Monday, 3 November 2014

selepas kau pergi

     Besok, tanggal 4 November 2014 tepat dua bulan kau diangkat dari rahimku. Tepat dua bulan juga kau pergi meninggalkan kami, orang tuamu. Sampai saat ini, kami, khususnya aku ibumu masih berjuang untuk merelakanmu kembali kepadaNya. Meyakinkan diri kami bahwa inilah yang terbaik untuk kita semua. Terbaik untuk kami orang tuamu dan terbaik untukmu. Walau dalam banyak hal, aku masih sangat ingin melanjutkan kehamilanku. Aku masih berharap dapat melahirkanmu di bulan ini. Aku masih berharap diberikan kesempatan untuk mendengar suaramu, merasakan sentuhanmu, dan menghabiskan waktu bersamamu. Sampai saat ini, aku berusaha untuk tidak mempertanyakan mengapa kepada Tuhan, karena aku sudah tahu itu hanya akan membuatku semakin terpuruk di dalam dukaku untuk merelakanmu.
     Kau tahu, angka 4 adalah angka yang spesial untuk kami orang tuamu. Di tanggal 4 Aprillah aku dan papamu resmi menjadi sepasang kekasih setelah hampir 25 tahun kami saling mengenal sebagai seorang teman. Di tanggal itu pula, papamu mendapatkan SK PNS setelah setahun lebih menjadi CPNS. Dan kau menggenapinya dengan tanggal kelahiran dan kematianmu anakku. Ya, angka 4 akan selalu menjadi angka spesial bagi kami.
Selama dua bulan kau pergi, aku belum pernah mengunjungi makammu. Kau mau tahu mengapa? Karena aku belum siap bertemu denganmu. Kau yang pernah tumbuh bersamaku selama 28 minggu di rahimku, kau yang kurasakan melalui gerakanmu, kau yang kudengar melalui detak jantungmu, dan kau yang pernah singgah di dalam kehidupan kami. Aku tidak tahu hendak mengatakan apa kepadamu, selain betapa aku sangat merasa bersalah dan begitu dalamnya penyasalanku kepadamu.
     Kau yang tidak terlalu kuharapkan untuk hadir dengan begitu cepat, membuatku perlahan-lahan semakin menginginkanmu. Bahkan ketika waktu bisa terulang kembali, aku tidak tahu apakah aku bisa mencegah kepergianmu. Papamu selalu mengatakan agar aku berhenti menangisi kepergianmu. Tapi, aku belum bisa, belum bisa untuk merelakanmu bersama Tuhan. Keegoisanku masih mendominasiku. Aku menginginkanmu, bayi yang belum pernah kusentuh dan kulihat dengan mataku sendiri.
Jordan, anakku bila tiba waktunya kelak, kita dipertemukan olehNya di surga, apakah aku akan mengenalmu? Karena jujur, aku tidak memiliki naluri yang tajam untuk menjadi seorang ibu. 
     Bagaimana kabarmu disana, anakku? Apakah kau sering memperhatikan aku dan papamu dari sana? Aku akan membantumu untuk memahami keadaan kami. Saat ini, aku tinggal di rumah saja. Menunggu ada panggilan dari perusahaan yang baru. Oh iya, aku belum cerita kepadamu, kan ya? Aku sudah tidak bekerja di kantor yang dulu kita pernah bersama-sama itu. Aku sudah memutuskan untuk keluar di sana karena tekanan pekerjaan dan perjuanganku untuk ke kantor yang sangat berat. Seharusnya aku melakukannya sebelum kau pergi ya, anakku? Bagaimana menurutmu dengan keputusanku ini? Apakah kau setuju? Aku yakin kau pasti setuju, karena kau juga merasakan tekanan yang kualami kan selama aku bekerja di sana? Tapi sebenarnya alasan utamaku untuk keluar dari perusahaan itu adalah karena mereka tidak memberikan tunjangan melahirkan untukku. Itu adalah keputusan yang sangat menyakitkan untukku apalagi selepas kau pergi meninggalkan kami.
Aku sudah mengikuti proses seleksi di beberapa perusahaan. Hmm, kalau kau ada waktu bertemu dengan Tuhan, mungkin kau bisa menjadikanku topik pembicaraanmu denganNya. Sejauh ini, aku belum menjanjikan apapun untukmu. Aku tidak mau menjanjikan bahwa aku akan baik-baik saja disini selepas kau pergi, karena aku tahu aku tidak akan pernah baik-baik saja. Kau adalah bagian dari hidupku dan kau telah pergi. Aku hanya bisa berusaha meyakinkan diriku sendiri bahwa kau disana berada di tangan yang tepat.
    Papamu melanjutkan perkuliahannya. Dia tinggal di Bandung dan akan kembali di akhir minggu. Jadi, sekarang, aku sendirian di rumah. Kalau dulu ada kau di rahimku yang menemaniku, sekarang hanya aku dan semua kenangan tentang kehadiranmu. Jangan lupa untuk membicarakan papamu juga ya dengan Tuhan kalau kau sedang berbincang-bincang dengan Dia. Akhir-akhir ini, papamu sangat disibukkan dengan tugas-tugas dari dosennya. Walaupun demikian dia masih menyisakan ruang untuk mengkuatirkanku. Papamu sangat kuatir kalau aku akan menjadi gila selepas kau pergi. Dibandingkan papamu, sepertinya dia lebih kuat dariku. Aku jauh lebih sering menangisimu dibandingkan papamu. Tapi, bukan berarti dia tidak merasakan kehilangan juga. Dia terlihat lebih tegar daripada aku, karena dia tahu bahwa hanya dialah yang bisa menghapus air mataku selepas kau pergi.
     Saat ini, kami harus hidup sangat berhemat sekali. Aku tidak memiliki pekerjaan dan papmu kuliah dengan kata lain, pemasukan kami berkurang tiga perempat. Sekarang kami hanya hidup dari tabungan saja. Jadi, kau tahu kan betapa pentingnya pekerjaan itu untukku? Semoga kau bisa memahami mengapa aku memaksakan diri untuk tetap bekerja ketika kau tumbuh di dalam rahimku. Aku tidak memintamu untuk memaafkanku, akan tetapi aku hanya ingin kau tahu bahwa aku menginginkan pekerjaan itu untuk bisa menyambung kehidupan kita di perantauan ini. Aku tahu, aku tidak dapat dimaafkan. Ketidaknyamananmu selama kau tumbuh di dalam rahimku seutuhnya adalah kesalahanku.
     Anakku Jordan, aku merindukanmu. Baik-baik ya bersama Tuhan di sana. Kau harus tahu, aku dan papamu sangat menginginkanmu. Aku minta maaf untuk setiap ketidaknyamanan yang kau rasakan selama tumbuh di dalam rahimku. Aku akan selalu mengingatmu sebagai malaikat kecilku.
 
   

No comments: