Wednesday, 17 April 2013

Dia hanya sejauh DOA

Sejak kecil, orang tuaku khususnya mamaku selalu mengatakan kepadaku bahwa dengan berdoa maka 50% dari apa yang kita kerjakan telah berhasil. Doktrin ini terukir kuat dalam lapisan otakku dan berkembang menjadi sebuah terapi paling mujarab dalam setiap usahaku untuk menjalani tugas perkembangan psikologisku.
Tentunya doktrin ini tidak begitu saja menempel. Butuh proses yang panjang agar doktrin ini benar-benar terukir. Lalu apa yang dilakukan oleh orang tuaku?
1. Aku tidak akan diizinkan tertidur di malam hari, bangun tidur di pagi hari, memakan makanan berat, melakukan perjalanan jauh dari rumah, kalau berlum berdoa.
2. Saat menjalani hari-hari penting, misalnya ujian harian, mengikuti lomba, dan sejenisnya, pasti dan harus berdoa dulu.
3. Tentunya berdoa hanya boleh dilakukan dalam keadaan hening dan kusuk. Kalau tidak, maka berdoa pun akan diulang sampai keadaan hening dan kusuk benar-benar terlaksana.

Alhasil, ketika aku ke luar rumah, aku dikenal sebagai rani si pendoa. Aku masih ingat ketika masih SMP, teman-temanku menyebutku si pendoa syafaat. Setiap kali kesempatan untuk berdoa tiba, maka pilihan pertama untuk memimpin doa adalah diriku. Aku juga yakin, ketika orang-orang di masa remajaku mempertanyakan mengenai diriku, identitas yang muncul adalah rani si religius. Begitulah aku dibentuk oleh orang tuaku. Menjadi anak yang taat terhadap ritual keagamaan.

Aku tidak pernah menyesali doktrin itu. Dengan sosialisasi ritual agama itu membuatku benar-benar mengimani bahwa aku memiliki seseorang yang bisa kuandalkan dan bisa kujangkau melalui doa. Dan aku melakukannya tepat seperti yang dianjurkan oleh mamaku dan lingkungan kepadaku. Dulu, aku adalah orang yang sangat taat sekali dalam berdoa. Aku bahkan memiliki jam doa dua kali sehari yaitu jam enam pagi dan jam enam sore setiap harinya. Dimanapun aku berada, aku pasti akan melakukan jam doaku itu. Kalau tidak memungkinkan mendapatkan tempat yang sepi dan kusuk yang biasanya aku lakukan di kamar tidur atau kamar mandi di rumah orang tuaku, aku berdoa dalam hati, dengan mata terbuka.

Apa saja yang aku doakan? Aku berdoa untuk semuanya, mulai dari dunia ini, negara Indonesia, sampai ke kepala lurah di desaku, kecuali untuk diri sendiri. Aku jarang berdoa untuk diriku sendiri. Aku lebih banyak berdoa untuk orang lain. Kenapa? Aku juga tidak tahu.
Setelah aku meninggalkan rumah orang tuaku, aku masih tetap melakukan hal yang sama, memiliki jam doa. Akan tetapi kali ini, aku semakin lebih banyak berdoa untuk diriku sendiri. Aku mulai merasakan bahwa satu-satunya yang aku miliki di dunia ini hanyalah Tuhan.  Sendiri di tempat rantau tanpa ada bahu yang bisa menjadi sandaran semakin membuatku haus akan kehadiran seseorang, dan aku menemukannya di dalam Tuhan. Dan itulah satu-satunya keberuntungan yang kumiliki di dunia ini, ketika aku menyadari betapa Tuhan itu sangat nyata di dalam hidupku. Dalam setiap hari-hari berat yang kujalani, uang yang sangat terbatas sekali, makan tak makan, tak tahu arah jalan kota perantauan, benar-benar tersesat dalam arti yang sebenarnya, DOA menjadi penghubungku dengan Tuhan.

Hari demi hari, khususnya di masa-masa sulitku, doa mengalami modifikasi dalam hidupku. Aku yang dulunya selalu berusaha mencari tempat yang hening, kusuk, dan tersembunyi untuk berdoa, semakin hari, aku semakin terbiasa berbicara langsung dengan Tuhan tanpa harus dalam kondisi yang demikian. Setiap saat, ketika aku sedang ingin mengutarakan sesuatu, Tuhan menjadi orang yang pertama tempatku berbicara. Orang-orang di sekitarku menilaiku menjadi orang yang pendiam, tidak banyak bicara dan respon, hanya mendengarkan saja. Mereka tidak tahu bahwa saat mereka menunggu aku merespon, aku meresponnya dan mengatakannya kepada Tuhan. Hal ini sering kali membuat lawan bicaraku dalam beberapa kesempatan menilaiku menjadi orang yang tidak menyenangkan untuk diajak ngobrol.

Aku tidak pernah lagi melakukan jam doa. Seiring berjalannya waktu, aku semakin sering berbicara dengan Tuhan seperti aku berbicara pada manusia. Seperti anak kecil yang berbicara kepada bonekanya.

Ketika aku kelaparan, aku berkata kepada Tuhan, Tuhan aku lapar. Kuatkan aku untuk melewati hari ini ya.
Ketika aku tersesat di tengah jalan, aku berkata, Tuhan, aku tidak tahu jalan mana atau angkot apa yang harus aku naiki dengan uang yang tak seberapa ini agar aku bisa tiba di kamar kostku dengan selamat. Aku takut Tuhan, tolong lindungi aku.
Ketika aku mendapatkan senyum dan keramahan dari orang di tengah jalan, aku berkata kepada Tuhan, senyumnya manis sekali ya Tuhan, tolong biarkan senyum itu tetap hadir di wajahnya selamanya ya. Aku juga akan berusaha untuk tersenyum seperti dia kepada orang yang aku temui nanti.
Ketika aku bangun pagi hari dan merasakan sinar matahari menghangatkan tulangku, aku berkata kepada Tuhan, matahari ini begitu indah ya Tuhan, tetapi aku masih tetap takut untuk menjalani hari ini. Aku malas bangkit dari tidurku, aku masih ingin tertidur, berharap aku bisa tidak mengingat kembali betapa beratnya hari yang akan kujalani ini. Tuhan, apa yang harus kulakukan?
Ketika aku bahagia, aku akan mengatakan kepada Tuhan, Tuhan aku sangat bahagia sekali hari ini. Semoga kebahagiaanku ini tidak menorehkan luka di hati orang lain.
Kadang kala aku juga meminta Tuhan untuk membalaskan dendamku pada orang lain, walau akhirnya ucapaku itu aku ralat kembali.

Itulah perkembangan arti doa dalam hidupku. Doa menjadi alat komunikasiku dengan Tuhan. Semuanya aku katakan kepada Tuhan melalui doa. Dialah satu-satunya buku harianku yang paling lengkap. Mulai dari hal yang sangat simpel sekali sampai hal yang paling rumit dalam hidupku ada dalam komunikasiku dengan Tuhan.
Terima kasih Tuhanku, Kau berikan aku kesempatan untuk berkomunikasi denganmu melalui doa. Terima kasih juga untuk semua kebersamaan yang kita jalani selama ini. Kumohon tetaplah ingatkan aku untuk selalu berkomunikasi denganmu.

No comments: