Sunday, 2 November 2014

Suamiku, Josua

   
     Melihat pernikahan orang tuaku dan tidak adanya karakter laki-laki yang bisa jadi panutan dalam hidupku membuatku memiliki keinginan untuk tidak menikah. Mungkin hal ini juga disebabkan  aku  memiliki Namboru yang tidak menikah, dimana beliau tinggal bersama-sama dengan kami di rumah orang tuaku (kami satu kamar). Walau aku beberapa kali merasa kasihan kepada beliau. Ketika dia hidup, aku sering sekali berharap dan mengatakan kepada dia agar dia mencari suami dan memulai hidup rumah tangga seperti mana yang diharapkan lingkungan sosial kami. Bahwa semua orang harus menikah. Jawaban beliau adalah hidup menikah itu tidak menyenangkan, lebih banyak ributnya dibandingkan dengan suasana damai. Dalam hati aku mengiyakannya, berkaca dengan kehidupan rumah tangga orang tuaku dan juga kehidupan rumah tangga yang ada di sekitar rumah orang tuaku. Dari hasil observasiku, sepertinya tidak ada yang terlihat sangat bahagia dengan pernikahannya. Semuanya dijalani hanya karena sudah seharusnya atau dan sudah berkomitmen.
     Kehidupan rumah tangga yang sering aku observasi selama 18 tahun hidupku di rumah orang tuaku membuatku sangat pesimis dengan kehidupan rumah tangga, dan tentu saja JANGAN MENIKAH DENGAN LELAKI BATAK. Walaupun beberapa temanku yang bukan Batak menyimpulkan bahwa lelaki batak itu lebih setia dibandingkan dengan lelaki dari suku lain, akan tetapi bagiku, lelaki batak sudah tidak ada dalam daftar harapanku apabila aku harus menikah. Aku sudah patah hati dengan lelaki batak bahkan sebelum hubungan romantis itu dimulai.
Beberapa karakter lelaki Batak yang paling sering kutemukan dan membuatku menghapus mereka dalam daftar harapanku untuk menikah dengan salah satu dari mereka adalah :
  1. Keengganan lelaki Batak untuk melakukan tugas rumah tangga, misalnya belanja bahan makanan ke pasar tradisional, memasak, mencuci dan menyetrika pakaian, dsb. Menganggap semua itu adalah pekerjaan yang tercipta untuk perempuan saja.
  2. Kecenderungan mereka untuk selalu dilayani, misalnya mengambilkan handuk mereka ketika mereka akan mandi, mempacking pakaian mereka ketika mereka akan melakukan perjalanan, menyediakan kaos kaki mereka, dsb.
  3. Keterlibatan mereka dalam mempersiapkan perlengkapan anak-anak mereka, misalnya gantian begadang mengurus bayi mereka, mempersiapkan susu dan makanan bayi mereka.
  4. Tanggung jawab mereka untuk menafkahi kehidupan anak-anak dan istri. Mereka cenderung lebih mengutamakan diri sendiri. 
  5. Jarang dan nyaris tidak bisa dijadikan teladan untuk melakukan ritual keagaamaan.
     Mungkin kelima hal ini tidak selalu ditemukan di setiap lelaki Batak. Akan tetapi disetiap lelaki Batak yang aku temukan di dalam hidupku, kelima atau empat dari hal ini selalu ada pada mereka. Apalagi poin nomor satu, lelaki Batak sepertinya sangat terusik harga dirinya apabila melakukan ini. Kalaupun ada yang melakukan ini, itu hanyalah di saat-saat tertentu, misalnya ketika istrinya sedang hamil, sedang sakit, atau mungkin ketika istrinya ulang tahun.
Aku tahu inilah penilalian yang tidak adil bagi lelaki Batak. Tapi aku tak bisa mengelak dari kondisi ini. Inilah salah satu dampak negatif yang aku dapatkan dengan menghabiskan 18 tahun pertama hidupku dengan tinggal di antara mayoritas orang Batak, yaitu di desa Sangkar Nihuta, Balige - Sumatera Utara. Observasiku terbatas hanya dengan satu suku ini karena suku Bataklah yang menjadi mayoritas di sana. 

     Di usiaku yang ke-25 tahun, aku dipertemukan kembali dengan Josua, yang adalah teman lelakiku semenjak kami SD. Kami menghabiskan masa-masa sekolah kami di sekolah yang sama dan kami dibesarkan di desa yang sama, Sangkar Nihuta. Aku akui, selama aku mengenal Josua, aku sangat menghargainya sebagai seorang teman lelaki dari desa yang sama. Kami tidak terlalu dekat, kami menghabiskan masa-masa remaja kami dengan kegiatan kami masing-masing. Akan tetapi ketika kami bertemu dan melakukan dialog, kami akan sangat dekat. Kami sangat nyambung satu sama lain. Aku ingat setiap kali kami berbincang-bincang, bagiku sendiri itu adalah hal yang menyenangkan. Hubungan kami selalu menyenangkan walaupun kami dipisahkan oleh jarak ketika masa-masa kuliah kami. Aku kuliah di Depok dan Josua di Semarang. Hubungan kami masih seperti sedia kala, tidak terlalu sering keep contact, akan tetapi setiap kali kontak terjalin, maka kami akan berpanjang lebar untuk saling berbagi, mungkin lebih tepatnya, aku yang bercerita dan Josua menjadi pendegarku. Ya, aku tidak ingat semenjak kapan, Josua selalu menjadi pendengar yang baik untukku. Aku pernah mengalami saat-saat yang meneganggkan di Depok, dimana desakan kehidupan yang sangat menyesakkan, aku menelepon Josua jam satu dini hari. Ajaibnya, Josua masih terjaga di kala itu. Aku kira, aku telah membangunkannya, mengganggu tidurnya, ternyata tidak. Dan seperti yang sudah-sudah, dia selalu ada untuk menjadi pendengarku. Dia mendengarkan keluh kesahku di kala itu.
     Sampai sekarang, apabila mengingat hal itu, aku selalu bertanya-tanya, mengapa aku menghubungi Josua di kala itu. Padahal saat itu kami sangat jarang berkomunikasi.. Kami berdua sudah disibukkan dengan aktivitas masing-masing. Bahkan pertemuan kami secara fisik setelah kami meninggalkan kampung halaman, bisa dihitung dengan jari. Ya, begitulah hubunganku dengan Josua, kami menjalani hidup kami masing-masing dengan tidak saling bersinggungan. Dan kami akan menjadi pasangan yang sangat menyenangkan ketika kami bertemu kembali. Ada-ada saja topik yang membuat kami bisa nyaman satu sama lain (menurutku). 
     Singkat cerita, setelah aku dan Josua sama-sama memiliki pekerjaan di Jakarta, secara dewasa aku pun menyadari kalau aku rasa respek dan hubungan nyaman yang selama ini kami berdua jalani bukanlah hanya sebatas karena kami berasal dari kampung halaman yang sama. Aku mulai merasionalkan hubungan kami selama ini, dan akhirnya logikaku pun dilumpuhkan. AKU JATUH CINTA PADA JOSUA. Mungkin awalnya bukan cinta pada pandangan pertama. Bukan cinta sesaat, tapi cinta yang didasarkan dengan rasa menghormati dan menghargai satu sama lain. Cinta yang mmebuatku ingin selalu bersama-sama dengan dia di dalam menjalani kehidupan ini. Cinta yang membuatku menjadi perempuan yang diinginkan, menjadi satu-satunya perempuan yang harus selalu diutamakan di atas kebutuhannya.
     Dua tahun sepuluh bulan adalah waktu yang cukup untuk kami berdua saling menguatkan komitmen untuk melangkah ke tahap selanjutnya. Di dalam rentang waktu ini, aku mengkomunikasikan kepada Josua mengenai hal-hal yang tidak kusukai dan hal-hal yang kusukai. Demikian halnya dengan Josua. Kami berdua belajar untuk bernegoisiasi karakter kami masing-masing. Tidak mudah, sampai sekarang proses itu masih tetap berlangsung, akan tetapi setiap hari kami belajar untuk saling mendahulukan dalam memberikan yang terbaik.
Josua adalah hadiah terindah yang kuterima dari Yesus selama 27 tahun hidupku. Dia mampu membuatku untuk melawan kepesimisanku dalam hidup, khususnya mengenai pernikahan dan lelaki Batak. Dia telah menunjukkan kepadaku bahwa di desa dimana aku dibesarkan yang membuatku menghapus lelaki Batak menjadi suamiku, dari tempat itulah Josua memperbaikinya. Di desa di mana kami sama-sama tumbuh, Josua hadir untuk membuat perubahan bahwa karakter yang aku sebutkan di atas harus dihapuskan dari karakter lelaki Batak. Bersama Josua, aku bisa dengan percaya diri untuk memasuki dunia pernikahan. Josualah yang membuatku perlahan-perlahan namun pasti menyadari bahwa dunia ini terlalu sayang untuk dijalani di dalam kesendirian. Dunia ini akan jauh lebih menyenangkan, segala hal yang sulit akan terasa mudah, rasa sepi akan menghilang, apabila kita menjalaninya bersama-sama. Hal inilah yang membawaku untuk bersumpah di hadapan Tuhan Yesus, untuk menjadikan Josua menjadi partnerku yang seimbang dan setara di menjalani kehidupan dunia ini.
Saat ini telah sembilan bulan berlalu semenjak sumpah itu terucap dari mulutku. Begitu banyaklah cerita yang telah kami tulis bersama. Suka-duka, sakit-sehat, dan saat tabungan kami di bank menuju angka nol, aku tetap bersyukur bahwa Josualah lelaki Batak yang telah Tuhan berikan untukku menjalani kehidupan ini. Josua menjadi lelaki yang meletakkanku menjadi prioritas hidupnya, yang mendahulukan kesenanganku di atas kesenangannya. Mengorbankan hal yang disukainya, demi kenyamananku. Lelaki yang berjuang untuk membuatku tersenyum dan berkicau. Dan yang pasti, yang memberikan cinta yang tak pernah aku dapatkan dari siapapun, kecuali dari dia. Di dunia ini, tidak ada seorang pun yang membuatku di posisi itu.
     Di kondisi ini, membuatku kembali ke percakapanku dengan almarhum Namboru Sonti. Dia pernah mengatakan bahwa kehidupan pernikahan itu lebih banyak ributnya dibandingkan rasa damainya. Dulu aku mengiyakannya karena itulah yang aku saksikan di keluarga-keluarga Batak dimana aku dibesarkan. Akan tetapi, dengan Josua menjadi suamiku, pengalaman kami di besarkan di desa yang sama, dan wawasan yang kami peroleh selama menjadi perantau di Pulau Jawa ini, mengasah kami untuk memiliki karakter yang lebih baik. Khusunya karakter untuk menjadi seorang suami, menjadi seorang ayah, dan menjadi seorang partner kehidupan. Aku memang tidak bahagia selama 24 tahun awal kehidupanku. Aku tidak memiliki pengalaman yang menyenangkan dan memuaskan. Di usia 25 tahun, ketika aku memutuhkan untuk mengkontruksikan hubunganku dengan Josua dengan tujuan utama pernikahan, membuatku untuk harus bahagia. Dan, disinilah aku bisa menyuarakannya, akhirnya setelah 26 tahun kehidupanku yang penuh dengan tekanan, sekarang hidupku sangat bahagia. Jawabannya hanya satu, karena aku menikah dengan Josua. Aku meninggalkan kehidupanku yang dulu dan menjalani kehidupan baru, menjadi Nyonya Sihotang dengan keluarga baru.
     Walaupun di tahun ini, kami mengalami masa berduka juga, dimana anak kami yang masih berusia 28 minggu dalam kandunganku akhirnya diambil oleh Tuhan lagi, aku tetap bersyukur bisa menjalaninya bersama Josua. Masa berduka ini terasa lebih mudah untuk kujalani dengan hadirnya Josua di dalam kehidupanku. Josua dan hanya karena Josualah yang membuatku memiliki kekuatan untuk bangun kembali di pagi hari di masa-masa berduka ini. Dengan adanya Josua yang menjadi suamiku, membuatku tegar dan tersenyum walau mataku menangis. Dengan Josua menjadi suamiku, aku mampu mengucap syukur kepada Tuhan dan mengatakan bahwa aku sangat bahagia.



     


No comments: