Sunday, 10 November 2013

SMAN 2 Balige Soposurung "TO BE NUMBER ONE"


Beberapa kali, aku sering ditanya masa sekolah yang paling menyenangkan buatku itu apa? TK, SD, SMP, SMA, atau kuliah. Ini adalah pertanyaan yang sedikit sulit untuk kujawab karena setiap jenjang masa sekolah itu memberikan kesan unik yang tidak bisa kubandingkan. Semuanya menyenangkan sesuai dengan musimnya. Dan setiap tahap sekolah selalu menyediakan bekal untukku melangkah ke tahap sekolah selanjutnya. Hanya saja, masa dimana aku paling gampang untuk melakukan pengaksesan adalah masa SMA. Dan ini tentu saja bukan menjadi indikasi bahwa masa SMA adalah masa yang paling menyenangkan untukku. Aku mencintai semua masa yang pernah kualami, tentunya karena aku sangat suka pergi ke sekolah. Aku sangat suka belajar.

Lalu, mengapa masa SMA menjadi masa yang dimana aksesnya lebih gampang untuk kuraih? Jawabannya adalah  karena masa SMA merupakan jembatan terakhir yang menghubungkanku dengan kampung halaman. Masa SMA adalah masa terakhir aku disebut anak sekolahan. Dan pada umumnya kenangan terakhir biasanya paling gampang dijangkau di dalam memori otak kita. Masa sekolah semenjak TK sampai SMA aku habiskan di kota kecil di provinsi Sumatera Utara,  Balige yang lebih dikenal dengan Soposurung. Setelah masa SMA usai, aku pun mengikuti jejak senior-seniorku pada umumnya, untuk merantau, mengecap ilmu di kampung orang.

Kembali ke masa SMA. Aku mengakhiri masa sekolahku di SMA N2 Soposurung - Balige dimana sekolah ini memiliki  motto "TO BE NUMBER ONE". Menurutku, sekolah ini sangat unik yang menjadikannya berbeda dengan SMA pada umumnya. (Mungkin) SMA N2 Soposurung inilah satu-satunya SMA Negeri di Indonesia yang memiliki keunikan itu. Apakah keunikan sekolah ini?
Keunikan sekolah ini adalah adanya kerja sama antara pihak pemerintah dengan pihak swasta dalam hal ini pihak swasta lebih dikenal dengan Yayasan Soposurung.  Yang sejujurnya aku sendiri tidak tahu isi dari perjanjian  kerja sama  itu, hanya bisa melakukan hipotesa saja. Dulu di masaku, ( hipotesa#1) salah satu isi dari kerja sama antara pemerintah dan Yayasan Soposurung, siswa-siswi di SMA ini terbagi menjadi dua kelompok, yaitu anak non asrama dan anak asrama. Anak non asrama maksudnya mereka yang pulang dan pergi sekolah berangkat dari rumah orang tuanya atau dari kostan. Sementara anak asrama adalah mereka yang mendapatkan kesempatan untuk tinggal di asrama dan dibina dengan semi militer dimana biaya hidup mereka selama di asrama ditanggung oleh pihak swasta, Yayasan Soposurung. Walaupun berbeda dalam keberangkatan dan kepulangan, di dalam sekolah sendiri kami adalah sama, tidak ada perbedaan dalam hal administrasi, sama-sama menggunakan emblem yang sama yaitu SMA N2 Soposurung- Balige, membayar uang sekolah, kurikulum yang sama dengan pengajar yang sama, dan peraturan sekolah yang sama. Dalam beberapa hal anak-anak yang dibiayai oleh pihak swasta mendapatkan fasilitas yang tidak kami dapatkan, misalnya mereka diwajibkan untuk mengikuti kelas tambahan setelah jam sekolah berakhir dan kegiatan ekstrakurikuler lainnya.

Keunikan lain dari sekolah ini adalah bahwa guru-guru yang mengajar disana didatangkan dari luar Balige dan mayoritas bukan orang Batak, yang katanya didatangkan oleh pihak Yayasan Soposurung untuk kurun waktu tertentu. Mungkin ini juga menjadi salah satu isi  dari kerja sama antara pemerintah dan pihak Yayasan Soposurung bahwa mereka boleh "menitipkan" siswa-siswi mereka di SMA N2 Soposurung- Balige, dan memiliki emblem dan akredibilitas administrasi SMA N2 Soposurung- Balige asalkan guru-guru pilihan yang didatangkan dari luar Balige itu, harus mengajar juga untuk siswa-siswi yang non asrama (hipotesa#2). Tak bisa aku ingkari bahwa dengan adanya perjanjian kerja sama ini, maka pengklasifikasian pun terbentuk yang pada akhirya sangat berdampak signifikant dengan self belonging kami terhadap sekolah ini. Dan bagi beberapa orang, khususnya alumni sekolah ini, pengklasifikasian ini masih menjadi topik pembahasan yang sangat sensitif yang tidak memiliki ujung.

Bila merujuk dari hipotesa di atas, siswa asrama dan non memang telah dikondisikan menjadi beda. Akan tetapi bagi banyak orang adalah sesuatu yang sulit untuk menerima pembedaan itu, apalagi tolak ukur yang dilakukan dalam pembedaan itu tidak berdasarkan standar yang sama. Hal inilah yang memicu lahirnya "PERSAINGAN". Di dalam sekolah ini persaingan sangat tumbuh subur. Di sekolah inilah secara langsung dan tidak langsung, aku disosialisasikan untuk bersaing, bersaing dalam melakukan yang terbaik tentunya.  Awalnya persaingan itu disosialisasikan secara tidak langsung melalui identitas kami di sekolah itu, anak asrama atau bukan. Anak asrama dan anak non asrama sama-sama bersaing untuk mendapatkan pengakuan bahwa kami adalah yang paling berprestasi di akademik, di ekstrakulikuler dan di seluruh bidang kalau perlu. Anak asrama yang dibiayai oleh Yasayan Soposurung memiliki tanggung jawab moral untuk membuktikan bahwa mereka layak untuk mendapatkan dukungan dana dari Yayasan dengan harus selalu unggul dalam akedemik dan kegiatan ekstrakurikuler. Dan menciptakan image yang membedakan mereka dari siswa-siswi yang tidak mendapatkan dukungan dana dari Yayasan. Sementara, anak-anak non yang tidak mendapatkan dukungan dana dari Yayasan, secara tidak langsung juga akhirnya mendapat tanggung jawab moral demi keseimbangan ego untuk membuktikan bahwa mereka pun bisa unggul. Akhirnya, kami siswi-siswi SMA N2 Soposurung- Balige baik anak asrama dan anak non asrama pun bersama-sama bersaing menjadi yang terbaik, seperti motto sekolah ini "TO BE NUMBER ONE".

Rasa persaingan yang ada di antara kedua kelompok ini (asrama dan non asrama) seiring berjalannya waktu ternyata  merambah juga ke pribadi lepas pribadi. Masing-masing dari kami disadari atau tidak, pada akhirnya juga bersaing untuk mendapatkan nilai yang terbaik. Jadi persaingan itu pun terjadi di antara sesama anak asrama dan di antara sesama anak non.  Masih menjadi salah satu isi dari perjanjian kerja sama antara pemerintah dan Yayasan. Dimana, siswa-siswi yang dibiayai Yayasan, apabila tidak memenuhi standar akan dikeluarkan dari asrama dan menjadi siswa di SMA N2 Soposurung-Balige dengan identitas sebagai anak non. Sementara anak non yang adalah tidak dibiayai Yayasan, apabila tidak memenuhi standar sekolah maka akan tinggal kelas (hipotesa #3).

Aku pribadi, awalnya tidak nyaman dengan rasa persaingan yang ada di antara kedua kelompok yang ada di sekolah ini. Belum lagi dengan persaingan yang ada di dalam masing-masing kelompok. Hal ini tidak bisa dilepaskan dari budaya kita orang timur, yang menganggap bahwa persaingan itu adalah hal yang buruk. Mengapa buruk? Karena dengan adanya persaingan maka hubungan kekerabatan berpeluang besar menjadi rusak. Sementara dalam budaya Timur, khususnya Indonesia, apalagi di masyarakat Batak, hubungan kekerabatan adalah sesuatu yang sangat penting, bertolak belakang dengan budaya Barat yang sangat individual dan tidak terlalu menghiraukan hubungan kekerabatan. Dalam hukum pertemanan Batak pun terdapat prinsip, hancur demi kawan akan dilakoni saking pentingnya hubungan kekerabatan itu. Oleh karena itu, segala sesuatu yang berpeluang untuk merusak hubungan kekerabatan seperti persaingan menjadi sesuatu yang "tabu" di masyarakat kita. Tidak boleh terjadi persaingan di antara mereka yang memiliki hubungan kekerabatan. Dan itulah yang terjadi di mana aku SMA. Kami tidak bisa menerima sosialisasi persaingan yang didoktrin di dalam perilaku kami, karena kami telah didoktrin di lingkungan rumah untuk selalu mengutamakan hubungan kekerabatan. Akan tetapi kami tidak memiliki pilihan, kami harus bersaing, yang mengakibatkan kami meresponnya dengan lahirnya hubungan yang tidak sehat dalam pertemanan dan emosi-emosi negatif yang tidak bisa kami kontrol.

Setelah meninggalkan kampung halaman, aku semakin diajari oleh pengalaman bahwa persaingan itu adalah bagian dari kehidupan yang harus dilalui oleh mereka yang memiliki potensi untuk maju. Mungkin dahulu kala para leluhur kita tidak mensosialisasikan persaingan itu karena jika kita tidak cerdas dalam melakoninya maka akan mendatangkan kerusakan di dalam hubungan. Dan untuk menghindari hal itu, maka di kebudayaan kita, persaingan itu menjadi sesuatu yang buruk. Padahal, jikalau kita analisa lebih dalam lagi, persaingan itu bukanlah sesuatu yang buruk. Di kehidupan sehari-hari, setiap saat kita diperhadapkan dengan persaingan. Bahkan di awal kehidupan kita pun, terjadi persaingan antara jutaan sperma untuk membuahi satu ovum. Dan disinilah akar permasalahan kita, para orang dewasa sebelum kita kurang menyadari perlunya sosialisasi dini mengenai soft skills, contohnya sosialisasi persaingan, sehingga pengenalan yang sejak dini, bisa membantu anak-anak untuk lebih mampu  mengatasinya tanpa harus merusak hubungan kekerabatan melainkan menjadi momentum untuk melakukan yang lebih baik lagi.

Seperti musim-musim sebelumnya, aku sangat excited untuk menyelesaikan setiap tahap masa sekolahku, karena aku yakin aku telah memiliki bekal yang cukup untuk persediaanku di dalam tahap selanjutnya. Jadi, bukan hal yang basi lagi kalau di sekolahku setiap siswa-siswi yang duduk di kelas tiga, diwajibkan oleh persaingan untuk mengisi bekal sebanyak mungkin yang akan dipakai nantinya  untuk mendapatkan satu kursi di bangku Perguruan Tinggi Negeri. Mendapatkan bangu di Perguruan Tinggi Negeri menjadi tolak ukur resmi yang dipakai di sekolah ini dalam menentukan kualitas persaingan yang selama tiga tahun ini telah disosialisasikan. Hasilnya, mereka yang tidak mendapatkan bangku di Perguruan Tinggi Negeri tidak akan mampu untuk menegakkan kepala mereka. Sementara mereka yang mendapatkan bangku di Perguruan Tinggi Negeri melangkah elegant dalam setiap jalannya. Inilah yang terjadi apabila persaingan itu tidak disosialisasikan sejak dini di lingkungan masyarakat kita.

Kebiasaan yang berkembang, aku dapatkan ketika aku kuliah. Mungkin karena disiplin ilmu yang aku tekuni adalah salah satu disiplin ilmu yang awal berkembangnya di budaya barat, yaitu psikologi, apalagi hampir semua dosen pernah menikmati kebudayaan barat, sehingga terjadi akulturasi antara budaya timur dan budaya barat, yang mensakralkan adanya persaingan, konflik, perbedaan pendapat/prinsip, gaya hidup, dan sebagainya. Selama kuliah, aku sendiri sering sekali mengalami persaingan dengan teman-teman kuliah yang notabene adalah teman terdekatku di kala kuliah. Persaingan pertama yang kuhadapi sebelum kuliah dimulai adalah persaingan untuk mendapatkan kamar asrama di kampus, berlanjut dengan persaingan untuk mendapatkan beasiswa, dan persaingan untuk mendapatkan mata kuliah. Bagi mereka yang kuliah di Universitas Indonesia, pasti merasakannya juga dimana setiap awal semester selalu terjadi persaingan untuk mendapatkan kelas yang sesuai dengan kebutuhan kita. Biasanya bagi mereka yang tidak memiliki akses internet di kamar kostan atau di rumah, sejak jam 10 malam sudah nongkrong di internet karena pengisian mata kuliah akan dimulai jam 00.00. Setelah ke luar dari dunia kampus, persaingan pun semakin nyata. Bersaing untuk mendapatkan pekerjaan, dan setelah mendapatkan pekerjaan, bersaing dengan rekan sekantor atau bersaing dengan perusahaan lain yang memiliki line bisnis yang sama dengan tempat kita bekerja.

Seperti yang aku sebutkan di atas, aku sangat mencintai semua yang kualami dalam masa sekolah. Masa TK, SD, SMP, SMA, dan kuliah semuanya memberikan bekal yang membuatku menjadi seperti sekarang ini. William Shakespeare mengatakan bahwa di dunia ini tidak ada yang baik atau buruk, hanya pemikiran kitalah yang membuat itu terlihat buruk atau baik. Demikian halnya dengan persaingan, pemikiran kitalah yang menentukan apakah persaingan itu baik atau buruk. Dan pemikiranku mengatakan persaingan itu baik. Aku bisa sampai kepada pemikiran ini melalui tahap penerimaan, aku menerima bahwa dengan siapapun di dunia ini aku melakukan persaingan. Aku bersaing dengan sahabatku, aku bersaing dengan saudara kandungku, aku bersaing dengan orang tuaku, aku bersaing dengan mereka yang kucintai, dan aku menerimanya. Itulah hidup. Dengan belajar menerima bahwa kita memang harus bersaing, maka akan membantu kita untuk meresponnya dengan lebih baik tanpa melahirkan adanya emosi negatif.

Di SMA N2 Soposurung- Balige, aku dan siswa-siswi yang lain dikondisikan untuk bersaing. Pembagian siswa-siswi ke dalam dua kelompok yang tujuan utamanya untuk membina siswa-siswi yang telah lulus seleksi sesuai dengan standar Yayasan Soposurung,  telah memberikan dampak yang sangat positif dalam memicu perkembangan anak-anak non untuk tetap berkontribursi memberikan yang terbaik tanpa dukungan fasilitas yang mungkin tidak sama dengan yang dimiliki oleh mereka yang dibiayai oleh Yayasan Soposurung.
Dari sini aku belajar karena ada persainganlah maka kami siswa-siswi SMA N2 Soposurung - Balige berusaha memberikan yang terbaik, melahirkan berbagai jenis kreativitas, dan pengaktualisasian bakat dan talenta wakaupun dengan motivasi yang berbeda. Yang pada akhirnya menjadikan nama SMA N2 Soposurung - Balige dikenal oleh banyak orang dan menjadikannya salah satu sekolah favorit di Sumatera Utara.

Jadi intinya adalah penerimaan. Ketika kita menerima apa yang telah terjadi dalam kehidupan kita, maka kita pun akan dimampukan untuk mencintainya. Persaingan dan konflik termasuk ke dalam hal ini. Sekarang yang menjadi pertanyaannya, sejauh mana kita bisa menerima persaingan dan konflik itu? Manusia dewasa yang berkarakter pada umumnya mampu menerima persaingan, konflik dan perbedaan pendapat tepat seperti mereka menerima keberhasilan dan rejeki. Dan inilah PR perkembangan psikologis kita sebagai dewasa muda.

Jalan-Jalan Santai (JJS) - salah satu kegiatan rutin OSIS SMA N2 Soposurung, Balige.
Foto ini diambil di Tarabunga - Balige
Kelas III IPA 2 (Tahun Ajaran 2004/2005)


2 comments:

Marlon Tobing said...

Tulisan yang sangat bagus, setuju dengan tulisan saudara,, yang penting kita selalu berpikir positif... " dari ave maria jalan lain ke roma".. berbagai macam cara u ntuk menuju kesuksesan.

Tommy Nainggolan said...

Bravo, tulisanmu sangat inspiratif, persaingan memang harus dikelola dengan baik, seharunya mulai dari tingkat terendah TK, budaya bersaing yang fair enough harus ditumbuhkembangkan, sehingga akan terbiasa sampai mengarungi dunia pekejaan sekalipun akan terbiasa.