Sunday, 30 December 2012

Pelajaran selama menjadi "budak"

Bekerja selama setahun dua bulan di sebuah perusahaan yang bergerak di bidang pendidikan di Jakarta ini memberikan banyak wawasan baru bagi saya. Khususnya mengenai betapa buruknya pengetahuan para orang tua di Indonesia dalam hal mengasuh anak. Bukannya saya ingin menghakimi mereka, karena saya sadar betul adalah pilihan yang sangat sulit untuk menjadi orang tua, apalagi menjadi orang tua yang ideal bagi setiap anak-anak yang mereka lahirkan di tengah-tengah perkembangan teknologi sekarang ini.

Ceritanya dimulai ketika dengan sedikit terpaksa saya akhirnya bersedia untuk bekerja di antara mahasiswa- mahasiswa yang berasal dari berbagai daerah di Indonesia.  Mereka yang masuk ke dalam asrama ini adalah mereka yang memiliki orang tua dengan level ekomoni ke atas karena biaya untuk satu kamar single di asrama ini sebesar Rp 1.750.000,00 per bulannya. Itu hanya untuk biaya kamar saja belum termasuk biaya makan dan biaya sekunder lainnya, seperti biaya hiburan, dan tentu saja belum termasuk biaya kuliah. Bisa disimpulkan, rata-rata mahasiswa yang tinggal di sini menghabiskan MINIMAL Rp 3.000.000,00 per bulannya.

*Sementara UMR di Jakarta sekarang masih di bawah Rp 2.000.000,00. Bisa dibayangkan, kan bagaimana gap itu bisa menganga begitu besar?

Kembali ke tujuan tulisan ini dibuat. Seperti kebiasaan orang pada umumnya, semakin besar uang yang dikeluarkan untuk sebuah pelayanan jasa, maka pelayanan yang diharapkan pun akan semakin tinggi bahkan terkadang tidak mau tahu dengan prosedur yang harus dilalui. Demikian pulalah karakteristik mahasiswa yang ada di sana. Walaupun secara kasat mata, yang membayar biaya mereka di asrama itu adalah orang tua mereka akan tetapi mereka merasa sangat berhak untuk melakukan apapun yang menurut mereka hak mereka. Mereka tidak mau tahu dan tidak ingin tahu dengan prosedur yang berlaku, intinya segala sesuatu yang mereka butuhkan harus terpenuhi hanya karena orang tua mereka telah membayar.

Dalam banyak hal, keluhan mereka itu sangat sering tidak bisa diterima logika. Dan malangnya, saya yang telah menerima pekerjaan itu harus siap sedia menerima setiap ocehan mereka yang tidak mendasar sama sekali. Entah dari mana mereka akhirnya mendapatkan kesimpulan bahwa mereka harus dilayani seperti pangeran dan putri. Mereka sama sekali tidak memiliki sopan santun dan tidak tahu bagaimana caranya berkomunikasi dengan benar dan tepat. Untuk semua perlakuan mereka kepada saya, saya tidak terlalu menyalahkan mereka karena orang tua mereka juga kurang lebih memiliki perlakuan yang kurang lebih sama. Air cucuran atap jatuhnya ke pelimbahan juga, kan? Di samping itu, perusahaan yang mempekerjakan saya tidak pernah memberikan langkah yang konkrit untuk mengatasi hal ini karena bagi perusahaan, para mahasiswa itu adalah customer yang harus diperlakukan seperti raja. Jadi tidak heran kalau mahasiswa disana pada akhirnya menuntut untuk diperlakukan seperti raja.

Melallui tulisan ini, saya ingin menegaskan bahwa tulisan ini dibuat bukan untuk  menyalahkan perusahaan yang telah memperkerjakan saya dan para mahasiswa itu. Walaupun, saya tidak bisa menutup mata bahwa perilaku mahasiswa ini sedikit banyak karena "didukung" oleh perusahaan itu sendiri. Inti dari tulisan ini sendiri adalah saya ingin menyoroti  pola asuh yang telah diberikan orang tua para mahasiswa itu kepada mereka sehingga melahirkan karakter-karakter yang membuat saya nyaris sesak nafas dan menangis bombay.

Memiliki materi yang melimpah didukung dengan pengetahuan mendidik anak yang kurang membuat para orang tua mahasiswa tersebut mengandalkan barang-barang untuk menunjukkan perhatian dan kasih sayang mereka terhadap anak-anaknya. Para mahasiswa tersebut "dipaksa" untuk menghabiskan waktu mereka dengan bersentuhan pada barang-barang yang dibelikan oleh orang tua mereka. Barang-barang tersebut, misalnya handphone, laptop, kendaraan pribadi dan berbagai jenis alat elektronik yang lainnya. Di samping itu, adanya sosialiasi dari orang tua baik secara lisan maupun gestur tubuh yang mengklasifikan level mereka dibandingkan dengan level masyarakat lainnya di dalam taksonomi kehidupan bermasyarakat. Misalnya dengan mengatakan, kamu ini anak yang orang kaya, orang tuamu memiliki uang yang cukup untuk membiayai sekolahmu kemana pun kamu pilih. Bahkan banyak diantara mereka yang merasa terpaksa kuliah demi mendapatkan uang dari orang tuanya. Ada juga yang menganggap kuliah ini hanyalah formalitas saja. Daripada main game on line di kamar seharian  dan ketika para tetangga bertanya, kamu kuliah dimana - setidaknya mereka bisa memberikan nama universitas dimana nama mereka ada. Dan beruntungnya perusahaan tempat saya bekerja dulu, menangkap kebutuhan ini. Alhasil lahirlah perusahaan yang bertopengkan pendidikan.

Oops, kembali ke masalah pola asuh. Selama bekerja di sana saya banyak melakukan observasi dan analisa mengapa para mahasiswa disana sangat hobby dalam melakukan komplein. Dimana komplein yang mereka berikan itu tidak memiliki nilai argumentatif. Mereka hanya berani berkoar-koar di dunia maya, akan tetapi apabila diminta untuk bertemu, mereka jarang yang berani datang. Kalaupun datang mereka tidak seberani seperti di dunia maya dan kebanyakan pasti mengajak teman-temannya. Mereka mahasiswa, tapi sama sekali tidak memiliki dan tidak mau memiliki pemikiran yang kritis. Banyak diantara mereka menjadi anak TK yang terperangkap dalam tubuh orang dewasa.

Menurut analisa saya, hal ini disebabkan karena mereka tidak mendapatkan pola asuh yang benar. Orang tua mereka tetap mempertahankan mereka seperti bayi atau anak TK. Orang tua mereka tidak berusaha melakukan penolakan dalam diri mereka sendiri bahwa anak-anak mereka itu telah tumbuh menjadi manusia dewasa sama seperti mereka. Di mata dan pemikiran orang tua, para mahasiswa itu selamanya masih tetap menjadi putra-putri mereka seperti mereka dulu  dilahirkan ke dunia ini. Orang tua tersebut tidak mengajarkan kepada mereka bagaimana caranya untuk hidup mandiri, berperilaku sopan, menghargai dan mengasihi manusia, dan pastinya menerima kegagalan.

Minggu - minggu pertama saya bekerja disana, saya sangat shock dengan perilaku mahasiswa yang seperti anak SD. Berulang kali saya bertanya-tanya dalam hati, apakah saya tidak salah melihat, saya bekerja di universitas atau di sekolah dasar? Disana ada seribu lebih mahasiswa, bisa saya statistikakan bahwa, 80 % mahasiswa disana adalah mahasiswa yang sangat manja, pengeluh, dan tidak memiliki etika sama sekali. Kenakalan yang mereka tunjukkan itu bukan seperti kenakalan yang ditunjukkan oleh remaja pada umumnya yang masih mencari identitas diri, melainkan lebih ke kenalakan yang merendahkan orang lain. Mengganggap para karyawan yang bekerja disana adalah bawahan mereka atau pembantu mereka semuanya. Iya kalau mereka memiliki otak, masalahnya mereka hanya mengandalkan kekayaan orang tuanya saja.

Kalau kenalakan hanya karena pencarian identitas mungkin masih ada kemungkinan berubah setelah mereka menemukan identitasnya suatu hari nanti. Akan tetapi, masalahnya ini adalah perilaku yang telah berakar di hati mereka yang bersumber dari bahwa mereka harus dilayani karena mereka sudah membayar mahal untuk tinggal di sana. Dan perusahaan yang tempat saya bekerja juga mendukung hal tersebut, saya karyawan harus menerima sikap mereka. Inilah sisi negatif ketika pendidikan itu dibisniskan! Saya tidak memiliki kekuatan yang penuh untuk melakukan pembinaan karena perusahaan takut dengan demikian mereka akan pindah dari asrama itu. Dengan kata lain pemasukan pun akan berkurang.

Yang saya pelajari dari pengalaman ini adalah bahwa hampir semua orang tua di Indonesia ini yang memiliki materi yang berlebih gagal dalam membina anak-anaknya. Akar dari permasalahan ini semua adalah uang. Jikalau kita telah mencintai uang sebegitu besarnya melebihi dari hal-hal lain maka percayalah yang akan terjadi adalah seperti yang saya alami selama bekerja di perusahaan itu. Akan banyak anak-anak yang lahir yang lebih tamak, lebih anarkis, lebih tidak bermoral lagi di dunia ini.

Jadi bagaimana solusinya?
Untuk sementara ini, beberapa solusi yang bisa saya tawarkan adalah :

  1. Jangan pernah memberitahukan baik secara langsung maupun tersirat mengenai kekayaan yang Anda miliki.
  2. Mulailah memperkenalkan kepada anak-anak Anda apa itu uang. Kalau anda tahu sejarah uang, akan lebih bagus dalam memberikan pemahaman kepada anak-anak anda, bahwa uan itu bertujuan sebagai alat tukar. Apabila anak-anak anda sudah cukup bisa menerima penjelasan anda, anda bisa melanjutkannya dengan mengajari anak bagaimana caranya mendapatkan uang. Hal ini akan membantu anak anda untuk menghargai uang sebagaimana seharusnya.
  3. Kalau anda merasa tidak sanggup untuk membagi hidup anda dengan anak-anak anda, jangan pernah berniat untuk memiliki anak. Karena anak-anak itu bukan simbol kehormatan anda, melainkan anak ada untuk meminta komitmen anda dalam memperkenalkan dunia ini kepadanya. Tentunya tugas ini jatuh ke pundak anda, bukan ke pundak mertua anda atau baby sitter atau siapapun yang anda rencanakan untuk menjaga anak anda.
  4. Komunikasikan dan sepakati dengan pasangan anda, mengenai berbagai peraturan yang berlaku dalam rumah anda. Peraturan ini harus dilakukan secara konsisten dan tentu saja berlaku untuk semua penghuni rumah, bukan hanya kepada anak-anak anda saja, juga kepada anda.
  5. Berkaiatan dengan nomor tiga, sebisa mungkin jangan biarkan orang lain dalam hal ini di luar anda dan pasangan anda menggantikan posisi anda untuk memperkenalkan anak anda terhadap nilai agama, sosial, moral, dan etika. 
  6. Yang terakhir dan yang paling utama adalah semuanya itu hanya akan efektif dilakukan melalui tindakan bukan dengan ceramah apalagi dengan amarah. Manusia zaman sekarang akan lebih sensitif dan lebih gampang mengobservasi dan menirukan perilaku bukan perkataan.

Saya tahu, menjadi orang tua itu sangat sulit. Akan tetapi apabila anda telah memutuskan untuk memiliki anak, maka anda juga harus mempersiapkan diri untuk menghadapi konsekuensi yang nantinya akan anda dan pasangan anda hadapi. Mari bersama-sama untuk melahirkan generasi yang lebih baik untuk mengelola bumi ini menjadi lebih baik.
STOP untuk menyalahkan pemerintah yang tidak bisa mengatasi berbagai permasalahan di Indonesia ini. Karena setiap orang yang bekerja di pemerintah itu juga adalah seorang anak di dalam rumah mereka. Mereka memiliki karakter seperti itu karena pola asuh yang mereka terima dari orang tua mereka. Kalau anda merasa jenuh dengan keadaan negara ini yang tidak membawa kemajuan, maka kini saatnya anda dan pasangan anda harus berkontribursi untuk melahirkan generasi yang lebih berintegrasi dan layak untuk mengemban sebuah beban.

Kalau anda bisa menjadi seperti sekarang ini, masakan anda tidak mau anda juga akan mampu menjadi sama seperti anda tanpa harus mengharapkan warisan materi dari anda. Mari memanusiakan manusia. Jangan membiarkan anak anda tetap menjadi anak manusia, akan tetapi sudah saatnya dia bisa menjadi seorang
 manusia.



Gadis "JAKARTA"

Tidak pernah sekalipun terlintas di kepalaku untuk berkarier di Jakarta, di Ibukota Negara Indonesia ini. Bukan karena aku membenci kota ini melainkan karena aku sama sekali tidak mengenal kota ini selain dari lagu Iwan Fals yang menyuarakan betapa susahnya tinggal di Jakarta. Bahkan, selama empat tahun kuliah di Depok, yang merupakan tetangga dekat Jakarta tidak cukup untuk menanamkan ide di kepalaku berkarier di Jakarta ini. Mungkin, karena saat itu aku terlalu fokus dengan apa yang ada di depanku, yaitu menyelesaikan kuliah tepat waktu sebelum beasiswaku kedaluarsa alias diberhentikan seperti perjanjian yang sudah aku setujui sebelumnya bahwa aku hanya akan mendapatkan beasiswa selama 4 tahun saja. Oleh karena itu, saraf di otakku belum bisa melangkah lebih jauh lagi untuk memikirkan pintu mana nantinya yang akan aku masuki setelah melepaskan jaket kuning itu.

Singkat cerita ketika perlahan tapi pasti, masa kedaluarsa beasiswa sudah semakin mendekat, bak kebakaran jenggot aku pun mengirimkan lamaran sebanyak mungkin ke semua perusahaan yang aku tahu membutuhkan fresh graduate dengan latar belakang pendidikanku, yaitu psikologi. Dengan harap-harap cemas dan semangat untuk mendapatkan uang agar bisa bertahan hidup di Jakarta ini, aku mengirimkan surat lamaran dan CV sebanyak mungkin. Tak jarang, karena banyaknya perusahaan yang aku lamar, aku sering lupa dan tidak menyadari pernah melamar ke perusahaan itu ketika ada panggilan tes wawancara.

Puji Tuhan, sebelum aku wisuda, setelah memenuhi panggilan tes wawancara untuk kesekian kalinya dari perusahaan yang berbeda-beda, akhirnya ada perusahaan yang menerimaku. Aku memulai karierku di perusahaan konsultan bisnis dan manajemen. Aku ingat saat itu, aku dipanggil tes wawancara di hari Jumat dan diwawancara oleh tujuh orang sekaligus! Kaget, tentu saja! Karena ini menjadi pengalaman pertamaku ditest wawancara oleh tujuh orang sekaligus, dimana pertanyaannya tidak memiliki alur. Melompat-lompat seperti kutu di kepala yang menyebabkan gatal tidak menentu, kadang di bagian depan kepala, kadang di tengah, di belakang, dan kembali lagi ke tengah, kembali lagi ke depan, dan begitu seterusnya. Hal ini mengakibatkan durasi tes wawancara berjalan sampai lebih dari dua jam! Sidang skripsi saja, aku lalui hanya 15 menit dengan dua orang penguji! Belum lagi pengalamanku, sebelum sampai ke perusahaan ini dengan selamat aku melakukan kebiasaanku, yaitu NYASAR! Padahal alamat perusahaan yang aku datangi ini sangatlah strategis, Menara Karya, Jalan Rasuna Said, tetangga dengan keduataan Belanda dimana aku sudah sering ke sana!

Singkat cerita, sesampai di kostan (waktu itu masih di Depok), aku mendapat telepon dari perusahaan yang sama untuk tes wawancara kedua di keesokan harinya. Kali ini aku diwawancara oleh satu orang dengan durasi yang kurang lebih sama yaitu sekitar dua jam! Dan akhirnya aku pun diterima bekerja di sana dengan gaji Rp 3.500.000,00 di samping tunjangan dan bonus! Gaji yang cukup besar menurutku di kala itu, berhubung setelah tanya kesana-kemari ternyata teman-teman seangkatan banyak yang tidak mendapatkan gaji sebesar yang aku terima. Jadi, kesimpulannya, aku tidak ditipu dengan besarnya upah yang akan aku terima sebagai seorang fresh graduate.

Dengan semangat yang menggebu-gebu untuk mengaplikasikan ilmu dan ingin memberikan kesan yang baik terhadap almamater (pesan dari dosen masih menari-nari di kepala untuk tidak mempermalukan almamater, maklum fresh graduate), aku pun bekerja dengan sangat disiplin dengan berusaha memberikan yang terbaik, misalnya datang lebih pagi dan berusaha untuk pulang lebih lama dari waktu yang ada di surat perjanjian kerja. Di minggu - minggu pertama aku bekerja di sana, aku telah tiba di kantor sebelum MENARA KARYA dibuka (gedung tempat aku memulai karier). Terpaksa aku menunggu di luar bersama satpam dan OB gedung yang baru datang untuk melakukan tugas rutin mereka.

Akan tetapi, tsunami itu pun datang. Setelah satu tahun satu bulan bekerja disana, aku merasa tidak berjodoh dengan perusahaan itu. Aku memutuskan untuk mencari pekerjaan yang lebih baik dan tentunya yang lebih membuatku untuk nyaman mengaplikasikan ilmuku. Bisa dibilang, aku membawa kekecewaan dari perusahaan ini. Kekecewaan yang aku sendiri tidak bisa menjabarkannya karena tidak ada kalimat yang tepat untuk memaparkannya.

Setiap kali ada saja orang yang menanyakan mengapa aku meninggalkan perusahaan itu, apalagi dengan upah yang aku dapatkan (setelah enam bulan bekerja disana, aku diangkat jadi karyawan tetap dan tentunya diikuti dengan kenaikan upah) yang cukup besar untuk ukuran fresh graduate, menurut mereka! Tak banyak diantara mereka yang mengatakan bahwa aku menjadi manusia yang cinta uang dan tidak puas dengan apa yang sudah diberikan Yang Maha Kuasa. Ada pula diantara mereka yang mempertanyakan, apakah aku menyesal dengan keputusan yang aku ambil? Tentu saja dengan intonasi yang memaksaku untuk mengatakan, iya.

Kuakui, itu memang salah satu keputusan berat yang pernah aku ambil dari ratusan keputusan yang pernah kuambil sendiri -  Meninggalkan perusahaan itu sebelum mendapatkan pekerjaan lain. Untuk yang satu ini, aku sangat bersyukur sekali karena aku telah terbiasa untuk mengambil keputusan sendiri sehingga prosesnya berjalan dengan cepat (sisi positifnya). Walaupun aku mendapatkan rem dari pacarku untuk mempersiapkan hatiku menghadapi konsekuensinya. Keputusan untuk pergi semakin sulit untuk aku ambil selama sepersekian menit ketika pihak perusahaan masih mencoba menunda kepergianku dengan mengatakan aku boleh pergi setelah menemukan pekerjaan baru. Dengan kata lain aku masih  dibutuhkan di perusahaan itu. Betapa baiknya perusahaan itu, yang saat itu nyaris membuatku ingin menangis. Menangis karena aku merasa  semakin terluka untuk tetap bertahan bahkan untuk sehari saja.

Orang-orang terdekatku yang paling ribut mempertanyakan keputusanku ini, khususnya dari pihak keluargaku. Tentu saja mereka mengkuatirkan bagaimana aku bisa bertahan hidup di Jakarta ini tanpa pekerjaan. Karena sudah dapat dipastikan bahwa mereka tidak akan membantuku!

Seperti yang aku katakan di awal, aku meninggalkan perusahaan itu bukan karena kesombonganku seperti respon beberapa orang (karena mereka melihat dari sisi upah yang telah aku terima). Dan aku tidak pernah menyalahkan mereka untuk memberikan respon itu. Karena aku juga terlalu lelah untuk memberikan pembelaan terhadap diriku dengan suasana hatiku yang terluka (jiaah..!!). Cukuplah sahabat dan pacarku yang tahu bagaimana asap itu akhirnya bisa muncul. Sekarang, mungkin apinya telah lama padam, dan asapnya juga sudah tidak ada lagi, akan tetapi bekas dari api itu masih belum hilang. Walau sudah lebih dari setahun berlalu, bekasnya masih sangat nyata (salah satu ciri-ciri orang yang belum move on).

Puji Tuhan, tepat sebulan setelah saldoku nyaris menuju angka nol, aku menerima tantangan untuk bekerja di perusahaan yang bergerak di bidang pendidikan. Cukup memiliki brand di Jakarta ini - walau aku sama sekali tidak peduli! Bagiku yang terpenting adalah aku bisa mengaplikasikan ilmu yang ada di otakku ini sebelum menjadi rusak karena tidak dipakai. Seperti kebiasaan  lamaku, bekerja dengan sangat antusias, inisiatif, bertanggung jawab, dan berusaha memberikan yang terbaik, aku pun melanjutkannya di tempat yang baru ini. Dari segi pekerjaan, sekilas, ilmuku terasa lebih diterapkan di perusahaan ini. Sialnya, mimpi buruk itu belum berlalu, di tempat yang baru ini, aku bertemu dengan manusia-manusia yang memiliki karakter sangat berbeda denganku. Aku yang super duper mandiri, visioner, cekatan, dan tangkas, kelindas dengan tingkah laku teman sekerja yang berkebalikan denganku. Satu-satunya pilihan yang kumiliki adalah  BERTAHAN kalau tidak, aku diwajibkan untuk membayar denda, dimana sudah bisa dipastikan aku tidak akan pernah sanggup untuk membayarnya. Di samping itu, tujuan utamaku menerima tantangan bekerja di perusahaan ini adalah untuk mengaplikasikan ilmuku, bukan untuk MEMBAYAR DENDA! Jadilah selama setahun dua bulan aku lalui dengan helaan nafas yang sangat panjang, yang apabila diukur tidak akan ada meteran yang valid dan reliabel untuk menyatakan angkanya dan - mengeluarkan air mata. Singkat cerita, akhirnya aku menyadari kalau hatiku yang terbuat dari besi baja ini akhirnya karatan juga. Aku pun memutuskan untuk meninggalkan perusahaan ini setelah satu tahun dua bulan memberikan waktu, pikiran, tenaga, dan mentalku.

Pertanyaan yang sama juga kembali ditujukan kepadaku. Tidak menyesalkah meninggalkan pekerjaan ini dengan segala fasilitas yang aku dapatkan? Hampir dari setiap orang yang mengetahui keberadaanku bekerja di perusahaan ini menyayangkan keputusanku. Lagi - lagi, aku merasa tidak berkewajiban untuk mencari pembernaran atas penilaian yang mereka berikan kepadaku. Aku akui, aku telah gagal dua kali. Aku telah gagal dua kali bekerja sama dengan orang Cina. Alasan aku meninggalkan kedua perusahaan ini sama, yaitu karena sakit hati. Aku bahkan tidak tahu yang mana yang lebih sakit.

Dari pengalaman ini aku mulai bertanya-tanya dalam hatiku, apa yang salah denganku? Apakah memang aku ditakdirkan untuk tidak bisa bekerja sama dengan suku Cina. Di perusahaan yang pertama dan kedua adalah mayoritas Cina dan Kristen. Seharusnya, jikalau memang benar kami mengenal Tuhan yang sama, yang mengajarkan kasih seharusnya kami bisa bekerja sama dan berkarya dengan lebih baik. Akan tetapi yang kudapatkan adalah sebaliknya. Mengapa aku begitu sulit bekerja sama dengan orang yang seagama denganku (kejadian yang serupa tapi tak sama juga terjadi ketika di kampus = tidak memiliki hubungan yang harmonis dengan mahasiswa yang aktif di kegiatan agama Kristen).

 Mungkin pernyataanku yang selanjutnya ini  terlalu berlebihan, akan tetapi aku merasa karier pertama yang kulalui seperti masuk ke sarang singa keluar dari sana, masuk lagi ke sarang buaya yaitu di tempat kerjaku yang kedua. Dan pernyataan ini cukup membuatku puas dengan pertanyaanku di paragraf sebelumya. Ada tertulis, AKU MENGUTUS KAMU BUKAN KE PADANG BERUMPUT HIJAU, MELAINKAN KE SARANG SERIGALA. Atau mungkin, apabila sesama terang disatukan dalam suatu tempat, yang terjadi adalah SILAU, bukan terang lagi!

Untuk setiap helaan nafas dan air mata yang jatuh, aku tidak mau mengingkari, bahwa aku mendapatkan banyak pengetahuan dengan berkarier di kedua perusahaan itu. Banyak hal yang aku pelajari yang membuatku semakin terbentuk untuk menjadi manusia yang lebih hidup lagi. Hanya saja, mungkin aku harus mengakui bahwa aku kurang beruntung dengan dunia pekerjaan. Sama seperti Paulus, mungkin inilah "duri dalam dagingku", melalui pekerjaankulah maka kekuatan Tuhan akan nyata dalam hidupku. Sekarang, keputusan telah aku ambil dengan tegas bahwa aku katakan tidak akan ada penyesalan. Aku tidak tahu ke sarang mana lagi aku akan pergi, yang kuimani Tuhan adalah setia. Dia akan menguatkan hatiku dan memeliharaku terhadap yang jahat (2 Tesalonika 3:3).

Saat ini aku akan terus melangkah, berjalan, dan sesekali mungkin akan berlari untuk mengisi hidupku dengan Tuhan menjadi Rajaku. Aku sangat menyadari apa yang telah aku alami selama dua tahun belakang ini adalah tidak lepas dari setiap keputusan yang aku ambil. Dimana semua keputusan yang aku ambil adalah dalam keadaan sadar dan tentunya aku akan menjalani konsekuensinya dengan kekuatan yang Yesus berikan kepadaku. Karena setiap keputusan yang aku ambil, terlebih dahulu aku komunikasikan dengan Yesus. Mungkin aku tidak langsung mendapatkan jawabannya seperti kebanyakan orang yang mengkomunikasikannya dengan orang tua, saudara, atau yang lainnya. Yang kuimani akan selalu ada kekuatan dan pertolongan bagi yang membutuhkanNYA.

Seperti isi dari kebanyakan dialogku dengan Yesus, jadikan aku berkat bagi orang - orang di sekitarku. Jadi, mungkin ini adalah waktu yang tepat bagiku untuk kedua kalinya meninggalkan perusahaan ini sebelum mendapatkan pekerjaan baru yaitu karena aku sudah tidak menjadi berkat lagi disana.

Kesimpulanku, hidup di Jakarta itu tidak susah kalau kamu tahu tujuan kamu dilahirkan! Tujuanku dilahirkan adalah UNTUK MENJADI BERKAT BAGI ORANG-ORANG DI SEKITARKU. Bagaimana denganmu, apakah tujuanmu untuk dilahirkan di dunia ini?

Friday, 28 December 2012

kebahagiaan di akhir tahun

Hari ini kugembira karena di usiaku yang sekarang telah begitu banyak warna yang aku torehkan dalam perjalanan hidupku. Bahkan lebih banyak dari warna yang aku tahu namanya. Aku gembira sekali ketika aku akhirnya menyadari bahwa aku akan terus melanjutkan kegiatan ini, menorehkan warna dalam kehidupanku.

Aku tahu di luar sana, banyak yang ingin memiliki kehidupan seperti yang kumiliki sekarang.
Hidup sendirian, tanggung jawab penuh terhadap diri sendiri mulai dari mau makan apa sampai mau menikah dengan siapa. Keputusan ada di tanganku sendiri, dan tentunya resiko juga aku yang menanggung. Perlahan tapi pasti aku mulai memutuskan setiap ikatan yang membelungguku, bahkan itu ikatan dari orang tua maupun keluarga. Bagiku sekarang, hidupku adalah ya ini.
Aku memiliki banyak pilihan untuk menjadikannya lebih menarik seperti yang kumau. Aku benar-benar terbebas dari aturan dan kebiasaan konvensional. Aku bebas menjadi yang kumau.

Ini sungguh menyenangkan, ketika aku tidak harus terikat terhadap pemikiran dan peraturan yang konvensional.
Aku telah memiliki identitas sendiri, memiliki prinsip sendiri, memiliki karakter sendiri.

Aku sangat bahagia sekali menyadari bahwa aku tidak perlu meniru gaya siapapun. Aku tidak perlu memodifikasi diriku agar bisa sama seperti orang lain. Aku telah menemukan jati diriku.

Aku sangat bahagia sekali karena aku telah mengetahui untuk apa aku dilahirkan ke dunia ini. Ini adalah pengalaman yang sangat luar biasa dalam hidupku,

Aku sangat bahagia sekali karena aku bisa menjadi sepreti apa yang ada dalam diriku.
Bahagia sekali rasanya, hidup ini serasa semakin nyaman untuk aku jalani. Tidak sabar rasanya untuk menoreh berbagai warna di dalam kehidupanku lagi.
Aku sangat bahagia sekali, bahagia, dan bahagia sekali.

Thursday, 27 December 2012

STOP

Dalam beberapa rentang perjalanan kehidupanku, banyak kutemukan pemikiran bahwa hidup ini tidak adil bagiku. Aku yang merasa memiliki hak akan sesuatu tapi hilang raup tertelan oleh mereka yang telah merampasnya. Aku yang mengeluarkan usaha maksimal dan terbaik dengan harapan mendapatkan yang terbaik, ternyata yang ada adalah luka dan sakit hati.

Adalah aku yang nyaris tiga tahun menjalani hidup sebagai wanita karier di Ibu Kota Negara ini.
Dengan jujur aku katakan, aku adalah pekerja yang setia dan yang siap sedia memberikan yang terbaik yang bisa kulakukan. Akan tetapi jika semua yang kulakukan tidaklah menjadi bumerang yang menyenangkan bagiku, sebodoh itukah aku untuk bertahan? Tidakkah hal yang lumrah untuk menemukan yang lebih baik?

Aku akui, aku adalah perempuan yang memiliki impian besar. Sama sekali tidak pernah terlintas dipikiranku untuk menjatuhkan orang lain apalagi untuk menjadi seorang penjilat! Mohon maaf bagi mereka yang merasa terganggu dengan cara kerjaku yang selalu berusaha memberikan yang terbaik. Itu kulakukan bukan untuk mendapatkan pujian dari atasan atau dari siapapun, akan tetapi karena impianku adalah memberikan yang terbaik semampuku.
Bagiku, pekerjaan adalah sebagai sarana untuk membuatku semakin hidup dan mengaplikasikan ilmu yang telah aku dalami selama kurang lebih empat tahun. Tentu saja, aku masih belum puas dengan ilmu yang telah kumiliki ini. Aku masih ingin terus menggali dan menggalinya. Salahkah aku dengan semua hal ini?
Jika kalian mengatakan ini adalah sebuah kesalahan, maka aku akan merespon dengan "GOOD BYE".

Jadi, apakah tepatnya pengalaman yang membuatku sampai pada kesimpulan bahwa hidup ini tidak adil?

Menjadi alumnus dari salah satu universitas terbaik di negara ini, di samping mendapatkan banyak pujian juga akan diikuti dengan beban yang sama besar. Bagaimana tidak, semua orang akan menilaimu dari setiap hal yang mereka bisa lakukan untuk menjatuhkanmu. Salah satu contoh komentar mereka adalah, "Jadi begini kualitas anak UI?". Bisa dipastikan mereka yang memberikan komentar ini adalah mereka yang bukan dari UI tentunya. Dan tentu saja mereka yang tidak memiliki kaca di rumahnya untuk berkaca. Bukan hal yang baru lagi bagiku ketika di dunia pekerjaan, yang kudapatkan adalah tuntutan yang lebih besar hanya karena almamater yang kumiliki. Padahal seharusnya, upah akan berbanding lurus dengan beban tanggung jawab. Yang kualami adalah beban kerja berbanding lurus dengan almamater. Dan tidak memiliki hubungan apapun dengan upah.
Seolah-olah, almamaterku sudah ditakdirkan untuk mendapatkan tuntutan yang lebih besar dibandingkan dengan almamater lain di negara ini.

Pengalaman lain yang kudapatkan adalah ketika aku berusaha dengan setiap helaan nafasku untuk memberikan yang terbaik, untuk mengumpulkan setiap rupiah, di bagian lain negara ini hanya dengan duduk dan bermalas-malasan saja bisa mendapatkan berlipat kali dari upah yang kudapatkan.

Di belahan Ibu Kota Negara yang lain kutemukan mereka yang selalu dengan gampangnya menghabiskan setiap rupiah tanpa memikirkan apapun. Seolah-olah hidup ini hanya untuk sehari saja. Hanya memikirkan diri sendiri. Dan sialnya itu adalah hal yang sulit kulakukan. Memikirkan diri sendiri!

Ada lagi yang tidak memiliki rasa bersalah dengan menghabiskan waktu hanya dengan melakukan sesuka hati. Menonton, mengomentari orang lain, tidu-tiduran, bengong, dan sebagainya. Sementara aku harus berpacu dengan waktu untuk dapat bertahan hidup.

STOP!
Aku mau di hari-hari yang akan datang, aku ingin menutup semua pemikiran mengenai ketidakadilan dalam hidup ini. Aku mau membuka kembali setiap lembaran kisahku dengan ucapan syukur. Bersyukur buat setiap masalah, penderitaan, kesepian, keegoisan yang kuterima dari sesamaku manusia. Aku harus bersyukur untuk semua itu. Karena itulah cara yang paling mujarab untuk membuktikan pada diriku sendiri bahwa aku telah dibentuk.
Hidup ini memang tidak adil, lalu mengapa? Itu bukan menjadi alasan yang kuat untuk membenci kehidupan ini. Tidak jadi pilihan yang dewasa untuk mengakhiri natal tahun ini.

STOP!
dan STOP!

pesona dari alam bawah sadarku

Sudah menjadi peranku di dunia ini untuk menjadi orang yang dimanfaatkan, untuk menjadi tempat pelampiasan amarah, seseorang yang akan selalu ditindas dan dituntut! Itulah peran yang aku dapatkan di dunia ini. Tentu saja aku memiliki pilihan untuk tidak melaksanakan peran itu lagi, tapi sayangnya aku belum memiliki keberanian yang luar biasa untuk memainkan peran yang lain. Sudah terlalu banyak harga yang harus kubayar untuk hal-hal yang lain yang mengakibatkan saldo mentalku belum cukup untuk membayar harga  membeli peran yang lain.

Dalam banyak kesempatan, aku sering sekali bertanya-tanya kepada diriku sendiri, "apa yang salah denganku?" Mengapa aku begitu sangat mudah ditindas, dimanfaatkan, dan dituntut?
Dan jawabannya adalah KARENA AKU. AKU lah yang secara tidak langsung  membiarkan hal itu terjadi. Akulah yang membuat diriku diperlakukan demikian. Akulah yang memberikan mereka akses untuk membuatku menjadi tidak berdaya untuk berkata tidak. Otakkulah yang selalu berusaha mengingkari kenyataan dengan berkata bahwa pada dasarnya semua manusia itu adalah baik. Pemikirankulah yang  mengatakan bahwa semua manusia di dunia ini memiliki hati nurani yang kurang lebih sama dengan apa yang kumiliki. Aku berusaha menutup mata hatiku dengan semua ketidaknyamananku. Iya, akulah dia si penyebab utama sehingga peran ini menjadi identitasku.

Aku tidak bisa berharap orang lain untuk berhenti menindasku, berhenti memanfaatku, dan berhenti menuntutuku. Tidak akan pernah bisa.
Tidak seorang pun bisa melakukan apapun kepadaku jikalau aku tidak memberikan akses itu. Tidak seorang pun di dunia ini yang bisa menguras mentalku bila seandainya aku dapat mengambil keputusan yang tepat untuk keutuhan jiwaku.

Sayangnya, aku masih balita. Kakiku masih terlalu rapuh untuk berjalan sendirian. Tanganku juga masih terlalu kecil untuk menggapainya. Aku belum cukup besar untuk menutupi pelindung aksesku.Aku belum memiliki saldo yang cukup untuk membangun brankas yang mutakhir.

Pilihan yang kumiliki sekarang adalah mengumpulkan pundi-pundi mentalku yang nantinya akan kuperlukan untuk membangun brankas yang super duper mutakhir dimana tak akan pernah ada akses lagi untuk menyakitinya atau tetap menjadi seperti sekarang ini dengan konsekuensi akan selalu terluka.

Persimpangan hidup ini begitu sangat mengganggu. Aku terbelenggu diantara mereka yang mengatakan mencintaiku.