Saturday, 2 November 2013

oktober kelabu

Inilah yang kurasakan saat ini. Hampa. Tak ada semangat. Bukan karena ada masalah, segala sesuatunya berjalan dengan baik. Aku menemukan teman-teman kerja yang mendukungku untuk maju. Kantorku dekat dengan kostanku. Aku memiliki upah yang cukup untuk kebutuhanku. Aku memiliki pacar, teman sekostan yang akan selalu ada setiap kali aku membutuhkannya. Aku menikmati kelas yogaku. Yup, aku memang tidak memiiki hubungan yang harmonis dengan keluargaku. Terus kenapa? Aku bukan satu-satunnya orang di dunia ini yang mengalaminya. Dan itu bukan berita baru lagi. Setiap orang memiliki ceritanya masing-masing. Apakah itu cerita yang menyedihkan dan membahagiakan, intinya setiap orang punya cerita. Tapi mereka tetap bisa bangun pagi dan bangkit dari kasurnya.

Dan aku?
Hari ini aku mulai dengan berjuang untuk bangkit dari kasurku dan hasilnya, aku gagal. Aku tidak bisa bangun dari kasurku, bukan karena aku penyakitan, tapi karena aku tidak ingin. Sangat sulit bagiku untuk menyambut matahari pagi. Walau aku tahu, matahari pagi itu sangat menyenangkan, tetapi sesuatu yang ada dalam diriku lebih memilih untuk tetap dalam kasurku dibandingkan harus bangun dan menyambut sang surya.

Tak tahu, apa sesungguhnya yang sedang menimpaku. Sepertinya dari semua rutinitas yang kulakukan, 90% semuanya terpaksa. Hampir dari semua yang kulakukan hanya karena aturan yang mengikatku. Aku harus bangun pagi untuk memasak karena jika aku tidak memasak maka aku tidak bisa menabung untuk kebutuhan pernikahanku. Aku harus ke kantor dan merasakan macet yang menyesakkan karena aku membutuhkan uang. Aku harus ikut kelas yoga karena aku telah terikat kontrak dan aku akan mengalami kerugian jika tidak mengikutinya. Dan bahkan aku harus terus bernafas karena berpantang mati sebelum aja menjemput.

Hari ini aku berbohong kepada atasanku mengatakan bahwa aku diserang serangga yang menyebabkan badanku gatal-gatal. Memang benar badanku gatal-gatal, tapi bukan karena serangga, menurutku itu jauh lebih disebabkan respon tubuhku terhadap otakku yang tidak bisa diam. Hari ini, aku kembali tidak masuk ke kantor hanya karena aku gagal bangun dari kasur. Aku sudah bangun jam lima pagi. Dan memilih untuk tidur kembali. Sangat sulit menemukan kata-kata untuk mendeskripsikan apa yang kurasakan saat ini, dan apa yang menyebabkan otakku tak bisa diam. Bahkan aku sendiri tidak yakin apakah ada hubungannya dengan pernikahanku yang akan berlangsung tiga bulan lagi?

Aku mau jujur, sesungguhnya aku mulai menyukai pekerjaanku yang sekarang. Akan tetapi, aku tidak yakin pada diriku sendiri apakah ini yang sungguh-sungguh ingin kulakukan dalam hidupku? Aku sangat bersyukur dengan rekan-rekan sekerjaku yang ada di kantor, walau aku merasa bahwa aku belum benar-benar bisa klik dengan mereka. Entah mengapa, menjadi satu-satunya yang belum menikah, Kristen, dan orang batak, anak kost, membuatku semakin minder. Hanya perasaanku saja, tapi aku merasa, mereka selalu mengawasi setiap tingkah lakuku yang membuatku merasa dimata-matai.

Terkadang, aku juga merasa jenuh dengan pekerjaanku. Duduk diam di depan komputer, melakukan wawancara pekerjaan lewat telepon membuatku seperti telemarketing yang membuatku tidak nyaman. Apalagi ketika bertemu dengan orang-orang yang blagu, yang tidak bisa sopan santun ketika diwawancara.

Mungkin, masalah utamanya adalah, aku tidak pernah memiliki kekuatan untuk menjadi diriku sendiri, aku tidak pernah memiliki kebebasan untuk melakukan yang kuinginkan karena kemampuanku yang terbatas. Sesungguhnya, yang ingin kulakukan saat ini adalah aku ingin melanjutkan studyku, tapi aku tidak memiliki biaya untuk itu. Aku tidak mau menjadi beban dari salah satu dosenku yang lainnya. Dan sampai sekarang aku masih belum menemukan jalan untuk dapat melanjutkan studyku. satu-satunya yang membuatku semangat saat ini adalah, melanjutkan studyku. aku sangat ingin menjadi seorang psikolog. Sangat ingin.


No comments: