Thursday, 20 March 2014

Josua, Hadiah terindah dari Tuhan Yesus

Sudah sebulan lebih berlalu, aku melepaskan masa lajangku. Sudah sebulan lebih, aku menjadi seorang istri sekaligus seorang menantu. Dalam banyak hal belum ada yang berubah secara signifikan. Semuanya masih terlihat normal dan semoga ke depannya juga akan demikian. Beberapa teman menanyakan keadaanku, setelah menjadi seorang istri bagaimana rasanya? Lebih bahagia pasti, itulah jawabanku. Karena aku telah menerima hadiah terindah dari Tuhan, yang merupakan  jawaban doaku selama ini. Walau agak berbeda dari yang kuharapkan, karena sesungguhnya aku tidak mau menikah dengan laki-laki Batak dengan alasan trauma dimana sepanjang jalan kehidupanku aku tidak mendapatkan figur laki-laki Batak yang bertanggung jawab terhadap keluarga.

Di luar perkiraanku, Tuhan memberikan Josua sebagai suamiku. Aku tidak bisa bilang bahwa Josua adalah laki-laki sempurna. Bukan, dia adalah laki-laki biasa yang memiliki kekurangan dan pastinya karena dia orang Batak dan dibesarkan di tanah Batak dengan budaya Batak, kebiasaan Batak pastinya terukir juga di dalam karakternya. Tapi satu hal yang membuatku akhirnya menerima dia adalah karena dia  satu-satunya manusia di dunia ini yang mengutamakan kebaikanku, kebahagiaanku, kebutuhanku di atas segalanya. Mungkin, lakilaki yang mencintaiku tidak hanya dia, akan tetapi manusia yang mau bersedia mengorbankan kepentingannya demi kepentinganku sepertinya hanya dia. Hal ini tidak pernah kudapatkan dari siapapun selama dua puluh enam tahun aku hidup, bahkan dari orang tuaku sekalipun. Selama ini, aku yang harus selalu belajar mengalah dan mengerti. Dengan Josua, aku mendapatkan perlakuan yang sangat istimewa. Dia membuatku terlihat spesial dan sangat berharga. Aku menemukan self esteemku dari dia.

Saat ini, bagiku dia adalah segalanya, setelah Tuhan tentunya. Dia mendapatkan tempat yang terutama dan paling utama dalam kehidupanku dan dalam hatiku. Terkadang aku sering membalikkan kenyataan, bagaimana kalau seandainya Tuhan tidak memberikan Josua kepadaku? Apakah aku akan sekuat ini dalam menjalani setiap rencana yang Tuhan berikan dalam hidupku? Apakah aku masih bisa memiliki keseimbangan hidup? Josualah yang telah mengisi setiap lubang-lubang kosong yang ada di hatiku. Dia membuatku benar-benar bisa menjadi diriku sendiri tanpa harus mengorbankan perasaanku seperti yang kulakukan kepada siapapun selama ini. Dia mengajariku tentang bagaimana rasanya dicintai, diperhatikan, dan diapresiasi. Dan itulah alasan terkuatku untu  mengakhiri masa lajangku dan menerima Josua dari Tuhan Yesus sebagai hadiah terindah yang penah kumiliki. Akhirnya aku menemukan sebuah sandaran, sebuah tempat dimana aku bisa pulang, aku tidak pernah merasakan kesendirian lagi dalam hidup ini. Semua beban hidupku terasa lebih ringan karena ada Josua bersamaku.

Menurut Josua, cintanya kepadaku jauh lebih besar dibandingkan cintaku kepadanya. Menurutku, cinta kami berdua sama besar. Hanya saja, kami menuangkannya dengan cara yang berbeda. Kalau Josua membanjiriku dengan begitu banyak perhatian, aku membanjiri Josua dengan doa. Setiap detik hidupku, aku menyebut namanya dalam doa-doaku. Ucapan syukur yang begitu luar biasa kepada Tuhan Yesus yang telah hadir melalui Josua.

Josua, sama sepertiku bukanlah manusia yang sempurna. Dalam ketidaksemprnaan inilah, kami belajar untuk mengucap syukur kepada Tuhan Yesus yang telah menyatukan kami berdua, yang telah menanamkan panggilan menikah di hati kami. Baik Josua dan aku tidak tahu apa yang akan terjadi besok hari dan akan  bagaimana kehidupan kami, yang pasti kami berdua sama-sama berkomitmen apapun yang akan terjadi kami ingin melaluinya bersama-sama. Kami berdua tahu bahwa pernikahan ini tidaklah mudah, pernikahan ini bukanlah melulu soal cinta. Tapi kami berdua tahu bahwa Tuhan Yesus akan selalu bersama dengan kami, karena baik aku maupun Josua, sama-sama menerima diri masing-masing dari Tuhan Yesus. Josua menerimaku dari Tuhan Yesus demikian halnya denganku, aku menerima Josua dari Tuhan Yesus.


No comments: