Thursday, 4 December 2014

pil pahit

Pernahkah kau marah kepada PenciptaMu? Apa yang peroleh dari kemarahanmu itu? Apakah kau merasa lebih baik?

Saat ini aku sedang marah kepada Penciptaku. Walau aku tahu, apa yang kualami bukan melulu karena Dia, tapi aku butuh seseorang untuk dimarahi, dan aku memilih Dia.

Aku marah karena Dia membuatku berharap kepadaNya dan ketika hal itu telah terjadi, Dia mengkhianatiku dengan mengatakan, "Aku lebih tahu apa yang terbaik untukmu."
Kalau memang Dia lebih tahu apa yang terbaik untukku, lalu mengapa Dia memberikanku harapan untuk sesuatu yang bukan terbaik untukku.

Aku mulai goyah, apakah memang adalah pilihan yang tepat untuk berharap dan beriman kepadaNya? Selama 27 tahun hidupku aku melakukan hal itu, tapi yang kudapatkan adalah air mata, kegagalan, kekecewaan, dan harapan yang sirna. Atau memang demikianlah Dia menulis hidupku, bahwa aku tidak akan pernah mendapatkan kehidupan yang sesuai dengan harapanku? Kalau memang iya, aku ingin Dia mengambil setiap harapan yang ada di benakku. Memiliki harapan di benakku akan semakin membuatku lebih terpuruk karena itu adalah ilusi. Untuk apa aku memiliki harapan yang hanya akan ada di benakku. 

Aku tidak marah untuk setiap pil pahit yang Tuhan berikan untuk kutelan. Aku marah karena Dia memberikanku harapan, harapan yang akan sirna setelah aku merasakan sakitnya. 
Dan sialnya, aku tidak merasa lebih baik setelah marah kepadaNya. Yang ada adalah rasa bersalah. Bagaimana mungkin aku bisa marah kepada Dia yang telah menciptakanku? Siapa aku yang layak marah kepadaNya. Aku hanyalah kotoran yang baudan tidak berharga. Inilah yang membuatku semakin terpuruk. 

Kehidupanku sekarang ibarat, seorang ayah menunjukkan kepada anaknya sebuah pemandangan. Lalu si anak memiliki harapan untuk pergi ke sana. Si ayah tidak menjawabnya tapi dia memberikan pil pahit untuk ditelan anaknya. Anaknya tidak ada pilihan lain, selain harus menuruti perkataan ayahnya untuk menelan pil itu. Si anak mengira, setelah menelan pil ini, ayahnya akan membawanya ke pemandangan itu. Ternyata setalah pil itu ditelan, si anak kesakitan dan pemandangan yang ditunjukkan oleh ayahnya semakin jauh dari hadapannya. Dan ayahnya menjawab, "Aku lebih tahu apa yang terbaik untukmu." Dan disinilah aku, masih kesakitan karena pil pahit yang kutelan.

No comments: