Monday, 1 December 2014

Para koruptor di Indonesia

Kosakata "korupsi" pertama sekali saya dengar  ketika saya duduk di bangku kelas lima SD, yaitu di tahun 1998.  Saya mendengarnya dari berbagai media berita seperti, surat kabar, radio, dan TV. Saat itu memang keadaan negara kita sedang mengalami masa-masa sulit. Dan dari media yang saya baca keluarlah kosakata korupsi. Walaupun demikian saya tidak terlalu mengerti dengan makna dari kosakata itu karena kurangnya informasi yang saya dapatkan dan kosakata  itu nyaris tidak sering didiskusikan di desa dimana saya dibesarkan. Masyarakat sekitar saya hanya mengatakan bahwa korupsi itu mengakibatkan nilai rupiah menurun, bahan makanan susah didapatkan, dan harga emas naik. Dan yang pasti keadaan ekonomi kami sebagai rakyat yang memiliki latar belakang ekonomi menengah ke bawah pun terguncang. Akhirnya dulu saya menyimpulkan bahwa korupsi itu adalah sesuatu yang menyebabkan malapetaka bagi rakyat.

Seiring dengan bertambahnya informasi yang saya dapatkan dan perkembangan teknologi dimana informasi mudah didapatkan, istilah korupsi pun sudah sampai ke semua telinga manusia yang ada di pelosok dunia ini. Bahkan bukan hanya makna dari kata ini yang sudah dipahami oleh hampir semua orang di pelosok negeri ini, juga trik-trik yang jitu untuk melakukan korupsi. Hal ini sangat menjamur begitu cepat di kehidupan bermasyarakat kita. Walaupun yang sering tertangkap basah dan yang menjadi target pemberitahuan media adalah mereka yang bekerja di kantor pemerintahan, akan tetapi untuk korupsi itu sendiri telah menjamur di hampir semua lapisan masyarakat dan di semua jenis perkantoran.

Kadang kala, ketika saya sedang sendirian, misalnya ketika sedang menunggu bis transjakarta ketika pulang kantor dengan background pemandangan mobil-mobil pribadi yang parkir gratis di sepanjang jalan sudirman, saya sering berpikir, mengapa korupsi itu bisa terjadi? Banyak alasan yang masuk akal dan  saya terkadang bisa memakluminya walau saya tidak setuju dengan korupsi. Beberapa alasan yang terpikirkan oleh saya yang membuat manusia, khususnya mereka yang yang bekerja di pemerintahan rentan untuk melakukan korupsi adalah :
  1. Sistem, budaya kerja, dan kondisi yang sudah tertata sedemikian rupa untuk melakukan korupsi. Dimana pilihannya hanya dua, take it or leave it. Dan tentunya dengan berbagai resiko untuk setiap pilihan yang ada. Dimana resiko dari kedua pilihan itu pastinya tidak menyenangkan. Yang bersangkutan hanya perlu mempertimbangkan, resiko yang paling tidak menyenangkan dibandingkan resiko-resiko buruk yang ada. Tak jarang, orang-orang yang kita cintai,  agama dan bahkan prinsip hidup kita bisa menjadi taruhannya. Untuk alasan yang satu ini, perubahan ke arah yang lebih baik hanya memungkinkan untuk dilakukan apabila dimulai dari mereka yang memiliki kuasa dan wewenang dengan kata lain mereka yang disebut sebagai para pemimpin. Di negara kita hal ini bisa dilakukan oleh Presiden, Menteri, Gubernur, dan para anggota DPR/MPR. Pertanyaan selanjutnya adalah sejauh mana para pemimpin kita ini bersedia mewujudkannya dan itu akan dijawab oleh alasan yang kedua.
  2. Pola asuh. Berikut adalah beberapa pola asuh yang menurut saya membuat mereka jatuh ke dalam yang namanya korupsi adalah : 
  • Menyekolahkan anak-anak dengan tujuan setelah menyelesaikan sekolah, anak-anak akan bekerja dan mendapatkan upah berupa uang yang banyak. Keberhasilan dinilai dari seberapa banyak uang yang telah dikumpulkan. Hal ini mengakibatkan setiap anak  didkotrin untuk menghasilkan uang dalam jumlah yang banyak. Tidak menjadi dosa apabila anak-anak akhirnya memiliki ambisi untuk mengumpulkan uang sebanyak mungkin. Menjadi kaya bukanlah dosa, apabila  proses untuk menjadi kaya itu  bukan dengan cara memerkosa hak orang lain. Hal inilah yang lupa untuk disosialisasikan oleh para orang tua. Mayoritas orang tua menutup mata akan hal ini. Bagi mereka, asal muasal uang itu berada di nomor sekian, yang menjadi nomor satu bahwa anak-anak mereka menjadi kaya raya.
  • Menjadikan uang sebagai  penerimaan dan penghargaan di hampir setiap lingkungan hidup. Apabila ingin dihargai, ingin diperhitungkan dalam sebuah komunitas, ingin berkuasa, milikilah uang dalam jumlah yang banyak. Para orang tua  lebih menghargai dan menerima anak-anak mereka yang memiliki banyak uang dibandingkan yang tidak. Hal yang sama juga terjadi di dalam kehidupan bermasyarakat. Hanya mereka yang memiliki uang yang banyaklah yang mendapatkan penerimaan dan penghargaan. Hal ini membuat anak-anak akhirnya memilih untuk menjadi sekaya mungkin agar mereka diterima dan dihargai. Di dunia ini semua orang ingin diterima dan dihargai, bukan? Orang tua dan masyarakat kita sangat jarang menerima dan menghargai seseorang berdasarkan karakter dan apa yang telah dilakukan. Jumlah saldo di bank dan berbagai barang mewah yang dimilikilah yang menjadi standarnya.
  • Membahagiakan orang tua dan orang-orang yang dicintai. Mari kita bertanya kepada anak-anak di Indonesia, apa yang menjadi tujuan utama mereka di dalam hidup ini. Maka jawaban mereka adalah membahagiakan orang tua. Membahagiakan orang tua ini dalam bentuk apa? Pastinya dalam bentuk uang. Membawa orang tua mereka naik haji bagi mereka yang beragama muslim, membelikan berbagai barang-barang mewah kepada orang tua dan sebagainya. Pemikiran ini mereka dapatkan dari doktin yang telah disosialisasikan oleh orang tua mereka. Seolah-olah satu-satunya cara untuk membahagiakan orang tua adalah hanya melalui uang. Mari kita hitung, ada berapa banyak orang tua yang harus dibahagiakan di Indonesia ini dengan uang. Dan betapa tersiksanya anak-anak di Indonesia apabila tidak mampu memberikan uang untuk menjadi sumber kebahagiaan para orang tua. Sangat jarang ditemukan di Indonesia ini, orang tua yang meminta anak-anaknya untuk tidak membahagiakan mereka dengan uang.
  • Pola asuh yang konsumtif. Banyak orang tua yang tidak menyadari telah mensosialisasikan perilaku konsumtif ini secara tidak sengaja. Tidak disengaja karena hal itu melekat di diri para orang tua, dimana anak-anak pada akhirnya mengobservasi dan meniru perilaku orang tua. Contoh yang paling jelas terlihat di dalam kehidupan berkeluarga di Indonesia adalah dalam hal membeli alat-alat teknologi, seperti handphone. Saat ini hampir semua rakyat di Indonesia memiliki handphone. Apabila dilakukan survey, harga handphone  yang dimiliki oleh mereka yang masuk kategori kelas ekonomi menengah ke bawah adalah di atas satu juta dan bukan hanya satu. Apabila diitelusuri, mayoritas mereka yang membeli handphone dengan harga yang tidak sesuai dengan pendapatan, bukan karena faktor kebutuhan melainkan karena gengsi dan tidak ingin dinilai menjadi orang yang kudet (kurang update).
          
Menurut saya, kedua hal di ataslah alasan utama yang menjadikan banyaknya para koruptor di Indonesia ini. Untuk alasan yang pertama, itu menjadi PR utama bagi para pemimpin, sementara untuk alasan yang kedua itu menjadi PR kita semua yang disebut orang dewasa. Apabila kita sebagai orang tua, mari kita koreksi kembali pola asuh yang telah kita berikan kepada anak-anak kita. Apakah kita termasuk ke dalam orang tua yang memberikan pola asuh seperti yang saya sebutkan di atas? Kalau iya, mari kita benahi kembali demi Indonesia yang lebih baik. Memberantas korupsi bukan hanya tugas Komisi Pemberantas Korupsi (KPK), tapi juga tugas kita para orang tua. Pola asuh yang kita berikan selama mereka menjadi anak-anak kita sangat berpengaruh signifikan bagi perkembangan Indonesia ke depannya. Anak-anak yang ada di rumah kita juga adalah warga negara Indonesia yang mengambil peran hendak dibawa kemana Indonesia ini. Kalau kira merasa apatis dengan para pemimpin, para pegawai pemerintah, mari kita hentikan dengan mendidik anak-anak kita agar tidak seperti mereka. Sebelum kita mendidik anak-anak kita, mari kita periksa diri kita, apakah kita sudah layak menjadi panutan mereka? Karena apa yang kita sosialisasikan kepada anak-anak kita akan lebih berdampak apabila itu juga menjadi karakter kita.


Selanjutnya bagi mereka yang sudah terlanjur mendapatkan pola asuh yang demikian dari orang tua kita, belum terlambat bagi kita untuk mengubah karakter diri. Sebagai manusia dewasa dan yang melek akan informasi dan perkembangan zaman, mari kita benahi diri kita untuk bisa membebaskan diri dari doktrin orang tua kita. Bersama kita membenahi diri kita bahwa uang bukanlah standar keberhasilan, uang bukanlah standar untuk menerima dan menghargai orang lain maupun diri sendiri, bahwa uang bukanlah satu-satunya cara untuk membahagiakan orang tua, dan mulailah hidup sederhana. 

Siapakah para koruptor itu? Kita semua. Bukan hanya para pegawai pemerintah, bukan hanya para pemimpin negara, dan bukan hanya para anggota partai. Tapi kita semua. Oleh karena itu, mari kita benahi diri kita dan jangan mau menjadi budak dari uang. Ingatlah uang itu adalah buatan manusia. Dan yang lebih utama daripada turun ke jalan dengan anarkis yang membuat jalanan macet dan mengancam keamanan lingkungan, daripada menyalahkan orang lain, lebih baik membenahi diri dan berkarya positif bagi bangsa dan negara. 

Note : Jangan tanyakan apa yang sudah diberikan negara kepadamu, tapi tanyakanlah apa yang sudah kita berikan kepada negara.

No comments: