Monday, 27 May 2013

wanita dewasa

Ketika masih anak-anak, aku sangat ingin sekali cepat menjadi wanita dewasa. Alasanku hanya satu,  aku ingin bebas, bebas dari otoritas orang dewasa yang ada di sekitarku. Dan sekarang, aku telah mendapatkannya. Aku telah menjadi wanita dewasa sekarang. Apakah aku senang dengan terwujudnya impianku? Tentu saja, aku sangat senang. Akan tetapi kesenanganku ini belum bisa aku jalani dengan senyuman di setiap detiknya karena sebagai manusia yang dilahirkan dengan tradisi, otoritas orang dewasa pendahuluku ternyata belum bisa lekang dariku. 
Selamanya, aku masih tetap menjadi anak-anak yang tidak bisa lepas dari otoritas orang dewasa. Secara fisik, aku memang sudah dewasa, tapi tidak dengan kebebasanku. Aku masih belum bisa mendapatkan kebebasan wanita dewasa seperti yang kuimpikan sejak aku masih anak-anak. Dan aku yakin, bukan hanya aku yang terjebak dalam posisi ini. Banyak anak-anak di Indonesia pada umumnya dan anak-anak di sekitarku (yang sekarang telah menjadi dewasa) pada khususnya terjebak dalam otoritas orang dewasa pendahulunya, yang menyebabkan kami sangat sulit untuk menjadi diri sendiri.

Untuk itu semua, aku sering sekali memaki setiap orang dewasa sebelum aku yang telah menanamkan otoritasnya atas hidupku. Terkadang dan dalam banyak hal mereka membuatku memilih sesuatu yang tidak kuinginkan hanya untuk memberikan kepuasan kepada mereka. Dan bencinya aku, aku pun mengiyakan hal itu terjadi. Inilah keadaan yang sering sekali membuatku merasa berat dalam menjalani kehidupan ini. Membuatku sesak nafas dan berjuang setengah hidup untuk bangkit dari kasur menyapa matahari.

Seharusnya, aku sebagai wanita dewasa mampu menolak hal ini. Tapi, otoritas itu sangat kuat yang memaksaku untuk melakukan sesuatu yang tidak kuinginkan. Memaksaku untuk tidak memiliki pilihan lain. Lalu dimana kebebasan wanita dewasa yang dulu terpapar jelas di depanku?
Terkadang, aku sering mengajukan pertanyaan dalam hidupku, apakah otoritas itu benar-benar ada? Atau akukah yang sesungguhnya menciptakan otoritas itu?
Bukankah aku wanita dewasa yang telah memiliki kebebasan? Berarti akulah yang telah memilih diriku untuk menghidupkan selalu otorittas itu (kalaupun ada). Itulah wanita dewasa yang bebas.

Jadi, kebebesanku sebagai wanita dewasalah yang membuatku tidak semangat. Kebebasanku dalam memilihlah yang membuatku akhirnya menjadi seperti ini? Begitukah?

Atau akukah yang belum dewasa?

Wanita dewasa seharusnya tidak menyalahkan siapapun dalam ketidaknyamanan hidupnya. 
Wanita dewasa seharusnya mengenal situasi.
Wanita dewasa seharusnya mengetahui kebutuhannya.
Wanita dewasa seharusnya bisa memilih sesuatu yang pada akhirnya membuat dia bahagia.
Wanita dewasa seharusnya tahu bahwa kebahagiaan itu adalah PILIHAN.
Wanita dewasa seharusnya bahagia di dalam pilihannya.


No comments: