Friday, 9 August 2013

Seandainya aku, kamu, dan kita tidak serakah

       Apa yang dicari orang, uang
       Apa yang dicari orang, uang
       Apa yang dicari orang, siang malam pagi petang
       Uang, uang, uang
       Bukan Tuhan Yesus
      .................................


Bagi mereka yang pernah menjalani hari-hari sekolah minggu di gereja, lagu di atas pasti sudah tidak asing lagi di pendengaran. Lagu ini benar-benar sangat sesuai sekali dengan kehidupan manusia saat ini. Semua manusia di dunia ini, mayoritas tujuan utamanya adalah mencari uang, tidak terkecuali denganku. Aku belajar dengan displin, berusaha menyelesaikan setiap ujian akademis dengan baik, tujuan akhirku adalah untuk mendapatkan uang. Karena memang demikianlah aku dibentuk. Semua yang kulakukan tujuan akhirnya adalah seberapa banyak uang yang nantinya bisa kudapat. Dan aku tidak sendirian, ada milyaran manusia yang mendapatkan doktrin yang sama, mencari uang.

Mungkin aku masih terlalu berpikir idealis dengan apa yang ada di depan mataku. Atau mungkin karena aku masih belum menempati posisi yang strategis untuk mengatur kehidupan orang banyak sehingga setiap kali aku menyaksikan perilaku orang-orang di sekitarku membuatku muak dan tidak yakin pada diri sendiri bahwa aku adalah bagian dari sistem itu.

Setelah hampir tiga tahun masuk ke dalam dunia bisnis di dunia ini, aku semakin tidak tahu siapa aku?
Setiap hari kutemukan manusia yang serakah, tamak, tidak mau untung sedikit, dan egois. Inikah manusia itu? Aku semakin shock menyadari bahwa aku juga demikian, tidak ada kata puas.

Setiap pagi ketika berangkat ke kantor kumelihat  banyak orang yang berusaha melawan rasa ngantuk, wajah datar tanpa ekspresi, kelelahan, keterpaksaan dalam menjalankan rutinitas dan ketengangan. Anak-anak dipaksa bangun subuh untuk tidak terlambat datang ke sekolah. Orang tua dan pembantu tergesa-gesa mempersiapkan kebutuhan anak-anak ke sekolah. Para supir berjuang menghadapi frustasi akibat macetnya kota Jakarta. Para karyawan dengan setengah hidup memaksakan diri untuk berangkat ke kantor. Demi apa? Demi sejengkal perut? Bukan, demi uang. Karena sejengkal perut tidak membutuhkan pengorbanan sebesar itu

Mungkin saya bisa memulai sistem itu dari  dari setiap perusahaan yang membuat jam kantor, dimana semua para pekerja wajib menjalankannya. Senin sampai Jumat, dari jam delapan pagi sampai jam lima sore untuk sebagian besar karyawan kantoran. Akan banyak sanksi setiap kali karyawan melenceng dari peraturan jam kerja ini. Sampai sekarang aku masih bertanya-tanya dalam hati, menurutku perusahaan tidak akan jatuh miskin apabila hari kerja cukup 3-4 hari per minggu. Tapi, karena manusia itu adalah serakah, tidak ada kata cukup, sehingga jam kerja diadakan 5 kali dalam seminggu, bahkan di beberapa perusahaan masih juga tetap mengadakan lembur. Jadi, apakah memang kita hidup untuk bekerja (baca : uang)? Sejak kita menyadari bahwa kita memiliki akal budi, kita telah didoktrin untuk bekerja dan bekerja. Semuanya untuk uang. Sekolah, lulus dengan nilai yang memuaskan, tujuan akhirnya adalah untuk mendapatkan pekerjaan dengan upah yang besar. Bisakah kita tidak bekerja? Tentu saja tidak! Hanya anak-anak orang kaya, dimana orang tuanya memiliki triliunan rupiah yang bisa menikmati hidup dengan tidak bekerja. Sementara anak-anak tukang becak seperti aku, nyaris tidak mamiliki pilihan lain, selain untuk bekerja demi uang.

Manusia itu sangat serakah. Aku, kau, dan kita adalah manusia. Jadi kita sangat serakah. Aku sendiri juga mengakuinya. Aku tidak akan pernah puas dengan apa yang kudapatkan. Kalau waktu kuliah dengan lima ratus ribu perbulan cukup untukku, sekarang lima juta perbulan pun sudah membuatku sesak nafas. Masih kurang dan tetap kurang. Dan tentu saja bukan untuk sejengkal perut, tapi untuk sesuatu yang disebut dengan kemewahan dan gengsi.

Beberapa hari yang lalu aku dan pacarku memiliki kesempatan untuk mengikuti sebuah seminar. Awalnya aku tertarik mengikuti seminar ini dikarenakan temanya "Financial Planning". Berharap materi dari seminar ini akan menjadi bekal bagiku dan pacarku di dalam mengatur keuangan kami, makanya aku mengajak pacarku untuk ikut serta. Acara seminar ini sendiri dipungut biaya sebesar Rp 100.000,00 per orang, akan tetapi karena aku adalah nasabah dari salah satu perusahaan asuransi, jadi biaya masuk seminar ini dibayarkan oleh agent asuransiku.  Setelah beberapa menit mengikutinya, akhirnya aku menarik kesimpulan bahwa tema yang mereka maksud bukanlah seperti yang kuharapkan. Seminar ini lebih fokus untuk merekrut para calon agent untuk asuransi itu. Seminar ini bertujuaan untuk mendoktrin setiap peserta yang hadir untuk serakah, untuk berpenghasilan ratusan juta per bulan. Aku bertanya dalam hatiku, segitu banyaknyakah kebutuhan kita perbulan sampai kita membutuhkan penghasilan ratusan juta perbulan? Kita hanya memiliki sejengkal perut untuk diisi, sepasang kaki, satu badan, untuk apa penghasilan ratusan juta itu? Lima belas menit pertama dalam seminar tersebut, aku mulai gelisah, dan akhirnya aku tidak tahan lagi, aku memutuskan untuk meninggalkan seminar itu. Dan untungnya, pacarku juga mengalami hal yang sama, memiliki pikiran yang sama bahwa kami tidak terlahir untuk terobsesi memiliki penghasilan jutaan rupiah.

Aku shock dengan manusia-manusia sekarang, dengan pola pikir kami yang sekarang. Semuanya berlomba-lomba untuk memperoleh penghasilan ratusan juta perbulan. Dan untuk itu kami terpaksa mengesampingkan anak-anak, orang tua, atau orang-rang yang membutuhkan kehadiran kami. Demi penghasilan puluhan bahkan ratusan juta rupiah, kita menghabiskan lebih banyak waktu kami di luar rumah. Lalu, para orang tua akan mencari pembenaran dengan mengatakan bahwa itu untuk anak-anak mereka. Dan apa yang kami dapatkan? Mungkin sebagian dari kita berhasil mendapatkannya, tapi apakah kita puas? Tentu saja tidak, kita tetap tidak puas, kita masih tetap ingin lebih dan ingin lebih lagi. Kita semakin candu mengejar sesuatu yang kita tahu tidak akan memberikan kepuasan kepada kita.

Dunia ini sudah tidak sehat lagi untuk dijalani. Setelah dari seminar itu, aku semakin menyadari posisiku selama ini. Memang benar sekali, kita membutuhkan uang untuk memenuhi kebutuhan kita. Dan kebutuhan kita akan tercukupi tanpa kita harus terobsesi untuk menjadi serakah (jikalau kita memikirkannya lebih dalam lagi). Sampai saat ini aku masih beriman bahwa Tuhan akan mencukupi segala kebutuhanku. Aku tidak perlu terlalu terobsesi untuk hidup kaya, berpenghasilan ratusan juta untuk bisa memenuhi kebutuhan hidupku. Aku tidak menentang adanya sistem kerja. Satu-satunya yang kusesali saat ini adalah lahirnya sesuatu alat tukar yang disebut dengan uang, atau apapun namanya di berbagai bahasa yang ada. Bekerja itu sehat dan baik untuk manusia. Tapi dengan adanya sistem uang di dalam bekerja, mengakibatkan bekerja bukan sesuatu yang menyenangkan lagi untuk dijalani (bagi banyak kasus). Bekerja itu menjadi sesuatu pengorbanan yang negatif, keterpaksaan, dan beban yang mengakibatkan banyak manusia menjadi depresi. Karena adanya uang, bekerja bisa dikategorikan menjadi kasta yang tinggi dibandingkan dengan mereka yang idak bekerja. Dengan adanya uang menjadi standarisasi, bekerja bisa dikategorikan ke dalam status sosial tinggi, menengah, dan rendah. Bahkan, karena ada sistem uang di dalamnya, bekerja menjadi salah satu syarat utama dalam melamar anak perempuan orang lain. Uang bukan hanya pelapis kehidupan manusia lagi, melainkan telah menjadi darah dan nadi kehidupan manusia.

Semakin ke sini, aku semakin menyimpulkan bahwa uang lebih membawa faktor negatif terhadap kehidupan manusia. Uang telah membuat manusia semakin terobsesi untuk menguasai manusia lainnya, yang mengaibatkan adanya perang, penjajahan terhadap negara lain, maupun perang politik. Uang telah membuat manusia untuk menghalalkan segala cara, yang mengakibatkan bumi dieskplor secara berlebihan, akhirnya global warming. Uang telah membuat manusia menjadi orang yang egois, yang mengakibatkan penimbunan uang di kalangan tertentu, menjual belikan barang-barang yang sangat tidak baik bagi manusia (berbagai macam perdangangan illegal), misalnya narkoba, makanan-makanan cepat saji, bahkan makanan-makanan busuk dan basi atau bercampur dengan borax, dan korupsi. Dan uang juga telah merusak hubungan silahturahmi dalam keluarga. Banyak keluarga yang tidak bisa hidup harmonis karena uang. Perceraian pasangan suami-istri, pertengkaran antara saudara kandung, persahabatan hancur karena uang. Lebih parahnya lagi, uang telah merusak pola pikir setiap manusia di dunia ini. Dan pola pikir itu disosialisasikan dan bahkan didoktrin kepada anak-anak mereka, untuk mencari uang.

Rantai ini harus diputuskan. Kita hidup bukan untuk uang. Kita hidup untuk memberikan yang terbaik yang bisa kita lakukan. Dan standarisasinya tentu saja bukan uang. Hal ini yang harus disosialisasikan kepada anak-anak kita. Ada banyak hal yang bisa dilakukan tanpa harus mengutamakan uang terlebih dahulu. Uang bukanlah standarisasi kehidupan. Kita harus bekerja, betul sekali. Tapi bukan untuk mendapatkan uang. Kita harus bekerja karena kita harus menyalurkan semua talenta yang diberikan kepada kita. Kita harus bekerja karena itu adalah kebutuhan fisik mental, dan psikologis kita. Apapun jenis pekerjaan itu adalah baik asalkan kita nyaman dan berkembang di dalamnya. Jangan pernah memikirkan uang ang akan didapatkan dengan bekerja. Mampukah kita para orang tua mendoktrin hal itu kepada anak-anak kita?

Masa depan dunia ini, kelangsungan manusia ke depannya ada di tangan kita para generasi sekarang. Apakah kita menginginkan dunia yang lebih baik, semuanya ada di tangan kita. Tergantung pilihan kita, yang jelas, mari kita hayati bahwa kita hanya memiliki perut sejengkal, kaki sepasang, tubuh satu, tidak perlu uang puluan juta atau bahkan ratusan juta untuk memenuhi kebutuhan itu. Mulailah dengan bekerja untuk memenuhi kebutuhan fisik, mental, dan psikologis. Bekerja adalah kebutuhan kita, tapi bukan uang yang menjadi tolak ukurnya.




1 comment:

Rosa said...

yay, uang uang uang :-D

Sayang bgt th seminarnya, yah, padahal dr judulny bgus, financial planning,eh taunya beda sm yg dharapkan. untng g byr sndri, haha