Tuesday, 25 November 2014

Enjoy The Little Things

Untuk semua manusia di dunia ini, kematian mungkin menjadi sesuatu yang ingin dihindari. Nyaris tidak ada yang menginginkan kematian itu cepat datang. Kecuali apabila si manusia tersebut mengalami hal buruk dimana kematian menjadi salah satu cara pintu  ke luar. Pada umumnya, semua orang ingin hidup selama mungkin di dunia ini dan bahkan sesungguhnya banyak manusia juga yang berharap tidak mengalami kematian itu, ingin hidup abadi. Ilmu pengetahuan dan tingkat peradaban manusia semakin berkembang dimana tujuan implisitnya adalah  untuk menghindari kematian.Sampai sekarang, manusia masih terus berusaha mencari celah menghindari kematian, walaupun para filsuf dan tokoh agama sudah menyimpulkan bahwa satu-satunya yang tidak dapat dihindari oleh manusia adalah kematian. Kematian itu akan datang kepada setiap manusia.

Dua bulan yang lalu aku baru menyaksikan kematian anakku. Aku dan suami menjadi saksi utama dari setiap usaha untuk menghindari kematiannya. Kami mempercayakannya kepada para medis dan berbagai tretment-nya. Saat itu kami seperti berjudi, walaupun kami sudah tahu dan menyadari betul bahwa kematian tidak dapat dihindari akan tetapi sebagai orang yang percaya kepada Yesus, kami masih memiliki harapan bahwa kami bisa menghindari kematian itu. Ketika kematian itu datang, aku yang memiliki karakter logis langsung menggunakan kognitifku bahwa tidak ada yang bisa kami lakukan untuk menghindari kematian. Aku sangat menyadari posisiku saat itu. Berbaring di tempat tidur operasi, tanganku digenggam oleh suamiku, aku kedinginan, dan kesadaranku belum pulih benar akibat bius, sinar lampu ruang operasi yang sangat terang, dan kesunyian- yang ada hanya aku dan suami. Aku memulai memikirkan dari hal-hal kecil ketika dokter mengatakan bahwa paru-paru bayiku belum berkembang secara sempurna dengan demikian semua peralatan harus dicabut karena tidak ada gunanya. Peralatan dicabut artinya kematian. Atau mungkin bahkan sebelum peralatan dicabut, kematian sudah datang menjemput bayiku.

Seperti yang sudah-sudah, aku berusaha menenangkan diriku. Aku tidak ingin terlihat lemah di mata semua orang yang ada di rumah sakit. Bagiku, ini semua sudah direncanakan, aku tinggal menjalaninya saja. Tidak ada yang bisa kuperbuat untuk menghindari kematian itu. Dan untuk air mata, akan ada masanya setelah semua orang berlalu atau ketika aku sendirian. Bagiku menangis sendirian itu jauh lebih puas dibandingkan ditemani. Dan bukankah masa berkabung dimulai ketika setiap orang di sekitar kita sudah kembali ke rutinitas mereka. Saat itu, di pikiranku adalah aku harus cepat sehat, meninggalkan rumah sakit ini untuk mengurangi setiap rupiah yang akan kami habiskan di rumah sakit (biaya rumah sakit adalah tanggungan kami berdua, tidak ada BPJS dan tunjangan dari kantorku), dan melanjutkan hidup serta jangan pernah bertanya MENGAPA? Semua pertanyaan boleh diajukan, kecuali kata tanya itu karena sampai kapanpun aku tidak akan pernah mendapatkan jawabannya dan hanya akan membuat dampak dari kematian itu terasa semakin berdarah-darah.

Selama masa pemulihan aku berusaha untuk tampil tegar di depan semua orang. Memberikan senyuman dan semangat untuk beraktivitas. Membuat target di dalam hidupku bahwa aku harus cepat sembuh dan tidak mau menjadi beban bagi siapapun. Bagiku, orang-orang tidak perlu tahu betapa aku sangat terguncang dengan kematian bayiku ini. Aku harus tampil bahagia dan menunjukkan betapa bersyukurnya aku karena masih diberikan kesempatan untuk merasakan ini semua. Aku berusaha fokus dengan apa yang kumiliki sekarang. Aku tahu ini semua akan berlalu, tidak ada yang abadi. Oleh karena itu, aku harus terus melangkah dan melanjutkan hidupku dengan harapan aku pasti bisa melalui ini semua. Ini tidaklah sesulit yang aku pikirkan, aku pasti bisa.

Setelah semua orang di sekitarku kembali ke rutinitasnya, mertua dan ibuku pulang ke rumahnya, ipar-iparku kembali kuliah dan bekerja, dan suamiku kembali melanjutkan kuliahnya di Bandung, bahkan pembantuku pun minta izin untuk pulang kampung, tinggallah aku sendirian di rumah menikmati setiap detik perjalanan kehidupan setelah kematian menjemput anakku. Aku menangis, meratapi kesedihanku, dan mengenang setiap moment yang bisa kugali dari memoriku tentang perjalananku dengan bayiku ketika dia masih di dalam rahimku. Aku marah pada kondii tempatku tinggal yang tidak ramah pada ibu hamil, aku mengasihani diriku sendiri untuk setiap air mata yang ke luar, aku kecewa pada tenaga medis tempat kami selalu konsultasi mengenai kehamilanku, dan aku merasa gagal.

Aku menjalani dua bulan setelah bayiku meninggal dengan tetap berusaha hidup. Mendengarkan kicauan burung di pagi hari, merasakan hangatnya sinar matahari yang masuk ke dalam kamarku, memeluk kesunyian pagi, dan berdamai dengan diri sendiri. Suamiku selalu berkata tidak ada yang salah, ini semua sudah dituliskan bahwa bayi kami tidak bisa tinggal bersama dengan kami lebih lama lagi. Mungkin, bagian yang paling sulit untuk kuhadapi adalah ketika aku harus bahagia untuk mereka yang memiliki kesempatan mendengarkan suara bayinya, memeluknya, dan melihat dia tumbuh di dunia ini. Tak jarang aku menghindari untuk tidak menyaksikan hal ini secara langsung, cukup memantau dari jauh saja dan dengan tulus mendoakan agar mereka tidak merasakan apa yang terjadi padaku.

Setiap pagi, walau berat aku harus bangun dan melanjutkan hidupku. Aku memulainya dengan hal-hal kecil yang kusukai. Golek-golek di tempat tidur sambil menikmati kicauan burung dan sinar matahari, main game candy crush di handphone, menulis blog, nonton film korea, mandi, memasak (mencoba berbagai resep baru dari buku masakan), bersih-bersih rumah, mencabuti rumput taman di depan dan di belakang rumah, dan memeluk setiap hal yang mengingatkanku dengan keberadaan bayiku. Aku benar-benar berusaha untuk hidup baik-baik saja. Seperti kata suamiku, kapan lagi aku merasakan tiap hari seperti hari libur. Tidak perlu bangun pagi-pagi untuk berangkat ke kantor dan menghadapi kemacetan. Tidak ada tekanan pekerjaan dari kehidupan kantor. Tiap hari adalah hari libur, Aku bebas bangun jam berapapun tidak ada yang mengikat. Ya, inilah hal terbaik yang bisa kunikmati selama dua bulan terakhir ini, memiliki waktu tidur sesuka hati dan tidak menghadapi kemacetan jalan raya. Tapi sampai kapan? Aku bukan orang yang tercipta untuk berdiam diri di rumah. Aku adalah manusia pekerja.

Aku tak tahu akan hari esok. Aku juga tak tahu kapan badai ini akan berlalu. Yang aku tahu pasti badai ini pasti berlalu dan aku juga tak bisa memastikan apakah badai ini tidak akan datang kembali. Aku akan berusaha untuk baik-baik saja, tidak menjadi beban bagi siapapun, dan memeluk setiap kenanganku dengan bayiku dengan cinta dari suamiku. Enjoy the little things.


No comments: