Sunday, 28 December 2014

Merry Christmas, my lovely son


Butuh tiga bulan lebih untuk bisa berdiri di sini, menerima bahwa kau telah kembali kepadaNya. Butuh tiga bulan lebih untuk bisa berdamai dengan situasi ini
bahwa aku melahirkanmu tanpa mendengar tangismu
aku hanya diberi waktu 28 minggu untuk merasakanmu di dalam rahimku
bahkan untuk menyentuhmu, menggendongmu, aku tak diberi waktu

Orang-orang di sekitarku bilang bahwa kau sudah tenang bersamaNya
dan memintaku untuk melupakanmu
tak sedikit juga yang memintaku untuk tidak menyebutmu di dalam perbincanganku
maksud mereka baik, katanya itu demi kau dan demi aku
tapi sebenarnya tidak seperti itu
ada pula yang berdoa agar aku cepat mendapatkan penggantimu kembali
seolah-olah kau adalah barang yang bisa digantikan

jujur,
aku membenci mereka yang memintaku untuk melupakanmu
aku membenci mereka yang memintaku untuk tidak membawamu dalam perbincanganku

bagian - bagian paling sulit adalah
ketika aku harus turut berbahagia dengan mereka yang diberikan kesempatan lebih lama dengan bayi mereka
ketika aku harus tersenyum melihat bayi-bayi lain
ketika aku tidak boleh menangisi ketiadaanmu disini
dan ketika aku harus menerima bahwa inilah yang terbaik untukmu, untukku, dan papamu

syukur padaNya,
akhirnya aku cukup kuat untuk berdiri di sini,
memandangi nisanmu dan memberikan bunga-bunga ini di makammu

syukur padaNya,
akhirnya aku bisa mengatakan
Merry Christmas, my lovely son






Monday, 22 December 2014

Kitab Masakan



Aku bukanlah orang yang pandai memasak. Tapi, aku memiliki kemauan untuk belajar dan mempraktekkannya. Dan buku inilah yang menjadi guruku dalam satu tahun terakhir ini. Aku mendapatkan buku ini dari suamiku, sebagai hadiah ulang tahunku.
Banyak resep masakan yang telah aku coba dari buku ini. Ada yang sesuai dengan selera lidah kami, ada pula yang tidak. Dalam setahun ini, bisa disimpulakn kalau aku lebih banyak membaca kitab masakan ini dibandingkan membaca Kitab Suci agamaku.

Kalau dulu aku hanya mengetahui resep masakan Batak, sekarang pengetahuanku akan resep masakan semakin bertambah. Dengan adanya buku ini, aku banyak tahu tentang berbagai resep masakan nusantara. Aku harus akui, buku ini memang tidak terlalu mendetail di dalam memberikan resep. Dibutuhkan kemampuan  di dalam mengimprovisasi agar rasa makanan sesuai dengan selera kami. Dengan memasak, menjadi terapi untukku di dalam menerima kenyataan untuk setiap pil pahit yang kutelan di dalam hidupku.

Lagi, aku bersyukur dengan adanya buku ini, membantuku untuk tetap memiliki kekuatan dalam menyambut matahari dan bangun di pagi hari.

Kue nastar, kue natal favoritku

Kue natal selanjutnya yang aku ingin masak setelah kastengel dengan oven dan mixer baruku adalah kue nastar. Sebenarnya dari awal aku berencana membeli oven dan mixer, kue pertama yang ingin kumasak adalah kue nastar. Mengapa? Karena kue nastar  adalah kue natal favoritku. Akan tetapi karna aku sedikit kesusahan mencari buah nanas untuk selainya, dimana aku harus melakukan pemesanan buah nanas terlebih dahulu ke mas-mas tukang sayur perumahan, maka aku memasak kastengel sebagai kue natal pertamaku.
Sedikit cerita mengenai kue nastar. Kue ini pertama kali diperkenalkan oleh almarhum Bou Sonti kepadaku. Dan aku langsung jatuh cinta dengan kue ini. Dulu ketika dia masih hidup, tiap tahun ketika natal tiba, kue ini  selalu hadir di samping berbagai jenis kue natal lainnya, dimana semua kue natal itu adalah buatan almarhum Bou Sonti. Kue yang hanya bisa aku makan sekali dalam setahun karena almarhum Bou Sonti hanya memasaknya di bulan Desember. Aku kaget ketika tiba di perantauan ini, ternyata kue nastar bukan hanya menjadi salah satu jenis kue natal, tapi juga menjadi kue lebaran bagi umat muslim. Inilah salah satu sukanya menjadi perantau, mengetahui kebiasan hidup dari masyarakat yang berbeda agama dengan saya. Alhasil, aku memiliki dua kali kesempatan dalam setahun untuk menikmati kue nastar, yakni hari natal dan lebaran.

Walaupun tiap tahun, almarhum Bou Sonti selalu membuat kue nastar di rumah orang tuaku, aku tidak pernah tahu apa resepnya. Hal ini disebabkan, almarhum Bou Sonti tidak pernah mengizinkanku untuk membantunya membuat kue. Dan apabila aku menanyakan resep makanan, bukan hanya resep kue nastar, dia tidak pernah mau memberitahukanku. Dia akan balik menjawabku, untuk apa itu, kau tidak perlu tahu. Selain tidak bersedia memberikan resep kepadaku, dia juga lebih memilih kakakku untuk membantunya setiap kali membuat kue natal. Sementara aku, kebagian tugas untuk mencuci setiap perlengkapan memasak setelah eksekusi kue selesai dan memasak makanan untuk semua penghuni rumah ketika mereka sibuk di dalam proses pembuatan kue-kue natal. Kalau aku datang mendekat, dia akan mengusirku dan menyuruhku membantu ibuku saja. Padahal kan, aku sangat tidak suka dekat-dekat dengan ibuku. Karna dekat dia sama saja mengikhlaskan diri untuk dipukul dan dimarahi. Jujur, saat itu aku kesal pada almarhum Bou Sonti. Aku ingin sekali terlibat dalam pembuatan kue. Dan aku sangat membenci mencuci perlengkapan kue. Ini menjadi salah satu alasan mengapa dulu aku membenci liburan natal. Aku dipaksa untuk melakukan sesuatu yang tidak kusukai. Dulu, aku sering berharap seandainya liburan sekolah tidak pernah ada, aku sangat suka ke sekolah, jauh dari rumah orang tuaku dan dari orang-orang yang di dalamnya. Jadi, ketika menonton film Harry Potter, aku sangat mengerti perasaannya ketika dia harus pulang ke rumah paman dan bibinya di hari libur sekolah. Sama seperti Harry Potter, aku lebih memilih untuk menghabiskan waktuku dengan teman-teman dibandingkan harus menghabiskan liburan sekolah dengan cercaan dari ibuku.

Karena Bou Sonti tidak pernah mengizinkanku untuk terlibat dalam memasak kue bersamanya, maka aku sering sekali melakukannya sendirian. Ketika dia tidak di rumah, aku mencoba membuat kue dengan membaca resep-resep kue dari koran atau majalah bekas. Dan ketika kueku gagal, ibuku akan sangat besar, pertama ibuku tidak bisa mentoleransi kegagalan dan yang kedua menurut ibuku  aku telah membuang bahan-bahan kue yang menurut dia hal itu hanya boleh dilakukan anak orang kaya, dan aku adalah anak tukang becak, perkataan yang selalu dikumandangkan oleh ibuku. Dulu ketika orang tuaku memarahiku dengan alasan merasa sayang dengan bahan kue itu, aku selalu berharap memiliki uang sendiri dan mengganti kerugian ibuku. Sialnya dulu aku tidak punya uang, jadi aku harus pasrah dimarahi dan bahkan dipukul setiap kali aku mengalami kegagalan. Hukuman paling menyebalkan yang kuterima ketika kue-kueku gagal selain kena pukul adalah ibuku memaksaku untuk menghabiskan semua kue yang gagal itu, tidak boleh dibuang, bagaimana pun rasanya! Ironisnya ketika kueku berhasil, ibuku tidak pernah memujiku.

Kembali pada kue nastar. Setelah aku merantau, almarhum Bou Sonti masih bersedia mengirimkanku kue nastar. Akan tetapi setelah dia meninggal, di rumah orang tuaku tidak pernah ada lagi acara memasak kue. Aku pun tidak imemakan kue nastar lagi. Semangatku untuk membuat kue natal pun memudar karena aku tahu ibuku tidak akan mentolerir setiap kegagalan yang mungkin terjadi ketika proses pembuatan kue. Alhasil, daripada dipukul dan diomeli, aku memilih untuk tidak membuat kue natal. Dan ibuku pun akhirnya tidak ada pilihan, dia membeli kue-kue natal di pasar.

Kemarin, setelah sekian tahun tidak menyentuh peralatan pembuatan kue, aku berhasil membuat kue nastar pertamaku dengan resep dari buku Kitab Masakan. Buku ini adalah hadiah ulang tahun pertama dari suamiku, setelah kami sebulan menikah. Dia membelikanku buku ini karena dia tahu aku sangat senang belajar, belajar berbagai hal, termasuk memasak. Ya, dalam hidup ini banyak hal yang bisa kulakukan dengan belajar sendiri dari buku dan internet. Walaupun aku hidup dengan almarhum Bou Sonti yang pandai memasak dan bersolek akan tetapi dia tidak mau membagi ilmunya denganku. Sampai saat ini, aku pun tidak tahu mengapa dia tidak mau membagi ilmunya kepadaku. Walaupun demikian, aku tetap mencintainya. Dan aku selalu merindukannya.

Inilah kue nastarku..


Wednesday, 17 December 2014

Kue Natal Pertamaku, kue kastengel

Kue kastengel pertama kali  aku makan setelah merantau di Pulau Jawa ini. Awalnya aku tidak terlalu suka dengan kue kering ini. Mungkin karena lidahku belum terbiasa dengan keju, dimana kue ini mengandung banyak keju. Maklum saja aku dibesarkan dengan makanan yang mengandung babi dan berbumbu. Singkat cerita, setelah banyak bergaul dengan mereka yang beragama muslim, tak jarang aku disuguhkan dengan kue kastengel ini yaitu ketika hari raya mereka tiba. Lama-lama aku pun mulai menyukai kue ini dan penasaran untuk membuatnya. Akan tetapi, keinginan itu baru bisa terlaksana di bulan ini. Tentu saja setelah aku berburu oven dan mixer terlebih dahulu. Dengan semangat menyambut natal, aku pun berencana untuk membuat kue ini menjadi kue natal pertamaku.

Di kampung di mana aku dibesarkan, kue kastengel belumlah familiar untuk dijadikan kue natal. Seperti yang saya sebutkan di atas mungkin karena kue ini mengandung keju yang sangat banyak, sementara kami orang Batak yang tinggal di kampung masih belum familiar dengan rasa dari keju. Kue natal di kampung yang paling terkenal adalah kembang loyang, kacang tojen, dan sekarang lebih berkembang dengan adanya kue nastar, putri salju, dan lain sebagainya.

Sebelum membuat kue ini, aku terlebih dahulu melakukan research mengenai cara membuat kue ini. Ada begitu banyak resep kue kastengel yang aku temukan di internet dan hal itu membuatku semakin bingung untuk memutuskan resep mana yang akan aku pakai karena semua resep menjanjikan kue kastengel yang enak, renyah, dan gurih. Selain melakukan research, aku juga meminta resep kue kastengel dari mantan teman sekantor yang adalah ahli membuat kastengel. Dari awal aku sudah berencana untuk melakukan resep kue kastengel dari mantan teman sekantor, akan tetapi resep yang dia berikan adalah untuk 1 kg tepung terigu protein rendah. Aku merasa kasihan dengan suamiku yang akan dengan terpaksa memakan kue kastengelku kalau misalnya itu gagal. Sebenarnya aku adalah tipikal orang yang bersedia mengambil resiko. Dalam kasus ini karena melibatkan suamiku yang selalu  menjadi korban untuk setiap hasil masakanku, aku pun memutuskan untuk tidak memakai resep mantan teman sekantorku dengan sangat tepat.

Aku memutuskan untuk memodifikasi setiap resep yang aku baca termasuk dengan resep dari mantan teman kantorku. Dan inilah resep kue kastengelku :
Bahan :
  • 450 gram tepung terigu (aku memilih kunci biru premium khusus untuk kue kering, bogasari), diayak 
  • 50 gram tepung maizena, diayak 
  • 350 gram margarin (aku memakai margarin curah)
  • 100 gram butter (aku memakai mentega curah)
  • 6 kuning telur
  • 350 gram keju  edam (aku memakai cheesy rasa edam), diparut
  • 1 sdt baking powder
Untuk olesan :
  • 100 gram keju cheddar (aku memakai diamond), diparut
  • 3 kuning telur, kocok lepas
Cara membuat:
  • Kocok kuning telur dengan kecepatan maksimal mixer selama lima menit, kemudian masukkan margarin, dilanjutkan dengan butter. Lalu kocok sampai 2 menit dengan kecepatan mixer yang sama.
  • Kurangi setengah kecepatan mixer, masukkan keju parut, tepung terigu, tepung maizena, dan baking powder. Kocok selama 1 menit. Setelah itu aduk rata menggunakan spatula.
  • Pipihkan adonan dan cetak sesuai selera. Aku menggunakan cetakan kue kastangel dan cetakan kue lainnya.
  • Masukkan ke dalam piring oven yang telah diolesi margarin. 
  • Sebelum dimasukkan ke dalam oven, olesi permukaan adonan yang sudah dicetak dengan kuning telur dan taburkan keju parut.
  • Panggang adonan dengan oven bersuhu 160 derajat celcius selama 20 menit. (Aku memakai oven Hock no. 3)
  • Keluarkan dan dinginkan, sebelum disimpan ke stoples dicicipi dulu baru difoto dan upload ke media sosial. hehehe..
tadaaaaa...inilah kue kastangel buatanku dengan resep modifikasi dari yang aku sebutkan di atas.


Kue kastengel pertamaku sungguh sangat memuaskanku. Awalnya aku sudah kuatir kue ini akan gagal karena ini baru pertama kalinya aku membuatnya apalagi dengan memodifikasi berbagai resep yang kubaca dari internet dan resep dari mantan teman kantor. Melihat hasil dari resep racikanku, aku menjadi sangat bangga pada diriku sendiri dan akhirnya kuputuskan untuk menuliskannya sebelum aku lupa. Tidak sia-sia aku berdoa kepada Tuhan sepanjang membuat kue ini. Aku jadi lupa dengan rasa lelah ketika hunting oven dan dalam membuat kue ini. Menurutku rasanya renyah dan enak. Aku tidak sabar untuk memberikan kue ini dimakan oleh suamki. Untung saja rasa dan bentuknya oke karna kalau tidak, aku akan sangat kasihan melihat suamiku menghabiskannya seperti yang sudah-sudah, ketika masakanku gagal.

Dengan adanya mixer dan oven di rumahku sekarang, aku semakin bersemangat untuk mencoba berbagai jenis resep kue. Apalagi dengan kondisi dimana suamiku selalu bersedia menghabiskan setiap masakan yang kumasak walaupun rasanya tidak selalu sesuai dengan yang diharapkan. Itulah salah sati keberuntunganku, mendapatkan suami yang tidak suka memilih-milih makanan. Walaupun demikian, aku selalu berusaha untuk menghasilkan masakan yang sesuai dengan lidahnya karena aku sangat mencintainya. Dan aku berharap, melalui masakanku dia bisa merasakan betapa aku mencintainya dan bersyukur memilikinya sebagai suamiku.

Untuk hari ini, aku berterima kasih kepadaMu, Tuhan.

Tuesday, 9 December 2014

Natal Kampung

Bulan Desember adalah bulan yang selalu mengingatkanku akan masa kecilku. Tentu saja karena di bulan ini adalah hari perayaan lahirnya Tuhan yang aku percayai menjadi segalanya untukku. Lagu-lagu natal yang melegenda dari tahun ke tahun dan dekorasi natal (santa claus, pohon natal, lampu-lampu, dan sebagainya) memberikan ketenangan bagi jiwaku. Lahir dan dibesarkan di lingkungan mayoritas Batak Toba dan Kristen (baca HKBP), memberikan kesan natal yang kuat di dalam pikiran dan jiwaku. Yang paling berkesan yang tidak pernah aku temukan di tempat perantauan ini ketika masa kecilku di bulan Desember adalah natal kampung. Para pemuda-pemudi di tiap desa akan berkumpul untuk merencanakan acara natal kampung  dimana dana yang dibutuhkan untuk acara ini merupakan sumbangan dari semua orang yang ada di kampung atau lebih dikenal dengan taken list. Perencanaan dan persiapan natal kampung ini biasanya telah dimulai di bulan September tiap tahunnya. Acara natal kampung menjadi wahana bagi seluruh penduduk kampung untuk berpesta bersama-sama selama semalam suntuk. Iya, acara natal kampung ini dimulai pukul 19.00 WIB dengan pawai mengundang seluruh penduduk kota untuk datang ke kampung kami menyaksikan natal kampung kami dan berakhir sampai dini hari sekitar jam 03.00 WIB. Seperti namanya natal kampung, natal ini diadakan di kampung, di halaman terbuka sebuah kampung. Disana akan didirikan panggung, pemusik akan diundang, dan dekorasi natal yang indah sekali seperti pita-pita, pohon pinus untuk pohon natal, mare-mare (janur kuning), lampu-lampu dan hiasan natal lainnya. Dimana seluruh hiasan ini adalah hasil buatan tangan para pemuda-pemudi, kecuali pohon pinus dan lampu-lampu.

Adapun konsep acaranya dibagi ke dalam dua bagian besar, yang pertama acara ibadah dan yang kedua hiburan. Untuk acara ibadah, liturginya kurang lebih sama seperti yang dilakukan setiap hari Minggu di gereja. Dalam hal ini karena mayoritas orang Batak dimana aku dilahirkan dan dibesarkan adalah anggota gereja HKBP, maka pendeta dan sintua yang melayani adalah dari gereja HKBP dan liturginya juga menggunakan liturgi gereja HKBP. Bukan berarti di kampung dimana aku lahir dan dibesarkan tidak ada gereja lain, ya. Acara ibadah terdiri dari liturgi yang dimulai dari anak-anak sekolah minggu sampai kepada orang tua, vocal group, paduan suara sekolah minggu sampai paduan suara orang tua, bernyanyi dari buku ende (kidung pujian jemaat HKBP), puisi, dan khotbah. Mostly acara ibadah terdiri dari nyanyian dan musik, tentu saja karena orang Batak Kristen suka bernyanyi dan memuji Tuhan melalui pujian.

Di acara ibadah, biasanya yang paling ditunggu-tunggu adalah acara dimana anak-anak di bawah umur lima tahun menyuarakan liturgi mereka. (Semua liturgi diambil dari ayat Alkitab, dimana para anak sekolah minggu sampai pemuda dan pemudi harus menghafalkannya. Sementara para orang tua karena mereka sudah cukup tua untuk menghafal, mereka hanya membacakannya saja). Menjadi lucu karena anak-anak di bawah lima tahun akan melafalkan liturgi mereka dengan cara mereka masing-masing. Apalagi dengan cuaca yang dingin dan malam hari dimana anak-anak melawan ngantuk mereka dan sudah mulai rewel akan tetapi menjadi hiburan tersendiri bagi para manusia dewasa, khususnya para orang tua mereka. Menyaksikan anak-anak mereka di atas panggung dan menyurakan liturgi mereka. Liturgi mereka adalah :

  "dimuladimulana ditompa Debata ma, langit dohot tano on" (1Musa 1:1)

Ketika menyaksikan anak-anak di bawah umur lima tahun menyuarakan litugi ini dengan segala kelucuan mereka, aku selalu bertanya di dalam hatiku, apakah dulu aku juga selucu mereka? Apakah orang dewasa juga tertawa seperti halnya aku tertawa melihat mereka menyuarakan liturgi itu?
Biasanya tidak semua anak-anak umur lima tahun yang percaya diri untuk menyuarakan liturgi mereka di atas panggung. Tak banyak yang menangis dan berlari ke orang tua mereka. Menurutku, ber-liturgi ketika natal adalah salah satu cara untuk mengajari kami percaya diri di depan banyak orang.

Acara kedua setelah acara ibadah adalah acara hiburan. Di acara hiburan, anak-anak sekolah minggu akan menari. Tarian yang paling populer adalah tarian berpasang-pasangan dan adanya tongkat sebagai aksesoris kami dengan diiringi lagu natal "Mary's Boy Child". Sementara para pemuda-pemudi akan manortor secara berpasangan. Selain liturgi anak di bawah lima tahun, tarian anak-anak juga menjadi yang ditunggu-tunggu. Memang, dimanapun anak-anak, mereka akan selalu menjadi sorotan, bukan dengan tingkah mereka yang membuat kita selalu tertawa.
Setelah tarian anak-anak, acara hiburan lainnya yang terkadang menjadi tujuan utama diadakannya natal kampung adalah adanya acara lelang. Acara lelang ini adalah momen untuk mengumpulkan uang sebanyak mungkin yang akan digunakan untuk mendanai acara natal kampung tersebut. Acara lelang ini akan menjadi penentu apakah sebuah natal kampung dinyatakan gagal atau sukses, selain itu adalah suatu kebanggan bagi sebuah kampung apabila lelang di acara natal mereka laku dengan nilai rupiah yang banyak. Setelah natal kampung usai, yang menjadi sorotan utama bukanlah isi khotbah pendeta atau alur acara, melainkan banyaknya hasil lelang!

Ketika lelang berlangsung, hal ini menjadi momen yang tepat bagi para mereka yang ingin show off. Para perantau yang ingin dianggap sebagai perantau sukses biasanya akan tergoda untuk terlibat di acara lelang ini. Tak jarang, momen acara lelang ini juga dipergunakan untuk kampanye oleh mereka para politisi. Tapi ada juga yang menggunakan momen ini untuk mengapresiasi hula-hula mereka dengan memberikan hasil lelang mereka kepada hula-hula mereka. Intinya acara lelang ini bertujuan untuk menyumbang ke acara natal dengan cara show off. Over all hal itu menjadi hiburan tersendiri bagiku dan menurutku cukup menarik ditonton. Selama 18 tahun aku mengikuti natal kampung, aku dan keluargaku belum pernah terlibat di acara lelang. Bukan karena kami tidak mau show off, melainkan orang tuaku tidak cukup uang untuk ikut serta melelang. Orang tuaku biasanya hanya mampu menyumbangkan ayam kodok ke panitia natal untuk dilelangkan.

Natal kampung adalah salah satu event natal kampung yang paling kurindukan di bulan Desember. Setiap kali bulan Desember tiba, kenangan masa kecil di kampung halaman dengan berbagai macam persiapan natal kampung, melakukan dekorasi natal di rumah, membuat kue-kue natal, dan sepanjang mata melihat, sejauh telinga mendengar, all about christmas. Itulah moment yang paling kurindukan di tanah rantau ini. Di tanah rantau ini, aku nyaris tidak pernah merasakan natal. Aku tidak menyalahkan lingkunganku karena inilah konsekuensi yang harus aku hadapi ketika menjadi kaum minoritas. Mungkin apa yang kurasakan adalah sama dengan yang dirasakan orang-orang Jawa yang melewati bulan Ramadhan di desa dimana aku dilahirkan dan dibesarkan.

Aku merindukan situasi dimana aku menjadi kaum mayoritas, mayoritas orang Batak Toba, mayoritas Kristen, dan mayoritas HKBP. Aku telah lahir dan dibesarkan menjadi kaum mayoritas, tapi sepertinya mulai tahun ini dan tahun-tahun selanjutnya aku harus menjalani hidup dengan menjadi kaum minoritas. Jujur, sangat menyedihkan karena  kebiasaan yang kulalui di awal-awal kehidupanku selamanya akan menjadi kenangan.
Aku merindukan suasana hiruk pikuk dimana para tetangga sibuk untuk mempersiapkan acara natal kampung, memasak makanan berupa lampet dan makanan untuk dilelang di acara natal, pemuda-pemudi yang sibuk untuk mempersiapkan dekorasi panggung natal, anak-anak latihan paduan suara, menari, dan liturgi natal. Ya, aku sangat merindukan momen itu.
Aku merindukan momen dimana anak-anak saling memamerkan pakaian natal mereka, antri di tukang salon, anak-anak perempuan yang berubah menjadi centil karena memakai lipstik dan rambut mereka disanggul. 
Natal kampung memiliki banyak kenangan, banyak cerita, dan banyak tawa. Di masaku, ada sebuah istilah yang lahir dari persiapan dan pelaksanaan natal kampung, yaitu MARNATA (marhallet tingki natal). Momen ini biasanya menjadi salah satu wahana bagi pemuda dan pemudi untuk menemukan cinta sejati atau cinta monyet mereka. Banyak pemuda-pemudi yang akhirnya menjalin hubungan romantis di kala natal kampung.

Natal kampung terakhir yang kualami adalah natal ketika aku duduk di bangku kelas tiga SMA. Setelah itu, aku menjadi penonton dan pengamat karena aku sudah terlambat untuk bergabung di acara natal kampung. Jarak antara kampung halaman dan tempat rantau yang kutuju membatasi langkahku untuk ikut serta di natal kampung. Itulah salah satu duka menjadi seorang perantau, dimana di tiitk ini, aku merasa menjadi orang luar dari kelompokku. Aku seperti tanaman yang ditarik dari tanah, dipindahkan ke pot. Dan disinilah aku, hanya sebagai penonton untuk setiap natal kampung yang diadakan di kampung dimana aku lahir dan dibesarkan.

Thursday, 4 December 2014

pil pahit

Pernahkah kau marah kepada PenciptaMu? Apa yang peroleh dari kemarahanmu itu? Apakah kau merasa lebih baik?

Saat ini aku sedang marah kepada Penciptaku. Walau aku tahu, apa yang kualami bukan melulu karena Dia, tapi aku butuh seseorang untuk dimarahi, dan aku memilih Dia.

Aku marah karena Dia membuatku berharap kepadaNya dan ketika hal itu telah terjadi, Dia mengkhianatiku dengan mengatakan, "Aku lebih tahu apa yang terbaik untukmu."
Kalau memang Dia lebih tahu apa yang terbaik untukku, lalu mengapa Dia memberikanku harapan untuk sesuatu yang bukan terbaik untukku.

Aku mulai goyah, apakah memang adalah pilihan yang tepat untuk berharap dan beriman kepadaNya? Selama 27 tahun hidupku aku melakukan hal itu, tapi yang kudapatkan adalah air mata, kegagalan, kekecewaan, dan harapan yang sirna. Atau memang demikianlah Dia menulis hidupku, bahwa aku tidak akan pernah mendapatkan kehidupan yang sesuai dengan harapanku? Kalau memang iya, aku ingin Dia mengambil setiap harapan yang ada di benakku. Memiliki harapan di benakku akan semakin membuatku lebih terpuruk karena itu adalah ilusi. Untuk apa aku memiliki harapan yang hanya akan ada di benakku. 

Aku tidak marah untuk setiap pil pahit yang Tuhan berikan untuk kutelan. Aku marah karena Dia memberikanku harapan, harapan yang akan sirna setelah aku merasakan sakitnya. 
Dan sialnya, aku tidak merasa lebih baik setelah marah kepadaNya. Yang ada adalah rasa bersalah. Bagaimana mungkin aku bisa marah kepada Dia yang telah menciptakanku? Siapa aku yang layak marah kepadaNya. Aku hanyalah kotoran yang baudan tidak berharga. Inilah yang membuatku semakin terpuruk. 

Kehidupanku sekarang ibarat, seorang ayah menunjukkan kepada anaknya sebuah pemandangan. Lalu si anak memiliki harapan untuk pergi ke sana. Si ayah tidak menjawabnya tapi dia memberikan pil pahit untuk ditelan anaknya. Anaknya tidak ada pilihan lain, selain harus menuruti perkataan ayahnya untuk menelan pil itu. Si anak mengira, setelah menelan pil ini, ayahnya akan membawanya ke pemandangan itu. Ternyata setalah pil itu ditelan, si anak kesakitan dan pemandangan yang ditunjukkan oleh ayahnya semakin jauh dari hadapannya. Dan ayahnya menjawab, "Aku lebih tahu apa yang terbaik untukmu." Dan disinilah aku, masih kesakitan karena pil pahit yang kutelan.

budaya kolektif versus budaya individual

Namaku Jordan, aku lahir dan dibesarkan di sebuah desa kecil di negara Indonesia. Orang tuaku bukan orang yang memiliki pendidikan dan mereka hidup dengan adat Batak menjadi standarnya. Karena orang tuaku orang Batak, maka aku pun adalah orang Batak. Orang Batak merupakan salah satu suku di Indonesia yang menggunakan sistem patrilineal di dalam sistem budayanya. Dan karena aku lahir dan dibesarkan di desa  di mana mayoritas yang tinggal di desa itu adalah orang Batak, maka aku pun memiliki pengetahuan yang cukup banyak mengenai kebiasaan orang Batak,  aku fasih menggunakan bahasa Batak. Walaupun keahlihan ini tidak berarti banyak dan sama sekali tidak dibutuhkan di dalam perkembangan dunia bisnis di zaman sekarang ini. Jadi, tidak mengherankan apabila banyak orang Batak yang tidak tahu bahasa Batak. Alasannya satu, memahami bahasa Batak tidak memberikan keuntungan secara mater i!!

Aku sangat mencintai adat Batak khususnya filsafat hidup orang Batak yang mengutamakan hubungan antar manusia. Keutuhan hubungan antar manusia menjadi inti dari filsafat hidup orang Batak, walaupun di zaman sekarang hal ini sudah mengalami pergeseran makna, dimana hubungan antar manusia yang diharapkan hanya akan utuh apabila adanya uang di dalamnya. Pamrih menjadi tiket untuk keutuhan hubungan ini. Akhirnya menjadi makhluk individual seperti yang disosialisasikan budaya barat ke Indonesia menjadi sangat berkembang di Indonesia. Hubungan yang pamrih sudah menjadi hal yang sangat menggangu untuk keutuhan sebuah hirarki jiwa. Orang-orang di sekitarku mulai meninggalkan budaya kolektif dan beralih ke budaya individual. Hubungan antar manusia sudah tidak menjadi standar kehidupan lagi. Uanglah yang menjadi standar hidup saat ini. Padahal, sejarah mengatakan bahwa hubungan antar manusialah yang menjadikan sistem kehidupan ini dapat bertahan dari masa ke masa, bahkan sebelum uang lahir. Tidak disangka, kekuatan uang begitu dasyat. Dia mampu memporak-porandakan standar kehidupan yang sudah ada sejak zaman manusia purba. Kecintaanku dengan adat Bataklah yang membuatku masih berjuang untuk tidak terbawa arus individual yang saat ini begitu kuat menyelimuti peradaban manusia di sekitarku.

Aku bukanlah anti budaya individual. Seandainya aku lebih dulu mengenal budaya individual, aku pasti juga akan mencintai budaya individual ini. Di zaman sekarang ini dimana uang menjadi standar kehidupan, adalah hal yang sangat sulit untuk tetap menjaga keutuhan hubungan. Apalagi dengan segala kerepotan budaya kolektif yang membuatku terkadang menyesali diri mengapa terlalu mencintai budaya Batak? Inilah konsekuensi yang aku terima dari rasa cintaku kepada budaya Batak, dimana dalam banyak moment aku menjadi korban atau dimanfaatkan oleh mereka yang tidak mengutamakan hubungan antar manusia (budaya individual).

Lebih jauh lagi, aku merasa bahwa banyak orang yang menjadi pengikut budaya individual tanpa mereka sadari. Hal ini merupakan dampak dari ketidaan fondasi karakter. Orang tua atau orang dewasa yang ada di sekitar mereka di awal kehidupan mereka gagal untuk membangun fondasi karakter kepada mereka. Dengan demikian, seiring dengan perjalanan kehidupan mereka, mereka menjadi gampang terbawa arus dan akhirnya kehilangan identitas. Ada lagi sekelompok orang yang beruntung, setelah mereka kehilangan identitas mereka menciptkan identitas baru dan mengajak orang lain untuk menjadi pengikutnya. 

Perkembangan fenomena sosial ini membuatku terkadang ingin menarik diri dari sekitarku. Aku merasa tidak kuat lagi untuk melawan arus yang tidak sesuai dengan karakterku. Bahkan mencoba untuk beradaptasi dengan kebudayaan individual ini semakin membuatku menjadi orang lain.
Aku tidak merasa sesuai dengan sistem kehidupan yang ada di sekitarku. Di budaya yang aku kenal bahwa hubungan antar manusia adalah standar untuk bisa bertahan hidup. Sementara di kehidupan yang sama dengan peran yang sama, uang menjadi standarnya. Kekalahanku adalah aku tidak bisa menyeimbangkan kedua standar ini atau mengambil kedua standar ini untuk menjadi alatku bertahan hidup.
Aku masih penasaran dengan mereka yang bisa menjalani kehidupan seperti ini. Bagaimana cara mereka menyatukan kedua standar ini tanpa merusak karakter mereka. Dan jujur aku belum pernah menemukan orang yang bisa menyeimbangkan kehidupannya dengan dua standar ini. Tapi, entah mengapa, sisi manusiaku yang tamak membuatku tergoda untuk merangkum kedua standar ini untuk kujadikan alatku bertahan hidup.

Hmm, tidak pernah kubayangkan bahwa hidup ini akan begitu rumit dan penuh dengan ketidakpastiaan. 


Wednesday, 3 December 2014

hai kesedihan

Sungguh aneh. Selama masa kehamilan aku mengeluhkan kondisi dimana aku harus bangun pagi-pagi benar, menghadapi kemacetan, tekanan di kantor, kurang tidur, rasa frustasi di jalan - intinya aku sangat membenci rutinitasku yang tidak bisa menikmati keberadaanku di rumah. 
Dan sekarang, setelah tiga bulan aku tidak melakukan rutinitias itu, aku kembali mengeluhkan kehidupanku yang monoton. Aku bosan tinggal di rumah walau tubuhku menginginkannya. 

Seharusnya aku mensyukurinya. Seharusnya aku bisa menikmatinya. Tapi nyatanya aku tak b-lisa. Aku tak bisa hidup santai seperti ini sementara banyak tagihan yang harus aku bayarkan setiap bulannya. Aku harus segera menemukan cara untuk mendapatkan uang dan beraktivitas kembali. Aku adalah manusia pekerja, bukan manusia santai.

Lalu apa yang bisa kulakukan sekarang?

Aku merasa sepertinya semua pintu sudah tertutup untukku. Aku takut untuk percaya kepada Tuhan karena aku takut ditolak. Tapi aku tidak memiliki pilihan lain bukan? Aku tidak memiliki siapa-siapa lagi yang bisa membantuku untuk ke luar dari situasi ini.

Ketika aku mengalami pecah ketuban dini, aku sangat percaya sekali bahwa aku dan bayiku akan sehat. Aku begitu sangat percaya kepada Tuhan dan menjalaninya dengan ketenangan. Akan tetapi yang kudapatkan adalah, bayiku meninggal.
Hal yang sama juga terjadi baru-baru ini, aku sangat percaya bahwa Tuhan akan memberikanku pekerjaan sebelum bulan November 2014 ini berakhir. Aku percaya sekali kepadaNya. Lagi-lagi rasa tenangku dan kepercayaanku kepadaNya musnah.

Aku ingat ada tertulis, bahwa Dia akan memberikan yang terbaik kepadaku. Aku pun akhirnya menilik kembali apa yang sudah kulalui. Ketika SMP, aku menunggu dua tahun untuk menjadi juara umum, walau sesungguhnya aku mampu mendapatkannya kalau guru kelasku tidak mengantuk dan salah mengisi raporku. Ketika SMA, karna inginnya aku meninggalkan rumah orang tuaku, aku berharap bisa diterima di sekolah yang memiliki asrama. Aku menunggu 4 tahun untuk bisa merasakan sekolah yang memiliki asrama. Aku juga menunggu satu tahun untuk bisa kuliah di PTN. Dan sampai sekarang aku juga menunggu untuk mendapatkan pekerjaan. Melihat perjalananku yang tidak mudah untuk mendapatkan yang kuinginkan, sepertinya aku juga akan menunggu untuk mendapatkan anak lagi.

Huuu..aku selalu berusaha untuk tidak bertanya mengapa kepada Tuhan. Aku mencoba untuk taat dan memeriksa diriku sendiri. Mungkin seharusnya perumpamaan yang mengatakan "gantungkanlah cita-citamu setinggi bintang di langit" harus segera dihapuskan dari dunia ini. Perumpamaan ini sangat menyiksaku. Setiap cita-cita yang kuinginkan harus selalu melalui perjuangan dan tidak berhasil. Yang kudapatkan adalah turut bahagia bersama mereka yang dengan begitu mudahnya bisa meraih cita-citaku. Sepertinya aku sudah ditakdirkan untuk menjalani kehidupan yang seperti ini.

Suamiku beberapa hari yang lalu mengatakan kepadaku, aku tak percaya kau menjadi seperti ini. Salah satu alasanku memilihmu untuk menjadi istriku adalah karena aku tahu bahwa kau akan tangguh dalam menghadapi badai. Tapi, yang aku lihat sekarang adalah perempuan yang cengeng.
Aku sedikit tersinggung dengan pernyataannya ini, akan tetapi dia memang benar, Aku telah kehilangan kekuatan untuk bersabar dalam kesesakan. Aku bukan Rani yang dulu lagi, yang selalu siap menerima setiap badai yang Tuhan izinkan datang kepadaku. Sekarang, aku telah kehabisan tenaga.
Dan aku pun menjawab suamiku, Anak kami Jordan telah membawa Rani yang kuat, mandiri, pejuang, dan tangguh itu. Sekarang yang tinggal adalah Rani yang meratapi dan mengasihani diri sendiri, membenci segala sesuatu, dan cengeng. 


Tuesday, 2 December 2014

Tips untuk sehat selama hamil

Pengalaman menjadi hamil adalah pengalaman yang penuh sejarah bagi setiap perempuan. Tidak banyak kata yang bisa mendeskripsikan bagaimana kondisi perempuan di dalam menjalani masa-masa kehamilan. Setiap perempuan yang pernah dan sedang merasakannya pasti memliki kesan tersendiri dengan pengalaman ini. Saya juga mengalaminya walaupun saya tidak menyelesaikan kehamilan saya seperti yang telah diprediksi oleh dokter. Melalui tulisan ini, saya ingin berbagi pengalaman saya menjadi perempuan hamil selama 28 minggu. Harapan saya tulisan ini dapat menjadi refrensi dan semoga tulisan ini bisa bermanfaat untuk mengurangi resiko bayi meninggal seperti yang saya alami.

  1. Ingatlah jadwal menstruari Anda. Hal ini akan sangat membantu untuk mengetahui apakah Anda hamil atau tidak dan membantu Anda di dalam penghitungan usia kandungan Anda. Walaupun sebenarnya hal ini bisa dideteksi melalui USG, akan tetapi Anda juga perlu mengetahuinya untuk menjawab dokter ketika Anda pertama kali periksa kehamilan. Pertanyaan dokter yang pertama pastinya adalah kapan Anda terakhir mengalami menstruasi, apakah jadwalnya teratur sekali dalam 28 hari, dan berapa lama durasi menstruasi dalam satu periode?
  2. Sebelum ke dokter kandungan untuk memastikan Anda hamil atau tidak, sebaiknya lakukan test kehamilan terlebih dahulu. Sebaiknya test kehamilan dilakukan tiga kali dengan jarak empat hari untuk mendapatkan akurasinya, apabila ada keraguan di hati Anda. Hal ini untuk menghindari apabila Anda bertemu dengan dokter kandungan yang tidak berempati. Dengan adanya hasil test kehamilan, biasanya dokter kandungan akan mengurangi interogasi yang berlebihan kepada Anda dan pasangan.
  3. Mencari dokter kandungan yang berempati dan nyaman untuk mendengarkan keluhan Anda. Ini bisa Anda lakukan melalui teman-teman atau kenalan Anda yang pernah menggunakan jasa dokter kandungan. Yang perlu saya tekankan disini, Anda tidak membutuhkan dokter kandungan yang pintar tapi dokter kandungan yang bersedia hadir saat Anda membutuhkannya ketika Anda mengalami masalah dengan kehamilan Anda, bukan hanya di saat Anda akan melahirkan.
  4. Apabila Anda memiliki budget yang cukup dan Anda ingin melakukan dokumentasi mengenai perjalanan anak Anda, mintalah print out USG dari anak Anda. 
  5. Jangan percaya 100 % kepada dokter kandungan. Ingatlah kitalah yang lebih tahu mengenai kondisi kita selama hamil. Dokter hanya melakukan pemeriksaan melalui data yang terlihat dan dengan dimonitori oleh berbagai motivasi. Anda dan pasangan harus kritis terhadap setiap opini yang diberikan oleh dokter. Pengalaman saya selama hamil, dokter saya mengatakan bahwa saya diizinkan untuk berolahraga, tidak masalah apabila saya menggunakan motor selama 4 jam sehari, saya harus aktif, kehamilan bukanlah hambatan untuk melakukan kegiatan saya seahri-hari. Dia memperkuat pernyataannya dengan alasan belum ada penelitian yang melarang ibu hamil untuk melakukan hal di atas. Akan tetapi sesungguhnya, ini bukan ada tidaknya penelitian, Tapi bagaimana tubuh Anda merespon untuk setiap kegiatan yang Anda lakukan.
  6. Ini pendapat personal, akan tetapi untuk di kota besar seperti Jakarta dan sekitarnya, sebaiknya memilih dokter kandungan laki-laki. Semula saya tidak ingin merendahkan kaum saya dalam hal ini, akan tetapi saya mengalaminya. Dokter kandungan laki-laki jauh lebih memiliki empati, lebih detail, dan mengerti keadaan ibu hamil dibandingkan dokter kandungan perempuan.
  7. Masa hamil adalah masa dimana waktunya Anda dimanja oleh orang-orang di sekitar Anda. Oleh karena itu, nikmatilah karna Anda berhak untuk mendapatkannya. Jangan memaksakan diri Anda untuk melakukan sesuatu yang tidak ingin Anda lakukan, termasuk untuk melanggar mitos seputar ibu hamil. Sepanjang Anda ingin melakukannya dan tidak merugikan Anda dan kandungan Anda, lakukanlah. Masa hamil adalah masa dimana Anda menjadi prioritas karena itu bersuka citalah.
  8. Jangan atau kurangi makan di luar. Jauh lebih baik apabila Anda memenuhi nutrisi Anda dan kandungan Anda dengan makanan yang Anda persiapkan di rumah.
  9. Apabila Anda tidak ingin mengalami berat badan yang berlebihan selama hamil, maka perhatian makanan Anda secara mendetail. Kurangi memakan karbohidrat, perbanyak makan sayuran dan buah. Untuk mempermudah Anda dalam memakan buah dan sayuran, Anda bisa mengolahnya seperti minuman.
  10. Berdoalah selalu agar Anda dikuatkan selama menjali masa kehamilan Anda.

untukmu yang disana

Selamat pagi wahai engkau yang disana
Aku datang menyapamu
bilakah kau mendengar
kicauan burung ini,
bilakah kau merasakan
dinginnya pagi ini tanpa matahari

Selamat pagi wahai engkau yang disana
aku datang memanggilmu
bilakah kau kan berpaling
melihatku disini
bilakah kau kan merasa
hadirku disini

sunyi, sepi, hening
bilakah kan berlalu
untukmu yang disana



2 desember 2014, pukul 5.00 AM

Perempuan, si pendamping yang setara

Bagi masyarakat dimana aku dibesarkan, usia 30 tahun bagi perempuan adalah usia yang sudah harus menikah, minimal memiliki pacar. Apabila di usia ini belum memiliki pacar, maka orang tersebut biasanya sudah mengalami kegelisahan dan akan semakin meratapi diri sendiri. Mungkin, ketiadaan pasangan hidup seharusnya tidak akan terlalu menyakitkan apabila tidak ada desakan dari orang tua, keluarga, maupun dari teman-teman. Karna tanpa desakan mereka, kehidupan sudah terlihat semakin kacau ketika setiap orang di sekitar kita memiliki pasangan, apalagi ketika berhadapan dengan masa dimana mereka akan sibuk dengan pasangannya, akhirnya kita pun merasa ditinggalkan dan kesepian. Hal inilah yang membawa banyak perempuan akhirnya menyimpulkan bahwa sudah saatnya memiliki pasangan hidup.

Dengan alasan kesepian, banyak perempuan akhirnya setuju untuk memiliki pasangan hidup. Tapi tidak dengan  almarhum Namboruku dimana di usianya yang ke- 50, dia tetap memutuskan untuk tidak menikah. Dia tidak pernah menangisi keadaannya (setidaknya aku tidak pernah melihat dia menangis karena statusnya). Akan tetapi, aku tahu kalau dia sangat kesepian, dimana di penghujung rasa kesepiannya dia sudah menjadi sangat terbiasa dengan hal itu dan menjadikannya life style sehingga dia merasakan kenyamanan menjadi single. Dulu, aku menilai pilihan yang diambilnya adalah sesuatu yang menakjubkan. Dimana aku pun pernah memutuskan untuk menjadi pengikutnya, tidak akan menikah. Aku menyaksikan bahwa pernikahan di suku kami, sepertinya hanya memuaskan kaum lelaki saja dan almarhum Namboruku pun setuju dengan hal itu. Menurut pengakuannya padaku, itulah menjadi salah satu alasannya untuk tidak menikah. Dia tidak mau menghabiskan hidupnya untuk melayani lelaki. Hal ini juga yang membuatku akhirnya memiliki pemikiran bahwa di dalam sebuah pernikahan, bukanlah tugas perempuan untuk melayani laki-laki, melainkan kedua belah pihak harus bersama-sama saling melayani. Bukankah Tuhan berkata, bahwa perempuan dijadikan Tuhan untuk menjadi pendamping yang setara dengan laki-laki?

Saat ini, aku mengenal banyak perempuan di sekitarku yang belum menemukan paangan hidupnya. Di satu sisi, aku cukup bangga dengan hal itu karena aku tahu salah satu alasan mereka belum menemukan pasangan hidup mereka adalah kaumku, para perempuan semakin menyadari posisinya di dalam ikatan pernikahan. Menurutku, semakin perempuan diberikan kesempatan untuk mendapatkan pendidikan, maka penilaian kami akan dunia ini pun mengalami perkembangan. Setidaknya kami tahu dimana posisi kami dan kami memiliki harapan untuk menjadikannya lebih baik. Kami, para perempuan bukan lagi seperti para nenekku yang terdahulu yang tidak paham betul mengenai posisi mereka sebagai perempuan, si pendamping yang setara dengan laki-laki. 

Aku sendiri, di dalam menemukan pasangan hidupku yang sekarang telah menjadi suamiku bukanlah proses yang mudah. Aku telah mendoakannya semenjak aku masih sekolah. Aku meminta kepadaNya, jikalau laki-laki itu tidak bisa menjadikanku sebagai pasangannya yang setara, mungkin akan jauh lebih baik bagiku untuk tidak menikah. Hal yang sama juga kuharapkan terjadi kepada setiap perempuan yang aku kenal, yang saat ini masih bergumul untuk menemukan pasangan hidupnya.

Mangalului dalan ngolu

Tak terasa telah empat tahun berlalu semenjak aku meninggalkan dunia kampus. Selama empat tahun pula aku berkenalan dan bergaul dengan yang disebut market place. Tak bisa kuingkari bahwa menjadi bagian dari markat place memberiku banyak wawasan yang membantuku di dalam pembentukan pola pikirku. Aku bertemu banyak orang yang mengajarkanku berbagai hal. Aku juga menjadi banyak tahu mengenai sistem yang ada di Indonesia ini yang memiliki pengaruh besar untukku dalam memaknai kehidupanku.

Berikut adalah beberapa pembelajaran  yang aku dapatkan selama di market place , yang juga membuatku terus berpikir dan berpikir di dalam menjalani hari-hariku :
  1. Manusia itu tamak. Tidak ada kata cukup. Profit oriented! Sampai saat ini, aku belum menemukan perusahaan yang peduli dengan karyawannya sebesar kepedulian mereka terhadap pencapaian porfit. Perusahaan hanya peduli bahwa sistem yang ada di perusahaan itu harus berjalan dengan baik dan menghasilkan keuntungan sebanyak mungkin. Dan di dalam banyak kasus hal ini sering sekali mengorbankan si karyawan, misalnya karyawan menjadi lembur, hubungan antar karyawan menjadi tidak baik, dan bahkan menjadi stres.
  2. Banyak perusahaan yang menetapkan standar yang tinggi untuk bisa menjadi karyawan mereka. Bukan hanya itu, perusahaan juga mengharapkan si karyawan sudah bisa langsung menghasilkan profit. Hal inilah salah satu penyebab mengapa banyak pengangguran di Indonesia. Perusahaan terlalu menuntut karyawannya sudah langsung bisa bekerja sesuai dengan kebutuhan perusahaan sementara sistem pendidikan di Indonesia mayoritas tidak mempersiapkan para pelajarnya untuk menjadi pekerja. Dari pengalamanku, saya berulang kali terjebak ke dalam sistem di perusahaan yang sama sekali belum pernah tersimpan di dalam memoriku. Alhasil, semuanya harus dimulai dari nol seolah-olah apa yang telah aku pelajari di bangku kuliah menjadi sia-sia karena tidak dipergunakan setelah bekerja di perusahaan. Aku juga tidak tahu mengapa gap antara universitas dan kebutuhan perusahaan sangat tinggi. Aku sering bertanya, jadi sesungguhnya untuk apa ada universitas kalau tidak bisa menjawab kebutuhan perusahaan? Sementara dari sisi perusahaan, mereka tidak mau rugi dalam hal materi dan waktu untuk memberikan pelatihan bagi karyawan mereka.
  3. Lingkungan tempat bekerja yang tidak nyaman. Bukan rahasia umum lagi, bahwa hampir semua para pekerja di Jakarta menghabiskan waktu mereka di jalan. Sesampai di kantor, pergaulan dengan teman sekantor juga belum tentu mendukung kita untuk bisa memberikan potensi dengan baik. Saling sikut-menyikut, para penjilat, dan bahkan mereka yang ogah-ogahan bekerja pun banyak ditemukan di tempat bekerja. 
Pengalakmanku dengan tiga perusahaan membuatku banyak berpikir dan merefleksikan segala yang telah kulakukan. Bangun subuh, berangkat pagi-pagi, tergesa-gesa ketika telat bangun, menghadapi kemacetan, di kantor menghadapi tekanan, menghabiskan 14 jam setiap hari di luar rumah, hanya untuk menjadi budak seseorang. Lalu apa yang aku dapatkan? Aku dapat uang, dapat status bahwa aku seorang pekerja, setidaknya tidak menganggur. Jujur, aku tidak menyukai kondisi itu. Tapi aku juga tidak menyukai kondisiku sekarang yang menjadi pengangguran. Aku merasa sangat jenuh hanya di rumah saja. Tapi aku juga tidak mau kembali dengan rutinitas yang kujalani selama empat tahun ini, menjadi budak manusia lain dengan kondisi minimnya perhatian perusahaan terhadap karyawan.

Harapanku, aku ingin sekali dapat bekerja tanpa harus merasa menjadi budak seseorang. Aku ingin berkarya dan mengaplikasikan ilmuku. Aku ingin dihargai bukan diperas seperti yang sudah-sudah. Mungkin inilah hukuman yang Tuhan maksudkan ketika mengusir manusia pertama dari taman Eden bahwa si manusia akan bersusah payah di dalam memenuhi kebutuhan hidupnya.

Menemukan pekerjaan, masih tetap menjadi pergumulanku semenjak aku meninggalkan rumah orang tuaku. Dan sampai hari ini aku masih belum menemukannya. Dan aku tak tahu mengapa aku belum bisa menemukannya. Berbagai macam usaha dan strategi telah aku lakukan, tapi sejauh ini yang kutemukan hanyalah kegagalan dan sakit hati. 

Monday, 1 December 2014

Para koruptor di Indonesia

Kosakata "korupsi" pertama sekali saya dengar  ketika saya duduk di bangku kelas lima SD, yaitu di tahun 1998.  Saya mendengarnya dari berbagai media berita seperti, surat kabar, radio, dan TV. Saat itu memang keadaan negara kita sedang mengalami masa-masa sulit. Dan dari media yang saya baca keluarlah kosakata korupsi. Walaupun demikian saya tidak terlalu mengerti dengan makna dari kosakata itu karena kurangnya informasi yang saya dapatkan dan kosakata  itu nyaris tidak sering didiskusikan di desa dimana saya dibesarkan. Masyarakat sekitar saya hanya mengatakan bahwa korupsi itu mengakibatkan nilai rupiah menurun, bahan makanan susah didapatkan, dan harga emas naik. Dan yang pasti keadaan ekonomi kami sebagai rakyat yang memiliki latar belakang ekonomi menengah ke bawah pun terguncang. Akhirnya dulu saya menyimpulkan bahwa korupsi itu adalah sesuatu yang menyebabkan malapetaka bagi rakyat.

Seiring dengan bertambahnya informasi yang saya dapatkan dan perkembangan teknologi dimana informasi mudah didapatkan, istilah korupsi pun sudah sampai ke semua telinga manusia yang ada di pelosok dunia ini. Bahkan bukan hanya makna dari kata ini yang sudah dipahami oleh hampir semua orang di pelosok negeri ini, juga trik-trik yang jitu untuk melakukan korupsi. Hal ini sangat menjamur begitu cepat di kehidupan bermasyarakat kita. Walaupun yang sering tertangkap basah dan yang menjadi target pemberitahuan media adalah mereka yang bekerja di kantor pemerintahan, akan tetapi untuk korupsi itu sendiri telah menjamur di hampir semua lapisan masyarakat dan di semua jenis perkantoran.

Kadang kala, ketika saya sedang sendirian, misalnya ketika sedang menunggu bis transjakarta ketika pulang kantor dengan background pemandangan mobil-mobil pribadi yang parkir gratis di sepanjang jalan sudirman, saya sering berpikir, mengapa korupsi itu bisa terjadi? Banyak alasan yang masuk akal dan  saya terkadang bisa memakluminya walau saya tidak setuju dengan korupsi. Beberapa alasan yang terpikirkan oleh saya yang membuat manusia, khususnya mereka yang yang bekerja di pemerintahan rentan untuk melakukan korupsi adalah :
  1. Sistem, budaya kerja, dan kondisi yang sudah tertata sedemikian rupa untuk melakukan korupsi. Dimana pilihannya hanya dua, take it or leave it. Dan tentunya dengan berbagai resiko untuk setiap pilihan yang ada. Dimana resiko dari kedua pilihan itu pastinya tidak menyenangkan. Yang bersangkutan hanya perlu mempertimbangkan, resiko yang paling tidak menyenangkan dibandingkan resiko-resiko buruk yang ada. Tak jarang, orang-orang yang kita cintai,  agama dan bahkan prinsip hidup kita bisa menjadi taruhannya. Untuk alasan yang satu ini, perubahan ke arah yang lebih baik hanya memungkinkan untuk dilakukan apabila dimulai dari mereka yang memiliki kuasa dan wewenang dengan kata lain mereka yang disebut sebagai para pemimpin. Di negara kita hal ini bisa dilakukan oleh Presiden, Menteri, Gubernur, dan para anggota DPR/MPR. Pertanyaan selanjutnya adalah sejauh mana para pemimpin kita ini bersedia mewujudkannya dan itu akan dijawab oleh alasan yang kedua.
  2. Pola asuh. Berikut adalah beberapa pola asuh yang menurut saya membuat mereka jatuh ke dalam yang namanya korupsi adalah : 
  • Menyekolahkan anak-anak dengan tujuan setelah menyelesaikan sekolah, anak-anak akan bekerja dan mendapatkan upah berupa uang yang banyak. Keberhasilan dinilai dari seberapa banyak uang yang telah dikumpulkan. Hal ini mengakibatkan setiap anak  didkotrin untuk menghasilkan uang dalam jumlah yang banyak. Tidak menjadi dosa apabila anak-anak akhirnya memiliki ambisi untuk mengumpulkan uang sebanyak mungkin. Menjadi kaya bukanlah dosa, apabila  proses untuk menjadi kaya itu  bukan dengan cara memerkosa hak orang lain. Hal inilah yang lupa untuk disosialisasikan oleh para orang tua. Mayoritas orang tua menutup mata akan hal ini. Bagi mereka, asal muasal uang itu berada di nomor sekian, yang menjadi nomor satu bahwa anak-anak mereka menjadi kaya raya.
  • Menjadikan uang sebagai  penerimaan dan penghargaan di hampir setiap lingkungan hidup. Apabila ingin dihargai, ingin diperhitungkan dalam sebuah komunitas, ingin berkuasa, milikilah uang dalam jumlah yang banyak. Para orang tua  lebih menghargai dan menerima anak-anak mereka yang memiliki banyak uang dibandingkan yang tidak. Hal yang sama juga terjadi di dalam kehidupan bermasyarakat. Hanya mereka yang memiliki uang yang banyaklah yang mendapatkan penerimaan dan penghargaan. Hal ini membuat anak-anak akhirnya memilih untuk menjadi sekaya mungkin agar mereka diterima dan dihargai. Di dunia ini semua orang ingin diterima dan dihargai, bukan? Orang tua dan masyarakat kita sangat jarang menerima dan menghargai seseorang berdasarkan karakter dan apa yang telah dilakukan. Jumlah saldo di bank dan berbagai barang mewah yang dimilikilah yang menjadi standarnya.
  • Membahagiakan orang tua dan orang-orang yang dicintai. Mari kita bertanya kepada anak-anak di Indonesia, apa yang menjadi tujuan utama mereka di dalam hidup ini. Maka jawaban mereka adalah membahagiakan orang tua. Membahagiakan orang tua ini dalam bentuk apa? Pastinya dalam bentuk uang. Membawa orang tua mereka naik haji bagi mereka yang beragama muslim, membelikan berbagai barang-barang mewah kepada orang tua dan sebagainya. Pemikiran ini mereka dapatkan dari doktin yang telah disosialisasikan oleh orang tua mereka. Seolah-olah satu-satunya cara untuk membahagiakan orang tua adalah hanya melalui uang. Mari kita hitung, ada berapa banyak orang tua yang harus dibahagiakan di Indonesia ini dengan uang. Dan betapa tersiksanya anak-anak di Indonesia apabila tidak mampu memberikan uang untuk menjadi sumber kebahagiaan para orang tua. Sangat jarang ditemukan di Indonesia ini, orang tua yang meminta anak-anaknya untuk tidak membahagiakan mereka dengan uang.
  • Pola asuh yang konsumtif. Banyak orang tua yang tidak menyadari telah mensosialisasikan perilaku konsumtif ini secara tidak sengaja. Tidak disengaja karena hal itu melekat di diri para orang tua, dimana anak-anak pada akhirnya mengobservasi dan meniru perilaku orang tua. Contoh yang paling jelas terlihat di dalam kehidupan berkeluarga di Indonesia adalah dalam hal membeli alat-alat teknologi, seperti handphone. Saat ini hampir semua rakyat di Indonesia memiliki handphone. Apabila dilakukan survey, harga handphone  yang dimiliki oleh mereka yang masuk kategori kelas ekonomi menengah ke bawah adalah di atas satu juta dan bukan hanya satu. Apabila diitelusuri, mayoritas mereka yang membeli handphone dengan harga yang tidak sesuai dengan pendapatan, bukan karena faktor kebutuhan melainkan karena gengsi dan tidak ingin dinilai menjadi orang yang kudet (kurang update).
          
Menurut saya, kedua hal di ataslah alasan utama yang menjadikan banyaknya para koruptor di Indonesia ini. Untuk alasan yang pertama, itu menjadi PR utama bagi para pemimpin, sementara untuk alasan yang kedua itu menjadi PR kita semua yang disebut orang dewasa. Apabila kita sebagai orang tua, mari kita koreksi kembali pola asuh yang telah kita berikan kepada anak-anak kita. Apakah kita termasuk ke dalam orang tua yang memberikan pola asuh seperti yang saya sebutkan di atas? Kalau iya, mari kita benahi kembali demi Indonesia yang lebih baik. Memberantas korupsi bukan hanya tugas Komisi Pemberantas Korupsi (KPK), tapi juga tugas kita para orang tua. Pola asuh yang kita berikan selama mereka menjadi anak-anak kita sangat berpengaruh signifikan bagi perkembangan Indonesia ke depannya. Anak-anak yang ada di rumah kita juga adalah warga negara Indonesia yang mengambil peran hendak dibawa kemana Indonesia ini. Kalau kira merasa apatis dengan para pemimpin, para pegawai pemerintah, mari kita hentikan dengan mendidik anak-anak kita agar tidak seperti mereka. Sebelum kita mendidik anak-anak kita, mari kita periksa diri kita, apakah kita sudah layak menjadi panutan mereka? Karena apa yang kita sosialisasikan kepada anak-anak kita akan lebih berdampak apabila itu juga menjadi karakter kita.


Selanjutnya bagi mereka yang sudah terlanjur mendapatkan pola asuh yang demikian dari orang tua kita, belum terlambat bagi kita untuk mengubah karakter diri. Sebagai manusia dewasa dan yang melek akan informasi dan perkembangan zaman, mari kita benahi diri kita untuk bisa membebaskan diri dari doktrin orang tua kita. Bersama kita membenahi diri kita bahwa uang bukanlah standar keberhasilan, uang bukanlah standar untuk menerima dan menghargai orang lain maupun diri sendiri, bahwa uang bukanlah satu-satunya cara untuk membahagiakan orang tua, dan mulailah hidup sederhana. 

Siapakah para koruptor itu? Kita semua. Bukan hanya para pegawai pemerintah, bukan hanya para pemimpin negara, dan bukan hanya para anggota partai. Tapi kita semua. Oleh karena itu, mari kita benahi diri kita dan jangan mau menjadi budak dari uang. Ingatlah uang itu adalah buatan manusia. Dan yang lebih utama daripada turun ke jalan dengan anarkis yang membuat jalanan macet dan mengancam keamanan lingkungan, daripada menyalahkan orang lain, lebih baik membenahi diri dan berkarya positif bagi bangsa dan negara. 

Note : Jangan tanyakan apa yang sudah diberikan negara kepadamu, tapi tanyakanlah apa yang sudah kita berikan kepada negara.

Thursday, 27 November 2014

Our beloved, Jordan

Hari ini atau besok adalah tanggal yang diprediksi oleh dokter bahwa aku akan melahirkan bayiku. Aku sudah mempersiapkan hari ini semenjak dokter mengatakan hal itu kepadaku dan suami. Ya, seharusnya hari ini aku dan suami akan bertemu dengan anak kami, menyambut kehadirannya di kehidupan kami. Tapi, manusia hanya bisa berencana selebihnya Tuhan yang menentukan. Atas izin Tuhan, dia hadir dan tumbuh di dalam kandunganku selama 28 minggu. Atas izin Tuhan juga akhirnya dia lahir ke dunia lalu kemudian kembali kepadaNya.

Semuanya masih seperti mimpi bagiku. Terjadi begitu sangat tiba-tiba dan cepat. Menikah, hamil, melahirkan, bayiku meninggal, dan aku kehilangan pekerjaanku. Itu semua terjadi di dalam 28 minggu. Kehidupanku berjalan begitu sangat cepat. Belum puas aku merasakan sukanya, duka sudah datang menyerangku tepat di bagian yang tidak dapat kusembuhkan.
Memasuki bulan November 2014 ini, aku tidak pernah yakin bisa melaluinya tanpa air mata. Aku tidak bisa mengontrol air mataku dan menyadari bahwa bayiku telah kembali kepada Tuhan. Aku masih sangat ingin melahirkan dia hari ini atau besok, bukan dua bulan yang lalu. Bulan ini seharusnya menjadi momen pelengkap kebahagianku dan suami, bukan seperti ini, bulan yang penuh dengan air mata.

Ajaibnya, entah dari mana kekuatan itu datang, Sejak tanggal 24 November sampai hari ini aku tidak menangis lagi. Mungkin karena air mataku sudah kering dan kepalaku sudah mulai pusing. Yang tersisa adalah rasa jenuh di rumah, kekuatiran akan perekonomian kami, dan kekesalan setiap kali melihat tubuhku di cermin (berat badanku yang belum kembali normal). Dan tentu saja rasa iri melihat mereka yang memiliki kesempatan untuk melahirkan bayi mereka dengan sehat dan hidup.

Bayiku, anakku Jordan telah kembali kepada Tuhan. Kepergiannya kepada Tuhan, juga membawa kebencianku akan hidup, kebenciaanku akan lingkunganku, dan rasa frustasiku. Mungkin  bayiku Jordan tidak menyadarinya atau mungkin untuk itulah Tuhan menghadirkannya di dalam kandunganku, untuk aku bisa berdamai dengan masa laluku, berdamai dengan mereka yang membuatku tertekan, berdamai dengan kehiduapan yang telah Tuhan rencanakan. Karena setelah bayiku pergi, aku tidak merasakan kebencian itu lagi, rasa tertekan itu lagi, Setelah bayiku pergi, aku melepaskan semua sesak itu. Untuk sesaat aku pernah merasakan ketenangan, merasakan kenyamanan, dan kebebasan.

Akan tetapi sekarang aku kembali tertekan, aku kembali frustasi. Kesendirianku di rumah membuatku bosan dan penat. Belum lagi ketakutanku akan masa depan, bagaimana aku dan suami bisa melanjutkan hidup tanpa kehadiran uang, Biar bagaimanapun aku butuh pekerjaan untuk kami bisa melanjutkan hidup. Mungkin itu pula yang membuat air mataku berhenti ke luar karena aku masih harus memikirkan mendapatkan pekerjaan secepat mungkin demi berbagai macam tagihan harus dibayarkan, Sepertinya, badai itu belum berlalu di dalam kehidupan keluarga kecilku. Aku masih harus tetap berjuang mengahadapi badai selanjutnya. 

Apa yang kualami selama setahun ini, sangat berbeda jauh dari yang kuimpikan.

Impianku, aku akan menikah dimana orang tuaku akan memberikan dukungan psikologis. Moment memberikan ulos hela akan menjadi kenangan terindah yang akan kukenang sepanjang hidupku. Aku akan hamil dan melewatinya dengan penuh kebahagiaan karena akan banyaknya cinta yang kudapatkan dari orang tua, sahabat, dan lingkunganku. Aku akan melahirkan bayi yang sehat dan lucu. Pekerjaanku akan berjalan lancar dan aku akan dipromosikan. Impian yang sangat sederhana, bukan? Aku tidak berharap banyak, hanya dukungan dari mereka yang terkait denganku. Tapi semua impian itu hanyalah impian. Hanya ada di dalam otakku saja. Kenyataannya, pernikahanku menjadi sesuatu yang ingin kuhapus dari memoriku karena orang tuaku telah membuatnya menjadi momen terburuk di dalam hidupku. Hal itu pula yang menjadi salah satu penyebab betapa aku sangat tertekan ketika masa-masa kehamilanku. Satu-satunya dukungan psikologis yang kudapatkan hanya dari suami. Itupun tidak maksimal karena biar bagaimanapun dia adalah manusia biasa dengan segala keterbatasannya. Sahabat dan teman-teman sibuk dengan rutinitas mereka, lingkungan yang tidak ramah kepada ibu hamil, dan aku kehilangan pekerjaan.

Untuk ini semua, aku harus berdamai. Dan kepergiann anakku Jordan telah membantuku untuk berdamai walau aku tahu suatu hari kelak, badai ini akan datang kembali.
Aku hanya bisa menjalaninya saja dan berharap Tuhan masih akan bermuarah hati kepadaku dan suami. Aku tidak meminta banyak kepadaNya, hanya kekuatan, Kekuatan untuk melanjutkan hidup, kekuatan untuk bangun di pagi hari, kekuatan untuk turut berbahagia dengan mereka yang diberikan kesempatan membersarkan bayinya, kekuatan untuk bersyukur kepadaMu untuk setiap hal yang aku dan suami peroleh di dalam hidup ini, kekuatan untuk terus beriman dan berharap bahwa Kau adalah Tuhan yang akan selalu memberikan kami segala yang kami butuhkan. Hanya itu Tuhan, aku dan suami membutuhkan kekuatan itu.

Kamis, 27 November 2014
Sampai jumpa, anak kami Jordan

Tuesday, 25 November 2014

halak batak do ho? (4)

Setelah menikah, pasangan batak diwajibkan untuk mengikuti kegiatan adat, bukan hanya mengikuti tetapi juga mempelajari setiap prosesi adat. Sangat melelahkan dan menyita waktu, pikiran, materi, dan tentu saja mental. Karna bukan adat batak namanya kalau tidak dibumbui dengan konflik. Semegah apapun kegiatan adatnya atau selancar apapun kegiatan itu terlihat pasti akan selalu ada konflik di dalamnya. Tidak jarang, bagi kami para pasangan muda batak akhirnya banyak yang memilih untuk tidak terlibat terlalu jauh atau bahkan bersikap apatis dengan keberlanjutan budaya batak. Jauh lebih menyenangkan untuk mempelajari budaya bangsa lain dibandingkan melanjutkan budaya atau tradisi suku sendiri. Rumput tetangga selalu lebih hijau, bukan?

Aku dan suamiku adalah termasuk pasangan batak muda yang menarik diri dari kegiatan adat batak. Bukan karena kami tidak menyukai adat batak melainkan banyak dari kegiatan batak itu telah melenceng dari tujuan utama adat itu berlangsung. Apalagi dengan pola pikirku yang idealis, membuatku merasa tidak sudi untuk membagi waktu, tenaga, pikiran, dan bahkan materiku untuk mengikuti kegiatan adat batak. Aku bersedia melakukan sesuatu apabila itu memang cukup berharga untuk dilakukan. Aku bukan tipikal orang yang mau melakukan sesuatu yang sia-sia, dan mengikuti kegiatan adat batak menurutku salah satunya. Dan, puji Tuhan suamiku pun sependapat denganku. Bagi kami keluarga muda, menjalani kehidupan keluarga dengan saling beradaptasi satu sama lain adalah yang terutama. Kami fokus dengan kebahagiaan kami dulu untuk saat ini. Sekali lagi, kami bukannya anti dengan setiap kegiatan adat batak, hanya saja kami memiliki prioritas yang harus diutamakan terlebih dahulu. Dan aktif di kegiatan adat bukan menjadi prioritas kami saat ini. 

Adalah hal yang mustahil untuk mengembalikan kembali tujuan utama pelaksanaan adat batak. Aku bahkan memprediksi 50 tahun lagi, kegiatan adat batak akan punah, khususnya di kota-kota besar seperti Jakarta dan sekitarnya.  Aku telah melakukan observasi di setiap adat batak dilaksanakan. Para orang tua kami telah gagal melakukan regenerasi kepada kami mengenai prosesi adat. Dalam setiap kesempatan, aku nyaris tidak menemukan pasangan muda seperti kami yang bersedia untuk terlibat aktif di dalam adat. Sampai saat ini, kegiatan adat hanya fokus bagi para orang tua saja, sementara kami anak-anaknya sibuk berfoto-foto dan meng-upload-nya ke dunia maya. Kami tidak memperhatikan setiap prosesi dan peran yang harus dilakukan. Kegiatan itu sangat membosankan bagi kami. Jangankan untuk mengerti prosesi adat berlangsung, menggunakan bahasa batak dengan baik dan benar pun kami sudah tidak mampu.

Sejujurnya, aku sangat tertarik untuk tahu mengenai prosesi setiap adat batak. Hanya saja, karena aku perempuan, hampir di setiap prosesi adat aku diwajibkan untuk selalu berada di balik layar, mempersiapkan minuman dan makanan bagi para lelaki. Ya, itulah tugas perempuan batak, di belakang untuk melayani setiap kebutuhan laki-laki. Hanya lelakilah yang bisa tampil di dalam adat.
Inilah alasan pertam yang paling tidak kusetujui dalam pelaksanaan adat batak. Betapa kami para perempuan dijadikan sebagai pelayan saja. Apalagi kalau yang mengadakan pesta adalah pihak laki-laki dari marga si perempuan, dimana dalam adat batak disebut "boru", maka jangan harapkan bisa duduk manis selama pesta berlangsung. Para boru-lah yang repot ke sana-ke mari untuk mempersiapkan segala sesuatunya. Sementara mereka yang disebut dengan hula-hula duduk manis memberikan perintah. Jadi, bisa disimpulkan setiap kali kegiatan adat batak berlangsung yang paling lelah adalah perempuan. Apalagi perempuan yang melakukan pelayanan kepada pihak laki-laki itu menggunakan pakaian yang sungguh tidak menyenangkan, yaitu kebaya dan suji dan tentu saja dengan rambut disanggul. Pekerjaan untuk melayani para laki-laki selama kegiatan berlangsung menjadi semakin menyiksa karena pakaian yang tidak mendukung untuk menjadi pelayan.
Aku juga tidak tahu pasti sejak kapan dan mengapa kebaya menjadi sesuatu yang sangat penting bagi perempuan batak. Setiap kali kegiatan adat diadakan, maka akan disanalah parade kebaya, berlian, tas KW berlangsung. Sepertinya perempuan-perempuan batak menjadi langganan tetap Pasar Baru - Jakarta.

Yang kedua adalah biaya yang sangat mahal untuk sesuatu yang disebut ego. Sebenarnya, biaya untuk pelaksanaan adat batak itu bisa berlangsung dengan biaya yang tidak terlalu banyak dan sederhana. Akan tetapi, adanya titah dimana para hula-hula wajib untuk mendapatkan yang terbaik untuk mendapatkan berkat. Padahal, berkat kan bukan dari hula-hula, berkat itu datangnya dari Tuhan dan telah diberikan kepada setiap mereka yang percaya kepadaNya. Karna kita percaya kepada Yesus maka kita akan mendapatkan berkat. Bukan karena kita "menyuap" hula-hula maka kita akan mendapatkan berkat. Itu adalah pemikiran orang batak dahulu kala, sebelum mereka mengenal Yesus, dimana hula-hula-lah yang memberikan berkat kepada mereka boru. Sekarang orang batak sudah mengenal Tuhan dimana Tuhan datang ke dunia untuk menunjukkan bagaimana caranya untuk mengasihi setiap manusia, bukan hanya hula-hula saja, tapi semua yang hidup.  
Selain untuk menyenangkan hati hula-hula, biaya yang banyak untuk pelaksanaan adat batak juga untuk  mendapatkan pengakuan dari orang di sekitar. Mendapatkan pujian bahwa pestanya berjalan dengan mewah adalah kebanggan tersendiri dan meningkatkan harga diri orang batak. Apalagi kalau bisa memberikan olop-olop yang banyak kepada hula-hula. 
Aku tidak setuju dengan hal ini karena mostly  semua ini dilakukan hanya untuk show off. Dan ini menjadi tamparan yang sangat memalukan bagi mereka yang tidak memiliki cukup uang. Menjadikan mereka minder dan tidak percaya diri yang akhirnya menimbulkan gap yang berujung kepada konflik.

Yang ketiga, orang batak percaya bahwa dalam adat batak berlaku hukum memberi dan menerima. Apa yang kau berikan itupula yang akan kau dapatkan. Rajin mengikuti adat, maka orang-orang pun akan banyak yang datang ke acara adat kita. Tak jarang, orang-orang yang tidak aktif di adat akan dikucilkan dalam kehidupan bermasyarakat. Hal inilah yang nantinya akan terjadi kepada kami (aku dan suami) kalau kami tetap mempertahakan posisi kami untuk menarik diri dari adat. Aku tidak menyukai sistem ini. Bagiku, keikutsertaan kita ke dalam suatu adat batak, misalnya ke acara pemakaman, aku datang ke sana untuk memberikan dukungan psikologis kepada yang berduka bukan supaya nanti ketika aku berduka, dia pun akan datang kepadaku. Ironisnya, ketika aku tidak datang kepada mereka di saat mereka mengalami musibah, katakanlah karena aku ada kegiatan lain, aku wajib memberikan sesuatu sebagai gantinya, bila tidak maka aku akan dikucilkan, bahkan ketika aku lupa. Aku lebih baik memilih mereka tidak datang kepadaku kalau memang hanya mengharapkan agar nanti aku juga akan melakukan hal yang sama kepada mereka. Bisa disimpulkan adat batak adalah mengenai utang-piutang. 
Padahal bukankah di dalam Yesus dikatakan bahwa kasih itu harus tulus dan ikhlas, bukan pamrih?

Yang keempat, pelaksaanaan adat yang memakan durasi waktu yang panjang. Misalnya pernikahan, dimulai sejak pagi hari sampai malam hari. Memangnya kehidupan kita hanya untuk adat? Banyak pekerjaan rumah menjadi terbengkalai bukan hanya itu kebersamaan antara orang tua dan anak-anak pun menjadi terbatas hanya karena orang tua sibuk di adat sementara anak-anak dibiarkan melalui harinya dengan aktivitasnya. Inilah kehidupan orang batak, senin sampai dengan jumat kedua orang tua bekerja di kantor, berangkat pagi pulang malam. Hari sabtu mengikuti kegiatan adat dimana ini akan berlangsung sepanjang sabtu, besoknya ke gereja dan kebanyakan menghabiskan seharian juga karena akan banyak kegiatan di gereja, mulai dari rapat majelis, latihan paduan suara atau bahkan mengikuti arisan. Lalu kapan ada waktu untuk keluarga? Jangankan untuk keluarga, untuk diri sendiri pun nyaris tidak ada. Beginikah hidup yang diharapkan untuk menjadi pasangan keluarga batak? Aku dan suamiku sepakat untuk tidak menjalani kehidupan yang demikian. Kami berjanji di hadapan Tuhan untuk hidup menjadi pasangan yang saling berbagi bukan untuk aktif di kegiatan adat batak.

Sampai saat ini aku masih terus berpikir dan berpikir, bagaimana caranya untuk menerapkan adat batak tanpa harus mengorbankan seluruh kehidupanku untuk adat? Aku dan suami mencitai adat batak tapi kami berdua dengan tegas menolak untuk menjadi budak adat batak. Selain menjadi orang batak kami, kami juga bagian dari kelompok masyarakat lainnya. Kami memiliki komunitas di luar adat batak yang menuntut perhatian kami juga. Di atas semua itu, kami berkewajiban untuk menikmati kehidupan keluarga kami dengan berkualitas. Itulah tujuan utama kami menikah, untuk saling berbagi satu sama lain. Dan menjadi pasangan batak adalah bonus bagi kami, seperti layaknya bonus, kami memilih untuk menunda menggunakan bonus itu sekarang. 
Mungkin ini adalah pernyataan sombong dari kami jika kami mengatakan bahwa untuk saat ini, menjauh dan membatasi diri dari perkumpulan batak adalah yang terbaik bagi kami. Sejauh ini, sepertinya kami lebih nyaman untuk fokus dengan kehidupan keluarga, antara suami dan istri, dengan para ipar, dan mereka yang memiliki hubungan darah dengan kami.




Enjoy The Little Things

Untuk semua manusia di dunia ini, kematian mungkin menjadi sesuatu yang ingin dihindari. Nyaris tidak ada yang menginginkan kematian itu cepat datang. Kecuali apabila si manusia tersebut mengalami hal buruk dimana kematian menjadi salah satu cara pintu  ke luar. Pada umumnya, semua orang ingin hidup selama mungkin di dunia ini dan bahkan sesungguhnya banyak manusia juga yang berharap tidak mengalami kematian itu, ingin hidup abadi. Ilmu pengetahuan dan tingkat peradaban manusia semakin berkembang dimana tujuan implisitnya adalah  untuk menghindari kematian.Sampai sekarang, manusia masih terus berusaha mencari celah menghindari kematian, walaupun para filsuf dan tokoh agama sudah menyimpulkan bahwa satu-satunya yang tidak dapat dihindari oleh manusia adalah kematian. Kematian itu akan datang kepada setiap manusia.

Dua bulan yang lalu aku baru menyaksikan kematian anakku. Aku dan suami menjadi saksi utama dari setiap usaha untuk menghindari kematiannya. Kami mempercayakannya kepada para medis dan berbagai tretment-nya. Saat itu kami seperti berjudi, walaupun kami sudah tahu dan menyadari betul bahwa kematian tidak dapat dihindari akan tetapi sebagai orang yang percaya kepada Yesus, kami masih memiliki harapan bahwa kami bisa menghindari kematian itu. Ketika kematian itu datang, aku yang memiliki karakter logis langsung menggunakan kognitifku bahwa tidak ada yang bisa kami lakukan untuk menghindari kematian. Aku sangat menyadari posisiku saat itu. Berbaring di tempat tidur operasi, tanganku digenggam oleh suamiku, aku kedinginan, dan kesadaranku belum pulih benar akibat bius, sinar lampu ruang operasi yang sangat terang, dan kesunyian- yang ada hanya aku dan suami. Aku memulai memikirkan dari hal-hal kecil ketika dokter mengatakan bahwa paru-paru bayiku belum berkembang secara sempurna dengan demikian semua peralatan harus dicabut karena tidak ada gunanya. Peralatan dicabut artinya kematian. Atau mungkin bahkan sebelum peralatan dicabut, kematian sudah datang menjemput bayiku.

Seperti yang sudah-sudah, aku berusaha menenangkan diriku. Aku tidak ingin terlihat lemah di mata semua orang yang ada di rumah sakit. Bagiku, ini semua sudah direncanakan, aku tinggal menjalaninya saja. Tidak ada yang bisa kuperbuat untuk menghindari kematian itu. Dan untuk air mata, akan ada masanya setelah semua orang berlalu atau ketika aku sendirian. Bagiku menangis sendirian itu jauh lebih puas dibandingkan ditemani. Dan bukankah masa berkabung dimulai ketika setiap orang di sekitar kita sudah kembali ke rutinitas mereka. Saat itu, di pikiranku adalah aku harus cepat sehat, meninggalkan rumah sakit ini untuk mengurangi setiap rupiah yang akan kami habiskan di rumah sakit (biaya rumah sakit adalah tanggungan kami berdua, tidak ada BPJS dan tunjangan dari kantorku), dan melanjutkan hidup serta jangan pernah bertanya MENGAPA? Semua pertanyaan boleh diajukan, kecuali kata tanya itu karena sampai kapanpun aku tidak akan pernah mendapatkan jawabannya dan hanya akan membuat dampak dari kematian itu terasa semakin berdarah-darah.

Selama masa pemulihan aku berusaha untuk tampil tegar di depan semua orang. Memberikan senyuman dan semangat untuk beraktivitas. Membuat target di dalam hidupku bahwa aku harus cepat sembuh dan tidak mau menjadi beban bagi siapapun. Bagiku, orang-orang tidak perlu tahu betapa aku sangat terguncang dengan kematian bayiku ini. Aku harus tampil bahagia dan menunjukkan betapa bersyukurnya aku karena masih diberikan kesempatan untuk merasakan ini semua. Aku berusaha fokus dengan apa yang kumiliki sekarang. Aku tahu ini semua akan berlalu, tidak ada yang abadi. Oleh karena itu, aku harus terus melangkah dan melanjutkan hidupku dengan harapan aku pasti bisa melalui ini semua. Ini tidaklah sesulit yang aku pikirkan, aku pasti bisa.

Setelah semua orang di sekitarku kembali ke rutinitasnya, mertua dan ibuku pulang ke rumahnya, ipar-iparku kembali kuliah dan bekerja, dan suamiku kembali melanjutkan kuliahnya di Bandung, bahkan pembantuku pun minta izin untuk pulang kampung, tinggallah aku sendirian di rumah menikmati setiap detik perjalanan kehidupan setelah kematian menjemput anakku. Aku menangis, meratapi kesedihanku, dan mengenang setiap moment yang bisa kugali dari memoriku tentang perjalananku dengan bayiku ketika dia masih di dalam rahimku. Aku marah pada kondii tempatku tinggal yang tidak ramah pada ibu hamil, aku mengasihani diriku sendiri untuk setiap air mata yang ke luar, aku kecewa pada tenaga medis tempat kami selalu konsultasi mengenai kehamilanku, dan aku merasa gagal.

Aku menjalani dua bulan setelah bayiku meninggal dengan tetap berusaha hidup. Mendengarkan kicauan burung di pagi hari, merasakan hangatnya sinar matahari yang masuk ke dalam kamarku, memeluk kesunyian pagi, dan berdamai dengan diri sendiri. Suamiku selalu berkata tidak ada yang salah, ini semua sudah dituliskan bahwa bayi kami tidak bisa tinggal bersama dengan kami lebih lama lagi. Mungkin, bagian yang paling sulit untuk kuhadapi adalah ketika aku harus bahagia untuk mereka yang memiliki kesempatan mendengarkan suara bayinya, memeluknya, dan melihat dia tumbuh di dunia ini. Tak jarang aku menghindari untuk tidak menyaksikan hal ini secara langsung, cukup memantau dari jauh saja dan dengan tulus mendoakan agar mereka tidak merasakan apa yang terjadi padaku.

Setiap pagi, walau berat aku harus bangun dan melanjutkan hidupku. Aku memulainya dengan hal-hal kecil yang kusukai. Golek-golek di tempat tidur sambil menikmati kicauan burung dan sinar matahari, main game candy crush di handphone, menulis blog, nonton film korea, mandi, memasak (mencoba berbagai resep baru dari buku masakan), bersih-bersih rumah, mencabuti rumput taman di depan dan di belakang rumah, dan memeluk setiap hal yang mengingatkanku dengan keberadaan bayiku. Aku benar-benar berusaha untuk hidup baik-baik saja. Seperti kata suamiku, kapan lagi aku merasakan tiap hari seperti hari libur. Tidak perlu bangun pagi-pagi untuk berangkat ke kantor dan menghadapi kemacetan. Tidak ada tekanan pekerjaan dari kehidupan kantor. Tiap hari adalah hari libur, Aku bebas bangun jam berapapun tidak ada yang mengikat. Ya, inilah hal terbaik yang bisa kunikmati selama dua bulan terakhir ini, memiliki waktu tidur sesuka hati dan tidak menghadapi kemacetan jalan raya. Tapi sampai kapan? Aku bukan orang yang tercipta untuk berdiam diri di rumah. Aku adalah manusia pekerja.

Aku tak tahu akan hari esok. Aku juga tak tahu kapan badai ini akan berlalu. Yang aku tahu pasti badai ini pasti berlalu dan aku juga tak bisa memastikan apakah badai ini tidak akan datang kembali. Aku akan berusaha untuk baik-baik saja, tidak menjadi beban bagi siapapun, dan memeluk setiap kenanganku dengan bayiku dengan cinta dari suamiku. Enjoy the little things.


Sunday, 23 November 2014

Merantau

Di lingkungan dimana aku dibesarkan, merantau adalah sesuatu yang harus dilakukan dengan harapan untuk mendapatkan kehidupan yang lebih baik. Kedua orang tua dari orang tuaku pun melakukan hal yang sama. Kakek nenek dari pihak ayahku berasal dari desa kecil di Pulau Samosir, namanya desa Aek Rihit. Desa ini terletak di daerah pegunungan kurang lebih empat jam dari tepi Danau Toba dengan jalan kaki. Kehidupan di desa ini sangat jauh dari sejahtera. Kelangkaan air bersih, listrik belum masuk desa, dan tanah yang tidak subur. Keadaan hidup yang sangat memprihatinkan membuat kakek dan nenekku akhirnya memutuskan untuk membawa anak-anaknya merantau ke Balige, di desa Sangkar Nihuta.
Hal yang sama juga dilakukan oleh kakek dan nenekku dari pihak ibu. Mereka berasal dari Dolok Sanggul, desa Sigual. Keadaan yang kurang lebih sama dengan yang dialami oleh keluarga ayahku juga dialami oleh keluarga ibuku. Kelangkaan akan air bersih, belum terjangkau listrik, dan tanah yang tidak subur. Mereka pun merantau ke Balige, desa Sangkar Nihuta. Di desa inilah ayah dan ibuku bertemu dan memutuskan untuk menikah. Begitu juga denganku, di desa inilah aku mengenal suamiku. Bedanya, suamiku adalah putra desa dimana kami tinggal, bukan pendatang seperti keluargaku.

Masa kanak-kanak dan remajaku, aku habiskan di desa Sangkar Nihuta, Balige. Keadaan di desa ini memang sudah lebih baik dibandingkan dengan desa asal dari ayah maupun ibuku. Disini air bersih terjangkau, listrik sudah ada, dan tanahnya lebih subur walaupun kami tidak memiliki tanah untuk diolah (karna kami adalah pendatang di desa ini).  Keuntungan lainnya dari desa ini bahwa desa ini menjadi jalur darat utama antar kota maupun antar provinsi. Rumah orang tuaku tepat berada di pinggir jalan raya besar, yang diberi nama dengan Jalan Tarutung. Hal ini membuatku sudah terbiasa melihat bis-bis antar kota dan provinsi bahkan bis antar pulau melintas dari depan rumah orang tuaku. Bis-bis antar pulau adalah bis Antar Lintas Sumatera (ALS), bis PMH (saya lupa kepanjangannya), dan berbagai truk yang mengangkut bahan makanan dari Pematang Siantar ke Pulau Jawa.

Menjadi pendatang di desa ini tentu saja menjadikan orang tuaku tidak  memiliki tanah untuk diolah dan orang tuaku tidak cukup beruntung untuk menjadi karyawan kantor, maka mereka mencoba peruntungannya melalui jalur bisnis, yaitu berjualanan. Kondisi rumah orang tuaku yang strategis sangat dimanfaatkan baik oleh mereka untuk menjual makanan. Beberapa jenis makanan yang dijual oleh orang tuaku adalah mie gomak (masakan kuliner khas Batak), ketan, berbagai jenis gorengan (pisang goreng, ketan goreng, bubur kacang ijo goreng, bakwan, godok-godok, tahu isi, ubi goreng, dsb). Sementara untuk minuman, orang tuaku menyediakan kopi, teh manis, susu, teh susu, kopi susu, dan berbagai minuman kemasan lainnya. Banyaknya jenis jualan yang diperdagangkan oleh orang tuaku membuatku nyaris tidak pernah merasakan arti sebuah rumah karena rumah orang tuaku dimana aku dibesarkan adalah juga tempat orang tuaku membuka usaha mereka. Jadi, tidak heran apabila di rumah kami tidak ada ruang privacy karena apapun yang terjadi di rumah kami semua customer bisa menyaksikannya. Kehidupan kami seperti aquarium, tidak ada yang tersembunyi. 

Mungkin, dengan kondisi orang tuaku yang adalah perantau di desa ini dan seringnya bis-bis antar kota dan antar provinsi yang singgah di rumah orang tuaku membuatku banyak tahu tentang dunia luar dari desa ini. Tak jarang mereka yang singgah di rumah orang tuaku menceritakan kisah-kisah perjalanan mereka dan kehidupan suku-suku lain selain suku Batak Toba yang menjadi suku mayoritas di desa ini. Aku tidak ingat pasti, mungkin merekalah yang memperkenalkan berbagai jenis suku dan karakteristik dari suku-suku tersebut kepadaku selain dari pelajaran di sekolah dan surat kabar yang aku baca tentunya. Inilah salah satu keuntungan yang kumiliki menjadi anak penjual makanan, wawasanku mengenai kehidupan orang-orang yang berbeda suku dan agama denganku. Aku telah mengetahui keberadaan mereka melalui cerita-cerita para customer  orang tuaku.

Aku juga tidak yakin sejak kapan keinginanku untuk merantau lahir. Yang aku ingat, ketika aku kelas lima SD, aku sudah mengutarakan ke beberapa teman-temanku bahwa suatu hari nanti aku harus merantau. Aku tidak mau tinggal di desa itu selamanya. Dan satu-satunya alasan untuk merantau yang cukup elegan adalah study. Di Balige tidak ada universitas. Universitas adanya di Medan, ibukota provinsi Sumatera Utara. Akan tetapi entah mengapa sejak aku tahu keberadaan Medan, aku tidak pernah berniat untuk merantau ke sana. Sasaranku adalah Pulau Jawa. Merantau sejauh mungkin dan kalau Tuhan berkehendak ke Eropa atau Amerika.

Dan disinilah aku sekarang, di Pulau Jawa, provinsi Jawa Barat. Provinsi yang pertama sekali kuinjak ketika aku pertama sekali merantau. Sudah hampir sembilan tahun aku merantau. Tapi aku tidak merindukan desa dimana aku dilahirkan dan dibesarkan. Dan aku tidak memiliki keinginan yang kuat untuk pulang selain untuk hal-hal yang penting. Tidak ada satupun yang kurindukan dan yang mendesakku untuk pulang selain dari kewajiban. Mungkin sejak awal aku memang tidak pernah menjadi bagian dari desa dimana aku dilahirkan dan dibesarkan. Bagiku, desa Sangkar Nihuta hanyalah bagian dari sejarah kehidupanku tanpa ikatan emosi. Sepertinya aku telah menjadi perantau yang durhaka, perantau yang lupa akan kulitnya. Entahlah. Aku bangga menjadi orang Batak dan sungguh menyenangkan menjadi seorang perantau dan memiliki kampung halaman, tapi tidak untuk ditinggali.

Tahun ini, aku telah resmi menjadi warga Jawa Barat. Aku memiliki rumah dan belajar untuk bermasyarakat. Saat ini, aku memang menjadi warga minoritas dari suku dan agama di lingkungan yang sedang dan akan kujalani kelak. Berbeda dengan dimana aku dilahirkan dan dibersarkan, disana aku menjadi warga mayoritas baik dari suku dan agama. Dulu, aku tidak perlu sehati-hati sekarang dalam bermasyarakat. Disini aku harus belajar untuk sangat bertoleransi dan belajar untuk bertahan dengan kebisaan yang berbeda dari lingkungan dimana aku dibesarkan. Cukup menguras mental untuk bisa beriringan bersama-sama dengan mereka yang berbeda kebiasaan hidup. Kebiasaan orang batak dan Kristen memiliki perbedaan yang sangat besar dengan kebiasaan orang Sunda dan Islam. Tapi, inilah tantangannya, menjadi warga yang toleransi dan tenggang rasa. Terima kasihku untuk guru-guru SD-ku yang sangat eager untuk mengajarkan nilai-nilai ini kepadaku ketika aku masih di kampung halaman. Walau aku tidak yakin, apakah kelak aku bisa mengajarkannya kembali ke anak-anakku karena kondisi yang sangat berbeda. Kalau dulu, guru-guruku mengajarkan nilai-nilai itu ketika aku adalah warga mayoritas dan bahkan ketika tidak ada perbedaan itu selama keberadaanku di dunia ini. Sementara kelak, ketika aku memiliki anak dan mengajarkan nilai itu, kami berada di lingkungan minoritas dan telah ada contoh konkritnya.

Inilah tantangannya. 



Wednesday, 12 November 2014

Sendiri

Aku tidak ingat sejak kapan dan mengapa aku menjadi orang yang malu untuk minta tolong, sebelum kulakukan yang bisa kulakukan dan sebelum ada penawaran bantuan. Aku tidak seharusnya menjadi perempuan yang selalu tampil kuat dan tegar. Aku seharusnya menunjukkan kepada orang-orang bahwa aku tidak memiliki kekuatan untuk melanjutkan beban ini. Tidak seharusnya aku memaksakan diriku untuk memikulnya sendirian. Tapi, disinilah aku, memilih untuk menjalaninya sendiri dengan Tuhan. Aku menutup semua pertolongan yang aku yakin akan selalu ada untukku. Karna aku tahu, aku dikelilingi banyak cinta. Cinta yang hanya akan datang di saat aku memutuskan untuk memintanya. Dan aku memilih untuk menjalaninya sendiri.

Sesungghuhnya, aku tidak tahu hendak melakukan apa dengan hidupku. Aku merasa bersalah apabila tidak melakukan apapun di dalam 24 jam. Aku merasa bersalah menghirup oksigen gratis tanpa berkarya. Aku merasa bersalah karena aku tidak bisa menjadi ibu rumah tangga atau menjadi istri yang melakukan segala pekerjaan rumah tangga dengan sangat baik. Aku tidak terlahir untuk melakukan itu. Aku tidak memiliki semangat, bahkan untuk membersihkan rumahku sendiri. Aku bahkan tidak tahu, apakah aku harus membuka mataku ketika jam enam pagi tiba. 

Apa yang terjadi pada diriku? Aku ingin sendirian tapi tidak mau menjalaninya tanpa ada seorang pun manusia di dekatku. Aku tidak mau bangun tidur tapi aku juga tidak mau tidur seharian. Aku tidak mau membersihkan rumahku tapi aku juga tidak mau meminta orang lain melakukannya dan aku tidak suka dengan hal yang kotor dan bau. Aku tidak tahu apa yang aku inginkan. Aku ingin bekerja tapi aku tidak yakin apakah aku sanggup untuk menghadapi kemacetan Jakarta? Aku bosan di rumah, yang kuanggap tidak ada yang bisa kukerjakan di rumah sementara ada begitu banyak pekerjaan.
Sesungguhnya, aku tidak tahu apa yang kuinginkan. Aku sama sekali tidak memiliki rencana apapun di dalam hidupku. Sepertinya semuanya menguap entah kemana.

Aku bahagia karena aku memiliki rumah, aku masih bisa makan, aku memiliki tempat tidur yang nyaman. Aku bahagia karena aku memiliki suami yang menurutku sangat mencintaiku. Tapi, aku tidak bisa mengontrol air mataku. Aku tidak memiliki semangat untuk ke luar dari rumah bahkan hanya untuk merasakan sinar matahari. Sesungguhnya, aku bosan menghabiskan tiap detik di rumah saja, akan tetapi aku tidak memiliki keberanian untuk melihat dunia luar. Dan disinilah aku, menikmati kesendirianku di dalam rumah, sendiri.

APTB Ciputat - Kota



Hari ini adalah hari yang cukup berat untukku secara mental dan psikologis. Untuk pertama kalinya, setelah aku melahirkan bayiku dan mengikhlaskan kepergiannya, aku kembali menggunakan bis APTB jurusan Ciputat - Kota. Oh iya, sebelum saya berbagi mengapa hari ini menjadi hari yang berat untukku, saya akan memperkenalkan bis ini terlebih dahulu. Bagi masyarakat yang tinggal di Jakarta dan sekitarnya, mungkin sudah tahu apa itu APTB.  APTB adalah Angkutan Perbatasan Terintegrasi Bus Transjakarta. Bis ini merupakan salah satu karya dari Jokowi ketika beliau masih menjadi Gubernur DKI Jakarta. Seperti namanya, pengadaan bis ini bertujuan  mengajak masyarakat yang berdomisili di daerah pinggiran Jakarta (seperti Ciputat, Bekasi, Bogor, dsb) tapi bekerja di Jakarta, untuk tidak menggunakan kendaraan pribadi. Diharapkan dapat mengurangi kemacetan di Jakarta, khususnya di jam-jam kantor dan untuk di daerah perkantoran (Jl. Sudirman, Jl. Rasuna Said lebih dikenal dengan Kuningan, dan Jl. Gatot Subroto) di Jakarta. Ada banyak bis APTB dengan berbagai tujuan daerah untuk kota pinggiran di Jakarta, salah satunya adalah bis APTB yang biasa aku pergunakan, APTB jurusan Ciputat - Kota dengan rute perjalanan Ciputat - Lebak bulus - Pondok Indah - Radio Dalam - Blok M - Sudirman - Sarinah - Harmoni - Glodok - Kota. Tarif untuk menggunakan bis ini sekali jalan adalah Rp 8.000,00 dimana transaksinya dilakukan di dalam bis. Akan tetapi apabila kita menggunakan bis APTB dari Jakarta khususnya di Jalan Sudirman, maka kita harus membayar sebesar Rp 3.500,00 terlebih dahulu untuk bisa masuk ke dalam halte transjakarta dengan menggunakn e-ticket. Secara pribadi, aku sangat terberkati dengan adanya bis ini. Bis ini memudahkan kami yang tinggal di daerah pinggiran Jakarta dapat dengan mudah untuk berkunjung ke Jakarta. Walaupun pengadaan bis ini, ternyata belum memberikan hasil yang signifikan untuk mengajak masyarakat Jakarta dan sekitarnya beralih dari kendaraan pribadi ke bis massal seperti ini.

Aku ulangi kembali, aku sangat terberkati dengan pengadaan bis ini. Akan tetapi, seperti public transportation pada umumnya di Jakarta, bis ini masih belum bisa memberikan kenyamanan kepada para penumpangnya, khususnya untuk ibu hamil. Aku yakin, inilah alasan utama mengapa masyarakat yang menggunakan kendaraan pribadi ke kantor belum mau beralih menggunakan public transportation di Jakarta, masih jauh dari nyaman! Jujur, aku sendiri yang dibesarkan dengan kekurangan tidak merasa nyaman menggunakan public transportation di Jakarta, apalagi mereka yang telah dibesarkan dengan kemewahan? Seandainya saya mempu membeli kendaraan pribadi, aku akan 100% lebih memilih untuk menghadapi kemacetan Jakarta di dalam mobil dengan duduk manis sambil membaca buku dilengkapi dengan AC dan musik favoritku dibandingkan dengan menggunakan public transportation yang penuh sesak, berdiri, dan menunggu untuk kedatangan bis yang cenderung  lama. Sungguh sangat wasting time dan stressfull)

Kembali ke APTB, tidak seperti bis transjakarta, di bis ini tidak disediakan kursi khusus untuk ibu hamil. Jadi, bagi ibu hamil yang berdomisili di daerah pinggiran Jakarta dan berkantor di Jakarta, menggunakan bis ini pada jam-jam sibuk di Jakarta, saya pribadi tidak menyarankannya. Adalah saya salah satu penumpang yang mengalami ketidakramahan selama menggunakan bis ini. Selama saya hamil, saya nyaris tidak pernah bisa mendapatkan tempat duduk  dari halte dimana saya menaiki bis ini. Saya akan dapat tempat duduk, apabila para penumpang ada yang sudah turun. Selama tidak ada penumpang yang turun, maka saya harus berpuas diri dengan berdiri di dalam kesesakan tentunya. Di samping itu, pengadaan bis ini tidak terlalu banyak sehingga harus menunggu 30 - 60 menit bahkan lebih di dalam halte transjakarta. Dan ketika bis datang, para penumpang yang memiliki tujuan ke Ciputat belum tentu bisa masuk ke dalam bis. Hal ini disebabkan, pada jam-jam sibuk di daerah perkantoran ada begitu banyak orang yang menggunakan bis ini walaupun tujuan mereka bukanlah ke Ciputat. Hasil dari pengamatan saya, mereka yang masuk ke dalam bis ini, tujuan utama adalah Blok M, Radio Dalam, dan Pondok Indah. Selama saya menjadi penumpang APTB jurusan Ciputat - Kota, bis akan kosong ketika telah melewati daerah ini. Dan biasanya, di daerah inilah saya akan mendapatkan tempat duduk, setelah banyak penumpang yang turun.  Alhasil, mereka yang rumahnya di Ciputat seperti saya akhirnya tidak memiliki ruang di bis itu dan harus menunggu bis APTB berikutnya dengan harapan bisa masuk ke dalam bis walaupun tidak mendapatkan tempat duduk.

Di usia 27 minggu kehamilanku, aku menggunakan bis APTB jurusan Ciputat - Kota untuk berangkat dan pulang kantor. Ketika akan berangkat ke kantor, aku tidak memiliki masalah dengan tempat duduk, karena aku naik dari perhentian pertama bis dengan kata lain aku selalu mendapatkan tempat duduk. Akan tetapi, ketika pulang kantor, aku harus berkompetisi dengan penumpang yang lain untuk bisa masuk ke dalam bis. Tak jarang aku kalah dalam kompetisi itu dan menunggu bis selanjutnya 30 - 60 menit bahkan lebih dengan berdiri, tentu saja. Kondisi seperti ini aku alami berhari-hari dalam keadaan hamil dan endingnya adalah tubuhku tidak kuat, aku mengalami pecah ketuban dini dan anakku tidak bisa diselamatkan. Bis APTB adalah bis yang terakhir aku gunakan ketika kejadiaan itu menyerangku. Di dalam bis ini pula, aku dan bayi di dalam kandunganku berkompetisi untuk mendapatkan kenyamanan. Dan di dalam bis inilah kenangan terakhirku dengan anakku yang membuatku terkoneksi dengan dunia luar.

Hari ini, untuk pertama kalinya setelah anakku pergi, aku kembali menggunakan bis ini. Aku ingat, pertama kali menggunakan bis ini, aku belum menyadari keberadaan anakku yang telah hadir di dalam rahimku. Tapi dia sudah ada. Kami bersama-sama menggunakan bis ini untuk pertama kalinya. Dan hari ini, untuk pertama kalinya aku menggunakan bis ini dengan sendirian. Itu sangat menyakitkan. Setiap inci dari bis ini mengingatkanku dengan perjuangan kami di dalam bis ini untuk bertahan sampai kami tiba di tujuan akhir kami, yaitu di Ciputat. Berdesakan dengan penumpang yang lain, kedinginan ketika hujan turun, kemacetan yang luar biasa, kami jalani bersama-s ama. Kenangan itu mungkin akan menjadi kenangan yang manis, seandainya anakku bisa bersama-sama denganku sekarang. Akan tetapi yang terjadi adalah aku harus mengikhlaskan anakku bersamaNya, sementara aku disini kembali melanjutkan kompetisi untuk mendapatkan kenyamanan di dalam bis ini. Inilah yang menjadikan hariku semakin berat. Bukan karena aku menjadi sendiri sekarang di dalam bis ini, akan tetapi karena bis ini mengingatkanku dengan anakku.

Seiring dengan terpilihnya Bapak Jokowi menjadi Presiden, aku sangat berharap banyak kepada beliau. Menjadikan Indonesia untuk lebih nyaman dihuni. Aku tahu, aku bukanlah satu-satunya orang yang berjuang di dalam public transportation pada jam-jam kantor. Dan aku yakin, di luar sana masih banyak yang memiliki pengalaman lebih menyedihkan terkait dengan public transportation di Indonesia pada umumnya dan di Jakarta pada khususnya. Melalui tulisan ini, aku ingin membagi ide dengan harapan mampu menjadikan Indonesia untuk lebih baik lagi. 

Sebagai masyarakat yang belum mampu membeli kendaraan pribadi dan masih bergantung dengan public tranportation, aku memiliki saran agar masyarakat Jakarta tidak terlalu mencintai jalanan Jakarta.
  1. Public transportation yang nyaman. Tidak harus pakai AC. Pemerintah sebaiknya sudah harus memperketat kembali jumlah penumpang di dalam bis yang melebihi kapasitas. Memang, telah ada peraturan jumlah maksimal di dalam satu bis, akan tetapi sampai hari ini, saya belum pernah mendengar ada tindakan nyata yang diberikan oleh Pemerintah kepada bis yang mengangkut penumpang melebihi kapasitas. Dengan menggalakkan kembali jumlah maksimal penumpang di dalam satu bis, hal ini akan mengurangi tindakan kriminal yang banyak terjadi di dalam public transportation yang menjadi sorotan utama bagi mereka yang masih menggunakan kendaraan pribadi.
  2. Meningkatkan jumlah armada bis pada jam-jam sibuk dan mengurangi kapasitas kendaraan pribadi dengan cara mengubah  3 in 1 menjadi 5 in 1.
  3. Kendaraan pribadi tidak diizinkan untuk menggunakan BBM bersubsidi.
  4. Khusus untuk APTB Ciputat - Kota, saya tidak setuju apabila petugasnnya menaikkan penumpang yang tujuan akhirnya adalah Blok M dari Sudirman pada jam sibuk. Hal ini memperkecil kesempatan penumpang yang tujuan akhirnya ke Ciputat untuk bisa masuk. Bagi mereka yang tujuan akhirnya Blok M, pemerintah telah menyediakan transjakarta. Seharusnya mereka lebih baik menggunkan tranjakarta saja.
Dan yang paling penting adalah bagi seluruh masyarakat Indonesia, kita dikenal sebagai masyarakat yang ramah dan baik di dunia Internasional. Sebaiknya karakter ini bukan hanya kita tunjukkan kepada masyarakat luar negeri saja, akan tetapi juga terkhusus bagi kita sesama bangsa Indonesia. Sekeras apapun kehidupan yang telah kita jalani, seberat apapun beban yang ada di pundak kita, marilah dengan berempati untuk memberikan tempat duduk kepada ibu hamil, orang tua, dan berkebutuhan khusus. Jakarta sesungguhnya adalah kota yang indah jikalau kita manusia yang tinggal di dalamnya bersikap ramah.