Wednesday, 1 October 2014

Surat titipan

Dear Tuhan,

Bagaimana mungkin aku hanya menerima hal yang baik saja dariMu Tuhan? Kau sudah sangat baik kepadaku, khususnya di tahun ini. Tahun 2014 adalah tahun yang akan menjadi tahun yang tidak mungkin aku lupakan. Di tahun inilah aku dan Josua, lelaki yang sangat kucintai mengikat janji untuk menjadi satu. Begitu banyak tawa yang Kau berikan dalam kehidupan kami berdua. Begitu banyak berkat yang Tuhan berikan dalam kehidupan kami, bahkan ketika Kau mengijinkan Jordan, buah cinta kami tumbuh di dalam kandunganku selama 28 minggu. Ya, 28 minggu, sangat singkat memang untuk usia bayi pada umumnya, akan tetapi aku dan Josua sangat bersyukur untuk moment yang singkat itu.
Aku tidak mau mengingkarinya, aku akui hal ini sangat menyakitkan kepada kami berdua (aku dan Josua). Bukan hal yang mudah bagi kami untuk melepaskan berkat yang Kau berikan dan Kau ambil kembali. Perasaan bersalah dan juga merasa tidak mampu membuat kami semakin merasakan kesakitan. Pernyataan penghiburan dari keluarga, sahabat, dan kenalan yang mengatakan bahwa anak kami Jordan sudah tenang bersamaMu membuat kami tiba pada kesimpulan bahwa Kau belum percaya kepada kami untuk membesarkan Jordan. That’s why, akhirnya Kau mengambilnya kembali dari kami. Begitukah, Tuhan? Dan hal inilah yang paling menyakitkan, bahwa Kau tidak percaya kepada kami bahwa kami sanggup untuk membesarkan Jordan!
Kami percaya bahwa anak kami Jordan sekarang sudah bersamaMu. Dia sudah menjadi malaikat kecilMu di surga. Tapi, aku dan suami akan tetap mengingat hal ini, bahwa aku dan suamiku di tahun 2014 diberkati Tuhan menjadi satu, diberkati Tuhan untuk memiliki Jordan selama 28 minggu, dan diberkati Tuhan untuk tidak memiliki Jordan.
Tuhan, Kau tau isi hati kami. Ketika Kau mengijinkan Jordan untuk tumbuh di dalam rahimku adalah berkat yang sangat indah bagiku. Walau aku akui Tuhan, selama 28 minggu aku mengalami banyak hal-hal negatif, mulai dari ketidaknyamanan lingkunganku, tekanan pikiran di kantor dan dari orang-orang di sekitarku. Dan Kau juga tahu Tuhan, betapa aku selalu berjuang untuk bersyukur dan tidak pernah mengeluh dan berusaha sekuat tenaga agar hal itu tidak berpengaruh terhadap kehamilanku. Aku terus berusaha untuk melaluinya dengan penuh ucapan syukur. Tapi, aku tak pernah membayangkan kalau Kau akan mengambilnya secepat ini dari kami. Bahkan Kau tidak memberikan waktu untukku menggendongnya dan menyentuhnya. Kau mengambilnya begitu sangat cepat secepat Kau memberikannya di dalam rahimku.
Aku akan tetap bersyukur dan berterima kasih Tuhan. Setidaknya Kau telah mengijinkanku untuk merasakan gerakannya dan mendengar denyut jantungnya. Kau tahu Tuhan, setelah tanggal 4 September 2014, aku sangat merindukan hal itu. Aku merindukan gerakannya, sangat merindukannya! Aku juga bersyukur untuk rasa sakit setelah operasi yang sampai saat ini masih kurasakan. Walau mungkin rasa sakit ini akan terasa lebih indah jikalau Kau megijinkanku untuk membesarkan Jordan. Ketika aku berdiri di depan cermin, aku melihat perutku dan semakin menyadari kalau anakku Jordan sudah bersamaMu.
Sekarang, aku hanya bisa merasakan peninggalan Jordan, jejak-jejak bahwa dia pernah ada dan  tumbuh di dalam rahimku. Berat badanku yang bertambah 14 kilo, guratan-guratan seperti selulit di pahaku, rasa sakit setelah operasi akan aku nikmati Tuhan sebagai berkat dan aku mengucap syukur untuk itu semua. Terima kasih Tuhan untuk semua ini, untuk setiap air mata yang boleh ke luar dari mataku dan untuk setiap rasa sakit yang kurasakan.
AKu percaya, Kau akan memberikan kekuatan kepadaku dan suami untuk melalui ini semua. Aku percaya aku dan suami pasti bisa menjalani setiap rencanaMu Tuhan, karena kami percaya Kau akan selalu bersama-sama dengan kami. Kami percaya bahwa Kau tidak akan meninggalkan kami dan membiarkan kami jatuh sampai tergeletak. Air mata yang selalu keluar ini adalah sebagai pertanda kelemahan kami di hadapanMu, Tuhan. Betapa kami tidak berdaya sehingga Kau tidak mempercayakan Jordan untuk kami besarkan.
Tuhan, Kaulah yang memiliki kehidupan. Dunia ini hanyalah tempat kami untuk berpetualang. Seperti Jordan, anak kami yang telah Kau ambil dari kami, demikianlah kehidupan kami. Suatu hari kelak, kami juga akan berpulang kepadaMu. Saat ini, air mata mungkin belum bisa aku kontrol untuk tidak ke luar dari mataku, tapi iman dan harapan kami kepadaMu Tuhan akan tetap tumbuh dan akan selalu tertuju kepadaMu. Kami siap Tuhan untuk Kau bentuk seturut dengan kehendakMu karena Kaulah yang empunya kami. Seperti aku menerima Josua suamiku dari tanganMu, dan Josua menerimaku dari tanganMu, demikianlah kami adalah kepunyaanMu. Jadilah kehendakMu Tuhan dalam kehidupan kami.
Peluk ciumku kepada anak kami Jordan ya Tuhan. Dan mohon sampaikan permohonan maaf kami kepadanya, terkhususnya dari aku. Aku tahu selama 28 minggu di dalam kandunganku dia pasti merasa tidak nyaman. Aku sering membuat dia merasakan emosi negatif. Aku dan Josua sangat mencintainya. Sampai kapanpun, kami tidak akan pernah melupakannya. Dia, akan tetap hidup di dalam hati dan pikiran kami. Sekali lagi maafkan kami ya Tuhan untuk setiap perilaku kami yang kurang berkenan di hadapanMu khususnya untuk Jordan.
Goodbye anak kami Jordan, sampai bertemu di surga.






R&J

23 September 2014.

No comments: