Wednesday, 1 October 2014

Perjalan anakku (4)

DETIK – DETIK KEPERGIAN JORDAN
Banyak orang di dunia ini yang memiliki phobia. Termasuk aku. Kalau hal ini bisa dikategorikan dengan phobia. Perpisahan (baik sementara maupun selamanya, which means kematian), kesepian, kegagalan dan kegelapan adalah phobiaku. Aku bisa menangis berhari-hari, terdiam membisu alias marangan-angan setiap kali salah satu dari keempat atau keempat phobia ini kualami. Dan biasanya, aku mengakhirinya dengan tidur. Berharap dengan tidur aku bisa melupakan semuanya dan setelah bangun nanti semuanya akan kembali normal. Jadi, apabila phobia ini datang, obatku adalah tidur.
Selama kurang lebih 27 tahun di dalam hidupku aku hidup dengan mereka. Dan ketika Tuhan memberikan Josua, yang sekarang menjadi suamiku, salah satu dari phobiaku, yaitu rasa kesepianku berangsur-angsur mulai pudar. Walau belum bisa dikatakan pudar menyeluruh. Akan tetapi semenjak 8 Februari 2014, kami menikah dan sebulan kemudian aku mengetahui kalau aku sudah hamil, phobiaku sudah jarang muncul. Aku dan suamiku semakin bahagia karena kami berharap bahwa anak ini akan menjadi penghilang rasa kesepianku, khususnya ketika suamiku pergi melakukan tugas kantor alias dinas ke luar kota.
Ketika aku hamil, hampir sama dengan ibu hamil pada umumnya, memiliki ciri khas tertentu. Aku tidak mau jauh dari suamiku, bahkan ketika kami sama-sama di rumah aku harus tahu dan melihat keberadaan fisiknya. Aku tidak bisa jauh dari dia walau hanya semeter pun. Yups, kata orang itu adalah bawaan bayi. Akan tetapi bagiku itu adalah penenang hatiku. Entah mengapa sejak aku hamil, aku merasakan ketidaknyamanan di dalam hatiku yang tidak bisa aku definisikan. Ketika aku mencoba cari tahu di internet, dikatakan bahwa memang adalah normal ibu hamil memiliki rasa ketidaknyamanan. Dan aku pun berusaha untuk menerimanya.
Selama aku hamil, suamiku berulang kali melakukan perjalanan dinas ke luar kota. Sesungguhnya hal itu sangat menyakitkan bagiku. Berpisah dengannya membuatku merasa semakin kesepian, khususnya ketika kegelapan malam datang. Tapi, kami tidak ada pilihan lain, dan aku pun berusaha untuk melawan phobiaku. Dalam hati aku selalu berkata bahwa kami (aku dan anakku Jordan) pasti bisa melalui ini semua. Kami harus kuat dan harus kuat. Aku sering sekali menyuarakan ini ketika suamiku melakukan perjalanan dinas ke luar kota. Dan tentu saja agar suamiku juga merasa tenang dalam melakukan pekerjaannya. Apalagi, aku tahu bahwa hanya melalui perjalanan dinaslah kami memiliki penghasilan tambahan. Di samping itu, suamiku akan memiliki semangat baru di dalam menjalankan pekerjaannya. Sesungguhnya bekerja di kantornya yang sekarang bukanlah passionnya, dengan melakukan perjalanan dinas ke luar kota, dia bisa mendapatkan tenaga baru untuk dia bisa menikmati hidupnya. Yups, suamiku sangat menikmati perjalanan dinasnya, karena sesungguhnya dia suka berpetualang.
Memasuki bulan kelima usia anakku di dalam kandungan, kami diberitahu bahwa beasiswa study yang diperoleh suamiku mengharuskan dia untuk kuliah di Bandung. Dengan kata lain, kami akan berpisah, suamiku di Bandung dan aku di Sawangan di rumah kami. Ketika mengetahui hal ini, aku semakin ketakutan dan tidak percaya diri apakah bisa melanjutkan kehidupan ini tanpa suamiku di sisiku. Bagaimana aku bisa kuat melawan phobiaku, perpisahan, kesepian, dan kegelapan malam, apalagi dengan kondisi hamil? Aku shock! Tapi aku tidak bisa terlalu menunjukkan ketakutanku di hadapan suamiku. Aku berusaha setegar mungkin di depannya dan meyakinkannya bahwa aku akan baik-baik saja. Aku dan anakku pasti bisa melalui ini semua. Aku tertekan, iya! Bukan hanya itu, kepergian suamiku ke Bandung untuk kuliah itu sama artinya juga bahwa pendapatan kami akan berkurang. Sementara aku sudah sangat ingin mengundurkan diri dari kantor karena tekanan pekerjaan yang aku terima di kantor membuatku sesak nafas. Perjalanan dari kantor ke rumah juga sungguh perjuangan yang sangat menguras energiku. Dalam situasi seperti itu, aku ingin sekali tidur seperti yang selalu kulakukan ketika phobia dan masalah datang kepadaku. Tapi aku tidak bisa tidur, aku harus bangun pagi dan pulang ke rumah di malam hari, karena aku harus bekerja. Aku akui, situasi saat itu adalah perjuangan mental, emosi, fisik, pikiran, dan psikologis yang sangat luar biasa kepadaku. Dan, katanya semua itu juga berpengaruh besar kepada anak di dalam kandunganku.
Bulan Agustus, bulan dimana suamiku akan berangkat ke Bandung. Bandung dan Sawangan memang dekat, hanya 6 jam saja, itu pun karena macet. Tapi aku tetap tidak percaya diri melanjutkan kehidupanku tanpa suamiku di sisiku. Apalagi saat itu aku sudah memasuki usia hamil tua, dimana aku sangat membutuhkan suamiku. Orang yang satu-satunya aku merasakan kenyamanan di dunia ini. Sebenarnya aku ingin sekali mengatakan kepada suamiku agar dia mengundurkan diri dari perkuliahannya, tapi aku tidak mau dikatakan egois, aku tidak mau suamiku melakukannya hanya karena aku. Sudah cukup apa yang telah dia korbankan padaku selama ini. Apalagi sudah tiga kali dia mencoba untuk mendapatkan beasiswa ini, jadi aku tidak mau menjadi penghalang untuk dia bisa mengaktualisasikan dirinya.
Karena ini adalah bulan terakhir sebelum suamiku berangkat untuk kuliah ke Bandung, aku berharap bahwa kami akan melewatinya dengan berdua. Akan tetapi, atasannya meminta dia untuk melakukan perjalanan dinas dan selalu lembur. Lagi-lagi, aku harus menguatkan diriku dan menguatkan anakku. Memang begitulah kondisinya, aku harus mendukung suamiku. Dan aku harus kuat, harus bisa melawan phobiaku. HARUS! Kenyataannya, semakin aku berusaha untuk melawan phobiaku, semakin aku terpuruk. Dan aku mengingkari itu semua. Sesungguhnya aku gagal melawan phobiaku. Aku ketakutan, sangat ketakutan, dan aku semakin terpuruk. Tapi aku tidak bisa menunjukkan kepada suamiku atau kepada siapapun. Satu-satunya manusia yang mengetahui hal itu hanyalah anakku. Anak yang ada di dalam kandunganku.
Di akhir bulan Agustus, yaitu tanggal 22 Agustus 2014 seperti biasa kami melakukan pemeriksaan ke dokter obgyn di Rumah Sakit Hermina dibantu oleh dokter Riyana. Hasil pemeriksaan semuanya baik, tak ada masalah, kecuali kakiku yang masih bengkak. Beliau masih memberikan saran yang sama untukku yaitu agar aku rajin olah raga. Hari seninnya suamiku berangkat ke Bandung, tinggallah aku dan anakku di rumah. Sebelum dia berangkat aku sudah mempersiapkan hatiku untuk menghadapi phobiaku, ketika hari itu tiba, aku berhasil menyembunyikannya dari suamiku. Tapi tidak ketika dia telah di pergi. Rasa ketakutanku, tekanan dari kantor, tekanan dalam perjalanan dari kantor ke rumah membuatku semakin tersudutkan. Aku berjuang agar anakku tidak ikut serta merasakannya, tapi aku tidak yakin dia tidak kena dampaknya.
Tanggal 30 Agustus 2014, aku mengalami pecah ketuban dini. Saat itu perasaanku sudah kosong, no emotion sama sekali. Aku melihat suamiku sudah sangat ketakutan, naluriku langsung berkata, tenangkan suamimu. Jangan buat dia down. Aku sudah tidak memiliki emosi apapun, hanya penilaian akan emosi yang ditampilkan oleh suamiku. Suamiku menghubungi taksi dan aku menghubungi Rumah Sakit Hermina. Sesampai di rumah sakit hermina, dokter Riyana tempat kami biasa konsultasi tidak bisa datang karena anaknya sakit dan tidak ada dokter pengganti. Yang menangani kami hanya bidan, aku diminta untuk opname dan menunggu dokter Riyana sampai besok harinya. Aku diimpus, tekanan darahku diukur, gerakan dan denyut jantung anakku dimonitor, semuanya masih normal.
Tiba-tiba aku menyaksikan suamiku menangis ketika dia menelepon ibunya. Saat itulah emosiku muncul kembali. Yang semula aku tidak merasakan apapun, saat itu aku merasa rapuh, dan merasa tak berdaya. Dan disitulah phobiaku muncul kembali. Aku terguncang dan shock. Aku telah gagal. Gagal melawan phobiaku. Aku tidak bisa gagal. Tidak bisa. Aku ingat, ada Tuhan Yesus. Tuhan Yesus tolong aku, tolong anakku, tolong suamiku. Apa yang telah aku lakukan? Air mataku pun mengalir, dan aku berkata kepada suamiku bahwa semuanya akan baik-baik saja. Ya, semuanya akan baik-baik saja. Walau naluriku berkata lain, aku berusaha menyangkalnya.
Suamiku menghubugi adiknya untuk membawa perlengkapan kami dari rumah ke rumah sakit. Dan tinggallah kami berdua di dalam rumah sakit. Ada seberkas rasa bahagia di hatiku, karena suamiku ada bersamaku. Apapun yang akan terjadi, aku siap menghadapinya asalkan suamiku ada bersamaku, tepat di sampingku. Tak ada kekuatiran, karena bagiku suamiku adalah kekuatan yang dikirimkan Tuhan untukku dalam menjalani kehidupan ini. Dan satu lagi, aku tidak akan menghadapi kemacetan dari rumah ke kantor lagi, untuk sementara waktu aku tidak menghadapi tekanan pekerjaan dari kantor lagi. Yups, di tengah-tengah perjuanganku dan anakku, aku menemukan sukacita yang besar.
Besok harinya sekitar jam 12 siang, dokter Riyana datang. Dari mimik wajahnya aku tahu bahwa dia tidak mengenal kami, jikalau dia tidak membaca riwayat medisku  sudah dipastikan dia lupa 100% denganku. Anakku diperiksa USG, dan dia mengatakan bahwa air ketubanku sudah berkurang hampir setengah. Kehamilanku tidak bisa dilanjutkan, anak kami harus segera dilahirkan dan membutuhkan NICU. Akan tetapi karena NICU di rumah sakit itu sangat mahal, dia merujuk kami ke rumah sakit Fatmawati dimana dia memiliki kolega yang praktek di rumah sakit Fatmawati yang juga praktek di rumah sakit hermina. Hanya itu, dia langsung meninggalkan kami. Setelah jam 4 sore, tidak ada tindakan sama sekali dari pihak rumah sakit dan dokter. Aku pun meminta suamiku untuk menanyakan kembali mengenai statusku ke pihak rumah sakit. Akhinya seorang dokter jaga masuk dan mengatakan bahwa mereka tidak bisa membantu kami untuk memberikan rujukan rumah sakit yang memiliki NICU dengan alasan semua rumah sakit yang mereka hubungi menolak karena NICU mereka tidak available. Demikian halnya dengan rumah sakit hermina, proses melahirkan tidak bisa dilakukan disana karena ternyata NICU mereka sudah habis dipakai oleh pasien yang lain.  Rumah sakit yang dirujuk oleh dokter Riyana yaitu rumah sakit Fatmawati pun menolak kami karena NICU mereka telah dipakai oleh pasien lain. Kami menanyakan keberadaan dokter RIyana, dan dikatan bahwa dokter Riyana sudah pulang. Kami minta nomor teleponnya, mereka bilang tunggu kami tanyakan dulu apakah yang bersangkutan bersedia memberikan nomornya. Saat itu aku ingin sekali memaki dokter Riyana. Sia-sia sudah kami selama ini konsultasi dengan dia, kami sudah bayar mahal, ketika saat seperti ini dia malah membuat kami menunggu 14 jam, tindakan yang dia berikan juga sungguh tidak membantu sama sekali, dan langsung meninggalkan kami tanpa bantuan sama sekali. TEGA SEKALI! Dalam hati, aku tidak akan pernah datang ke rumah sakit ini lagi, dari awal aku juga sudah tidak nyaman dengan rumah sakit ini. Rumah sakit dan dokter Riyana sangat mengecewakan kami.
Bahkan untuk memberikan kami mobil ambulance pun pihak rumah sakit tidak mau, dengan alasan apabila kami menggunakan ambulance mereka tidak akan ada rumah sakit yang bersedia menerima kami. Oh iya, mereka juga tidak mau memberikan surat rujukan. Terpaksa suamiku mencari pinjaman mobil dari teman kantornya. Kami pun bergegas mencari rumah sakit yang memiliki NICU. Untuk setiap kekecewaan kami di rumah sakit Hermina, kami membayar dua juta! Masuk tanggal 30 Agustus 2014 jam 22.00 WIB, ke luar 31 Agustus 2014 jam 17.00 WIB. Tindakan yang dilakukan? Diimpus, diberikan obat pematangan paru dua kali, obat menghentikan kontraksi 3 kali, USG, dan saya opname di ruangan bersalin. Luar biasa bukan? Bisnis adalah bisnis.
Dari rumah sakit hermina, kami ke rumah sakit fatmawati, di sana kami ditolak karena tidak ada NICU. Ada dua rumah sakit swasta lainnya yang kami datangi sebelum akhirnya kami ke RSCM (aku lupa nama rumah sakitnya yang hasilnya sama, mereka tidak ada NICU). Sekitar jam 7 malam, kami tiba di RSCM. Kami ditanyai banyak hal dan disambut oleh dokter yang sedang dalam proses belajar alias koas. Mereka sangat jutek dan tidak memiliki rasa empati sama sekali demikian halnya dengan perawatnya. Berulang kali mereka memperlakukanku seperti pencuri yang ketahuan. Mereka menanyakan mengapa baru sekarang datang ke rumah sakit kalau sudah tahu pecah ketuban. Kami pun menjelaskan bahwa aku sudah opname satu malam di Rumah Sakit Hermina. Mereka meminta surat rujukannya, Rumah Sakit Hermina tidak mau memberikan surat rujukan karena mereka berasumsi bahwa apabila mereka memberikan surat rujukan bahwa kami akan ditolak oleh pihak rumah sakit yang akan kami tuju. Pihak RSCM mengatakan, kata siapa kami akan menolak pasien, RSCM tidak mungkin menolak pasien. Hanya saja, disini tidak ada NICU, kami akan menangani anda dengan fasilitas yang ada. Yang perlu anda ketahui, usia kandungan anda belum cukup umur untuk dilahirkan, kami akan memberikan pematangan baru dan kehamilan tidak bisa dilanjutkan. Untuk kasus anda, setelah lahir akan langsung dimasukkan ke NICU dimana peluangnya hidup 60 %, apalagi kalau tidak di NICU. Aku di USG, dan dia mengatakan bahwa usia kandunganku 29-30 minggu, air ketuban sudah habis, dan sudah bukaan 1. Lalu aku mengatakan, tadi aku USG di Rumah Sakit Hermina usia kandunganku 27 minggu. Lalu dokter yang lagi koas dengan wajahnya yang jutek mengatakan kata siapa usia kandunganmu 27 minggu, dan dia langsung berlalu meninggalkan aku.
Dari jam tujuh malam sampai jam 12 dini hari, tidak ada dokter yang datang. Tidak ada air minum, tidak ada bantal dan selimut. Yang ada adalah para dokter yang lagi koas yang selalu menanyakan biodataku. Sepertinya ada sepuluh kali aku ditanyakan hal yang sama. Tempat tidur yang kotor, bau, dan gatal. Atmosfir yang panas karena banyaknya dokter koas yang lalu-lalang. Satu pasien, ada 10 dokter yang mengerumuni, kami dijadikan seperti binatang percobaan. Ketika aku menanyakan statusku, kapan aku mendapatkan kamar, seorang suster dengan sangat jutek menjawabku, “Ibu bisa sabar ga? Ibu baru saja masuk, yang di sekitar ibu sudah berhari-hari disini mereka saja belum dapat kamar. Kalau ibu mau dapat kamar, ke rumah sakit Kencana yang di samping rumah sakit ini, jangan ke sini datangnya”. Aku hanya bisa tarik nafas panjang. Inilah keadaan yang harus aku alami. Aku tidak sanggup lagi dengan keadaan itu, aku pun memutuskan untuk meninggalkan RSCM.
Puji Tuhan, akhirnya kami mendapatkan rumah sakit yang memiliki NICU available. Saat itu pun kami segera memutuskan untuk pindah. Ternyata untuk pindah dari RSCM pun sangat sulit. Administrasinya ribet. Dari jam 12 malam, suamiku mengurus administrasi selesainya jam 5 pagi. Hari senin, 1 September 2014, aku check in di Rumah Sakit Colombia Asia. Disini kami langsung ditangani, aku langsung dikasih infus, oksigen, dan dikasih minum. Pelayanannya jauh lebih manusiawi. Dokter yang menangani kami pertama adalah dokter anak, namanya Dokter Alfed. Dia memberikan penjelasan mengenai resiko-resiko yang mungkin akan terjadi apabila anak yang ada di dalam kandunganku dilahirkan. Setelah mengurus administrasi, aku dimasukkan ke dalam kamar perawatan dan diobersavasi. Tekanan darahku normal demikian halnya dengan gerakan dan denyut jantung anakku. Jam 9 pagi, Dokter Nelson, dokter obgyn datang. Aku kembali di USG, air ketuban tinggal sedikit yaitu di sekitar kepala, usia kandunganku 27 minggu, dan posisi anakku melintang, kepalanya di perut bawah kananku, dengan berat badan 1kg. Dokter Nelson mencoba untuk memperpanjang kehamilanku dengan harapan paru-paru anakku bisa lebih matang di dalam rahim dan berat badannya bertambah. Dokter Nelson optimis, kehamilanku akan dihentikan tanggal 7 September 2014 dengan harapan paru-paru anakku sudah lebih matang untuk hidup di NICU dan berar badannya sudah bertambah, selama itu aku akan diobservasi ketat. Aku dan bayiku dijaga agar tidak sampai kena infeksi sehingga setiap orang yang berkunjung dipastikan dalam keadaan sehat dan bersih.
Selasa, 2 September 2014 mamaku tiba dari Balige ke rumah sakit tersebut. Aku tidak bisa memberikan komentar yang banyak mengenai kedatangan mamaku, mengingat hubungan kami yang tidak harmonis selama ini. Dan kalau boleh jujur, dia juga terlibat dalam tekanan hidup yang kualami selama aku hamil. Tapi aku berusaha berdamai dengan keadaan ini, biar bagaimana pun dia adalah perempuan yang melahirkanku, aku tidak akan pernah bisa menghapus kenyataan itu. Dan sebagai anak yang berbakti aku pun harus bisa menerima kekurangan orang tuaku.
Kamis, 4 September 2014, ibu mertuaku yang datang. Aku semakin tidak nyaman. Aku tidak nyaman karena aku tidak terbiasa dan tidak mau menjadi pusat perhatian. Bagiku, perhatian dari suamiku sudah cukup, hanya itu yang kubutuhkan. Aku semakin merasa ackward, ini sungguh tidak biasa. Aku ingin sekali berteriak dan mengatakan agar mereka semua pergi, biarkan aku dan suamiku saja. Aku tidak mau terlihat tidak berdaya seperti ini. Aku sudah terbiasa menjalani kehidupanku sendirian. Aku bukan orang lemah, aku orang kuat demikian halnya anakku. Pergulatan hebat di dalam hatiku ternyata berdampak kepada anakku. Sejak hari rabu, tanggal 3 September dia sudah sangat ingin ke luar dari rahimku. Mungkin dia sudah tidak betah lagi merasakan sakit mental yang kurasakan. Atau mungkin dia sudah sangat kasihan sekali kepadaku yang memiliki beban mental, pikiran, dan psikologis. Akhirnya jam 6 sore, kamis, 4 September 2014, Dokter Nelson memutuskan untuk menghentikan kehamilanku karena aku sudah berulang kali merasakan kontraksi dan tanda-tanda melahirkan sudah terjadi. Dokter Nelson tidak mau mengambil resiko yang lebih berat lagi, yaitu apabila kehamilanku masih akan dilanjutkan sampai tanggal 7 September dikuatirkan akan mengancam nyawaku juga.
Jam 18.00 WIB, aku masuk ke ruang operasi. Saat itu yang kurasakan adalah rasa malu karena telah menjadi pusat perhatian, kegagalan dalam menunjukkan kebahagiaan di mata suamiku, dan berserah. Sebelum aku dioperasi, aku berkata kepada Tuhan,’Tuhan, kau tau kapasitasku. Jujur, Tuhan kalau anakku ini lahir dalam keadaan cacat, aku tidak sanggup untuk membesarkannya. Akan tetapi jadilah kehendakMu, aku percaya Kau akan berikan kekuatan. Semua yang Kau berikan adalah baik adanya.’
Ketika anakku diambil oleh dokter dari rahimku, aku melihatnya melakukan gerakan kecil. Tapi aku tidak mendengar suaranya. Aku mendengar Dokter Nelson berkata, anaknya kecil sekali dan plasentanya sudah tua. Aku terus memandang ke arah anakku, (saat itu aku dibius local), aku mendesak dokter agar aku bisa melihat anakku, tapi mereka tidak mengizinkannya. Jadi mereka hanya memberikan foto anakku kepadaku sementara perutku dijahit tutup kembali.
            Di luar ruang operasi, tak berapa lama suamiku datang sambil menangis. Saat itu aku berkata dalam hati, jadilah kehendakMu Tuhan, berikan kami kekuatan. Beberapa menit kemudian Dokter Alred (dokter anak) mengatakan kalau anakku tidak merespon, meminta persetujuan suamiku agar semua alat dicabut. Dan anakku, Jordan kembali kepada Dia yang empunya kehidupan. Tuhan memilih anakku untuk menjadi malaikat kecilNya di surga. Sungguh kehormatan bagiku dan suamiku, bukan? Seperti doa-doa kami selama Jordan dalam kandunganku agar dia bisa menjadi berkat dan nama Tuhan dipermuliakan. Tuhan mengabulkan doa kami. Sekarang anak kami Jordan telah menjadi malaikat Tuhan di surga.
Kalaupun saat ini aku masih menangis, itu dikarenakan aku belum bisa melawan phobiaku. Kalau suamiku ada disini, di sampingku, semuanya akan kembali normal.
Anakku Jordan, aku menerimamu dari Tuhan, dan aku mengembalikanmu kembali kepada Tuhan. Dialah yang memiliki kita semua. Sekarang kau telah menjadi malaikatNya, layanilah Dia dengan sangat baik ya anakku. Aku sangat bangga kepadamu, selama kau ada di dalam kandunganku kau tidak pernah menyusahkanku. Memang layaklah kau diambil olehNya untuk menjadi malaikatNya. Aku dan bapakmu akan selalu mengingatmu di dalam hati dan pikiran kami, selama kami hidup bahwa kau adalah buah cinta kami yang pertama. Kau ada, karena aku dan bapakmu saling mencintai. Di dalam dirimu, tertuang cinta kami berdua. Terima kasih untuk 28 minggu yang menakjubkan anakku. Titip salam kami kepada Tuhan kita, sampai bertemu di surga anakku.

We love you,
Orang tuamu

Josua dan Rani

No comments: