Thursday, 27 November 2014

Our beloved, Jordan

Hari ini atau besok adalah tanggal yang diprediksi oleh dokter bahwa aku akan melahirkan bayiku. Aku sudah mempersiapkan hari ini semenjak dokter mengatakan hal itu kepadaku dan suami. Ya, seharusnya hari ini aku dan suami akan bertemu dengan anak kami, menyambut kehadirannya di kehidupan kami. Tapi, manusia hanya bisa berencana selebihnya Tuhan yang menentukan. Atas izin Tuhan, dia hadir dan tumbuh di dalam kandunganku selama 28 minggu. Atas izin Tuhan juga akhirnya dia lahir ke dunia lalu kemudian kembali kepadaNya.

Semuanya masih seperti mimpi bagiku. Terjadi begitu sangat tiba-tiba dan cepat. Menikah, hamil, melahirkan, bayiku meninggal, dan aku kehilangan pekerjaanku. Itu semua terjadi di dalam 28 minggu. Kehidupanku berjalan begitu sangat cepat. Belum puas aku merasakan sukanya, duka sudah datang menyerangku tepat di bagian yang tidak dapat kusembuhkan.
Memasuki bulan November 2014 ini, aku tidak pernah yakin bisa melaluinya tanpa air mata. Aku tidak bisa mengontrol air mataku dan menyadari bahwa bayiku telah kembali kepada Tuhan. Aku masih sangat ingin melahirkan dia hari ini atau besok, bukan dua bulan yang lalu. Bulan ini seharusnya menjadi momen pelengkap kebahagianku dan suami, bukan seperti ini, bulan yang penuh dengan air mata.

Ajaibnya, entah dari mana kekuatan itu datang, Sejak tanggal 24 November sampai hari ini aku tidak menangis lagi. Mungkin karena air mataku sudah kering dan kepalaku sudah mulai pusing. Yang tersisa adalah rasa jenuh di rumah, kekuatiran akan perekonomian kami, dan kekesalan setiap kali melihat tubuhku di cermin (berat badanku yang belum kembali normal). Dan tentu saja rasa iri melihat mereka yang memiliki kesempatan untuk melahirkan bayi mereka dengan sehat dan hidup.

Bayiku, anakku Jordan telah kembali kepada Tuhan. Kepergiannya kepada Tuhan, juga membawa kebencianku akan hidup, kebenciaanku akan lingkunganku, dan rasa frustasiku. Mungkin  bayiku Jordan tidak menyadarinya atau mungkin untuk itulah Tuhan menghadirkannya di dalam kandunganku, untuk aku bisa berdamai dengan masa laluku, berdamai dengan mereka yang membuatku tertekan, berdamai dengan kehiduapan yang telah Tuhan rencanakan. Karena setelah bayiku pergi, aku tidak merasakan kebencian itu lagi, rasa tertekan itu lagi, Setelah bayiku pergi, aku melepaskan semua sesak itu. Untuk sesaat aku pernah merasakan ketenangan, merasakan kenyamanan, dan kebebasan.

Akan tetapi sekarang aku kembali tertekan, aku kembali frustasi. Kesendirianku di rumah membuatku bosan dan penat. Belum lagi ketakutanku akan masa depan, bagaimana aku dan suami bisa melanjutkan hidup tanpa kehadiran uang, Biar bagaimanapun aku butuh pekerjaan untuk kami bisa melanjutkan hidup. Mungkin itu pula yang membuat air mataku berhenti ke luar karena aku masih harus memikirkan mendapatkan pekerjaan secepat mungkin demi berbagai macam tagihan harus dibayarkan, Sepertinya, badai itu belum berlalu di dalam kehidupan keluarga kecilku. Aku masih harus tetap berjuang mengahadapi badai selanjutnya. 

Apa yang kualami selama setahun ini, sangat berbeda jauh dari yang kuimpikan.

Impianku, aku akan menikah dimana orang tuaku akan memberikan dukungan psikologis. Moment memberikan ulos hela akan menjadi kenangan terindah yang akan kukenang sepanjang hidupku. Aku akan hamil dan melewatinya dengan penuh kebahagiaan karena akan banyaknya cinta yang kudapatkan dari orang tua, sahabat, dan lingkunganku. Aku akan melahirkan bayi yang sehat dan lucu. Pekerjaanku akan berjalan lancar dan aku akan dipromosikan. Impian yang sangat sederhana, bukan? Aku tidak berharap banyak, hanya dukungan dari mereka yang terkait denganku. Tapi semua impian itu hanyalah impian. Hanya ada di dalam otakku saja. Kenyataannya, pernikahanku menjadi sesuatu yang ingin kuhapus dari memoriku karena orang tuaku telah membuatnya menjadi momen terburuk di dalam hidupku. Hal itu pula yang menjadi salah satu penyebab betapa aku sangat tertekan ketika masa-masa kehamilanku. Satu-satunya dukungan psikologis yang kudapatkan hanya dari suami. Itupun tidak maksimal karena biar bagaimanapun dia adalah manusia biasa dengan segala keterbatasannya. Sahabat dan teman-teman sibuk dengan rutinitas mereka, lingkungan yang tidak ramah kepada ibu hamil, dan aku kehilangan pekerjaan.

Untuk ini semua, aku harus berdamai. Dan kepergiann anakku Jordan telah membantuku untuk berdamai walau aku tahu suatu hari kelak, badai ini akan datang kembali.
Aku hanya bisa menjalaninya saja dan berharap Tuhan masih akan bermuarah hati kepadaku dan suami. Aku tidak meminta banyak kepadaNya, hanya kekuatan, Kekuatan untuk melanjutkan hidup, kekuatan untuk bangun di pagi hari, kekuatan untuk turut berbahagia dengan mereka yang diberikan kesempatan membersarkan bayinya, kekuatan untuk bersyukur kepadaMu untuk setiap hal yang aku dan suami peroleh di dalam hidup ini, kekuatan untuk terus beriman dan berharap bahwa Kau adalah Tuhan yang akan selalu memberikan kami segala yang kami butuhkan. Hanya itu Tuhan, aku dan suami membutuhkan kekuatan itu.

Kamis, 27 November 2014
Sampai jumpa, anak kami Jordan

No comments: