktu hanya dengan melakukan sesuka hati. Menonton, mengomentari orang lain, tidu-tiduran, bengong, dan sebagainya. Sementara aku harus berpacu dengan waktu untuk dapat bertahan hidup.

STOP!
Aku mau di hari-hari yang akan datang, aku ingin menutup semua pemikiran mengenai ketidakadilan dalam hidup ini. Aku mau membuka kembali setiap lembaran kisahku dengan ucapan syukur. Bersyukur buat setiap masalah, penderitaan, kesepian, keegoisan yang kuterima dari sesamaku manusia. Aku harus bersyukur untuk semua itu. Karena itulah cara yang paling mujarab untuk membuktikan pada diriku sendiri bahwa aku telah dibentuk.
Hidup ini memang tidak adil, lalu mengapa? Itu bukan menjadi alasan yang kuat untuk membenci kehidupan ini. Tidak jadi pilihan yang dewasa untuk mengakhiri natal tahun ini.

STOP!
dan STOP!

No comments: