Thursday, 15 August 2013

Dirgahayu Negeriku, Indonesia

Tadi pagi ketika aku akan berangkat ke kantor, aku disambut dengan berbagai warna dari bendera jalan yang dipasang oleh para tetangga kostanku di depan rumah mereka. Aku pun langsung terhenyak dan menyadari bahwa dua hari lagi adalah hari ulang tahun negaraku. Kenangan masa SMP di kampung, ketika menjelang ulang tahun negaraku ini pun menemaniku di sepanjang perjalananku ke kantor.

                                            ********

Ketika aku masih SMP di Budhi Dharma Balige adalah salah satu masa dimana aku menunjukkan "kejayaanku", dan perayaan ulang tahun negaraku ini adalah salah satu contoh dari masa “kejayaanku” itu. Tiga tahun berturut-turut aku selalu ikut menjadi salah satu siswa yang eksis dari sekolahku dalam menyambut perayaan ulang tahun negaraku ini.
Sekolah diliburkan tentu saja di tanggal 17 Agustus. Diliburkan bukan berarti kami tidak datang ke sekolah. Kami datang ke sekolah untuk melakukan pawai ke pusat kota diiringi dengan drum dan para mayoret, sepeda hias, dan pakaian adat dari berbagai daerah. Iringan pawai ini tentu saja dilombakan per kategori, yaitu untuk tingkat Taman Kanak-kanak (TK), Sekolah Dasar (SD), Sekolah Menengah Pertama (SMP), dan Sekolah Menengah Atas (SMA). Di masaku  sekolah, perlombaan ini selalu dimenangkan oleh sekolahku. Mulai dari TK sampai SMP.

Tujuh belas Agustus menjadi hari yang menyenangkan bagiku karena persiapan untuk memenangkan lomba pawai ini telah dimulai di tahun ajaran baru (sebulan sebelum tanggal 17 agustus). Ketika suasana liburan masih belum pudar, aku tidak harus dipaksakan untuk mengikuti pelajaran di kelas, walaupun sebenarnya aku bukan tipe orang yang malas belajar, akan tetapi aku tidak jauh berbeda dengan anak-anak pada umumnya yang lebih menikmati menghabiskan jam sekolah di luar kelas. Bahkan di tahun terakhirku di SMP, aku dan sahabat-sahabatku (setidaknya dulu bagiku mereka adalah sahabat : Dessy Hutapea, Riris Tampubolon, Eska Manullang, Dorta Pardede, dan Febrina Sipahutar) kerap sekali datang ke sekolah tapi tidak masuk kelas sama sekali karena latihan baris-berbaris yang akan dilombakan dalam rangka ulang tahun negaraku.

(Mungkin) aku sudah terlahir untuk aktif dan akan bosan apabila dihadapkan dengan situasi yang hanya menunggu atau do nothing. Padahal kalau dipikir-pikir, dengan kewajibanku yang harus membantu orang tuaku di rumah, sudah cukup menguras waktu belajarku apalagi ditambah dengan aku harus mengejar ketinggalanku selama aku tidak mengikuti kelas dikarenakan latihan drum untuk tahun pertama sampai ketiga dan latihan baris-berbaris di tahun ketiga. Dan itulah yang kualami selama persiapan penyambutan ulang tahun negaraku -eksis, kelelahan, tapi senang. Bisanya waktu latihan yang kami pergunakan dimulai dari jam 10 pagi sampai sore. Bahkan jam pelajaran sekolah telah selesai, terkadang kami masih tetap latihan. Dan di beberapa hari mendekati tanggal 17 Agustus, biasanya kami bahkan datang ke sekolah dan tidak masuk kelas sama sekali.

Pemilihan orang-orang yang akan tampil menjadi pemain drum maupun yang akan menjadi perwakilan dari sekolahku untuk diperlombakan pun lumayan unik. Guru pelatih drum kami yaitu Bapak M. Nadeak (+) memfokuskan memilih anak-anak yang juara di kelas dengan alasan, kami akan sering meninggalkan pelajaran di kelas sehingga dengan prestasi kami selama ini menjadi jaminan bahwa kami akan mampu untuk mengejar pelajaran yang kami tinggalkan selama kami mengikuti latihan. Walaupun di tahun pertamaku SMP, dimana prestasi belajarku tentu saja belum terbukti karena tahun ajaran masih baru dimulai tapi aku terpilih menjadi salah satu pemain drum. Itu adalah nepotisme, menurutku Bapak M. Nadeak (+) memilihku dikarenakan beliau kenal baik dengan orang tuaku kemungkinan beliau segan kalau aku tidak dilibatkan menjadi pemain drum. Aku sendiri merasa tidak layak dipilih saat itu karena kemampuanku dalam hal seni juga di bawah rata-rata, dan keadaan fisikku yang kecil mungil kurus tak bertenaga, membuat siapapun tidak akan tega membiarkanku menggendong drum untuk pawai sepanjang jalan besar kota Balige. Tapi aku terpilih, dan tentu saja abang keduaku, Ferry juga terpilih. Dia juga selalu menjadi pemain drum, alhasil dia yang bertanggung jawab untuk memberikan pelajaran tambahan kepadaku untuk membantuknku memahami irama drum tersebut. (kami semua anak-anak orang tuaku menghabiskan waktu di sekolah yang sama mulai dari TK sampai SMP, alasannya hanya satu, di kampung kami sekolah katolik dari TK-SMP adalah yang terbaik dan tentu saja mahal. Akan tetapi demi pendidikan, orang tuaku tak menghiraukannya). Hal yang sama juga terjadi ketika pemilihan peserta baris-berbaris. Kami para juara pasti akan mendapatkan prioritas utama, tak terkecuali padaku dan sahabat-sahabatku.
For your information : Di SMP, aku dan sahabat-sahabatku adalah “kaki tangan” kepala sekolah kami di tahun ketiga kami disana. Kami menggunakan seragam yang berbeda tiap hari dengan siswa-siswi yang lain. Kami benar-benar “menguasai” sekolah itu melalui keaktifan kami di OSIS, dan tentu saja di bidang akademis, kami adalah sang juara dari tiap kelas kami masing-masing. (aku dan sahabat-sahabatku itu berasal dari kelas yang berbeda, yaitu dari kelas A, B, C, dan D). Juara satu umum tidak pernah lepas dari salah satu dari kami, dan di akhir penerimaan rapor juara satu umum jatuh di tanganku.

Kembali ke lomba pawai di tanggal 17 Agustus. Biasanya, rutenya akan dimulai dari sekolah masing-masing. Hal ini menjadi keunikan tersendiri di kota Balige, dimana SMP dan SMA berpusat di satu lokasi, yaitu Soposurung. Jadi titik awalnya adalah dari Soposurung (sekolah masing-masing) dan berakhir di tanah lapang Sisingamarangaja (sekitar 8 km). Bunyi drum dari tiap sekolah yang melakukan pemanasan menunggu giliran ke luar dari area sekolah masing-masing untuk melakukan pawai ke pusat kota Balige menjadi kenangan tersendiri bagiku. Setiap sekolah biasanya akan mengutus perwakilan - seperti petugas di setiap persimpangan jalan di Jakarta ini, menjaga agar tidak bentrok di jalan raya ketika akan ke luar dari area sekolah masing-masing.

Sementara masyarakat Balige akan merapatkan barisan di depan rumah masing-masing untuk menyaksikan parade ini. Mereka akan mencari posisi yang nyaman di sepanjang jalan besar yang nantinya akan kami lewati dari Soposurung ke Tanah Lapang Sisingamangaraja untuk menyaksikan parade dari kami. Ketika aku menulis ini, aku merasa peristiwa ini menjadi moment yang mengharukan ketika para orang tua melihat anak-anak mereka pawai dari depan rumah mereka. Menurutku hal ini adalah pemandangan yang sangat langka terjadi di kota Jakarta ini, dimana orang tua nyaris tidak pernah melihat anak-anak mereka berjalan sepanjang 8 km bahkan lebih sambil menunjukkan aksi mereka seperti yang pernah kulakukan.
Bagiku sendiri, aku juga sangat menikmatinya ketika aku memukul drum dan lewat dari depan rumah orang tuaku. Kerap sekali aku melihat, dari sinar mata kedua orang tuaku bahwa mereka telah menunggu giliran sekolahku lewat dari depan rumah mereka. Dan ketika giliran sekolahku yang lewat, aku menyaksikan bahwa orang tuaku akan meninggalkan semua pekerjaannya demi menyaksikan aku dan abangku memukul drum. Padahal, orang tuaku seharusnya melayani para customer yang datang ke rumah kami (orang tuaku buka warung kopi di rumah). Teman-temanku baik sesama pemain drum maupun teman-teman sekampung akan menyorakiku dan mengatakan “do the best, Ran! Jangan permalukan orang tuamu.” Dan para customer yang ada di rumah orang tuaku pun akan menyoraki namaku.

Di tanah lapang Sisingamangaraja yang menjadi pusat pelaksanaan perayaan ulang tahun negaraku ini, adalah tempat dimana upacara bendera juga diadakan. Jadi setiap sekolah dipastikan sudah harus tiba sebelum jam 10 pagi. Setelah upacara selesai, kami akan melakukan pawai di jalan-jalan besar kota Balige dimana juri akan duduk di berbagai sudut jalan untuk memberikan penilaian terhadap aksi pawai setiap sekolah per kategori. Biasanya yang paling banyak dapat sorotan untuk dinilai adalah irama drum, gerakan pemain drum, dan keserasian dengan mayoret, serta kerapian siswa-siswa yang ikut pawai. Jadi urutan barisan pawainya per tiap sekolah biasanya adalah pemegang bendera merah putih, bendera atau atribut sekolah (untuk menunjukkan identitas sekolah), sepeda hias, mayoret, pemain drum, pakaian adat daerah, seluruh siswa-siswi dari sekolah itu, dan terakhir adalah para guru. Setelah berkeliing di sepanjang jalan besar kota Balige, pawai akan kembali ke Tanah Lapang Sisingamaraja lagi. Setelah itu akan dilanjutkan dengan lomba martumba (menari) untuk kategori TK dan SD. Dimana sambil menonton lomba martumba, masyarakat juga bisa mengikuti lomba panjat pinang yang diadakan di Tanah Lapang juga dan berbagai lomba lainnya, misalnya lomba solu (perahu kecil) di Danau Toba – masih dekat dengan Tanah Lapang Sisingamangaraja. Setelah semua lomba selesai diadakan, maka pengumuman lomba pawai dan berbagai lomba pun akan diumukan. Perayaan ulang tahun negaraku di Balige dinyatakan berakhir setelah prosesi penurunan bendera bendera selesai yaitu sekitar jam 7 malam. Bisa dipastikan setiap perayaan ulang tahun negaraku tiba adalah masa panen piala bagi setiap sekolah yang kesunggahi.

Dari segi kaca mata masyarakat Balige, parade ini juga menjadi salah satu hiburan tersendiri. Dimana pada umumnya semua orang akan datang ke pusat kota untuk melihat setiap parade dari setiap sekolah yang ada di Kabupaten Toba Samosir. Ini menjadi ajang show off bagi sekolah-sekolah favorit, termasuk sekolahku. Pusat kota Balige akan sangat ramai sekali, akan banyak orang yang menjual makanan, mainan, dan mengikuti berbagai lomba. Orang dari berbagai desa akan datang ke Kota untuk merayakan hari ulang tahun negaraku ini. Sangat semarak dan meriah sekali.

Malam sebelum tanggal 17 Agustus, juga diadakan pawai dimana setiap siswa membawa obor dan bendera merah putih yang terbuat dari kertas minyak dengan lidi sebagai tongkatnya. Malam ini dikenal dengan sebuatan malam taptuk. Biasanya malam ini dimanfaatkan para ABG untuk melakukan PEDEKATE dengan cowok atau cewek yang ditaksir, apalagi kalau bukan dari sekolah yang sama. Perayaan ulang tahun negaraku ini menjadi satu-satunya acara dimana semua sekolah yang ada di Kabupaten Toba Samosir dipertemukan dan saling menilai satu sama lain.

Intinya, sebulan sebelum tanggal 17 Agustus, di kalangan anak-anak sekolah sudah akan sibuk dengan berbagai persiapan lomba. Seperti yang sebutkan di atas, posisi sekolah-sekolah yang terpusat di Soposurung membuat hari-hari menjelang 17 Agustus sangat terasa karena dimana-mana akan terdengar suara drum dari berbagai sekolah yang sedang mengadakan latihan. Di samping itu, setiap rumah-rumah akan mulai memasang bendera merah putih di depan rumah mereka masing-masing.

Ketika aku menulis tulisan ini, tiba-tiba aku sangat rindu dengan masa-masa itu. Dimana setiap kali hari-hari besar di Indonesia ini, misalnya hari pahlawan, hari pendidikan, hari kesaktan Pancasila, hari Sumpah Pemuda, hari Guru, hari Kartini, tidak pernah terlewatkan begitu saja. Akan selalu ada kesan dari setiap hari-hari itu untuk memperingati moment itu. Di Jakarta ini, tujuh kali perayaan ulang tahun negaraku sangat tidak terasa. Aku sering kecewa dan berpikiran, mengapa ya penghargaan terhadap bangsa dan negara ini sepertinya lebih terasa di kampung dari pada di kota? Demikian halnya dengan lagu-lagu nasional, lagu-lagu daerah, nama-nama provinsi dan berbagai julukan bagi beberapa provinsi di Indonesia ini, bahkan penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar sepertinya kami anak-anak daerah lebih menguasainya? Ironisnya, Indonesia itu sendiri lebih dipresentasikan dengan kehidupan masyarakat di Jakarta.

Dirgahayu Republik Indonesia ke 68 tahun.
Aku mencintaimu.

Aku bangga menjadi Putri Indonesia.

No comments: