Saturday, 2 November 2013

Ritual agama

Dalam berbagai kesempatan, aku lebih memilih menjadi seorang observer dibandingkan memberikan respon dalam bentuk tindakan maupun perkataan. Mungkin bagi orang-orang di sekitarku, bahkan bagi mereka yang sudah menghabiskan banyak waktu denganku, akan merasa tidak dianggap dengan pilihanku ini. Tak banyak, mereka akhirnya memutuskan untuk tidak melibatkanku pada akhirnya, karena biar bagaimanapun mereka mengharapkan sebuah respon yang konkrit dariku bukan hanya kediaman dengan seribu bahasa. Apalagi dengan latar belakang pendidikanku dari psikologi, mereka berharap aku akan memberikan komentar psikologis. Dan aku sangat tidak keberatan dengan respon mereka terhadap perilakuku ini. Karena dengan bersikap demikian, semakin memberiku ruang untuk melanjutkan peranku, yaitu sebagai observer. Biasanya setelah atau bahkan di saat yang bersamaan ketika aku melakukan observasi, aku pun mulai melakukan analisa. Yang tentu saja membuat otakku lebih fokus untuk berkutat sendiri tanpa harus menuangkannya dalam respon verbal.

Kali ini, yang paling sering menggangguku adalah mengenai hubungan manusia dengan Tuhan. Aku tahu ini adalah sebuah hubungan yang sangat pribadi dimana akan sangat sulit untuk melakukan pengukuran bahkan penilaian. Dan membuatku bingung yang terkadang membuatku cukp frustasi juga. Tentunya kebingungan yang kumaksud bukanlah mengenai ada tidaknya Tuhan. Saat ini dengan sangat yakin aku mengakui bahwa Tuhan itu benar-benar hadir dalam kehidupanku. Yang kumaksudku disini adalah  HUBUNGAN antara manusia dan Tuhan itu sendiri.
Mungkin aku salah memahaminya selama ini, tapi aku ingin jujur dan mengakui pemahamanku selama ini bahwa ajaran kekristenan yang aku terima selama ini memberikan kesan yang sangat abosulut dalam pelaksanaannya, bak ilmu eksakta yang membutukan logika dan penalaran. Padahal, sebuah hubungan adalah hal yang dinamis, bukan sesuatu yang kaku dan atau absolut. Dan ini juga berlaku dalam hubungan manusia dengan Tuhan. Manusia dan Tuhan adalah dua pribadi yang memiliki emosi dan perkembangan. Oleh karena itu, menurutku hubungan manusia dengan Tuhan itu sebaiknya tidak dikakukan dengan berbagai ajaran yang membuat hubungan itu menjadi tidak sehat. Mungkin inilah ranah yang belum berhasil disentuh oleh mereka yang memperdalam teologia. Dan yang membuat orang-orang pada akahirnya meninggalkan kekristenannya.

Layaknya sebuah hubungan, dibutuhkan komunikasi dari setiap pihak yang terlibat di dalamnya. Khusus untuk hubungan antara manusia dengan Tuhan, komunikasi yang diimani paling mujarab adalah melalui doa dan ritual agama. Bagi banyak orang yang melestarikan tradisi, komunikasi dengan Tuhan harus dilakukan dalam keadaan suci, khusuk, dan melalui berbagai ritual. Aku tidak mengatakan itu salah, karena aku juga mengakui bahwa Tuhan itu adalah pribadi yang kudus. Karena Dia kudus, maka kita pun perlu melakukan pengudusan untuk dapat layak dihadapannya. Hal yang sama juga berlaku dalam hubungan antar manusia. Aku sendiri pasti mempersiapkan diriku agar layak bergaul dengan seseorang, apalagi dengan Tuhanku. Akan tetapi, seiring dengan perkembanganku sekarang aku mulai mempertanyakan, kalau Tuhan adalah sahabatku, kalau Tuhan adalah Bapaku, kalau Tuhan adalah segalanya bagiku, memaksimalkan hubunganku dengan Tuhanku berarti tidak harus melulu dengan ritual, bukan?

Aku tahu, ritual keagamaan itu sangat membantu dalam mengintimkan hubungan dengan Tuhan. Akan tetapi hasil observasiku selama ini, justru dalam ritual itulah iblis semakin giat bekerja, dan membuat ritual itu mengalami pergeseran fungsi dimana semakin banyak manusia-manusia yang memberikan tempat untuk si iblis berkuasa, hal ini juga terjadi padaku. Ritual keagamaan bukan lagi jalan untuk mengintimkan hubungan manusia dengan Tuhan, tapi menghalalkan manusia mewujudnyatakan obsesinya menjadi sama dengan Tuhan seperti yang pernah dilakukan oleh manusia  pertama.

Mungkin, semuanya diawali dengan kecintaan kita manusia kepada uang. Sebagai contoh, (aku berbicara menurut keyakinanku) di dalam Filipi 1:21 menyebutkan : "Hidup adalah Kristus dan mati adalah keuntungan". Bagiku sendiri ayat ini adalah ayat yang paling sulit untuk kulakukan. Dan bukan hanya aku, manusia-manusia di sekitarku pun mengalami kegagalan yang sama denganku dalam mengimani ayat ini. Aku akan sangat berjuang dengan sekuat tenaga, pikiran, dan akal sehatku untuk dapat bertahan hidup, dengan kata lain aku tidak mau mati. Aku ingin terus hidup dan berjuang untuk mewujudkan obsesiku yang aku sendiri tidak yakin untuk tujuan apa. Masih sangat sulit untuk kuimani bahwa hidupku adalah Kristus. Aku masih kuatir dengan masa depanku, dengan apa yang akan kumakan, kupakai, kurasakan, dan kunikmati. Dan aku belum siap mati.

Setiap kali aku membuka facebook, banyak orang yang memiliki keyakinan yang sama denganku membagi sebagian dari pengalaman hidupnya dengan doa-doa agar mendapatkan hari yang baik, keberuntungan, dijauhkan dari penyakit, tidak merasakan kepahitan, dan hal-hal negatif lainnya. Dan aku pun acap kali melakukan hal yang sama. Hal ini membuatku semakin dilema dalam perkembanganku, yang akhirnya membuatku semakin menyadari bahwa hubunganku dengan Tuhan adalah hubungan yang dinamis. Hubungan yang dinamis yang aku maksudkan disini adalah hubungan yang tidak kaku dan absolut. Seperti hubunganku dengan manusia yang lainnya, ada kalanya aku memberikan kekecewaan kepada mereka, demikian halnya dengan hubunganku dengan Tuhan, bahwa ada kalanya aku pun akan mengecewakan Dia. Dan dalam tahap kehidupanku, Tuhan pun akan melakukan yang sama, mengecewakanku ketika rencanaku tidak sesuai dengan rencanaNya.
Hanya saja, Tuhan mengecewakanku karena Dia lebih tahu apa yang terbaik untukku, Dia mengecewakanku karena Dia menyediakan yang lebih baik untuk kujulani sesuai dengan kemampuanku.

Jujur saja, apa yang kusaksikan dalam usaha manusia di sekitarku melalui ritual agama semakin membuatku mencaci maki yang berakibat meningkatnya dosa-dosaku. Aku benar-benar tidak bisa menjadikan bahwa hidupku adalah Kristus dan kematianku adalah keberuntunganku. Aku masih tertekan dengan segala sesuatu yang tidak sesuai dengan harapanku. Kalau hidupku memang Kristus, seharusnya aku tidak akan merasa frustasi untuk itu. Aku terlalu fokus dengan hal-hal yang sudah aku tahu pasti tidak akan kubawa mati. Aku terobsesi untuk menjadikan hidup yang hanya sekali ini untuk melakukan yang kumau. Sementara mulutku berkata bahwa hidupku adalah Kristus.
Aku berusaha mencari kekuatan dengan melakukan ritual agama, yaitu pergi ke gereja. Akan tetapi yang kudapatkan bukanlah kekuatan, aku bahkan nyaris tidak merasakan adanya Tuhan disana. Aku semakin sesak nafas melihat orang-orang yang ada di dalam gereja yang sama sekali tidak bisa menjadi garam dan terang. Alhasil yang ada adalah, setiap kali pulang dari ibadah aku tidak mendapatkan kekuatan.

Saat ini, aku lebih sering berbicara sendirian kepada Tuhan. Aku sering bertanya-tanya kepada Tuhan, mengapa aku tidak pernah merasakan kehadirannya di dalam gereja lagi? Padahal aku sangat ingin bersekutu dengan orang-orang seimanku untuk tetap bisa mempertahankan nyalanya terangku dan rasa dari garamku. Aku sudah tahu jawabannya, dan aku masih berjuang untuk meminta kepada Tuhan agar Dia mengirimkan Roh Kudus untuk membantuku merasakan kehadirannya di gereja.
Secara pribadi, aku lebih merasakan Yesus di luar gereja. Dan aku pun semakin terpanggil untuk tetap berada di luar gereja. Mungkin, ini jugalah yang dialami oleh masyarakat di Eropa, bahwa mereka tidak merasakan Tuhan lagi di dalam gereja.

Sekali lagi aku klarifikasikan, aku bukannya ingin menjadi orang yang sok kebarat-baratan karena aku sendiri sangat bangga terlahir menjadi Putri Indonesia.

No comments: