Wednesday, 3 December 2014

hai kesedihan

Sungguh aneh. Selama masa kehamilan aku mengeluhkan kondisi dimana aku harus bangun pagi-pagi benar, menghadapi kemacetan, tekanan di kantor, kurang tidur, rasa frustasi di jalan - intinya aku sangat membenci rutinitasku yang tidak bisa menikmati keberadaanku di rumah. 
Dan sekarang, setelah tiga bulan aku tidak melakukan rutinitias itu, aku kembali mengeluhkan kehidupanku yang monoton. Aku bosan tinggal di rumah walau tubuhku menginginkannya. 

Seharusnya aku mensyukurinya. Seharusnya aku bisa menikmatinya. Tapi nyatanya aku tak b-lisa. Aku tak bisa hidup santai seperti ini sementara banyak tagihan yang harus aku bayarkan setiap bulannya. Aku harus segera menemukan cara untuk mendapatkan uang dan beraktivitas kembali. Aku adalah manusia pekerja, bukan manusia santai.

Lalu apa yang bisa kulakukan sekarang?

Aku merasa sepertinya semua pintu sudah tertutup untukku. Aku takut untuk percaya kepada Tuhan karena aku takut ditolak. Tapi aku tidak memiliki pilihan lain bukan? Aku tidak memiliki siapa-siapa lagi yang bisa membantuku untuk ke luar dari situasi ini.

Ketika aku mengalami pecah ketuban dini, aku sangat percaya sekali bahwa aku dan bayiku akan sehat. Aku begitu sangat percaya kepada Tuhan dan menjalaninya dengan ketenangan. Akan tetapi yang kudapatkan adalah, bayiku meninggal.
Hal yang sama juga terjadi baru-baru ini, aku sangat percaya bahwa Tuhan akan memberikanku pekerjaan sebelum bulan November 2014 ini berakhir. Aku percaya sekali kepadaNya. Lagi-lagi rasa tenangku dan kepercayaanku kepadaNya musnah.

Aku ingat ada tertulis, bahwa Dia akan memberikan yang terbaik kepadaku. Aku pun akhirnya menilik kembali apa yang sudah kulalui. Ketika SMP, aku menunggu dua tahun untuk menjadi juara umum, walau sesungguhnya aku mampu mendapatkannya kalau guru kelasku tidak mengantuk dan salah mengisi raporku. Ketika SMA, karna inginnya aku meninggalkan rumah orang tuaku, aku berharap bisa diterima di sekolah yang memiliki asrama. Aku menunggu 4 tahun untuk bisa merasakan sekolah yang memiliki asrama. Aku juga menunggu satu tahun untuk bisa kuliah di PTN. Dan sampai sekarang aku juga menunggu untuk mendapatkan pekerjaan. Melihat perjalananku yang tidak mudah untuk mendapatkan yang kuinginkan, sepertinya aku juga akan menunggu untuk mendapatkan anak lagi.

Huuu..aku selalu berusaha untuk tidak bertanya mengapa kepada Tuhan. Aku mencoba untuk taat dan memeriksa diriku sendiri. Mungkin seharusnya perumpamaan yang mengatakan "gantungkanlah cita-citamu setinggi bintang di langit" harus segera dihapuskan dari dunia ini. Perumpamaan ini sangat menyiksaku. Setiap cita-cita yang kuinginkan harus selalu melalui perjuangan dan tidak berhasil. Yang kudapatkan adalah turut bahagia bersama mereka yang dengan begitu mudahnya bisa meraih cita-citaku. Sepertinya aku sudah ditakdirkan untuk menjalani kehidupan yang seperti ini.

Suamiku beberapa hari yang lalu mengatakan kepadaku, aku tak percaya kau menjadi seperti ini. Salah satu alasanku memilihmu untuk menjadi istriku adalah karena aku tahu bahwa kau akan tangguh dalam menghadapi badai. Tapi, yang aku lihat sekarang adalah perempuan yang cengeng.
Aku sedikit tersinggung dengan pernyataannya ini, akan tetapi dia memang benar, Aku telah kehilangan kekuatan untuk bersabar dalam kesesakan. Aku bukan Rani yang dulu lagi, yang selalu siap menerima setiap badai yang Tuhan izinkan datang kepadaku. Sekarang, aku telah kehabisan tenaga.
Dan aku pun menjawab suamiku, Anak kami Jordan telah membawa Rani yang kuat, mandiri, pejuang, dan tangguh itu. Sekarang yang tinggal adalah Rani yang meratapi dan mengasihani diri sendiri, membenci segala sesuatu, dan cengeng. 


No comments: