Wednesday, 12 November 2014

APTB Ciputat - Kota



Hari ini adalah hari yang cukup berat untukku secara mental dan psikologis. Untuk pertama kalinya, setelah aku melahirkan bayiku dan mengikhlaskan kepergiannya, aku kembali menggunakan bis APTB jurusan Ciputat - Kota. Oh iya, sebelum saya berbagi mengapa hari ini menjadi hari yang berat untukku, saya akan memperkenalkan bis ini terlebih dahulu. Bagi masyarakat yang tinggal di Jakarta dan sekitarnya, mungkin sudah tahu apa itu APTB.  APTB adalah Angkutan Perbatasan Terintegrasi Bus Transjakarta. Bis ini merupakan salah satu karya dari Jokowi ketika beliau masih menjadi Gubernur DKI Jakarta. Seperti namanya, pengadaan bis ini bertujuan  mengajak masyarakat yang berdomisili di daerah pinggiran Jakarta (seperti Ciputat, Bekasi, Bogor, dsb) tapi bekerja di Jakarta, untuk tidak menggunakan kendaraan pribadi. Diharapkan dapat mengurangi kemacetan di Jakarta, khususnya di jam-jam kantor dan untuk di daerah perkantoran (Jl. Sudirman, Jl. Rasuna Said lebih dikenal dengan Kuningan, dan Jl. Gatot Subroto) di Jakarta. Ada banyak bis APTB dengan berbagai tujuan daerah untuk kota pinggiran di Jakarta, salah satunya adalah bis APTB yang biasa aku pergunakan, APTB jurusan Ciputat - Kota dengan rute perjalanan Ciputat - Lebak bulus - Pondok Indah - Radio Dalam - Blok M - Sudirman - Sarinah - Harmoni - Glodok - Kota. Tarif untuk menggunakan bis ini sekali jalan adalah Rp 8.000,00 dimana transaksinya dilakukan di dalam bis. Akan tetapi apabila kita menggunakan bis APTB dari Jakarta khususnya di Jalan Sudirman, maka kita harus membayar sebesar Rp 3.500,00 terlebih dahulu untuk bisa masuk ke dalam halte transjakarta dengan menggunakn e-ticket. Secara pribadi, aku sangat terberkati dengan adanya bis ini. Bis ini memudahkan kami yang tinggal di daerah pinggiran Jakarta dapat dengan mudah untuk berkunjung ke Jakarta. Walaupun pengadaan bis ini, ternyata belum memberikan hasil yang signifikan untuk mengajak masyarakat Jakarta dan sekitarnya beralih dari kendaraan pribadi ke bis massal seperti ini.

Aku ulangi kembali, aku sangat terberkati dengan pengadaan bis ini. Akan tetapi, seperti public transportation pada umumnya di Jakarta, bis ini masih belum bisa memberikan kenyamanan kepada para penumpangnya, khususnya untuk ibu hamil. Aku yakin, inilah alasan utama mengapa masyarakat yang menggunakan kendaraan pribadi ke kantor belum mau beralih menggunakan public transportation di Jakarta, masih jauh dari nyaman! Jujur, aku sendiri yang dibesarkan dengan kekurangan tidak merasa nyaman menggunakan public transportation di Jakarta, apalagi mereka yang telah dibesarkan dengan kemewahan? Seandainya saya mempu membeli kendaraan pribadi, aku akan 100% lebih memilih untuk menghadapi kemacetan Jakarta di dalam mobil dengan duduk manis sambil membaca buku dilengkapi dengan AC dan musik favoritku dibandingkan dengan menggunakan public transportation yang penuh sesak, berdiri, dan menunggu untuk kedatangan bis yang cenderung  lama. Sungguh sangat wasting time dan stressfull)

Kembali ke APTB, tidak seperti bis transjakarta, di bis ini tidak disediakan kursi khusus untuk ibu hamil. Jadi, bagi ibu hamil yang berdomisili di daerah pinggiran Jakarta dan berkantor di Jakarta, menggunakan bis ini pada jam-jam sibuk di Jakarta, saya pribadi tidak menyarankannya. Adalah saya salah satu penumpang yang mengalami ketidakramahan selama menggunakan bis ini. Selama saya hamil, saya nyaris tidak pernah bisa mendapatkan tempat duduk  dari halte dimana saya menaiki bis ini. Saya akan dapat tempat duduk, apabila para penumpang ada yang sudah turun. Selama tidak ada penumpang yang turun, maka saya harus berpuas diri dengan berdiri di dalam kesesakan tentunya. Di samping itu, pengadaan bis ini tidak terlalu banyak sehingga harus menunggu 30 - 60 menit bahkan lebih di dalam halte transjakarta. Dan ketika bis datang, para penumpang yang memiliki tujuan ke Ciputat belum tentu bisa masuk ke dalam bis. Hal ini disebabkan, pada jam-jam sibuk di daerah perkantoran ada begitu banyak orang yang menggunakan bis ini walaupun tujuan mereka bukanlah ke Ciputat. Hasil dari pengamatan saya, mereka yang masuk ke dalam bis ini, tujuan utama adalah Blok M, Radio Dalam, dan Pondok Indah. Selama saya menjadi penumpang APTB jurusan Ciputat - Kota, bis akan kosong ketika telah melewati daerah ini. Dan biasanya, di daerah inilah saya akan mendapatkan tempat duduk, setelah banyak penumpang yang turun.  Alhasil, mereka yang rumahnya di Ciputat seperti saya akhirnya tidak memiliki ruang di bis itu dan harus menunggu bis APTB berikutnya dengan harapan bisa masuk ke dalam bis walaupun tidak mendapatkan tempat duduk.

Di usia 27 minggu kehamilanku, aku menggunakan bis APTB jurusan Ciputat - Kota untuk berangkat dan pulang kantor. Ketika akan berangkat ke kantor, aku tidak memiliki masalah dengan tempat duduk, karena aku naik dari perhentian pertama bis dengan kata lain aku selalu mendapatkan tempat duduk. Akan tetapi, ketika pulang kantor, aku harus berkompetisi dengan penumpang yang lain untuk bisa masuk ke dalam bis. Tak jarang aku kalah dalam kompetisi itu dan menunggu bis selanjutnya 30 - 60 menit bahkan lebih dengan berdiri, tentu saja. Kondisi seperti ini aku alami berhari-hari dalam keadaan hamil dan endingnya adalah tubuhku tidak kuat, aku mengalami pecah ketuban dini dan anakku tidak bisa diselamatkan. Bis APTB adalah bis yang terakhir aku gunakan ketika kejadiaan itu menyerangku. Di dalam bis ini pula, aku dan bayi di dalam kandunganku berkompetisi untuk mendapatkan kenyamanan. Dan di dalam bis inilah kenangan terakhirku dengan anakku yang membuatku terkoneksi dengan dunia luar.

Hari ini, untuk pertama kalinya setelah anakku pergi, aku kembali menggunakan bis ini. Aku ingat, pertama kali menggunakan bis ini, aku belum menyadari keberadaan anakku yang telah hadir di dalam rahimku. Tapi dia sudah ada. Kami bersama-sama menggunakan bis ini untuk pertama kalinya. Dan hari ini, untuk pertama kalinya aku menggunakan bis ini dengan sendirian. Itu sangat menyakitkan. Setiap inci dari bis ini mengingatkanku dengan perjuangan kami di dalam bis ini untuk bertahan sampai kami tiba di tujuan akhir kami, yaitu di Ciputat. Berdesakan dengan penumpang yang lain, kedinginan ketika hujan turun, kemacetan yang luar biasa, kami jalani bersama-s ama. Kenangan itu mungkin akan menjadi kenangan yang manis, seandainya anakku bisa bersama-sama denganku sekarang. Akan tetapi yang terjadi adalah aku harus mengikhlaskan anakku bersamaNya, sementara aku disini kembali melanjutkan kompetisi untuk mendapatkan kenyamanan di dalam bis ini. Inilah yang menjadikan hariku semakin berat. Bukan karena aku menjadi sendiri sekarang di dalam bis ini, akan tetapi karena bis ini mengingatkanku dengan anakku.

Seiring dengan terpilihnya Bapak Jokowi menjadi Presiden, aku sangat berharap banyak kepada beliau. Menjadikan Indonesia untuk lebih nyaman dihuni. Aku tahu, aku bukanlah satu-satunya orang yang berjuang di dalam public transportation pada jam-jam kantor. Dan aku yakin, di luar sana masih banyak yang memiliki pengalaman lebih menyedihkan terkait dengan public transportation di Indonesia pada umumnya dan di Jakarta pada khususnya. Melalui tulisan ini, aku ingin membagi ide dengan harapan mampu menjadikan Indonesia untuk lebih baik lagi. 

Sebagai masyarakat yang belum mampu membeli kendaraan pribadi dan masih bergantung dengan public tranportation, aku memiliki saran agar masyarakat Jakarta tidak terlalu mencintai jalanan Jakarta.
  1. Public transportation yang nyaman. Tidak harus pakai AC. Pemerintah sebaiknya sudah harus memperketat kembali jumlah penumpang di dalam bis yang melebihi kapasitas. Memang, telah ada peraturan jumlah maksimal di dalam satu bis, akan tetapi sampai hari ini, saya belum pernah mendengar ada tindakan nyata yang diberikan oleh Pemerintah kepada bis yang mengangkut penumpang melebihi kapasitas. Dengan menggalakkan kembali jumlah maksimal penumpang di dalam satu bis, hal ini akan mengurangi tindakan kriminal yang banyak terjadi di dalam public transportation yang menjadi sorotan utama bagi mereka yang masih menggunakan kendaraan pribadi.
  2. Meningkatkan jumlah armada bis pada jam-jam sibuk dan mengurangi kapasitas kendaraan pribadi dengan cara mengubah  3 in 1 menjadi 5 in 1.
  3. Kendaraan pribadi tidak diizinkan untuk menggunakan BBM bersubsidi.
  4. Khusus untuk APTB Ciputat - Kota, saya tidak setuju apabila petugasnnya menaikkan penumpang yang tujuan akhirnya adalah Blok M dari Sudirman pada jam sibuk. Hal ini memperkecil kesempatan penumpang yang tujuan akhirnya ke Ciputat untuk bisa masuk. Bagi mereka yang tujuan akhirnya Blok M, pemerintah telah menyediakan transjakarta. Seharusnya mereka lebih baik menggunkan tranjakarta saja.
Dan yang paling penting adalah bagi seluruh masyarakat Indonesia, kita dikenal sebagai masyarakat yang ramah dan baik di dunia Internasional. Sebaiknya karakter ini bukan hanya kita tunjukkan kepada masyarakat luar negeri saja, akan tetapi juga terkhusus bagi kita sesama bangsa Indonesia. Sekeras apapun kehidupan yang telah kita jalani, seberat apapun beban yang ada di pundak kita, marilah dengan berempati untuk memberikan tempat duduk kepada ibu hamil, orang tua, dan berkebutuhan khusus. Jakarta sesungguhnya adalah kota yang indah jikalau kita manusia yang tinggal di dalamnya bersikap ramah.

No comments: