Friday, 19 October 2012

U A N G

Aku bukan orang yang menentang pernikahan, bukan orang yang anti dengan kelahiran. Itu adalah moment yang sangat istimewa dan tak terlupakan. Karena itu adalah moment yang istimewa sudah sepatutnya kita pun menyambutnya dengan istimewa. Menyambut dengan istimewa tentu saja  bukan dengan berbagai ornamen yang mahal dan mewah, akan tetapi lebih ke persiapan mental dan pengetahuan mengenai kedua hal ini.

Aku tidak mau munafik, uang sangat dibutuhkan dalam kehidupan kita, khususnya  bagi kami orang Batak! Semua orang membutuhkannya. Uang dan uang!

Ada satu hal penting yang terlupakan oleh kita di generasi sekarang, khususnya bagi mereka yang masih sangat konvensional. Bahwa ketika mempersiapkan pernikahan, mempersiapkan kelahiran, yang paling diutamakan adalah PENGETAHUAN! Dengan pengetahuan, tidaklah hal yang mustahil,  jika keberadaan uang pun nyaris tidak begitu utama. Bagaimana caranya? Ya, itu gunakan otak kita. Dari pengalaman pribadiku, semakin kita terjepit maka semakin kreatiflah otak kita untuk memenuhi kebutuhan kita sehari-hari yang tentunya TANPA uang!
Ingat pelajaran di SD, uang hanyalah alat tukar untuk memenuhi kebutuhan. Logikanya, karena uang hanya alat tukar, berarti itu bukan kebutuhan kita. Lalu bagaimana kita bisa memenuhiku kebutuhan kita? Tentu saja dengan PENGETAHUAN. Makanya Tuhan memberikan kita otak untuk mengelola bumi ini, bukan uang!

Kembali dengan pernikahan dan kelahiran. Berapa banyak dari pasangan di Indonesia atau diantara kita yang memiliki pengetahuan sebelum melangkahkan kaki ke dunia baru (baca. pernikahan)? Seberapa banyak diantara kita yang  mempersiapkan diri untuk menjadi seorang istri/suami, menantu, dan ibu/ayah?
Jawabannya adalah tidak sebanyak jumlah anak yang lahir tiap hari!
Setiap pasangan yang akan menikah  membutuhkan waktu setahun dan bahkan lebih untuk mempersiapkan  keperluan pesta yang hanya berlangsung beberapa jam. Untuk apa? PENCITRAAN!
Berapa banyak dari pasangan di Indonesia atau diantara kita yang duduk tenang membaca buku mengenai kehidupan pernikahan, mengenai bagaimana cara mendidik anak, bagaimana cara menjadi seorang istri/suami, menjadi menantu atau mertua?
Majalah mengenai gaun pengantin, gedung atau hotel mewah, yang akan selalu menjadi sorotan utama dibandingkan dengan buku-buku atau artikel terbaru mengenai kehidupan pernikahan.

Menurut mayoritas orang di negara ini, dengan memiliki uang semuanya akan beres. INILAH KESALAHAN FATAL YANG MENGAKIBATKAN BANGSA KITA MENJADI SEPERTI SEKARANG INI.

Kita terlalu di atas angin dengan jumlah saldo yang kita miliki. Kita terlalu kaku dengan doktrin yang diberikan oleh orang tua kita yang mengatakan bahwa waktu akan mengajari kita. Itu salah! Kita dan orang tua kita berada di zaman yang berbeda. Orang tua kita lahir dan dibesarkan di zaman dimana mereka harus menerima kehidupan mereka dengan apa adanya. Tapi kita beda, kita lahir dan dibesarkan dengan pemikiran yang kritis. Walaupun pemikiran kita yang kritis lebih banyak kita pergunakan untuk protes dan berkomentar!

Di Indonesia, khususnya di Jakarta jumlah penduduk semakin bertambah banyak. Manusia bertambah, kebutuhan pasti juga bertambah. Kebutuhan akan oksigen, air, pangan, tempat tinggal, dan sebagainya. Belum lagi dengan kebutuhan sekunder lainnya. Alhasil, akan semakin banyak pohon yang ditebang, akan semakin banyak minyak yang ditambang, akan semakin banyak lahan yang dibangun.

Pernahkah kita berpikir dunia seperti apa yang akan kita tunjukkan kepada anak-anak kita?

Para orang tua sekarang, yang terpenting adalah anakku pintar, menguasai berbagai macam bahasa, les ini dan itu, cantik/ganteng, menguasai alat musik, tapi kepribadiannya? Egois, tidak memiliki empati, selalu ingin dimengerti dan diperhatikan tanpa mau memperhatikan dan mengerti orang lain, manja, mengklasifikasikan orang lain dari apa yang dia pakai, dan yang pasti MENCINTAI UANG dan DIRINYA SENDIRI!

Berapa banyak sih orang tua yang melahirkan dan membesarkan anak mereka untuk menjadi guru di pedalaman? Untuk menjadi dokter di desa?
Jawabannya tidak sebanyak pasangan yang menikah setiap harinya!

Yang ada adalah semua orang tua berlomba-lomba agar anaknya bisa sekolah ke luar negeri, memiliki uang yang banyak dengan cara apapun, terserah. Mau korupsikah, mau mencurikah, mau menipukah, mau berbuat curangkah, tidak jadi soal, yang penting anakku harus menjadi orang kaya, menjadi orang mapan.

Semuanya adalah tentang uang.

Inikah dunia yang akan kita perkenalkan kepada anak-anak kita? Inikah kehidupan yang kita inginkan untuk mereka jalani? Untuk itukah kita mengandungnya dan melahirkannya ke dunia? Untuk ituah kita menahan sakit dan berkorban nyawa?
Kalau bukan kita, generasi yang sekarang sedang menapaki tahap menuju pernikahan, siapa lagi yang akan memutuskan lingkaran cinta uang ini? Kita selalu berusaha untuk melestarikan lingkungan demi anak cucu kita kelak, lalu mengapa kita tidak berbuat yang sama, melahirkan dan membesarkan manusia yang bisa mengelola bumi ini dengan bijaksana?

Aku tahu ini terlalu idealis. Dan aku tahu ini akan mengakibatkan dilema. Di satu sisi kita sangat ingin memiliki anak dari darah kita sendiri. Aku tidak anti akan itu. Yang ingin aku tekankan melalui tulisan ini adalah kepekaan kita terhadap lingkungan kita. Dunia telah semakin sesak, sesak dengan orang-orang yang mencintai uang dan mencintai diri sendiri. Hanya kita yang bisa memutuskannya, salah satunya dengan melahirkan dan membesarkan anak-anak yang mencintai sesamanya, mencintai lingkungannya, dan yang pasti mencintai TUHANnya.

Selamat memasuki dunia baru (baca pernikahan dan kelahiran) bagi  semua teman-temanku. Semoga menjadi istri/ayah, menantu, ibu/ayah yang menjadikan dunia ini layak untuk dihuni dan proaktif dalam mengurangi jumlah manusia yang cinta uang dan cinta diri sendiri!


Thursday, 18 October 2012

J A K A R T A

Ketika masih tinggal dengan orang tuaku, banyak masyarakat di daerahku sangat mengangungkan orang-orang yang merantau ke Jakarta. Beberapa teman sebaya juga sangat bangga sekali apabila mereka memiliki keluarga yang tinggal di Jakarta. Ketika keluarganya itu melakukan kunjungan ke kampung halaman dan membawa oleh-oleh, maka mereka akan melakukan tindakan pamer yang luar biasa. Aku nyaris tidak mengerti mengapa mereka melakukan hal seperti itu. Aku juga bingung, mengapa orang yang merantau ke Jakarta dianggap seperti hal yang sangat bergengsi.

Hipotesaku, (mencoba berpikiran positif) mungkin karena Jakarta sangat jauh dari kampung halamanhu (empat hari tiga malam dengan bis) dan membutuhkan biaya yang tidak sedikit untuk bekal di perjalanan. Jadi, setiap orang yang berhasil melalui "perjuangan" itu dianggap orang yang hebat. Walaupun bisa dibilang, mayoritas orang yang menyombongkan diri itu adalah mereka yang sudah memiliki bibit sok jago dan kesombongan di kampung halaman. Jujur, aku sendiri tidak pernah menganggap bahwa orang yang merantau ke Jakarta itu adalah sesuatu yang harus disombongkan.

Aku pernah sangat marah sekali kepada almarhum Bouku (kakak perempuan papaku yang kebenaran tinggal dengan kami). Saat itu, saudara sepupuku yang dari Jakarta berkunjung ke rumah orang tuaku. Kebiasaan di kampung, makan siang maupun makan malam selalu dilakukan bersama-sama, apalagi kalau sedang kedatangan tamu. Dan di rumah orang tuaku, setiap anak gadis seharusnya  mempersiapkan kebutuhan untuk makan makan malam dan makan siang tersebut. Bouku pun menyuruhku untuk melakukan ini dan itu, dengan kata lain sebagai seksi repot. Saat itu, aku langsung protes ke Bouku, mengapa aku disuruh untuk melakukan ini dan itu sementara saudari sepupuku yang datang dari Jakarta dibiarkan saja duduk tenang seperti putri raja.
Lalu Bouku pun menjawab, "Dia kan anak Jakarta."
"Kenapa dengan dia sebagai anak Jakarta?", balasku.
Bouku pun balik membentakku,  "Tidak usah banyak tanya kerjakan saja apa yang kusuruh."
Aku yang saat itu masih berusia 8 tahun, terdiam - melakukan apa yang Bouku suruh. Sejak saat itu, aku mulai berprasangka negatif bahwa orang Jakarta itu adalah orang-orang manja yang tidak bisa melakukan hal-hal kecil untuk dirinya sendiri!

Penilaian negatifku kembali muncul ke permukaan menyaksikan beberapa orang yang aku kenal merantau ke Jakarta dan bertingkah laku super berlebihan ketika pulang ke kampung halaman. Misalnya, tidak mau memakai bahasa Batak alias selalu memakai bahasa Indonesia yang tentu saja dengan kosa kata "gue-lu" dan dengan dialek Batak! Hampir setiap kalimat yang muncul, "waktu gue di Jakarta", blablablabla. Rambut dicat, pakai make up super norak, gaya berbusana yang tidak pada tempatnya, dsb. Benar-benar sangat butuh pengakuan bahwa dia adalah anak Jakarta. Sangat ingin dianggap kota tapi pemikiran tetap kampungan terbukti dari topik pembicaraan yang diangkat hanya seputar dia di Jakarta yang tentu saja telah ditambah dengan berbagai "bumbu". Hal ini hampir terjadi kepada setiap orang Batak yang merantau ke Jakarta. Kesombongan yang berlebihan ketika pulang kampung, padahal di Jakarta, makan pun sangat susah! Tapi di kampung sudah berlagak seperti orang besar.

Beberapa pengalaman di atas membuatku bertanya-tanya segitu dasyatnyakah Jakarta mengubah karakter manusia?

Waktu SD, aku tergoda untuk ke Jakarta hanya karena satu alasan, yaitu untuk melihat tempat-tempat bersejerah, misalnya Lubang Buaya, berbagai macam museum, perpustakaan nasional, dan sejenisnya. Selebihnya tak pernah terlintas di pikiranku untuk tinggal di Jakarta ini.

Sampai sekarang aku masih suka bertanya-tanya dalam hati, mengapa merantau ke Jakarta menjadi sesuatu yang sangat disombongkan ketika pulang kampung? Apa yang mengakibatkan hal ini bisa terjadi? Aku tidak tahu dengan suku yang lain, akan tetapi di kampungku hal ini sangat terlihat jelas. Demikian halnya dengan mereka yang tinggal di kampung. Sikap yang mengagung-agungkan mereka yang merantau ke Jakarta super duper berlebihan dilakukan oleh masyarakat di kampung.

Satu hal lagi yang membuatku terkadang sampai harus menarik napas panjang adalah ketika banyak dari mereka yang kukenal sangat malu apabila diketahui bahwa dia berasal dari kampung. Apa salahnya memiliki kampung halaman? Menurutku memiliki kampung halaman adalah sebuah harta yang tak ternilai harganya. Jutaan orang di Jakarta ini tidak memiliki kampung halaman. Tentu saja, kampung halaman yang kumaksud adalah kampung dimana tempat hati dan pikiran kita berakar. Bukan hanya sekedar KTP saja! Atau menumpang lahir. Atau menumpang dari silsilah orang tua.

Kepada siapapun yang bertanya kepadaku, aku akan menjawab bahwa aku berasal dari kampung. Dan aku bangga serta bersyukur menghabiskan 18 tahun hidupku di kampung. Walaupun fisikku berkembang di kampung, akan tetapi otakku berkembang dengan global. Aku tidak perlu menyembunyikan identitasku dengan menampilkan yang bukan aku, misalnya menjadi orang lain, meniru orang lain, mengangagungkan orang lain, atau bahkan menggunakan berbagai macam "topeng" hanya untuk menutupi identitas diri. Jadilah menjadi diri sendiri.

Banyak orang yang aku kenal kehilangan identitas setelah tinggal di Jakarta. Ingin dianggap kota, ingin dianggap gaul, ingin dianggap keren, ingin dianggap rock, dan sebagainya tanpa melihat ke dalam diri sendiri, sesuaikah itu dengan jiwaku yang sesungguhnya? Itukah peran yang diberikan kepadaku? Untuk itukah aku diberikan kesempatan menghirup oksigen dengan gratis?

Sekarang aku paham, banyak orang mengatakan kejamnya ibu tiri tapi lebih kejam Ibu Kota Negara. Itu adalah idiom kuno dan ketinggalan zaman. Yang terbaru adalah  kejamnya manusia yang tinggal di Jakarta lebih kejam ketika kita berusaha "membunuh" identitas diri kita sendiri.

Jakarta tidak pernah melukai siapapun. Jakarta tidak pernah mengambil apapun. Jakarta tidak pernah merugikan siapapun. Yang ada adalah manusia yang ada di dalamnya melakukan "pembunuhan" terhadap identitas diri sendiri yang menjadikan kita berubah menjadi manusia yang bukan seharusnya. Menjadi egois, cuek, mengutamakan kepentingan pribadi dan keluarga, tidak ada empati, tamak, serakah, arogan dan berbagai karakter negatif lainnya.

Kita semua yang merantau ke Jakarta memiliki identitas masing-masing, tapi kita "membunuhnya" demi obsesi negatif kita. Dan ketika obsesi itu belum atau tidak tercapai, kita mengutuk Jakarta, mempersalahkan pemerintah yang tidak proaktif memuluskan obsesi negatif kita. Hal ini mengakibatkan Jakarta menjadi kota yang paling sering mendapatkan kutukan dari setiap mulut yang tinggal di Jakarta ini.

Di minggu-minggu pertama pemerintahan Jokowi sebagai Gubernur DKI Jakarta, adalah sesuatu yang positif jika kita sebagai manusia berbudaya, memberikan waktu untuk intropeksi diri,
JAKARTA SUDAH MEMBERIKAN BANYAK HAL KEPADA KITA, LALU APAKAH YANG BISA KITA BERIKAN KEPADA JAKARTA?