Tuesday, 2 December 2014

Perempuan, si pendamping yang setara

Bagi masyarakat dimana aku dibesarkan, usia 30 tahun bagi perempuan adalah usia yang sudah harus menikah, minimal memiliki pacar. Apabila di usia ini belum memiliki pacar, maka orang tersebut biasanya sudah mengalami kegelisahan dan akan semakin meratapi diri sendiri. Mungkin, ketiadaan pasangan hidup seharusnya tidak akan terlalu menyakitkan apabila tidak ada desakan dari orang tua, keluarga, maupun dari teman-teman. Karna tanpa desakan mereka, kehidupan sudah terlihat semakin kacau ketika setiap orang di sekitar kita memiliki pasangan, apalagi ketika berhadapan dengan masa dimana mereka akan sibuk dengan pasangannya, akhirnya kita pun merasa ditinggalkan dan kesepian. Hal inilah yang membawa banyak perempuan akhirnya menyimpulkan bahwa sudah saatnya memiliki pasangan hidup.

Dengan alasan kesepian, banyak perempuan akhirnya setuju untuk memiliki pasangan hidup. Tapi tidak dengan  almarhum Namboruku dimana di usianya yang ke- 50, dia tetap memutuskan untuk tidak menikah. Dia tidak pernah menangisi keadaannya (setidaknya aku tidak pernah melihat dia menangis karena statusnya). Akan tetapi, aku tahu kalau dia sangat kesepian, dimana di penghujung rasa kesepiannya dia sudah menjadi sangat terbiasa dengan hal itu dan menjadikannya life style sehingga dia merasakan kenyamanan menjadi single. Dulu, aku menilai pilihan yang diambilnya adalah sesuatu yang menakjubkan. Dimana aku pun pernah memutuskan untuk menjadi pengikutnya, tidak akan menikah. Aku menyaksikan bahwa pernikahan di suku kami, sepertinya hanya memuaskan kaum lelaki saja dan almarhum Namboruku pun setuju dengan hal itu. Menurut pengakuannya padaku, itulah menjadi salah satu alasannya untuk tidak menikah. Dia tidak mau menghabiskan hidupnya untuk melayani lelaki. Hal ini juga yang membuatku akhirnya memiliki pemikiran bahwa di dalam sebuah pernikahan, bukanlah tugas perempuan untuk melayani laki-laki, melainkan kedua belah pihak harus bersama-sama saling melayani. Bukankah Tuhan berkata, bahwa perempuan dijadikan Tuhan untuk menjadi pendamping yang setara dengan laki-laki?

Saat ini, aku mengenal banyak perempuan di sekitarku yang belum menemukan paangan hidupnya. Di satu sisi, aku cukup bangga dengan hal itu karena aku tahu salah satu alasan mereka belum menemukan pasangan hidup mereka adalah kaumku, para perempuan semakin menyadari posisinya di dalam ikatan pernikahan. Menurutku, semakin perempuan diberikan kesempatan untuk mendapatkan pendidikan, maka penilaian kami akan dunia ini pun mengalami perkembangan. Setidaknya kami tahu dimana posisi kami dan kami memiliki harapan untuk menjadikannya lebih baik. Kami, para perempuan bukan lagi seperti para nenekku yang terdahulu yang tidak paham betul mengenai posisi mereka sebagai perempuan, si pendamping yang setara dengan laki-laki. 

Aku sendiri, di dalam menemukan pasangan hidupku yang sekarang telah menjadi suamiku bukanlah proses yang mudah. Aku telah mendoakannya semenjak aku masih sekolah. Aku meminta kepadaNya, jikalau laki-laki itu tidak bisa menjadikanku sebagai pasangannya yang setara, mungkin akan jauh lebih baik bagiku untuk tidak menikah. Hal yang sama juga kuharapkan terjadi kepada setiap perempuan yang aku kenal, yang saat ini masih bergumul untuk menemukan pasangan hidupnya.

No comments: