Tuesday, 9 April 2013

pertanyaan iseng

Suatu sore di hari Minggu, untuk kesekian kalinya aku berdoa agar besoknya kembali hari Sabtu, jadi tidak perlu masuk kantor dulu. Lalu hasianku pun menanggapinya ya, dengan memberikanku pernyataan, "Mengapa ya kalau di luar negeri itu orang-orang bisa bebas melakukan apapun yang ingin dia lakukan? Tidak seperti kita yang tinggal di Indonesia, harus bekerja, harus ke sekolah, harus ini dan itu. Banyak tuntutan dari orang tua, keluarga, masyarakat untuk melakukan yang tidak sesuai dengan keinginan hati. Alhasil, setiap hari senin tiba, yang ada adalah keputusasaan bagi para pegawai kantor tentunya."

Lalu aku pun pun mulai berpikir. Memang benar, orang tuaku menuntutku untuk menjadi manusia seperti yang mereka inginkan. Benar sekali, selama ini aku hidup untuk memenuhi tuntutan keluarga dan masyarakat. Aku jadi teringat akan salah satu dari sejuta impian masa kecilku. Aku ingin menjadi seorang penari. Tapi aku tak pernah bisa mewujudkannya. Tidak dulu tidak juga sekarang.
Aku pun mulai mengajukan pertanyaan kepada diriku sendiri, bukankah aku manusia yang mandiri. Lalu mengapa aku masih harus memenuhi tuntutan orang tua, keluarga, dan masyarakat? Dan aku pun menemukan jawabannya, aku masih tetap membutuhkan uang. Uang pastinya hanya bisa didapatkan secara halal dan masuk akal melalui bekerja. Jadi disinilah aku, menemukan jalan buntu, bekerja dan melupakan impian-impian. Berharap, suatu hari kelak, apabila diberikan kesempatan untuk memiliki anak, memutuskan tali pola asuh yang tidak sehat ini.

Terkadang, dalam setiap perjalananku ke kantor dan dari kantor, aku sering bertanya-tanya, bahagiakah mereka yang menjadi pegawai kantor ini? Atau apakah mereka sama denganku, terjebak dalam tuntutan?
Semakin luas, aku semakin bertanya-tanya, sebenarnya mana yang sedang kujalankan sekarang, bekerja untuk hidup atau hidup untuk bekerja? Dimanakah posisiku sekarang?
Sendiriankah aku menjalani ini semua?

Hal ini pun sering sekali menjadi pembicaraan di antara aku dan teman-temanku. Apakah sesungguhnya yang kami perjuangkan saat ini?

Setiap kali aku ke kantor dan pulang kantor, aku sering sekali melihat wajah-wajah mengantuk bahkan tertidur, tanpa ekspresi, hampa. Nyaris tidak ada senyum di wajah-wajah mereka. Public transportation dengan antrian yang panjang, jalan raya yang macet, polusi udara dan polisi suara dimana-mana. Apa yang aku lakukan di sini?
Hari jumat dan tanggal-tanggal merah selain hari minggu di kalender kabisat menjadi waktu "panen" yang dinanti-nanti. Mungkin kalau dibuat penelitian, karyawan kantor sepertinya akan lebih sumringah menanti hari Jumat atau libur dibandingkan hari gajian.

Aku bertanya-tanya, darimanakah asalnya kebijakan bahwa jam kantor itu 8 jam per hari, 5 hari jam kerja dalam seminggu? Apakah itu sudah mutlak?




No comments: