Tuesday, 9 December 2014

Natal Kampung

Bulan Desember adalah bulan yang selalu mengingatkanku akan masa kecilku. Tentu saja karena di bulan ini adalah hari perayaan lahirnya Tuhan yang aku percayai menjadi segalanya untukku. Lagu-lagu natal yang melegenda dari tahun ke tahun dan dekorasi natal (santa claus, pohon natal, lampu-lampu, dan sebagainya) memberikan ketenangan bagi jiwaku. Lahir dan dibesarkan di lingkungan mayoritas Batak Toba dan Kristen (baca HKBP), memberikan kesan natal yang kuat di dalam pikiran dan jiwaku. Yang paling berkesan yang tidak pernah aku temukan di tempat perantauan ini ketika masa kecilku di bulan Desember adalah natal kampung. Para pemuda-pemudi di tiap desa akan berkumpul untuk merencanakan acara natal kampung  dimana dana yang dibutuhkan untuk acara ini merupakan sumbangan dari semua orang yang ada di kampung atau lebih dikenal dengan taken list. Perencanaan dan persiapan natal kampung ini biasanya telah dimulai di bulan September tiap tahunnya. Acara natal kampung menjadi wahana bagi seluruh penduduk kampung untuk berpesta bersama-sama selama semalam suntuk. Iya, acara natal kampung ini dimulai pukul 19.00 WIB dengan pawai mengundang seluruh penduduk kota untuk datang ke kampung kami menyaksikan natal kampung kami dan berakhir sampai dini hari sekitar jam 03.00 WIB. Seperti namanya natal kampung, natal ini diadakan di kampung, di halaman terbuka sebuah kampung. Disana akan didirikan panggung, pemusik akan diundang, dan dekorasi natal yang indah sekali seperti pita-pita, pohon pinus untuk pohon natal, mare-mare (janur kuning), lampu-lampu dan hiasan natal lainnya. Dimana seluruh hiasan ini adalah hasil buatan tangan para pemuda-pemudi, kecuali pohon pinus dan lampu-lampu.

Adapun konsep acaranya dibagi ke dalam dua bagian besar, yang pertama acara ibadah dan yang kedua hiburan. Untuk acara ibadah, liturginya kurang lebih sama seperti yang dilakukan setiap hari Minggu di gereja. Dalam hal ini karena mayoritas orang Batak dimana aku dilahirkan dan dibesarkan adalah anggota gereja HKBP, maka pendeta dan sintua yang melayani adalah dari gereja HKBP dan liturginya juga menggunakan liturgi gereja HKBP. Bukan berarti di kampung dimana aku lahir dan dibesarkan tidak ada gereja lain, ya. Acara ibadah terdiri dari liturgi yang dimulai dari anak-anak sekolah minggu sampai kepada orang tua, vocal group, paduan suara sekolah minggu sampai paduan suara orang tua, bernyanyi dari buku ende (kidung pujian jemaat HKBP), puisi, dan khotbah. Mostly acara ibadah terdiri dari nyanyian dan musik, tentu saja karena orang Batak Kristen suka bernyanyi dan memuji Tuhan melalui pujian.

Di acara ibadah, biasanya yang paling ditunggu-tunggu adalah acara dimana anak-anak di bawah umur lima tahun menyuarakan liturgi mereka. (Semua liturgi diambil dari ayat Alkitab, dimana para anak sekolah minggu sampai pemuda dan pemudi harus menghafalkannya. Sementara para orang tua karena mereka sudah cukup tua untuk menghafal, mereka hanya membacakannya saja). Menjadi lucu karena anak-anak di bawah lima tahun akan melafalkan liturgi mereka dengan cara mereka masing-masing. Apalagi dengan cuaca yang dingin dan malam hari dimana anak-anak melawan ngantuk mereka dan sudah mulai rewel akan tetapi menjadi hiburan tersendiri bagi para manusia dewasa, khususnya para orang tua mereka. Menyaksikan anak-anak mereka di atas panggung dan menyurakan liturgi mereka. Liturgi mereka adalah :

  "dimuladimulana ditompa Debata ma, langit dohot tano on" (1Musa 1:1)

Ketika menyaksikan anak-anak di bawah umur lima tahun menyuarakan litugi ini dengan segala kelucuan mereka, aku selalu bertanya di dalam hatiku, apakah dulu aku juga selucu mereka? Apakah orang dewasa juga tertawa seperti halnya aku tertawa melihat mereka menyuarakan liturgi itu?
Biasanya tidak semua anak-anak umur lima tahun yang percaya diri untuk menyuarakan liturgi mereka di atas panggung. Tak banyak yang menangis dan berlari ke orang tua mereka. Menurutku, ber-liturgi ketika natal adalah salah satu cara untuk mengajari kami percaya diri di depan banyak orang.

Acara kedua setelah acara ibadah adalah acara hiburan. Di acara hiburan, anak-anak sekolah minggu akan menari. Tarian yang paling populer adalah tarian berpasang-pasangan dan adanya tongkat sebagai aksesoris kami dengan diiringi lagu natal "Mary's Boy Child". Sementara para pemuda-pemudi akan manortor secara berpasangan. Selain liturgi anak di bawah lima tahun, tarian anak-anak juga menjadi yang ditunggu-tunggu. Memang, dimanapun anak-anak, mereka akan selalu menjadi sorotan, bukan dengan tingkah mereka yang membuat kita selalu tertawa.
Setelah tarian anak-anak, acara hiburan lainnya yang terkadang menjadi tujuan utama diadakannya natal kampung adalah adanya acara lelang. Acara lelang ini adalah momen untuk mengumpulkan uang sebanyak mungkin yang akan digunakan untuk mendanai acara natal kampung tersebut. Acara lelang ini akan menjadi penentu apakah sebuah natal kampung dinyatakan gagal atau sukses, selain itu adalah suatu kebanggan bagi sebuah kampung apabila lelang di acara natal mereka laku dengan nilai rupiah yang banyak. Setelah natal kampung usai, yang menjadi sorotan utama bukanlah isi khotbah pendeta atau alur acara, melainkan banyaknya hasil lelang!

Ketika lelang berlangsung, hal ini menjadi momen yang tepat bagi para mereka yang ingin show off. Para perantau yang ingin dianggap sebagai perantau sukses biasanya akan tergoda untuk terlibat di acara lelang ini. Tak jarang, momen acara lelang ini juga dipergunakan untuk kampanye oleh mereka para politisi. Tapi ada juga yang menggunakan momen ini untuk mengapresiasi hula-hula mereka dengan memberikan hasil lelang mereka kepada hula-hula mereka. Intinya acara lelang ini bertujuan untuk menyumbang ke acara natal dengan cara show off. Over all hal itu menjadi hiburan tersendiri bagiku dan menurutku cukup menarik ditonton. Selama 18 tahun aku mengikuti natal kampung, aku dan keluargaku belum pernah terlibat di acara lelang. Bukan karena kami tidak mau show off, melainkan orang tuaku tidak cukup uang untuk ikut serta melelang. Orang tuaku biasanya hanya mampu menyumbangkan ayam kodok ke panitia natal untuk dilelangkan.

Natal kampung adalah salah satu event natal kampung yang paling kurindukan di bulan Desember. Setiap kali bulan Desember tiba, kenangan masa kecil di kampung halaman dengan berbagai macam persiapan natal kampung, melakukan dekorasi natal di rumah, membuat kue-kue natal, dan sepanjang mata melihat, sejauh telinga mendengar, all about christmas. Itulah moment yang paling kurindukan di tanah rantau ini. Di tanah rantau ini, aku nyaris tidak pernah merasakan natal. Aku tidak menyalahkan lingkunganku karena inilah konsekuensi yang harus aku hadapi ketika menjadi kaum minoritas. Mungkin apa yang kurasakan adalah sama dengan yang dirasakan orang-orang Jawa yang melewati bulan Ramadhan di desa dimana aku dilahirkan dan dibesarkan.

Aku merindukan situasi dimana aku menjadi kaum mayoritas, mayoritas orang Batak Toba, mayoritas Kristen, dan mayoritas HKBP. Aku telah lahir dan dibesarkan menjadi kaum mayoritas, tapi sepertinya mulai tahun ini dan tahun-tahun selanjutnya aku harus menjalani hidup dengan menjadi kaum minoritas. Jujur, sangat menyedihkan karena  kebiasaan yang kulalui di awal-awal kehidupanku selamanya akan menjadi kenangan.
Aku merindukan suasana hiruk pikuk dimana para tetangga sibuk untuk mempersiapkan acara natal kampung, memasak makanan berupa lampet dan makanan untuk dilelang di acara natal, pemuda-pemudi yang sibuk untuk mempersiapkan dekorasi panggung natal, anak-anak latihan paduan suara, menari, dan liturgi natal. Ya, aku sangat merindukan momen itu.
Aku merindukan momen dimana anak-anak saling memamerkan pakaian natal mereka, antri di tukang salon, anak-anak perempuan yang berubah menjadi centil karena memakai lipstik dan rambut mereka disanggul. 
Natal kampung memiliki banyak kenangan, banyak cerita, dan banyak tawa. Di masaku, ada sebuah istilah yang lahir dari persiapan dan pelaksanaan natal kampung, yaitu MARNATA (marhallet tingki natal). Momen ini biasanya menjadi salah satu wahana bagi pemuda dan pemudi untuk menemukan cinta sejati atau cinta monyet mereka. Banyak pemuda-pemudi yang akhirnya menjalin hubungan romantis di kala natal kampung.

Natal kampung terakhir yang kualami adalah natal ketika aku duduk di bangku kelas tiga SMA. Setelah itu, aku menjadi penonton dan pengamat karena aku sudah terlambat untuk bergabung di acara natal kampung. Jarak antara kampung halaman dan tempat rantau yang kutuju membatasi langkahku untuk ikut serta di natal kampung. Itulah salah satu duka menjadi seorang perantau, dimana di tiitk ini, aku merasa menjadi orang luar dari kelompokku. Aku seperti tanaman yang ditarik dari tanah, dipindahkan ke pot. Dan disinilah aku, hanya sebagai penonton untuk setiap natal kampung yang diadakan di kampung dimana aku lahir dan dibesarkan.

No comments: