Wednesday, 10 July 2013

Selamat ulang tahun Jakarta

Beberapa minggu terakhir ini, aku semakin tidak bisa mentoleransi kemacetan dan ketidaknyamanan public transportation yang ada di kota Jakarta ini. Kemacetan yang sangat panjang dengan deretan mobil-mobil pribadi yang rata-rata berisi satu orang, deretan tukang ojek, angkutan umum yang berhenti untuk menaikkan penumpang dan menurunkan penumpang seenak hatinya, jalananan yang rusak dan genangan air bila hujan tiba, dan antrian bus transjakarta yang begitu panjang. Manusia sangat membludak setiap kali jam berangkat dan pulang kantor. Jalanan sesak dengan manusia dan kendaraan.
Tidak heran mengapa manusia-manusia yang ada di Jakata menjadi manusia yang sangat gampang marah dan kehilangan sisi kemanusiaannya. Untuk masyarakat menengah seperti saya, hal ini semakin sangat menyiksa. Begitu banyak waktu yang terbuang di jalan. Apalagi saya bukanlah tipe orang yang tidak bisa duduk diam dan menunggu. Saya memang selalu membawa bacaan kemana pun saya pergi untuk membunuh waktu ketika macet di jalan. Akan tetapi, dalam banyak hal saya sering sekali tidak bisa membaca karena ketidaknyamanan yang saya temui di jalan. Berdesak-desakan, panas, tidak ada lampu penerangan yang memadai di dalam angkutan umum, dan aroma berbagai orang yang membuatku mau muntah. Di samping itu belum tentu dapat tempat duduk.

Jakarta ini sudah kebanyakan manusia dan kebanyakan kendaraan. Dan sayangnya itu hanya terjadi di jam-jam kantor. Pagi hari dan sore hari. Tentu saja hal ini tidak bisa dilepaskan dari posisi Jakarta sebagai pusat untuk segala sesuatu di negara ini. Hal ini menyebabkan manusia setiap harinya semakin berlomba-lomba datang ke Jakarta. Sementara bila libur tiba, jalan-jalan di daerah perkantoran boleh dibilang sunyi sepi. Saya sangat senang setiap kali melewati Jalan Sudirman di hari Minggu pagi. Kendaraan yang menggunakan BBM dilarang lewat. Sebuah pemandangan yang sangat menyenangkan. Sayangnya ini hanya berlangsung beberapa jam saja dan hanya setiap hari Minggu. Seandainya pemerintah lebih tegas lagi, saya sangat merindukan semua jalan-jalan di daerah perkantoran di Jakarta ini dibebaskan dari kendaraan yang menggunakan BBM.
Hal ini bukan hanya menghemat BBM, tapi juga menyehatkan para karyawan kantoran yang mengakibatkan kami banyak pergerakan, tidak melulu duduk di kantor berjam-jam memandangi komputer. Tidak perlu menggunakan kendaraan yang menggunakan BBM di sekitar perkantoran, tinggal menggunakan kaki saja. Satu-satunya yang bisa lewat hanya transjakarta saja. Jadi semua orang yang hendak ke kantor bisa menggunakan transjakarta atau jalan kaki. Atau ide sewaktu pergantian tahun 2012 ke 2013, dimana lokasi Sudirman dibebaskan dari kendaraan juga boleh diterapkan di jam kantor.

Menurut saya ada beberapa hal yang perlu dilakukan untuk mengurangi kemacetan kota Jakarta, yaitu :

  1. Memindahkan perusahaan-perusahaan besar yang ada di Jakarta ke daerah lain di Indonesia ini. Bukan hanya perusahaan besar (misalnya perusahaan minyak, batu bara, perkebunan, dipindahkan ke Kalimantan, Sumatera, dan Sulawesi) tetapi juga sebagian kantor kementrian/pemerintah. Para karyawan dan keluarga pun ikut pindah, jumlah manusia di Jakarta pun berkurang.
  2. Adanya penetapan usia produktif, yaitu 23 tahun bagi yang melanjutkan study ke Perguruan Tinggi dan 18 tahun bagi yang tidak melanjutkan study ke Perguruan Tinggi. Atas dasar ini, maka setiap orang yang berada di usia produktif wajib memiliki pekerjaan. Apabila dalam waktu tiga bulan, yang bersangkutan tidak memiliki pekerjaan, yang bersangkutan harus bersedia meninggalkan Jakarta. Pekerjaan yang dimaksudkan adalah pekerjaan yang berkesinambungan dan halal.
  3. Setiap gedung untuk perkantoran dan bangunan komersil, seperti mall hanya diberikan kapasitas  200 mobil untuk tempat parkir dan 200 sepeda motor. Selebihnya apabila ditemukan lebih dari jumlah tersebut, mobil akan disita oleh pemerintah setempat dan menjadi milik pemerintah. Mobil ini bisa dilelang dan biayanya difungsikan sebagai modal untuk masyarakat yang aka ditransmigrasikan ke luar Jakarta.
  4. Setiap orang di usia non produktif dilarang memiliki SIM, dengan kata lain semua mahasiswa dan pelajar tidak diizinkan memiliki kendaraan, kecuali sepeda. Hal ini juga berlaku bagi setiap orang yang tidak memiliki pekerjaan lebih dari tiga bulan, SIM akan ditarik dan wajib meninggalkan Jakarta.
  5. Melakukan pendataan kepada setiap pengemudi angkutan umum, mulai dari pengemudi bajaj, bemo, metro mini, tukang ojek, sampai ke bus-bus yang ada di Jakarta, sehingga setiap pengendara memiliki ID, seragam, dan wajib menempelkan hal tersebut setiap saat. Apabila hal ini tidak dilakukan, maka yang bersangkutan wajib mendapatkan sanksi dari pemerintah. Mempermudah masyarakat untuk melakukan komplain terhadap pengemudi angkutan umum.
Demikianlah beberapa pendapat dari saya untuk kemajuan Jakarta ke depannya. Walaupun Jakarta bukanlah kota kelahiran saya tapi saya juga memiliki kerinduan agar kota ini menjadi kota yang layak untuk dihuni. Selamat ulang tahun Jakarta.


No comments: