Tuesday, 2 December 2014

Mangalului dalan ngolu

Tak terasa telah empat tahun berlalu semenjak aku meninggalkan dunia kampus. Selama empat tahun pula aku berkenalan dan bergaul dengan yang disebut market place. Tak bisa kuingkari bahwa menjadi bagian dari markat place memberiku banyak wawasan yang membantuku di dalam pembentukan pola pikirku. Aku bertemu banyak orang yang mengajarkanku berbagai hal. Aku juga menjadi banyak tahu mengenai sistem yang ada di Indonesia ini yang memiliki pengaruh besar untukku dalam memaknai kehidupanku.

Berikut adalah beberapa pembelajaran  yang aku dapatkan selama di market place , yang juga membuatku terus berpikir dan berpikir di dalam menjalani hari-hariku :
  1. Manusia itu tamak. Tidak ada kata cukup. Profit oriented! Sampai saat ini, aku belum menemukan perusahaan yang peduli dengan karyawannya sebesar kepedulian mereka terhadap pencapaian porfit. Perusahaan hanya peduli bahwa sistem yang ada di perusahaan itu harus berjalan dengan baik dan menghasilkan keuntungan sebanyak mungkin. Dan di dalam banyak kasus hal ini sering sekali mengorbankan si karyawan, misalnya karyawan menjadi lembur, hubungan antar karyawan menjadi tidak baik, dan bahkan menjadi stres.
  2. Banyak perusahaan yang menetapkan standar yang tinggi untuk bisa menjadi karyawan mereka. Bukan hanya itu, perusahaan juga mengharapkan si karyawan sudah bisa langsung menghasilkan profit. Hal inilah salah satu penyebab mengapa banyak pengangguran di Indonesia. Perusahaan terlalu menuntut karyawannya sudah langsung bisa bekerja sesuai dengan kebutuhan perusahaan sementara sistem pendidikan di Indonesia mayoritas tidak mempersiapkan para pelajarnya untuk menjadi pekerja. Dari pengalamanku, saya berulang kali terjebak ke dalam sistem di perusahaan yang sama sekali belum pernah tersimpan di dalam memoriku. Alhasil, semuanya harus dimulai dari nol seolah-olah apa yang telah aku pelajari di bangku kuliah menjadi sia-sia karena tidak dipergunakan setelah bekerja di perusahaan. Aku juga tidak tahu mengapa gap antara universitas dan kebutuhan perusahaan sangat tinggi. Aku sering bertanya, jadi sesungguhnya untuk apa ada universitas kalau tidak bisa menjawab kebutuhan perusahaan? Sementara dari sisi perusahaan, mereka tidak mau rugi dalam hal materi dan waktu untuk memberikan pelatihan bagi karyawan mereka.
  3. Lingkungan tempat bekerja yang tidak nyaman. Bukan rahasia umum lagi, bahwa hampir semua para pekerja di Jakarta menghabiskan waktu mereka di jalan. Sesampai di kantor, pergaulan dengan teman sekantor juga belum tentu mendukung kita untuk bisa memberikan potensi dengan baik. Saling sikut-menyikut, para penjilat, dan bahkan mereka yang ogah-ogahan bekerja pun banyak ditemukan di tempat bekerja. 
Pengalakmanku dengan tiga perusahaan membuatku banyak berpikir dan merefleksikan segala yang telah kulakukan. Bangun subuh, berangkat pagi-pagi, tergesa-gesa ketika telat bangun, menghadapi kemacetan, di kantor menghadapi tekanan, menghabiskan 14 jam setiap hari di luar rumah, hanya untuk menjadi budak seseorang. Lalu apa yang aku dapatkan? Aku dapat uang, dapat status bahwa aku seorang pekerja, setidaknya tidak menganggur. Jujur, aku tidak menyukai kondisi itu. Tapi aku juga tidak menyukai kondisiku sekarang yang menjadi pengangguran. Aku merasa sangat jenuh hanya di rumah saja. Tapi aku juga tidak mau kembali dengan rutinitas yang kujalani selama empat tahun ini, menjadi budak manusia lain dengan kondisi minimnya perhatian perusahaan terhadap karyawan.

Harapanku, aku ingin sekali dapat bekerja tanpa harus merasa menjadi budak seseorang. Aku ingin berkarya dan mengaplikasikan ilmuku. Aku ingin dihargai bukan diperas seperti yang sudah-sudah. Mungkin inilah hukuman yang Tuhan maksudkan ketika mengusir manusia pertama dari taman Eden bahwa si manusia akan bersusah payah di dalam memenuhi kebutuhan hidupnya.

Menemukan pekerjaan, masih tetap menjadi pergumulanku semenjak aku meninggalkan rumah orang tuaku. Dan sampai hari ini aku masih belum menemukannya. Dan aku tak tahu mengapa aku belum bisa menemukannya. Berbagai macam usaha dan strategi telah aku lakukan, tapi sejauh ini yang kutemukan hanyalah kegagalan dan sakit hati. 

No comments: