Wednesday, 16 October 2013

terjebak di dunia

Akhir-akhir ini, aku berada dalam keadaan emosi yang sangat labil. Walaupun di permukaannya, aku selalu berusaha menampilkan pribadi yang tenang, akan tetapi otak dan emosiku bak ombak di samudra, yang berkecambuk. Satu-satunya alasan dari semua ini adalah aku yang tak bisa mengendalikan otakku untuk tidak terlalu memikirkan hal-hal kecil. Dalam banyak hal, aku sangat kritis, yang kadang-kala membuat otakku semakin melumet.

Aku merasa, setiap tempat yang aku singgahi beberapa tahun terakhir ini, terlalu sempit untuk otakku yang dinamis. Aku merasa jenuh, dan membutuhkan tantangan yang lebih. Se aku juga memiliki ketahanan dalam bertahan yang cukup kuat. Hal ini membuatku sering sekali galau untuk mencari tantangan lain.
Sampai saat ini, aku merasa bahwa apa yang telah kuraih seharusnya masih bisa lebih. Aku sering sekali merasa gagal dengan apa yang kujalani sekarang ini. Lebih tepatnya, aku merasa orang paling tak berguna setiap kali tidak melakukan apapun, seperti saat ini.
Sebenarnya hari ini adalah jadwalku untuk mengikuti kelas yoga. Dan aku sengaja memutuskan untuk mengikuti kelas yoga alasan kedua hanya karena tidak tahu mau melakukan kegiatan apa setelah pulang kerja. Daripada berdiri lama di antrian transjakarta dengan tumpukan manusia. Tapi, hari ini disinilah aku, tidak tahu mau melakukan apa, dan membuatku semakin tidak berguna. Aku melewatkan kelas yogaku hari ini karena aku merasa tersinggung dengan trainer yogaku, namanya Nenti. Ini kali kedua dia menegurku yang menurutku tidak seharusnya dia mengatakan itu.
Minggu pertama, dia menegurku karena aku tak sengaja menabrak botol minumku. Padahal, aku tidak sengaja melakukannya, dan jatuhnya botol minumanku disebabkan banyaknya peserta yoga yang tidak memadai dengan ruangan kelas, sehingga setiap harus disusun sangat berdekatan satu sama lain. Dia juga menegurku karena posisi alas yogaku terlalu maju ke depan, dimana menurutku dia seharusnya bisa mengatakannya dengan baik-baik, tanpa harus dengan intonasi suara yang ketus. Di hari yang sama dia juga menatapku dengan tatapan yang menginterogasi. Aku tidak suka dengan dia.
Di minggu kedua, dia menegurku, kalau duduk di depan harus bisa memberikan contoh yang benar kepada teman-teman yang lain, jangan selalu istirahat terus. Kalau begitu, tidak akan ada hasilnya ikut kelas yoga. Padahal aku bukannya sengaja untuk selalu melakukan istirahat dan bukan hanya aku yang melakukannya. Tapi mengapa hanya aku yang ditegur. Aku mengikuti kelas yoga bukan untuk menghasilkan bentuk tubuh yang seperti yang dia sebutkan itu. Aku ikut kelas yoga untuk merefreshkan otakku yang terlalu aktif dalam memikirkan segala sesuatunya.
Entah mengapa, aku sangat membencinya. Aku tidak suka dengan trainer perempuan. Aku lebih nyaman dengan trainer laki-laki, karena mereka lebih peduli dan pengertian. Trainer laki-laki berulang kali mengatakan bahwa setiap peserta boleh istirahat kalau merasa tidak sanggup lagi, tidak seperti trainer Nenti ini yang memaksa setiap peserta untuk melakukan gerakan. Dan membanding-bandingkan setiap peserta satu sama lain. Yoga ini bukan perlombaan. Yoga itu adalah olah tubuh. Dimana setiap tubuh memiliki kapasitas yang berbeda-beda. Sikap trainer Nenty ini membuatku semakin merasa jatuh dalam menjali hariku ini. Semakin tidak semangat untuk menjalani hari-hari ini.

Sesungguhnya, apa yang sedang terjadi denganku? Mengapa aku begitu gampang tersinggung?
Mengapa begitu sangat sulit bagiku untuk membangun semangat? Aku sampai merasa mau muntah setiap kali ada yang mengatakan semangat kepadaku. Jauh lebih membantu menurutku untuk tidak mendengat kata itu. Semakin membuatku jatuh sepertinya.

Otakku jenuh, otakku penat. Frustasi dengan lingkungan sekitar. Bukan seperti ini hidup yang kumau. Aku tahu apa yang kumau. Tapi, aku tidak bisa egois untuk mengejar apa yang kumau. Karena aku sudah dibentuk untuk selalu mengalah, mengorbankan keinginan pribadi demi kesenangan dan kenyamanan orang lain.
Satu-satunya yang kuinginkan sekarang adalah aku ingin melanjutkan sekolahku. Aku tidak mau jadi salah satu dari dunia bisnis yang tidak sehat ini. Aku sudah terlalu jenuh menjadi salah satu penghuni kemacetan Jakarta ini. Ohhh, aku sungguh-sungguh ingin ke luar dari sistem ini. Tapi aku tak bisa. Sungguh tak bisa, karena aku tidak kuat untuk menanggung resikonya. Harga diriku menjadi taruhannya. Aku akan semakin hina di mata orang tuaku jikalau aku sampai mengorbankan apa yang kuraih sekarang ini demi mengejar apa yang kuinginkan. Hal yang masih belum bisa aku atasi, menerima hinaan dari orang tuaku.

Tuhan, tolong bantu aku menata tempo jalannya otakku. Akhir-akhir ini, otakku terlalu cepat melaju. Aku tidak bisa meremnya sendirian, aku membutuhkan bantuanmu Tuhan. Aku tidak mau otakku terlalu bekerja keras untuk hal-hal yang tidak terlalu penting. Bantu aku Tuhan untuk menyatupadukannya dengan ritme emosiku juga. Hal ini sangat menyesakkan Tuhan.
Begitu banyak hal yang seharusnya tidak terlalu aku pikirkan, begitu banyak hal yang seharusnya aku abaikan. Begitu banyak hal yang seharusnya, tidak aku tempatkan di otakku. Tetaplah Engkau bersamaku, Tuhan. Otakku, sangat dan sangat membutuhkanmu.

Aku frustasi dengan hidupku. Aku merasa staknasi dengan hari-hariku. Aku merasa jenuh dengan rutinitasku. Banyak kebencian yang menggunung di dalam jiwaku. Aku benci pada pemerintah, benci pada orang-orang di sekitarku, pada lingkunganku, pada kondisiku. Aku muak dengan dunia ini Tuhan. Masih adakah tempat yang bisa kujadikan untuk menjernihkan kembali otakku ini Tuhan? Dunia ini terasa sesak sekali. Sepanjang yang kulihat, yang ada adalah wasting time.

Terkadang aku bertanya, adakah ini disebabkan masa kecil yang tidak pernah kumiliki? Dimana sepertinya sepanjang yang kuingat, aku sudah dipaksa untuk langsung menjadi perempuan dewasa?

No comments: