Saturday, 2 November 2013

Insight dari menonton film Barat

Beberapa tahun terakhir ini aku sangat suka menonton film hollywood. Hal yang paling aku suka dari film itu, selain alur ceritanya, juga karakter dari setiap tokoh. Film-film hollywood memiliki karakter tokoh yang sangat kuat dan bisa diterima logika. Dalam banyak hal, akhirnya aku belajar untuk memiliki karakter dari beberapa tokoh yang ada di film hollywood. Biasanya karakter yang ingin aku adapatasi adalah satu atau dua karakter dari beberapa tokoh. Misalnya dalam film GLEE, aku suka dengan beberapa karakter dari tiap tokoh yang ada di dalam film itu. Aku suka dengan karakter Rachel yang diusia masih muda sudah tahu apa yang dia inginkan dan fokus akan itu. Aku suka dengan konsistensinya dalam mewujudkan impiannya. Aku suka dengan semangat Finn dalam memotivasi dan mengajak teman-temannya untuk menunjukkan bakat dan talentanya. Aku suka dengan kebaranian Marcedes, Brytney, Santana, Kurt, Arthhie untuk menjadi diri mereka sendiri. Terlahir dengan keadaan yang tidak umum di lingkungan, tentunya membutuhkan perjuangan yang sangat gigih untuk tetap bisa menegakkan kepala. Mercedes dengan ukuran tubuh yang melebihi ukuran normal, Britney, Santana dan Kurt yang memiliki kecenderungan homoseksual, dan Arthie yang duduk di kursi roda. Mereka adalah anak-anak SMA yang memiliki karakter yang luar biasa yang nyaris tidak pernah kutemukan dalam lingkaran kehidupanku.

Selain itu, aku juga suka dengan dinamika pertemanan yang terjadi di antara mereka, dimana mereka tidak pernah merasa takut untuk berkonflik. Mereka bisa dengan sangat mudahnya untuk menyesuaikan diri dengan konflik itu. Mereka menerimanya seperti mana mereka menerima pujian. Dan memang seperti itulah kehidupan pertemanan, akan selalu ada konflik dan canda tawa. Satu hal lagi, mereka sangat terbuka dengan persaingan. Dua hal terakhir ini adalah hal yang masih sangat sulit untuk kulakukan di dalam hubungan pertemanan yang sedang kujalani. Walau aku sudah terbiasa dengan konflik, tapi konflik yang sering kuhadapi adalah konflik yang tidak terbuka, konflik yang ditutupi dengan senyuman bahwa semuanya berjalan dengan baik-baik saja. Dengan kata lain kemunafikan, sangat tumbuh subur di lingkunganku. Dan persaingan adalah sesuatu yang buruk yang tidak selayaknya dilakukan.

Dari berbagai karakter yang ada di film barat, aku menyadari bahwa setiap tempat memang memiliki budaya masing-masing. Karakter yang diterapkan diterapkan dalam film barat mungkin baik adanya di lingkungan mereka, tetapi tidak untuk lingkunganku. Oleh karena itulah, terkadang aku mengalami kekacauan dalam bertingkah laku. Dimana, aku ingin sekali meniru karakter mereka yang sangat  terbuka dengan konflik, akan tetapi ternyata aku belum siap. Jantungku masih bergerak dengan kencang karena aku merasa bersalah ketika aku harus mengakui bahwa konflik itu tidak sesuai dengan yang seharusnya. Aku tidak memiliki keberanian untuk mengatakan tidak pada mereka yang menjadi temanku, yang berakhir dengan aku mengalah dan merasa menjadi korban.

Over all, aku bukan orang yang fanatik dengan budaya barat. Aku cukup bangga dengan budaya timur, khususnya dengan budaya Indonesia, dan Batak. Hanya saja dalam banyak kejadian, khususnya dalam menyikapi kehidupan ini, sepertinya karakter budaya barat sangat dewasa sekali. Jauh berbeda dengan budaya Indonesia, dimana orang-orang seusiaku rata-rata sangat manja dan cengeng, yang membuatku tidak betah untuk melanjutkan hubungan dengan mereka. Aku juga cukup cemburu dengan kehidupan yang ditampilkan dalam film-film hollywood, yaitu dalam hal materi. Mereka sangat bebas dalam mengekspresikan diri mereka karena mereka memiliki kehidupan yang nyaman. Semiskin-miskinnya tokoh dalam banyak film hollywood, mereka masih memiliki rumah yang sangat nyaman untuk ditinggali dan lingkungan yang cukup nyaman. Terkadang, pikiran negatif datang menyerangku, inilah akibat dari mereka yang menjajah negaraku secara ekonomi. Mereka yang lebih banyak menikmatinya. Sementara kami disini, masih sangat berjuang untuk mendapatkan kehidupan yang layak. Bahkan untuk kebutuhan primer pun, kami harus berjuang sangat keras untuk mewujudkannya. Apalagi untuk membeli model pakaian yang modis dan nyaman untuk dipakai seperti yang ada dalam film-film hollywood.

Mungkin itu jugalah salah satu yang membuatku terkadang muak dengan orang-orang di sekitarku yang hanya memikirkan perut dan perut. Akhirnya kami lupa untuk menikmati hidup kami dengan menghargai hal-hal kecil yang terjadi dalam kehidupan kami. Hidup di lingkunganku saat ini memiliki tekanan ekonomi yang sangat luar biasa, yang dipikirkan hanya uang, uang, dan uang. Bukannya aku mengatakan bahwa kehidupan Barat juga demikian, hanya saja mereka melakukan sesuatu itu sangat profesioal sehingga tujuan utama (mendapatkan uang) terlihat kabur.

Kesimpulannya, aku masih yakin bahwa melalui film, karakter orang bisa diubahkan. Sayangnya, film di Indonesia mayoritas tidak memiliki makna kehidupan yang bisa dipedomani dalam kehidupan nyata. Mengapa? Karena kami tidak disosialisasikan untuk berpikir.

No comments: