Tuesday, 5 March 2013

Bilakah impianku akan datang?

Setiap orang memiliki impian. Karena aku orang, maka aku pun memiliki impian. Impianku adalah memperoleh pendidikan setinggi mungkin. Aku suka belajar, belajar apapun. Akan tetapi beberapa tahun ini aku lebih banyak belajar mengenai perilaku manusia, yang tentunya dalam berbagai bentuk penerapan.
Sejak kecil, aku selalu kehausan akan informasi, haus akan bacaan, haus akan ilmu, dikarenakan rasa keingintahuanku yang besar.

Akan tetapi aku tidak seberuntung orang-orang pada umumnya. Dalam perjalananku untuk memuaskan keingintahuanku, aku harus melakukan usaha ekstra, yaitu mencari tahu sendiri dengan sarana dan prasarana yang terbata. Tidak ada guru, mentor, ataupun pembimbing, dan minimnya media pembelajaran yang bisa kujadikan tempatku untuk memuaskan keingintahuanku. Keadaan ini  memaksaku untuk berpikir dalam mencari tahu sendiri hampir semua informasi yang ingin kuperoleh. Misalnya, aku belajar bahasa Inggris tanpa bantuan siapapun. Kalau teman-temanku mempelajarinya dengan mengikuti kursus dan atau stimulus-stimulus yang diberikan oleh orang tua atau orang-orang di sekitarnya, tidak demikian denganku. Aku menggali bahasa ini dengan caraku sendiri, yaitu dengan berpikir dan menganalisa bahasa itu.

Demikian halnya dengan memasak. Orang tuaku atau orang dewasa di sekitarku tidak pernah mengajarkanku memasak. Aku belajar untuk memasak dengan caraku sendiri. Dimana belajar memasak tidak mungkin kulakukan di rumah orang tuaku, karena orang tuaku akan sangat marah sekali untuk tiap bahan makanan yang nantinya akan berakhir menjadi pamurian. Lalu aku belajar dimana? Aku belajar memasak setelah meninggalkan rumah orang tuaku.

Mungkin itulah yang membuatku sering merasa menjadi orang yang tidak berguna ketika tidak melakukan apapun.  Karena aku telah terbiasa untuk berpikir dan bertindak.
Alhasil tidak ada kata menunggu dalam keseharianku. Apa yang bisa kulakukan hari ini, lakukan!
Dan dalam banyak pengalaman, hanya kegagalanlah yang membuatku jalan di tempat atau putar haluan, karena apabila tidak ada kegagalan maka sepanjang jalan hidupku aku akan maraton untuk memuaskan keingintahuanku.

Ya, aku sangat suka belajar. Belajar apapun.
Dan orang-orang mengatakan bahwa aku adalah orang yang fast learning. Mungkin karena kebiasaanku untuk belajar dengan waktu yang minim ketika tinggal dengan orang tuaku. (aku harus pintar membagi waktu antara belajar dan membantu orang tuaku jualan).

Lalu, kalau aku adalah orang yang suka belajar dan fast learning, lalu mengapa aku tidak ahli dalam hal apapun?
Karena aku tidak pernah memiliki waktu yang cukup untuk menggali lebih dalam lagi akan sesuatu yang sedang kupelajari. Bukan hanya sarana dan prasarana, melainkan juga waktu. Aku dipaksa oleh keadaan untuk belajar hal lain sebelum aku menguasai apa yang sedang aku pelajari.

Bilakah impianku itu akan datang?
Belajar dengan sarana dan prasarana yang memadai, dan waktu yang cukup?

Mengapa aku harus bekerja

Mengapa aku harus bekerja?
Karena aku butuh uang.
Mengapa aku butuh uang?
Karena uang bisa menukarkan tempat tidur di kostan, tempat dimana aku bisa tidur.
Karena uang bisa menukarkan makanan, kekuatan yang aku butuhkan untuk menjalankan pencernaan di dalam tubuhku.
Karena uang bisa menukarkan pakaian, yang menutupi tubuhku.
Tapi aku tidak ingin bekerja. Aku ingin menjalani hidupku dengan tidak bekerja.
Aku tidak suka kehidupan perkantoran, perkotaan, jalan raya yang macet, segereombolan orang yang berdesak-desakan, antrian transjakarta yang memanjang dan melelahkan.

Mengapa aku harus bekerja?
Karena orang-orang akan merendahkanku apabila aku pengangguran.

Mengapa aku harus bekerja?
Karena aku butuh jawaban untuk pertanyaan orang-orang.

Mengapa  aku bekerja?
Karena aku akan malu bertemu dengan orang-orang yang bekerja.

Mengapa aku harus bekerja?
Karena aku memberikan uang kepada orang-orang yang nantinya membutuhkannya.

Mengapa aku harus bekerja?
Karena aku harus menjadi warga negara yang baik, mengurangi jumlah pengangguran di Indonesia.

Mengapa aku harus bekerja?


Friday, 1 March 2013

Keluarga, Gereja, dan Masyarakat



Sudah tidak asing lagi bagi kita bahwa pendidikan pertama yang didapatkan manusia adalah di lingkungan rumah. Di rumah, pada umumnya terdiri dari ayah, ibu, dan anak yang lebih dikenal dengan keluarga inti. Ada kalanya di dalam sebuah rumah terdapat nenek, kakak, om, tante atau mungkin pembantu bagi keluarga yang ada di kota besar, misalnya di Jakarta.
Saya pernah menjadi seorang konselor mahasiswa di sebuah universitas swasta di Jakarta. Masalah utama yang paling sering saya temukan pada mahasiswa yang saya konselingkan adalah hubungan antar personil keluarga inti, hubungan antara orang tua dan anak, anak dengan saudara kandung. Dimana akar dari permasalahan itu adalah minimnya komunikasi yang diakibatkan kesibukan orang tua. Orang tua lebih mempercayakan keseharian anak-anak mereka dengan manusia dewasa lain, misalnya pembantu. Hal ini mengakibatkan banyak anak-anak yang akhirnya tumbuh besar dengan kesepian. Mereka pun mengusir kesepian yang mereka rasakan dengan lebih menyayangi alat teknologinya (laptop, handphone,Tab, dsb) dibandingkan dengan orang tua dan atau saudara kandung. Tentu saja hal ini sangat berpengaruh dalam kemampuan mereka untuk membina hubungan dalam kehidupan bermasyarakat. Mereka tidak memiliki kepekaan terhadap pengalaman negatif orang lain, egois, anarkis, dan antisosial.
Saya memulai tulisan ini dengan kasus di atas karena masalah utama dari setiap anak yang nantinya akan menjadi anggota masyarakat dan anggota gereja adalah diawali dari pengalamannya dengan orang dewasa yang ada dalam tahun-tahun pertama hidupnya, dimana mereka itu biasanya adalah orang tua maupun saudara kandung yang mereka temukan dalam lingkungan rumah. Mereka inilah yang menjadi jemaat gereja, dan yang nantinya menjadi tokoh utama dalam pemberdayaan masyarakat, yang merupakan topik dari yang kegiatan ini. Jadi, bukan tidak mungkin apa yang terjadi dengan mahasiswa yang pernah saya konselingkan juga dialami oleh keluarga Batak Kristen. Oleh karena itu saya akan mengawalinya dari keluarga.
Di dunia psikologi, ketika seorang psikolog hendak melakukan analisa kepribadian kepada kliennya, hubungan klien dengan orang tua,  saudara kandung, atau orang dewasa yang tinggal bersama dengan dia di rumah akan menjadi pembahasan utama. Dalam kehidupan kekristenan pun Tuhan hadir memperkenalkan diri kepada manusia sebagai Bapa dan atau sebagai mempelai laki-laki. Peran yang diambil oleh Tuhan adalah peran yang sama seperti pemahaman kita mengenai keluarga dalam kehidupan sehari-hari. Tidak bisa dipungkiri, persepsi seorang anak terhadap Tuhan, bisa jadi dipengaruhi oleh hubungannya terhadap orang tuanya. Mayoritas anak akan menganalogikan Bapa Surgawi itu seperti Bapa yang dia lihat di rumah. Hal inilah (mungkin) cikal bakal lahirnya pernyataan di tengah-tengah masyarakat Batak, “natuatuami do Debata na tarida”.
Dari lingkungan gereja, kita berangkat ke kehidupan bermasyarakat, mari kita singgah sebentar ke dunia bisnis. Di dunia bisnis, juga berlaku peran yang sama, HRD dianalogikan sebagai “ibu perusahaan”. Perusahaan-perusahaan mengeluarkan dana yang tidak sedikit hanya untuk menciptakan suasana rumah di kantor maupun di jasa yang mereka perjualbelikan. Orang-orang yang bergelut di dunia bisnis khususnya marketing mungkin memahami hal ini, bahwa mereka selalu berusaha menawarkan jasa yang memiliki suasana kekeluargaan. Sebagai contoh berbagai macam hotel dikonsepkan dengan suasana rumah, tempat makan dengan suasana rumah, bahkan facebook yang merupakan jejaring sosial yang paling trend di era ini - pertama kali dibuat oleh Mark Zuckrberg (penemu facebook) untuk mempermudah dia berkomunikasi dengan orang tuanya dimana saat itu dia kuliah di Universitas Harvard dan tinggal di asrama yang mengakibatkan dia jauh dari rumah.
Dari dunia bisnis, kita bergerak ke dunia politik. Apabila kita perhatikan, Barack Obama dalam masa kampanyenya menuju Gedung Putih juga mencitrakan dirinya dalam suasana kekeluargaan yang hangat dan harmonis. Langkah tim sukses Obama ini juga ditiru oleh SBY yang membawa dia ke Istana Negara selama delapan tahun. Semua orang di dunia ini merindukan rumah dan sangat menikmati segala sesuatu yang berhungan dengan nuansa rumah. Tidak jauh berbeda dengan kedua pemimpin sebelumnya, Jokowi sebagai Bupati terbaik di Indonesia juga melakukan hal yang sama, yaitu memperkenalkan rumah yang layak bagi masyarakat kaum marginal.
Dari berbagai aspek kehidupuan di atas, kita bisa melihat betapa rumah dan isinya adalah sebuah fenomena yang sangat menarik untuk ditilik. Rumah memiliki banyak makna baik tersirat maupun tertulis. Oleh karena itulah dalam setiap pemberkatan pernikahan, ketika dua pasang manusia berkomitmen untuk membina sebuah rumah tangga mereka harus melalui berbagai tahap. Pernikahan menjadi sesuatu yang sakral bagi setiap manusia, karena melalui pernikahanlah sebuah generasi baru secara sah akan dibentuk. Akan tetapi, tahapan yang seharusnya dilalui oleh setiap orang yang akan menikah ini  biasanya banyak dilupakan, bahkan berbagai pemberkatan yang terjadi di gereja bukan hal yang sakral lagi, khususnya bagi kehidupan kita sebagai orang Batak Kristen. Mengapa saya katakan tidak sakral lagi, karena :
1. Dari begitu banyak acara pemberkatan pernikahan Batak Kristen yang saya ikuti, jumlah undangan yang hadir di gereja selalu jauh lebih sedikit dari jumlah undangan yang hadir dalam acara adat ataupun resepsi.
2. Pasangan pengantin juga lebih sering mengeluarkan air mata ketika acara adat berlangsung (mangalean ulos hela) daripada saat mengucapkan janji di gereja.
3. Tidak adanya persiapan yang matang dari setiap orang yang terlibat dalam pernikahan. Orang tua calon pengantin Batak Kristen jauh lebih memfokuskan perhatian terhadap adat semetara pengantin lebih memfokuskan ke hal teknis, misalnya model kebaya, tata rias pengantin, konsep resepsi, dan sebagainya.
4.  Bagi para orang tua, kemapanan dalam hal materi adalah menjadi syarat utama untuk membina sebuah rumah tangga. Dan apabila ada dewasa muda yang telah mapan secara ekonomi belum menikah akan dicurigai memiliki penyimpangan seksualitas atau proses perjodohan pun akan berlangsung.
Alhasil apa yang terjadi? Banyak pengantin muda yang akhirnya tidak memiliki komitmen sebesar komitmen para orang tua dalam mempertahankan pernikahannya. Bertengkar, kekerasan dalam rumah tangga, tidak mampu mengurus rumah tangga tanpa kehadiran pembantu, dan akhirnya perceraian. Para pengantin muda pun gagal dalam membawa anak-anak mereka ke gereja. Mari kita survey jemaat HKBP sekarang, ada berapa banyak di antara kita yang memperkenalkan HKBP, memperkenalkan buku ende atau bibel kepada generasi muda? Dari setiap ibadah gereja HKBP bahasa Batak, bisa dihitung jumlah generasi muda yang hadir disana. Mayoritas gereja HKBP tidak memiliki generasi muda yang sanggup untuk melanjutkan perjuangan para orang tua untuk tetap meneruskan liturgi HKBP. Kendala bahasa menjadi alasan. Mengapa para generasi muda tidak memahami bahasa batak? Berarti ada yang kurang dari pola asuh yang disosialisasikan kepada generasi muda di dalam rumah.
Pengalaman saya ketika bergaul dengan generasi muda yang ada di gereja HKBP adalah bahwa mereka sangat bangga dengan ketidakberdayaan mereka dalam bahasa Batak. Mereka mentolerin kekurangan itu dengan alasan mereka tidak lahir dan besar di kampung. Terkadang, saya suka memberikan respon kepada mereka dengan mengatakan, saya tidak lahir di Inggris, tapi saya bisa memahami bahasa Inggris. Orang tua saya juga tidak pernah dan bahkan tidak mengerti sama sekali bahasa Inggris. Saya pertama kali belajar bahasa Inggris di kelas lima SD, sekali seminggu di sekolah saja dengan durasi 90 menit.
Dari hasil observasi saya terhadap kehidupan jemaat HKBP di Jabodetabek, bahwa generasi muda sekarang adalah generasi manja. Mengapa kami bisa manja, karena begitulah orang tua kami mengasuh kami. Walaupun orang tua kami menyadari bahwa mereka bisa menjadi seperti sekarang ini (survive di Jakarta), akan tetapi mereka tidak mensosialisasikan hal itu dengan baik kepada generasi muda. Banyak orang tua yang berpendapat bahwa “saya telah mengalami hal yang susah dalam kehidupan ini, maka saya akan berusaha agar anak-anak saya tidak akan pernah mengalami penderitaan lagi.” Para orang tua banyak yang melupakan atau mungkin tidak mau tahu bahwa penderitaanlah yang membuat mereka kuat dan survival. Orang tua hanya fokus melihat hal negatif dari penderitaan itu. Bahkan Paulus sendiri dalam suratnya ke jemaat di Korintus mengatakan bahwa dalam kelemahannyalah, nama Tuhan dinyatakan.
Orang tua terlalu menyayangi anak-anak dengan cara yang salah sehingga mereka lupa bahwa secara sengaja mereka telah memberikan “racun” bagi gerenasi muda. Di beberapa keluarga, saya menemukan banyak orang tua yang lebih bangga anak-anak mereka pintar secara akademis, fasih berbahasa Inggris, akan tetapi tidak memiliki kemampuan untuk hidup mandiri, bahkan ketika ditinggal orang tua di rumah hanya sehari saja, sudah seperti itik kehilangan induk. Dari hasil obeservasi saya juga, banyak orang Batak yang telah sukses, menjadi profesor, pengusaha sukses, akan tetapi anak-anak mereka menjadi anak-anak manja dan selamanya selalu bergantung kepada mereka. Sangat sedikit saya lihat orang Batak yang sukses di Indonesia ini, juga sukses dalam mendidik anak-anak mereka. Mereka bisa menjadi seorang pemimpin di kantor, tegas, tapi tidak untuk anak-anak mereka.
Lalu untuk semua kegagalan orang tua dalam mensosialisasikan yang baik itu kepada generasi muda, lahirlah tindakan untuk mencari kambing hitam. Menyalahkan anak-anak yang sulit diatur, guru yang tidak mampu melakukan perannya, menyalahkan pendeta, dan bahkan pemerintah. Anak-anak tawuran, membangkak, tidak mau diajak beribadah, merokok, tidak mau belajar budaya Batak, dan bahkan setelah menjadi dewasa muda menjadi para koruptor dan cinta uang. Kita lupa untuk mengkritisi diri sendiri, mengenai apa yang telah dan tidak kita lakukan.
Misalnya, kita mengkritisi para pendeta, tidak puas dengan pelayan pendeta. Sekarang, mari kita mulai intropeksi diri. Tahukah kita siapa pendeta itu? Semoga saya salah, tapi dalam kehidupan sehari-hari, banyak saya temukan bahwa mereka yang menjadi pendeta HKBP itu adalah mereka yang tidak berprestasi di sekolah, yang memiliki catatan buruk di rumah, dimana orang tua sudah menyerah dalam membinanya. Sementara anak-anak Batak yang berprestasi kemana? Orang tua Batak akan memaksakannya untuk masuk Perguruan Tinggi, memilih jurusan kedokteran, hukum, teknik dan sebagainya. Saya bukannya ingin menklasifikasikan mereka yang tidak berprestasi di sekolah. Akan tetapi, jikalau kita menginginkan pendeta dengan pelayanan yang memuaskan mengapa kita tidak mempersiapkan anak-anak kita untuk menjadi seperti itu? Abraham memberikan anak satu-satunya untuk Tuhan, bukan anak yang dia tidak mampu bina atau bukan anak  yang sering sekali memberikan kekecewaan.
Apakah kita menyadari bahwa pendeta itu adalah seorang anak di dalam keluarga? Bisa jadi kitalah orang tua yang telah melahirkan dan mengasuh mereka. Mengapa mereka tidak bisa melakukan peran dan fungsinya dengan baik, tentu saja karena kita sebagai orang tua telah gagal memberikan contoh yang baik kepada mereka. Anak-anak yang sekarang Tuhan titipkan kepada kita juga memiliki peluang untuk menjadi sampah masyarakat, koruptor, dan mungkin teroris jikalau kita tidak mempersiapkan diri dengan secara mental, psikologis, dan iman di dalam memulai sebuah keluarga.
Dari hasil pengamatan saya juga, saya memberikan kesimpulan bahwa Indonesia menjadi salah satu Negara terkorup, keterlibatan orang Batak di dalamnya sekitar  70 % . Orang Bataklah banyak menyumbang  kekacauan perekonomian di Negara kita ini. Mari kita lihat para pengacara Batak, beberapa kali memutarbalikkan fakta, yang salah menjadi benar yang mengakibatkan Negara rugi milyaran rupiah dalam usahanya membela para koruptor.  Mengapa mereka bisa menjadi seperti itu? Karena pola asuh yang kita terima di rumah, hidup untuk uang. Orang tua membiayai study anak-anaknya tujuannya hanya satu, agar mendapatkan uang yang banyak nantinya saat dia telah lulus kuliah. Sangat jarang diantara orang tua sekarang yang menyekolahkan anaknya hanya untuk agar anaknya bisa menjadi manusia. Hal ini terdoktrin di hati setiap anak, yang akhirnya menghalalkan segala cara untuk membahagiakan orang tua, yaitu mengumpulkan uang yang banyak. Korupsi, mencuri, dan menipu pun dilakukan.
Beberapa teman-teman saya memiliki impian untuk menjadi seorang ibu dan menjadi seorang ayah. Ketika saya tanyakan kepada mereka, apa yang kamu bayangkan ketika kamu menjadi seorang ibu atau ayah. Jawaban mereka adalah memiliki anak. Bagaimana hubunganmu dengan anakmu suatu hari nanti dalam bayanganmu itu? Mereka pun menjawab semuanya akan berjalan dengan apa adanya. Mereka tidak bisa memaparkan hubungan mereka dengan calon anak-anak mereka nantinya. Bagi mereka, menikah dan memiliki anak itu sudah cukup. Tidak ada pemikiran, hendak memberikan pola asuh seperti apakah nantinya kepada anaknya? Teman-temanku yakin bahwa semua itu akan didapatkan seiring dengan berjalannya waktu. Dalam bahasa Batak dikatakan tupa disi do i sude. Perbincangan yang sama juga setali tiga uang terjadi di antara anak yang sudah mapan secara materi dengan orang tua mereka. Orang tua akan memaksakan anak-anak mereka untuk menikah, bagi mereka, mereka akan telah bisa berpulang ke rumah Bapa apabila semua anak-anaknya telah menikah. Saya tidak mengatakan hal itu salah. Setiap orang berhak memiliki impian, akan tetapi akan lebih baik apabila impian itu juga didukung dengan keinginan untuk mempersiapkan setiap anak melahirkan anak-anak yang bisa diharapkan. Seperti kata Mak Gondut dalam film Demi Ucok, “Hidup itu untuk sesama, baru berarti.” Tidak cukup menikah dan punya anak atau memaksakan anak-anaknya untuk menikah tanpa memberikan pelatihan mengenai kehidupan pernikahan tapi juga harus bisa melahirkan anak-anak yang nantinya mampu berperan positif di tengah-tengah masyarakat. Kalau toh, mau melahirkan manusia yang tidak berkepribadian baik, untuk apa? Dunia ini sudah terlalu sesak dengan manusia-manusia seperti itu.
Kalaupun orang tua atau orang yang dituakan tidak bisa dijadikan panutan, banyak media yang bisa dipergunakan untuk menggali informasi. Asalkan kita memiliki niat dan visi misi dalam hidup, bahwa kita tidak mau pernikahan kita hanyalah sekedar status di KTP atau ajang gengsi-gengsian di kehidupan sosial. Akan lebih baik bagi para calon pengantin muda, untuk menghabiskan waktu lebih banyak dengan mempersiapkan mental, wawasan, psikologis sebelum mengubah status kehidupan. Kalau kita bisa menghabiskan waktu untuk melakukan penelitian kecil-kecilan mengenai design kebaya, konsep pernikahan, gedung, dan sebagainya, hal yang sama juga perlu kita lakukan untuk belajar mengenai dinamika pernikahan. Waktu untuk mempersiapkan hal-hal teknis sebaiknya dikurangi yang hanya akan berlangsung paling lama 24 jam. Sementara selesai pemberkatan, resepsi, kita tidak mempersiapkan mental untuk itu. Tenaga kita lebih terkuras selama berbulan-bulan hanya untuk mempersiapkan resepsi yang hanya untuk satu hari. Saya bukannya anti dengan perayaan, akan tetapi jangan sampai kita lebih memberikan perhatian kita kepada hal-hal yang sifatnya lebih sementara atau hanya pencitraan saja sampai kita lupa makna dari pernikahan itu sendiri.
Lalu langkah-langkah apa sajakah yang bisa kita lakukan dalam memanusiakan manusia, khususnya jemaat HKBP yang nantinya akan menjadi anak panah gereja dalam memberdayakan masyarakat melalui pendidikan :
1.       Kesiapan mental, psikologis, dan iman setiap pasangan yang ingin menikah sebaiknya lebih diasah lagi. Kemapan secara ekonomi bukan menjadi tiket emas untuk memasuki bahtera rumah tangga. Hal ini bisa dilakukan dengan adanya konseling pra-nikah minimal tiga bulan sebelum pernikahan di setiap gereja HKBP. Dan yang melakukan konseling sebaiknya adalah mereka yang memiliki pengetahuan konseling.
2.       Follow – up dari orang tua, jemaat, pendeta dalam membantu pasangan ketika memasuki bahtera rumah tangga tersebut. Pekerjaan pendeta tidak selesai sampai di pemberkatan. Pendeta dan sintua harus tetap memperhatikan kebutuhan para pasangan muda dalam mengkayuh perahu rumah tangga. Misalnya dengan membuka Focus Group Discussion (FGD) di gereja. Sementara orang tua harus memberikan kepercayaan bahwa anak-anak mereka telah tumbuh dewasa sama seperti mereka. Anak-anak mereka bukan anak-anak lagi, oleh karena itu mencampuri rumah tangga mereka adalah tindakan yang tidak efesien, tetapi jadilah sama-sama duduk dan berdiri sebagai sesama orang dewasa. Hal ini bisa dilakukan dengan memberikan kepercayaan kepada anak bahwa mereka harus bisa mengatasi setiap masalah yang ada dalam hidupnya. Komunikasi dalam keluarga sebaiknya lebih ditingkatkan. Misalnya setiap orang yang ada di rumah wajib memberikan salam kepada orang yang ada di rumah setiap kali hendak meninggalkan rumah ataupun telah tiba di rumah. Di samping itu, orang tua juga perlu memperkenalkan sejak dini mengenai uang dan cara mengelolahnya, mengenal konflik dan cara menyikapinya, termasuk belajar untuk menerima kegagalan tanpa harus menjadi stres.
3.       Program-program di gereja semakin ditingkatkan untuk semua tahap kehidupan dan antar tahap kehidupan saling membantu. Perkembangan iman anak sekolah minggu bukan hanya tanggung jawab guru sekolah minggu, akan tetapi tanggung jawab semua jemaat yang ada di dalam gereja. Demikian halnya dengan komunitas lansia, bukan hanya tugas pendeta atau sintua, tetapi anak-anak sekolah minggu juga bisa dilibatkan untuk memberikan perhatian kepada para lansia. Contoh kegiatan yang bisa dilakukan misalnya, setiap lansia diwajibkan untuk mendongeng di ibadah sekolah minggu secara bergantian. Anak sekolah minggu setiap tahun diajak untuk membuat kartu natal atau kartu ulang tahun kepada setiap kaum lansia yang ada di gereja dan mengantarnya langsung ke rumah lansia, syaratnya lansia yang akan diberikan bukan nenek atau kakek kandung dari anak sekolah minggu. Setiap minggu pertama, para naposo dan remaja manortor atau menyanyikan lagu Batak di depan gereja setelah ibadah bahasa Batak. Jadi, jemaat memiliki kesempatan untuk mengeksplor budaya Batak dan silahturahmi antar jemaat terjalin sambil menikmati aksi naposo dan remaja.
Aksi ini pastinya membutuhkan latihan, jadi para naposo dan remaja tidak melulu ke gereja untuk belajar Alkitab melainkan juga dapat mengembangkan bakat dan talenta mereka. Sebaiknya semua hobby naposo dan remaja didata kembali untuk bisa dikembangkan.
4.       Berhenti untuk mencari kambing hitam. Bukan salah pendeta, bukan salah sintua, bukan salah naposo, tapi salah kita semua. Oleh karena itu, mari kita memulai dengan melakukan peran kita masing-masing dengan lebih baik. Kalau di kantor kita bisa selalu berusaha untuk bersikap profesional, di rumah dan di gereja pun kita harus berusaha untuk profesional dalam iman. Sikap keprofesionalan itu hanya akan bisa ditiru oleh anak-anak kalau kita semua yang telah memiliki pemikiran atau dalam bahasa Batak angka naung marroha, sudah saatnya bangun dari tidur dan membenahi diri untuk bisa menjadi terang dan garam.
Di samping pendidikan non formal yang telah saya sebutkan di atas, pendidikan formal anak juga perlu menjadi perhatian kita. Biar bagaimana pun, gelar akademis masih tetap menjadi impian setiap orang tua Batak terhadap anak-anaknya. Tentu saja hal ini tidak terjadi begitu saja. Keterlibatan orang tua dalam pendidikan formal anak bisa dimulai dari penelitian kecil-kecilan mengenai sekolah yang sesuai dengan anak. Jarak antara sekolah dan rumah dan budaya di sekolah itu (apakah sekolah berbasis Internasional, sekolah homegen baik dari agama, latar belakang suku, maupun tingkat sosial) perlu menjadi pertimbangan dalam memilih sekolah. Kita juga perlu memperhatikan keadaan psikologis anak ketika kita memilih sekolah. Hal ini tidak perlu harus konseling ke psikolog, kita adalah orang tua mereka, sedikit banyak kita lebih mengenal kepribadian anak-anak kita, asalkan kita bisa objektif terhadap keadaan anak-anak yang Tuhan berikan kepada kita. Rasa gengsi dan ego yang berlebihan orang tua terhadap anak sebaiknya perlu diminimalisir agar tidak terjadi perdebatan yang pada akhirnya menimbulkan luka di hati anak sehingga anak tidak bisa berprestasi dengan baik di sekolah.
Berikut adalah langkah-langkah konkrit yang bisa menjadi bahan pertimbangan untuk para orang  tua di dalam memilih sekolah formal.
1.       Anak 4-5 tahun, apabila orang tua masih memungkinkan memiliki waktu yang banyak di rumah dengan kata lain suami-istri tidak bekerja, pendidikan formal anak bisa dimulai dengan mengikutertakan anak dalam Program Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD). Pilihlah Program PAUD yang jaraknya dekat dengan rumah anda, sehingga tidak membebani anak dengan jarak tempuh yang jauh. Anak-anak biasanya akan cepat bosan di perjalanan apabila jarak tempuh antara tempat program PAUD dan rumah jauh. Karakteristik anak-anak yang mengikuti program PAUD juga bisa menjadi pertimbangan untuk orang tua dalam mengawali karir anak di pendidikan formal. Mungkin anda menginginkan anak anda diajari dalam lingkungan agama tertentu atau agama yang heterogen juga tidak apa-apa. Akan tetapi jauh lebih baik apabila anak anda sejak dini telah diperkenalkan ke dalam komunitas yang memiliki perbedaan untuk membantu dia dalam bertoleransi antar umat beragama maupun ras serta strata sosial.
2.       Apabila Anda memiliki materi yang cukup, Taman Kanak-kanan menjadi pilihan yang tepat dalam memberikan stimulus mengenai dunia belajar terhadap anak-anak. Selain anak Anda belajar untuk bangun pagi, anak Anda juga bisa belajar untuk mulai mengenal lingkungan yang lebih luas, misalnya arah, bentuk, warna, dan angka. Program yang ditawarkan oleh sekolah TK yang nantinya akan Anda pilih tentunya harus menjadi syarat utama. Jangan sampai niat Anda dalam memperkenalkan dunia sekolah kepada anak Anda membuat dia trauma dengan beban sekolah yang memberatkan dia. Tapi, bukan berarti juga Anda menjadi orang tua lemah dan tidak tegas yang tidak bersedia melihat anak Anda memiliki tanggung jawab. Sekolah TK adalah langkah awal untuk memperkenalkan tanggung jawab dan komitmen terhadap anak. Kita orang tua harus menyadari bahwa tahap ini bukanlah tahap yang mudah untuk dijalani oleh anak-anak kita. Banyak anak-anak akan merasa cemas dan takut di tahap ini. Peran orang tua adalah mendampingi mereka dengan memberikan kepercayaan bahwa dia tidak sendirian, ada Anda yang akan bersama-sama dengan dia dalam menjalaninya.
Jika Anda adalah orang tua yang sangat sibuk dan memiliki materi yang cukup, dimana dalam kesehariannya anak Anda akan lebih banyak menghabiskan waktu dengan pembantu, mengikutsertakan anak dalam les musik, olah raga atau les tari adalah pilihan yang baik.  Asalkan dalam pemilihan kegiatan ini, orang tua tetap fokus terhadap kebutuhan anak, bukan sebagai proyeksi demi terlaksananya obsesi Anda yang tertunda atau gengsi terhadap masyarakat.
Sementara apabila keuangan Anda tidak mencukupi untuk memasukkan anak Anda ke TK, jangan patah hati. Anda bisa mendampingi anak Anda dalam proses pembelajaran ini. Yang anda butuhkan hanyalah hati yang bersedia menjadi fasilitator bagi anak Anda. Banyak media yang bisa membantu Anda dalam memberikan stimulus kepada anak Anda, misalnya majalah, koran, internet, dan buku.
3.       Memasuki dunia SD, anak-anak sudah mulai memiliki bayangan mengenai dunia sekolah walaupun ketakutan dan kecemasan mereka masih menguasai mereka. Pendampingan orang tua masih sangat dibutuhkan dalam tahap ini, khususnya di tahun-tahun pertama dia masuk SD. Akan lebih baik jikalau orang tua tidak memberikan tuntutan yang berlebihan terhadap anak, misalnya menuntut anak untuk juara satu di kelas. Orang tua bisa memberikan standar kepada anak sesuai dengan hasil observasi orang tua terhadap anak mengenai keadaan anak.
4.       Di bangku SMP dan SMA adalah masa yang paling rawan kepada anak-anak kita. Tahap inilah mereka mulai mengalami pubertas dan mengharapkan pengakuan bahwa mereka telah dewasa. Satu hal yang perlu diperhatikan dalam memilih sekolah formal kepada anak Anda adalah menanyakan pendapatnya dan membandingkannya dengan kemampuan si anak. Ingat, kebutuhan anak Andalah yang paling penting, bukan rasa gengsi Anda.

Saya tahu menjadi manusia bukanlah hal yang mudah. Ketidaksempurnaan kita menjadi manusia akan selalu memberikan warna bagi kehidupan kita. Peran orang tua, anak, pendeta, guru, dosen, dan apapun itu akan selalu dikritisi dan dituntut untuk memberikan yang terbaik. Walaupun kita tahu bahwa betapa tidak menyenangkannya menjadi orang yang dikritisi atau dituntut tapi ada kalanya kita juga melakukan hal itu kepada manusia yang lain. Itu karena kita adalah manusia berdosa, kita membutuhkan Tuhan dalam kehidupan kita. Dan Tuhan, tidak menampakkan diri secara langsung lagi seperti di Perjanjian Lama, melainkan dalam berbagai bentuk dan keadaan. Seperti anak kecil yang ketakutan memulai hari pertama sekolah, seperti itulah keadaan manusia yang selalu ketakutan dalam menjalani hari-harinya. Karena kita semua berada pada posisi yang sama, marilah kita bersama-sama untuk melewatinya dengan menciptakan karya yang bisa mengusir rasa takut atau perasaan negatif lainnya. Akan selalu ada konflik, itu bagus, tapi jangan menghindar. Hanya dengan konfliklah kita tahu dimana posisi dan peran kita masing-masing, karena itu mari kita jadikan konflik itu untuk memberdayakan apa yang telah Tuhan berikan kepada kita.
Orang Batak Toba terkenal di Indonesia karena kemauan yang kuat dalam hal pendidikan. Mari kita tingkatkan kembali identitas kita itu dengan berkarya bagi  sesama. Sebelum menutup tulisan ini, saya meminta kepada setiap orang yang hadir di sini untuk menuliskan dalam selembar kerta, apakah yang bisa Anda berikan kepada masyarakat? Silahkan tulis nama dan nomor yang bisa dihubungi, kita yang ada disini sama-sama ingin berkomitmen untuk berpantang mati sebelum berkarya.