Thursday, 15 August 2013

Dirgahayu Negeriku, Indonesia

Tadi pagi ketika aku akan berangkat ke kantor, aku disambut dengan berbagai warna dari bendera jalan yang dipasang oleh para tetangga kostanku di depan rumah mereka. Aku pun langsung terhenyak dan menyadari bahwa dua hari lagi adalah hari ulang tahun negaraku. Kenangan masa SMP di kampung, ketika menjelang ulang tahun negaraku ini pun menemaniku di sepanjang perjalananku ke kantor.

                                            ********

Ketika aku masih SMP di Budhi Dharma Balige adalah salah satu masa dimana aku menunjukkan "kejayaanku", dan perayaan ulang tahun negaraku ini adalah salah satu contoh dari masa “kejayaanku” itu. Tiga tahun berturut-turut aku selalu ikut menjadi salah satu siswa yang eksis dari sekolahku dalam menyambut perayaan ulang tahun negaraku ini.
Sekolah diliburkan tentu saja di tanggal 17 Agustus. Diliburkan bukan berarti kami tidak datang ke sekolah. Kami datang ke sekolah untuk melakukan pawai ke pusat kota diiringi dengan drum dan para mayoret, sepeda hias, dan pakaian adat dari berbagai daerah. Iringan pawai ini tentu saja dilombakan per kategori, yaitu untuk tingkat Taman Kanak-kanak (TK), Sekolah Dasar (SD), Sekolah Menengah Pertama (SMP), dan Sekolah Menengah Atas (SMA). Di masaku  sekolah, perlombaan ini selalu dimenangkan oleh sekolahku. Mulai dari TK sampai SMP.

Tujuh belas Agustus menjadi hari yang menyenangkan bagiku karena persiapan untuk memenangkan lomba pawai ini telah dimulai di tahun ajaran baru (sebulan sebelum tanggal 17 agustus). Ketika suasana liburan masih belum pudar, aku tidak harus dipaksakan untuk mengikuti pelajaran di kelas, walaupun sebenarnya aku bukan tipe orang yang malas belajar, akan tetapi aku tidak jauh berbeda dengan anak-anak pada umumnya yang lebih menikmati menghabiskan jam sekolah di luar kelas. Bahkan di tahun terakhirku di SMP, aku dan sahabat-sahabatku (setidaknya dulu bagiku mereka adalah sahabat : Dessy Hutapea, Riris Tampubolon, Eska Manullang, Dorta Pardede, dan Febrina Sipahutar) kerap sekali datang ke sekolah tapi tidak masuk kelas sama sekali karena latihan baris-berbaris yang akan dilombakan dalam rangka ulang tahun negaraku.

(Mungkin) aku sudah terlahir untuk aktif dan akan bosan apabila dihadapkan dengan situasi yang hanya menunggu atau do nothing. Padahal kalau dipikir-pikir, dengan kewajibanku yang harus membantu orang tuaku di rumah, sudah cukup menguras waktu belajarku apalagi ditambah dengan aku harus mengejar ketinggalanku selama aku tidak mengikuti kelas dikarenakan latihan drum untuk tahun pertama sampai ketiga dan latihan baris-berbaris di tahun ketiga. Dan itulah yang kualami selama persiapan penyambutan ulang tahun negaraku -eksis, kelelahan, tapi senang. Bisanya waktu latihan yang kami pergunakan dimulai dari jam 10 pagi sampai sore. Bahkan jam pelajaran sekolah telah selesai, terkadang kami masih tetap latihan. Dan di beberapa hari mendekati tanggal 17 Agustus, biasanya kami bahkan datang ke sekolah dan tidak masuk kelas sama sekali.

Pemilihan orang-orang yang akan tampil menjadi pemain drum maupun yang akan menjadi perwakilan dari sekolahku untuk diperlombakan pun lumayan unik. Guru pelatih drum kami yaitu Bapak M. Nadeak (+) memfokuskan memilih anak-anak yang juara di kelas dengan alasan, kami akan sering meninggalkan pelajaran di kelas sehingga dengan prestasi kami selama ini menjadi jaminan bahwa kami akan mampu untuk mengejar pelajaran yang kami tinggalkan selama kami mengikuti latihan. Walaupun di tahun pertamaku SMP, dimana prestasi belajarku tentu saja belum terbukti karena tahun ajaran masih baru dimulai tapi aku terpilih menjadi salah satu pemain drum. Itu adalah nepotisme, menurutku Bapak M. Nadeak (+) memilihku dikarenakan beliau kenal baik dengan orang tuaku kemungkinan beliau segan kalau aku tidak dilibatkan menjadi pemain drum. Aku sendiri merasa tidak layak dipilih saat itu karena kemampuanku dalam hal seni juga di bawah rata-rata, dan keadaan fisikku yang kecil mungil kurus tak bertenaga, membuat siapapun tidak akan tega membiarkanku menggendong drum untuk pawai sepanjang jalan besar kota Balige. Tapi aku terpilih, dan tentu saja abang keduaku, Ferry juga terpilih. Dia juga selalu menjadi pemain drum, alhasil dia yang bertanggung jawab untuk memberikan pelajaran tambahan kepadaku untuk membantuknku memahami irama drum tersebut. (kami semua anak-anak orang tuaku menghabiskan waktu di sekolah yang sama mulai dari TK sampai SMP, alasannya hanya satu, di kampung kami sekolah katolik dari TK-SMP adalah yang terbaik dan tentu saja mahal. Akan tetapi demi pendidikan, orang tuaku tak menghiraukannya). Hal yang sama juga terjadi ketika pemilihan peserta baris-berbaris. Kami para juara pasti akan mendapatkan prioritas utama, tak terkecuali padaku dan sahabat-sahabatku.
For your information : Di SMP, aku dan sahabat-sahabatku adalah “kaki tangan” kepala sekolah kami di tahun ketiga kami disana. Kami menggunakan seragam yang berbeda tiap hari dengan siswa-siswi yang lain. Kami benar-benar “menguasai” sekolah itu melalui keaktifan kami di OSIS, dan tentu saja di bidang akademis, kami adalah sang juara dari tiap kelas kami masing-masing. (aku dan sahabat-sahabatku itu berasal dari kelas yang berbeda, yaitu dari kelas A, B, C, dan D). Juara satu umum tidak pernah lepas dari salah satu dari kami, dan di akhir penerimaan rapor juara satu umum jatuh di tanganku.

Kembali ke lomba pawai di tanggal 17 Agustus. Biasanya, rutenya akan dimulai dari sekolah masing-masing. Hal ini menjadi keunikan tersendiri di kota Balige, dimana SMP dan SMA berpusat di satu lokasi, yaitu Soposurung. Jadi titik awalnya adalah dari Soposurung (sekolah masing-masing) dan berakhir di tanah lapang Sisingamarangaja (sekitar 8 km). Bunyi drum dari tiap sekolah yang melakukan pemanasan menunggu giliran ke luar dari area sekolah masing-masing untuk melakukan pawai ke pusat kota Balige menjadi kenangan tersendiri bagiku. Setiap sekolah biasanya akan mengutus perwakilan - seperti petugas di setiap persimpangan jalan di Jakarta ini, menjaga agar tidak bentrok di jalan raya ketika akan ke luar dari area sekolah masing-masing.

Sementara masyarakat Balige akan merapatkan barisan di depan rumah masing-masing untuk menyaksikan parade ini. Mereka akan mencari posisi yang nyaman di sepanjang jalan besar yang nantinya akan kami lewati dari Soposurung ke Tanah Lapang Sisingamangaraja untuk menyaksikan parade dari kami. Ketika aku menulis ini, aku merasa peristiwa ini menjadi moment yang mengharukan ketika para orang tua melihat anak-anak mereka pawai dari depan rumah mereka. Menurutku hal ini adalah pemandangan yang sangat langka terjadi di kota Jakarta ini, dimana orang tua nyaris tidak pernah melihat anak-anak mereka berjalan sepanjang 8 km bahkan lebih sambil menunjukkan aksi mereka seperti yang pernah kulakukan.
Bagiku sendiri, aku juga sangat menikmatinya ketika aku memukul drum dan lewat dari depan rumah orang tuaku. Kerap sekali aku melihat, dari sinar mata kedua orang tuaku bahwa mereka telah menunggu giliran sekolahku lewat dari depan rumah mereka. Dan ketika giliran sekolahku yang lewat, aku menyaksikan bahwa orang tuaku akan meninggalkan semua pekerjaannya demi menyaksikan aku dan abangku memukul drum. Padahal, orang tuaku seharusnya melayani para customer yang datang ke rumah kami (orang tuaku buka warung kopi di rumah). Teman-temanku baik sesama pemain drum maupun teman-teman sekampung akan menyorakiku dan mengatakan “do the best, Ran! Jangan permalukan orang tuamu.” Dan para customer yang ada di rumah orang tuaku pun akan menyoraki namaku.

Di tanah lapang Sisingamangaraja yang menjadi pusat pelaksanaan perayaan ulang tahun negaraku ini, adalah tempat dimana upacara bendera juga diadakan. Jadi setiap sekolah dipastikan sudah harus tiba sebelum jam 10 pagi. Setelah upacara selesai, kami akan melakukan pawai di jalan-jalan besar kota Balige dimana juri akan duduk di berbagai sudut jalan untuk memberikan penilaian terhadap aksi pawai setiap sekolah per kategori. Biasanya yang paling banyak dapat sorotan untuk dinilai adalah irama drum, gerakan pemain drum, dan keserasian dengan mayoret, serta kerapian siswa-siswa yang ikut pawai. Jadi urutan barisan pawainya per tiap sekolah biasanya adalah pemegang bendera merah putih, bendera atau atribut sekolah (untuk menunjukkan identitas sekolah), sepeda hias, mayoret, pemain drum, pakaian adat daerah, seluruh siswa-siswi dari sekolah itu, dan terakhir adalah para guru. Setelah berkeliing di sepanjang jalan besar kota Balige, pawai akan kembali ke Tanah Lapang Sisingamaraja lagi. Setelah itu akan dilanjutkan dengan lomba martumba (menari) untuk kategori TK dan SD. Dimana sambil menonton lomba martumba, masyarakat juga bisa mengikuti lomba panjat pinang yang diadakan di Tanah Lapang juga dan berbagai lomba lainnya, misalnya lomba solu (perahu kecil) di Danau Toba – masih dekat dengan Tanah Lapang Sisingamangaraja. Setelah semua lomba selesai diadakan, maka pengumuman lomba pawai dan berbagai lomba pun akan diumukan. Perayaan ulang tahun negaraku di Balige dinyatakan berakhir setelah prosesi penurunan bendera bendera selesai yaitu sekitar jam 7 malam. Bisa dipastikan setiap perayaan ulang tahun negaraku tiba adalah masa panen piala bagi setiap sekolah yang kesunggahi.

Dari segi kaca mata masyarakat Balige, parade ini juga menjadi salah satu hiburan tersendiri. Dimana pada umumnya semua orang akan datang ke pusat kota untuk melihat setiap parade dari setiap sekolah yang ada di Kabupaten Toba Samosir. Ini menjadi ajang show off bagi sekolah-sekolah favorit, termasuk sekolahku. Pusat kota Balige akan sangat ramai sekali, akan banyak orang yang menjual makanan, mainan, dan mengikuti berbagai lomba. Orang dari berbagai desa akan datang ke Kota untuk merayakan hari ulang tahun negaraku ini. Sangat semarak dan meriah sekali.

Malam sebelum tanggal 17 Agustus, juga diadakan pawai dimana setiap siswa membawa obor dan bendera merah putih yang terbuat dari kertas minyak dengan lidi sebagai tongkatnya. Malam ini dikenal dengan sebuatan malam taptuk. Biasanya malam ini dimanfaatkan para ABG untuk melakukan PEDEKATE dengan cowok atau cewek yang ditaksir, apalagi kalau bukan dari sekolah yang sama. Perayaan ulang tahun negaraku ini menjadi satu-satunya acara dimana semua sekolah yang ada di Kabupaten Toba Samosir dipertemukan dan saling menilai satu sama lain.

Intinya, sebulan sebelum tanggal 17 Agustus, di kalangan anak-anak sekolah sudah akan sibuk dengan berbagai persiapan lomba. Seperti yang sebutkan di atas, posisi sekolah-sekolah yang terpusat di Soposurung membuat hari-hari menjelang 17 Agustus sangat terasa karena dimana-mana akan terdengar suara drum dari berbagai sekolah yang sedang mengadakan latihan. Di samping itu, setiap rumah-rumah akan mulai memasang bendera merah putih di depan rumah mereka masing-masing.

Ketika aku menulis tulisan ini, tiba-tiba aku sangat rindu dengan masa-masa itu. Dimana setiap kali hari-hari besar di Indonesia ini, misalnya hari pahlawan, hari pendidikan, hari kesaktan Pancasila, hari Sumpah Pemuda, hari Guru, hari Kartini, tidak pernah terlewatkan begitu saja. Akan selalu ada kesan dari setiap hari-hari itu untuk memperingati moment itu. Di Jakarta ini, tujuh kali perayaan ulang tahun negaraku sangat tidak terasa. Aku sering kecewa dan berpikiran, mengapa ya penghargaan terhadap bangsa dan negara ini sepertinya lebih terasa di kampung dari pada di kota? Demikian halnya dengan lagu-lagu nasional, lagu-lagu daerah, nama-nama provinsi dan berbagai julukan bagi beberapa provinsi di Indonesia ini, bahkan penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar sepertinya kami anak-anak daerah lebih menguasainya? Ironisnya, Indonesia itu sendiri lebih dipresentasikan dengan kehidupan masyarakat di Jakarta.

Dirgahayu Republik Indonesia ke 68 tahun.
Aku mencintaimu.

Aku bangga menjadi Putri Indonesia.

Friday, 9 August 2013

Seandainya aku, kamu, dan kita tidak serakah

       Apa yang dicari orang, uang
       Apa yang dicari orang, uang
       Apa yang dicari orang, siang malam pagi petang
       Uang, uang, uang
       Bukan Tuhan Yesus
      .................................


Bagi mereka yang pernah menjalani hari-hari sekolah minggu di gereja, lagu di atas pasti sudah tidak asing lagi di pendengaran. Lagu ini benar-benar sangat sesuai sekali dengan kehidupan manusia saat ini. Semua manusia di dunia ini, mayoritas tujuan utamanya adalah mencari uang, tidak terkecuali denganku. Aku belajar dengan displin, berusaha menyelesaikan setiap ujian akademis dengan baik, tujuan akhirku adalah untuk mendapatkan uang. Karena memang demikianlah aku dibentuk. Semua yang kulakukan tujuan akhirnya adalah seberapa banyak uang yang nantinya bisa kudapat. Dan aku tidak sendirian, ada milyaran manusia yang mendapatkan doktrin yang sama, mencari uang.

Mungkin aku masih terlalu berpikir idealis dengan apa yang ada di depan mataku. Atau mungkin karena aku masih belum menempati posisi yang strategis untuk mengatur kehidupan orang banyak sehingga setiap kali aku menyaksikan perilaku orang-orang di sekitarku membuatku muak dan tidak yakin pada diri sendiri bahwa aku adalah bagian dari sistem itu.

Setelah hampir tiga tahun masuk ke dalam dunia bisnis di dunia ini, aku semakin tidak tahu siapa aku?
Setiap hari kutemukan manusia yang serakah, tamak, tidak mau untung sedikit, dan egois. Inikah manusia itu? Aku semakin shock menyadari bahwa aku juga demikian, tidak ada kata puas.

Setiap pagi ketika berangkat ke kantor kumelihat  banyak orang yang berusaha melawan rasa ngantuk, wajah datar tanpa ekspresi, kelelahan, keterpaksaan dalam menjalankan rutinitas dan ketengangan. Anak-anak dipaksa bangun subuh untuk tidak terlambat datang ke sekolah. Orang tua dan pembantu tergesa-gesa mempersiapkan kebutuhan anak-anak ke sekolah. Para supir berjuang menghadapi frustasi akibat macetnya kota Jakarta. Para karyawan dengan setengah hidup memaksakan diri untuk berangkat ke kantor. Demi apa? Demi sejengkal perut? Bukan, demi uang. Karena sejengkal perut tidak membutuhkan pengorbanan sebesar itu

Mungkin saya bisa memulai sistem itu dari  dari setiap perusahaan yang membuat jam kantor, dimana semua para pekerja wajib menjalankannya. Senin sampai Jumat, dari jam delapan pagi sampai jam lima sore untuk sebagian besar karyawan kantoran. Akan banyak sanksi setiap kali karyawan melenceng dari peraturan jam kerja ini. Sampai sekarang aku masih bertanya-tanya dalam hati, menurutku perusahaan tidak akan jatuh miskin apabila hari kerja cukup 3-4 hari per minggu. Tapi, karena manusia itu adalah serakah, tidak ada kata cukup, sehingga jam kerja diadakan 5 kali dalam seminggu, bahkan di beberapa perusahaan masih juga tetap mengadakan lembur. Jadi, apakah memang kita hidup untuk bekerja (baca : uang)? Sejak kita menyadari bahwa kita memiliki akal budi, kita telah didoktrin untuk bekerja dan bekerja. Semuanya untuk uang. Sekolah, lulus dengan nilai yang memuaskan, tujuan akhirnya adalah untuk mendapatkan pekerjaan dengan upah yang besar. Bisakah kita tidak bekerja? Tentu saja tidak! Hanya anak-anak orang kaya, dimana orang tuanya memiliki triliunan rupiah yang bisa menikmati hidup dengan tidak bekerja. Sementara anak-anak tukang becak seperti aku, nyaris tidak mamiliki pilihan lain, selain untuk bekerja demi uang.

Manusia itu sangat serakah. Aku, kau, dan kita adalah manusia. Jadi kita sangat serakah. Aku sendiri juga mengakuinya. Aku tidak akan pernah puas dengan apa yang kudapatkan. Kalau waktu kuliah dengan lima ratus ribu perbulan cukup untukku, sekarang lima juta perbulan pun sudah membuatku sesak nafas. Masih kurang dan tetap kurang. Dan tentu saja bukan untuk sejengkal perut, tapi untuk sesuatu yang disebut dengan kemewahan dan gengsi.

Beberapa hari yang lalu aku dan pacarku memiliki kesempatan untuk mengikuti sebuah seminar. Awalnya aku tertarik mengikuti seminar ini dikarenakan temanya "Financial Planning". Berharap materi dari seminar ini akan menjadi bekal bagiku dan pacarku di dalam mengatur keuangan kami, makanya aku mengajak pacarku untuk ikut serta. Acara seminar ini sendiri dipungut biaya sebesar Rp 100.000,00 per orang, akan tetapi karena aku adalah nasabah dari salah satu perusahaan asuransi, jadi biaya masuk seminar ini dibayarkan oleh agent asuransiku.  Setelah beberapa menit mengikutinya, akhirnya aku menarik kesimpulan bahwa tema yang mereka maksud bukanlah seperti yang kuharapkan. Seminar ini lebih fokus untuk merekrut para calon agent untuk asuransi itu. Seminar ini bertujuaan untuk mendoktrin setiap peserta yang hadir untuk serakah, untuk berpenghasilan ratusan juta per bulan. Aku bertanya dalam hatiku, segitu banyaknyakah kebutuhan kita perbulan sampai kita membutuhkan penghasilan ratusan juta perbulan? Kita hanya memiliki sejengkal perut untuk diisi, sepasang kaki, satu badan, untuk apa penghasilan ratusan juta itu? Lima belas menit pertama dalam seminar tersebut, aku mulai gelisah, dan akhirnya aku tidak tahan lagi, aku memutuskan untuk meninggalkan seminar itu. Dan untungnya, pacarku juga mengalami hal yang sama, memiliki pikiran yang sama bahwa kami tidak terlahir untuk terobsesi memiliki penghasilan jutaan rupiah.

Aku shock dengan manusia-manusia sekarang, dengan pola pikir kami yang sekarang. Semuanya berlomba-lomba untuk memperoleh penghasilan ratusan juta perbulan. Dan untuk itu kami terpaksa mengesampingkan anak-anak, orang tua, atau orang-rang yang membutuhkan kehadiran kami. Demi penghasilan puluhan bahkan ratusan juta rupiah, kita menghabiskan lebih banyak waktu kami di luar rumah. Lalu, para orang tua akan mencari pembenaran dengan mengatakan bahwa itu untuk anak-anak mereka. Dan apa yang kami dapatkan? Mungkin sebagian dari kita berhasil mendapatkannya, tapi apakah kita puas? Tentu saja tidak, kita tetap tidak puas, kita masih tetap ingin lebih dan ingin lebih lagi. Kita semakin candu mengejar sesuatu yang kita tahu tidak akan memberikan kepuasan kepada kita.

Dunia ini sudah tidak sehat lagi untuk dijalani. Setelah dari seminar itu, aku semakin menyadari posisiku selama ini. Memang benar sekali, kita membutuhkan uang untuk memenuhi kebutuhan kita. Dan kebutuhan kita akan tercukupi tanpa kita harus terobsesi untuk menjadi serakah (jikalau kita memikirkannya lebih dalam lagi). Sampai saat ini aku masih beriman bahwa Tuhan akan mencukupi segala kebutuhanku. Aku tidak perlu terlalu terobsesi untuk hidup kaya, berpenghasilan ratusan juta untuk bisa memenuhi kebutuhan hidupku. Aku tidak menentang adanya sistem kerja. Satu-satunya yang kusesali saat ini adalah lahirnya sesuatu alat tukar yang disebut dengan uang, atau apapun namanya di berbagai bahasa yang ada. Bekerja itu sehat dan baik untuk manusia. Tapi dengan adanya sistem uang di dalam bekerja, mengakibatkan bekerja bukan sesuatu yang menyenangkan lagi untuk dijalani (bagi banyak kasus). Bekerja itu menjadi sesuatu pengorbanan yang negatif, keterpaksaan, dan beban yang mengakibatkan banyak manusia menjadi depresi. Karena adanya uang, bekerja bisa dikategorikan menjadi kasta yang tinggi dibandingkan dengan mereka yang idak bekerja. Dengan adanya uang menjadi standarisasi, bekerja bisa dikategorikan ke dalam status sosial tinggi, menengah, dan rendah. Bahkan, karena ada sistem uang di dalamnya, bekerja menjadi salah satu syarat utama dalam melamar anak perempuan orang lain. Uang bukan hanya pelapis kehidupan manusia lagi, melainkan telah menjadi darah dan nadi kehidupan manusia.

Semakin ke sini, aku semakin menyimpulkan bahwa uang lebih membawa faktor negatif terhadap kehidupan manusia. Uang telah membuat manusia semakin terobsesi untuk menguasai manusia lainnya, yang mengaibatkan adanya perang, penjajahan terhadap negara lain, maupun perang politik. Uang telah membuat manusia untuk menghalalkan segala cara, yang mengakibatkan bumi dieskplor secara berlebihan, akhirnya global warming. Uang telah membuat manusia menjadi orang yang egois, yang mengakibatkan penimbunan uang di kalangan tertentu, menjual belikan barang-barang yang sangat tidak baik bagi manusia (berbagai macam perdangangan illegal), misalnya narkoba, makanan-makanan cepat saji, bahkan makanan-makanan busuk dan basi atau bercampur dengan borax, dan korupsi. Dan uang juga telah merusak hubungan silahturahmi dalam keluarga. Banyak keluarga yang tidak bisa hidup harmonis karena uang. Perceraian pasangan suami-istri, pertengkaran antara saudara kandung, persahabatan hancur karena uang. Lebih parahnya lagi, uang telah merusak pola pikir setiap manusia di dunia ini. Dan pola pikir itu disosialisasikan dan bahkan didoktrin kepada anak-anak mereka, untuk mencari uang.

Rantai ini harus diputuskan. Kita hidup bukan untuk uang. Kita hidup untuk memberikan yang terbaik yang bisa kita lakukan. Dan standarisasinya tentu saja bukan uang. Hal ini yang harus disosialisasikan kepada anak-anak kita. Ada banyak hal yang bisa dilakukan tanpa harus mengutamakan uang terlebih dahulu. Uang bukanlah standarisasi kehidupan. Kita harus bekerja, betul sekali. Tapi bukan untuk mendapatkan uang. Kita harus bekerja karena kita harus menyalurkan semua talenta yang diberikan kepada kita. Kita harus bekerja karena itu adalah kebutuhan fisik mental, dan psikologis kita. Apapun jenis pekerjaan itu adalah baik asalkan kita nyaman dan berkembang di dalamnya. Jangan pernah memikirkan uang ang akan didapatkan dengan bekerja. Mampukah kita para orang tua mendoktrin hal itu kepada anak-anak kita?

Masa depan dunia ini, kelangsungan manusia ke depannya ada di tangan kita para generasi sekarang. Apakah kita menginginkan dunia yang lebih baik, semuanya ada di tangan kita. Tergantung pilihan kita, yang jelas, mari kita hayati bahwa kita hanya memiliki perut sejengkal, kaki sepasang, tubuh satu, tidak perlu uang puluan juta atau bahkan ratusan juta untuk memenuhi kebutuhan itu. Mulailah dengan bekerja untuk memenuhi kebutuhan fisik, mental, dan psikologis. Bekerja adalah kebutuhan kita, tapi bukan uang yang menjadi tolak ukurnya.




Friday, 2 August 2013

Selalu ada ruang untuk buah di dalam perutku

Dalam perjalanan hidupku, selama 26 tahun ini, aku adalah orang yang jauh dari keberuntungan. Setiap kali event door price, lotre, atau permainan yang mengandalkan keberuntungan, sudah sangat absolut aku tidak akan pernah memenangkannya. Jadi, untuk menghindari kekecewaan, suatu langkah yang elegant untuk menjauh dari acara-acara seperti itu atau dengan kata lain tidak mau melibatkan diri. Hingga pada suatu siang hari di kantor, ketika aku berjuang untuk melawan rasa ngantuk dan bosan, aku mendapatkan sebuah email. Email tersebut ternyata dari salah satu toko online, dimana karena faktor yang sama juga (melawan rasa ngantuk dan bosan di kantor) aku dulu mendaftarkan diri ke dalam group toko online ini. Isi email tersebut adalah diadakannya sebuah lomba dengan tema "Fun Days with Zespri® Kiwifruit". Yang paling membuatku tertantang untuk mengikuti lomba ini adalah bahwa adanya buah kiwi yang siap menanti untuk para finalis. Aku yang selalu kegirangan terhadap buah, langsung berbinar-binar dan semangat kembali di kantor. Yups, aku sangat dan sangat menyukai buah, buah adalah makanan favoritku di samping cake dan es krim. Sekenyang apapun aku, akan selalu ada ruang untuk buah di dalam perutku dan tidak ada pengecualian untuk buah apapun. Aku cinta semua buah, hanya saja ada beberapa buah yang masuk dalam top ten - ku.
Apa sajakah itu? Inilah sepuluh daftar buah yang paling sering aku konsumsi dalam keseharianku :
  1. Bengkuang
  2. Durian
  3. Mangga
  4. Strobery
  5. Lengkeng
  6. Pepaya
  7. Cempedak
  8. Melon
  9. Pisang
  10. Anggur
Alasan kesepuluh buah ini ada dalam pilihan menu buah yang sering kukomsusi tentu saja karena buah-buah itu paling sering diekspos dalam lingkunganku. Jadi, bukan berarti aku menganaktirikan buah-buah yang lain. Walaupun beberapa buah di atas ada di sana dikarenakan sejarah masa kecilku yang menyenangkan.

Kembali ke lomba "Fun Days with Zespri® Kiwifruit", aku seorang pecinta buah tentu saja langsung tergoda untuk mengikuti lomba ini, walau sebenarnya aku sudah pesimis tidak akan terpilih menjadi finalis. Dalam hatiku, aku telah mendoktrin diri sendiri untuk tidak terlalu berharap terhadap lomba ini mengingat hubunganku yang tidak terlalu harmonis dengan sang dewi keberuntungan.

Walaupun, aku akui, bahwa aku masih berharap untuk mendapatkan buah ini. Selain karena aku pecinta buah, aku merasa tertarik untuk menikmati buah kiwi ini. Seperti yang kita tahu bersama, buah kiwi adalah salah satu buah yang tumbuh di negara empat musim, jadi bisa dikatakan kalau keberadaan buah kiwi ini di negara tropis seperti negara kita tercinta ini adalah sebuah kelangkaan. Buah ini tentu saja akan sangat jarang ditemukan di general market, adanya pasti di modern market

Dan, tibalah hari bahagia itu. Seorang lelaki menghubungi dan mengatakan bahwa aku adalah salah satu finalis yang akan mendapatkan buah kiwi yang bisa dikomsusi selama dua minggu. Sedikit kaget, karena entah mengapa tiba-tiba dewi keberuntungan akhirnya bersedia memalingkan wajahnya kepadaku. Jadilah aku mendapatkan buah kiwi yang sudah tidak kuharapkan kehadirannya.

Rasanya sangat manis dan enak. Aku pun mulai tergoda untuk mengkonsumsinya lagi. Karena ini adalah peristiwa langka dalam hidupku, aku pun memiliki kerinduan untuk membagikan kebahagiaanku ini dengan orang-orang di sekitarku. Aku pun membagi-bagikan buah ini kepada teman-teman di kantor, teman kostan, dan juga pacarku. Aku senang dan semuanya pun senang menikmati buah kiwi yang katanya mengandung banyak nutrisi. 

Salah satu dampak positif yang kudapatkan dari buah kiwi ini adalah aku adalah orang yang memiliki masalah dengan pencernaan. Sangat sulit bagiku untuk melakukan buang air besar dengan teratur. Setelah aku memakan buah ini dua biji pada malam hari, besoknya aku langsung bisa buang air besar. Sangat menyenangkan dapat melakukan tugas ini di pagi hari itu. Sayang sekali, karena kebutuhanku untuk berbagi kebahagiaanku, buah kiwi yang seharusnya direncanakan untuk kumakan selama dua minggu sudah habis dalam hitungan jam. Tapi aku senang, aku dapat berbagi behagiaan dengan orang-orang di sekitarku. Apabila ada kesempatan, aku akan membeli buah ini lagi karena ternyata sangat membantuku dalam buang air besar.

Oh iya, dalam  "Fun Days with Zespri® Kiwifruit" yang dilombakan adalah foto kita yang menampilkan wajah sehat. Dan foto yang aku kirim adalah foto yang diambil oleh pacarku ketika kami melakukan photo session di pagi hari, yaitu di jembatan halte busway antara Bendungan Hilir dengan Plangi.





Melalui tulisan ini, aku berterima kasih kepada mamaku yang telah membuatku menyukai buah. Ketika masih tinggal di rumah orang tuaku, tiada hari tanpa makan buah, dan rumah orang tuaku tidak akan disebut rumah jikalau tiada buah di dalamnya, minimal satu jenis buah. Terima kasih, mamaku.
Terima kasih juga buat hasianhu, Josua Sihotang yang telah memberikan waktunya dalam pengambilan foto ini dan tentu saja dalam pengambilan hadiah lomba "Fun Days with Zespri® Kiwifruit". 
Yang terakhir, terima kasih  kepada @Fimela.com dan Zespri yang memberiku kesempatan untuk merasakan dan berbagi buah kiwi yang sangat manis dan enak.

Tetap sehat dan mari mengkonsumsi buah.