Monday, 5 May 2014

perjalanan anakku (1)

Di awal bulan maret 2014, teman-teman kantorku sudah heboh menanyakan tentang aku sudah haid atau belum. Maklum pengantin baru, dan bulan Maret adalah bulan pertama setelah aku menikah. Dan ketika aku menjawab belum juga haid, mereka langsung menyarankanku menggunakan testpack (test kehamilan). Aku yang masih ingin menunda untuk melakukan testpack karena keterlambatan kedatangan haidku menurutku adalah dikarenakan faktor kelelahan dimana  setiap minggu sejak aku menikah selalu disibukkan dengan berbagai kegiatan. Diawali dengan tanggal 30 Januari, kami martumpol (setara dengan tunangan, acara pra nikah menurut tradisi Batak Toba dan jemaat gereja HKBP), minggu berikutnya tanggal 8 Februari, tanggal pernikahan kami. Tanggal 10 Februari kembali ke Jakarta, besoknya langsung masuk kantor, dimana dari rumah ke kantor kami tempuh dengan naik motor selama dua jam pulang pergi. Tanggal 15 Februari acara reuni alumni SMA N2 Balige, dimana aku menjadi ketuanya. Di week end selanjutnya, kami menerima undangan dari adik mertuaku untuk berkunjung ke rumah mereka di Bandung. Minggu berikutnya (28 Februari - 2 Maret), perjalanan kantor ke Yogyakarta dan Solo, dimana aku menjadi salah satu panitia dari perjalanan ini. Di samping week end yang selalu tidak pernah di rumah, di hari-hari biasa aku dan suami masih sibuk dengan pindahan kami dari kostan masing-masing ke rumah baru kami, dan tentunya pembenahan akan rumah baru kami dimana kami lakukan sambil ngantor juga. Itu adalah bulan yang penuh dengan kesibukan, jadi keterlambatan haidku tidak langsung kuresponi sebagai pertanda kehamilanku.

Di tanggal 12 Maret, aku tak kunjung kedatangan "tamu". Teman-teman kantor sudah mulai heboh bahkan beberapa sudah mendeklarasikan bahwa aku telah hamil. Ya begitulah kalau teman satu kantor adalah ibu-ibu yang sudah berpengalaman dalam melahirkan. Mereka memaksaku untuk melakukan testpack, bahkan sampai ada yang menawarkan untuk membelikkannya kepadaku. Akhirnya, aku pun luluh, aku meminta suamiku untuk membelikan testpack. Testpack pertama aku lakukan di tanggal 15 Maret 2014, dan hasilnya adalah negatif. Entah mengapa, awalnya aku tidak terlalu berharap untuk tidak segera hamil, akan tetapi mengetahui hasil tespack negatif menyisakan kekecewaan di hatiku. Ternyata alam bawah sadarku sesungguhnya menginginkanku hamil. Aku dan suami pun menghibur diri sendiri dengan mengatakan, belum waktunya.

Hasil tespack inipun aku beritahukan kepada teman-teman di kantor. Akan tetapi beberapa dari mereka menganjurkan agar aku melakukan test lagi seminggu kemudian kalau ternyata belum haid juga. Satu orang teman kantor sangat percaya kalau aku sudah hamil. Beberapa dari mereka menyarankanku untuk membeli alat testpack dengan merk yang lain. Keyakinan dari teman-teman kantorku sepertinya membawa dampak juga ke dalam diriku, aku pun mulai memiliki firasat kalau aku hamil. Aku merasakan ada yang berubah dengan tubuhku. Dan tentu saja karena haid yang tak kunjung datang.

Tanggal 22 Maret adalah hari ulang tahunku, aku pun berencana untuk melakukan testpack lagi di tanggal itu. Berharap itu akan menjadi hadiah ulang tahun dari Tuhan untukku. Di tanggal 20 Maret, aku harus merelakan karna aku akhirnya haid. Kecewa, iya. Tapi, aku berusaha untuk bersyukur, belum waktunya. Aku pun sudah mengikhlaskannya. Tapi mengapa firasatku yang mengatakan bahwa aku hamil semakin kuat ya? Dan aku pun semakin bingung karena haidku tidak datang seperti mana biasanya, alias hanya sedikit saja. Aku menunggu sampai tanggal 24 Maret, haidku masih hanya bercak saja. Aku pun memutuskan untuk melakukan tespack lagi. Dan di tanggal 24 Maret, hasilnya adalah positif. Pertama sekali melihat gambar itu aku nyaris tidak bisa memberikan respon apapun. Aku semakin bingung, apakah memang benar aku hamil atau tidak? Kalau memang hamil, mengapa masih ada darah yang ke luar dari vaginaku? Kalau tidak hamil, mengapa firasatku mengatakan aku hamil?
Suamiku pun kurang lebih memiliki respon yang hampir sama denganku, kebingungan. Mungkin karena masih trauma dengan hasil testpack yang pertama, suamiku tidak mau langsung percaya dengan hasil tespack  kedua yang menyatakan adanya dua garis merah. Keraguan suamiku juga dikarenakan salah satu garis merah itu tidak sama cerahnya dengan garis merah yang lain. Kami pun memutuskan untuk melakukan testpack beberapa hari kemudian.

29 Maret 2014, kami pun kembali melakukan tespack. Kali ini kedua garis merah sudah nyaris sama cerahnya. Kami pun semakin deg-degan bercampur senang dan kuatir karena aku masih tetap mengalami pendarahan ringan. Hari itu juga, kami memutuskan untuk pergi ke dokter. Kami pun pergi ke rumah sakit hermina depok, tentu saja seperti biasa setelah kami melalui perdebatan terlebih dahulu. Dan yang kami perdebatkan tentu saja adalah hal-hal kecil yang menurut suamiku,  sesuatu yang seharusnya tidak perlu aku pusingkan. Apakah itu? Ya, aku akui salah satu perbedaanku dengan suamiku adalah aku tidak terlalu memikirkan brand dari sesuatu hal. Aku cenderung mencari sesuatu yang harganya lebih murah, sementara suamiku menginginkan sesuatu yang berkualitas, tidak masalah dengan uang, yang penting yang terbaik dan dalam banyak hal harus yang memiliki brand.
Ketika hendak ke dokter kami pun masih berdebat karena aku memilih naik motor untuk ke rumah sakit karena lebih hemat dibandingkan dengan naik taksi. Namun, lagi-lagi suamiku tidak setuju, dia lebih memilih untuk naik taksi walaupun jarak dari rumah kami ke rumah sakit hermina depok cukup jauh apalagi karena macet. Dan, lagi-lagi aku harus mengalah.

Sesampai di rumah sakit, kami bertemu dengan Dr.Mutia. Dan ternyata benar, aku telah hamil 4 minggu. Masalah pendarahan yang kualami, diagnosa dokter karena ada polip di mulut rahimku yang mengaharuskan aku untuk bedrest selama seminggu. Dengan adanya polip di mulut rahimku, menurut dokter tersebut aku dipastikan  tidak akan bisa melahirkan secara normal. Aku dan suami langsung tidak merasa klik dengan dokter ini, apalagi dengan pelayanannya kepada kami yang kurang ramah dan terkesan tidak welcome dengan kami. Dia menyarankan kami untuk datang dua minggu lagi, tapi aku dan suamiku sudah sepakat untuk mencari dokter yang lain. Dia memberikanku obat penguat rahim (ustrogen) sebanyak 30 butir yang harus aku makan satu kali sehari dan asam folavit 500 mikrogram yang harus aku makan dua kali dalam sehari. Total dana yang kami keluarkan saat itu adalah Rp 700.000,00. Shock, begitu mahalnyakah hanya untuk chek up pertama di kehamilan? Rasa kuatir pun menyerangku, semoga Tuhan mencukupkan keuangan kami.

Seminggu setelah bedrest dan asam folavit sudah habis, akan tetapi pendarahan ringan masih tetap terjadi. Aku dan suami memutuskan untuk kembali periksa ke rumah sakit Hermina Ciputat (karena ternyata lebih dekat ke rumah kami), dengan dokter yang berbeda tentunya. Hasil analisa dokter kembali membingungkan kami, karena menurut beliau, tidak ada polip tapi infeksi di mulut rahimku. Dokter kembali memberikan asam folavit 400 mikrogram. Beliau juga menjadwalkan kami untuk melakukan tes laboratorium. Ketika kami ke bagian lab, ternyata hasil lab membutuhkan tiga hari proses mengeluarkan hasilnya dan mereka juga menyarankan agar kami melakukan tes lab satu-dua hari sebelum jadwal konsultasi dengan dokter kandungan selanjutnya. Kami pun pulang dan menunda untuk melakukan test lab.

Selama seminggu, ajaib saya tidak mengalami vlek lagi. Akan tetapi, tiba-tiba ketika pulang gereja, saya merasakan adanya vlek. Pulang dari gereja kami pun kembali ke rumah sakit Hermina Ciputat. Awalnya kami membuat janji dengan Dr.Diana Muria, akan tetapi hari itu beliau tidak melakukan praktek. Alhasil, kami ditangani oleh Dr Dessy Hasibuan.Hasil diagnosa Dr Dessy mengatakan bahwa saya tidak memiliki polip dan tidak ada infeksi, vlek berasal dari keputihan saya yang sangat luar biasa. Beliau tidak memberikan obat, hanya menyarankan agar saya rajin ke bidan di rumah sakit, untuk melakukan pembersihan vagina. Sebenarnya pembersihan vagina dapat dilakukan sendiri di rumah, yaitu dengan cara memasukkan jari tangan ke dalam vagina. Tapi kok saya merasa ngeri ya melakukannya.
Dari doker Dessy, dia juga menyarankan saya untuk melakukan tes lab sesegara mungkin. Dan meminta saya untuk memperbanyak mengkonsumsi asam folavit dengan tujuan untuk mencegah terjadinya kecacatan pada bayi. Menurut beliau, kita tidak pernah tahu apakah leluhur kita menurunkan penyakit keturunan kepada kita. Kelebihan asam folavit tidak ada ruginya, walaupun sebenarnya asam folavit itu sudah banyak ditemukan dari makanan, tapi kalau sampai kekurangan, sangat fatal akibatnya.

Dua minggu setelah jadwal konsultasi kami dengan dokter Dessy, saya kembali dikejutkan dengan adanya vlek. Kali ini darah yang ke luar lebih segar. Saya langsung panik. Saat itu saya masih di kantor, kira-kira jam 4 sore. Saya langsung menghubungi suami saya, dan kami pun berencana ke rumah sakit Hermina Ciputat lagi.
Dokter yang menangani kami di sana, menurut suamiku sepertinya memiliki rasa curiga kepada kami, seolah-olah kami pernah menggugurkan kandungan. Menurut penjelasan beliau secara tersirat mengatakan bahwa vlek bisa terjadi karena adanya riwayat keguguran sebelumnya. Akan tetapi setelah dia memeriksa saya, dia akhirnya menyimpulkan kalau penyebab vlek tidak diketahui secara pasti. Vlek tidak berasal dari rahim, melainkan ada di mulut rahim. Dia juga mengatakan kalau itu bukan polip, bukan infeksi, dan bukan keputihan. Dia belum tahu itu apa, setelah proses melahirkan baru akan diobservasi kembali. Keadaan rahim kuat, air ketuban banyak, perkembangan janin normal. Dia pun memberikan saya obat yang harus dimasukkan ke dalam vagina untuk membantu pembekuan darah, sehingga vlek tidak terjadi lagi.

Sudah hampir dua minggu sejak kami konsultasi dengan dokter tersebut. Puji Tuhan, sampai sekarang vlek tidak ada lagi. Berat badanku sudah naik lima kilo, dari 46 kg menjadi 51 kg. Celana dan baju-bajuku sudah mulai sesak. Dan aku masih doyan makan, puji Tuhan juga sejauh ini saya tidak mengalami mual yang parah. Saya merasakan mual ketika saya sudah kelaparan dengan kata lain saya tidak bisa lapar dan ketika mencium aroma bumbu dapur mentah seperti jahe, bawang merah, bawang putih, dan kawan-kawannya. Akibatnya, kami  jarang masak lebih sering beli makan di luar. Musuh utamaku yang lain adalah mengantuk. Sungguh sangat berat sekali rasanya untuk mengangkat kepalaku dari kasur tiap paginya, dan dari jam 10 pagi sampai jam 4 sore adalah perjuangan yang sangat berat untukku di kantor untuk selalu terjaga.

Sekarang usia kandunganku sudah memasuki mingu ke 11 menurut dokter, akan tetapi menurut infobunda.com, usia kandunganku sudah di minggu ke 13. Secara keseluruhan, aku dan suamiku sangat bahagia dengan masa kehamilan ini. Walau harus aku akui, aku dan suamiku terkejut dengan berkat ini. Tidak jarang, kami merasakan kelelahan yang luar biasa, dimana aku dan suamiku dituntut untuk berjuang lebih. Suamiku terpaksa mengambil alih semua tugas yang seharusnya aku lakukan, karena aku yang sangat gampang lelah, dan bawaannya selalu ingin tidur. Apalagi dari senin-jumat aku dan suamiku harus berangkat dari rumah ke kantor jam 6.15 pagi dan tiba di rumah sekitar jam 9 malam. Kami berdua harus berjuang di jalan menghadapi kemecatan Jakarta. Sebenarnya kami bisa sampai di rumah lebih cepat, karena jam kantorku berakhir di jam 5 sore, akan tetapi suamiku yang sebagai PNS selalu lembur di kantor sampai jam 8 malam. Paling cepat jam 7 malam, itupun setelah aku memasang muka masam, baru pun dia mau beranjak pulang ke rumah. Tanggung jawab suamiku lebih berat karena dia harus semakin lebih hati-hati lagi di dalam membawa motor, memastikan bahwa perjalanan kami selamat.

Untuk keluarga kecil yang saat ini sedang kami bangun, aku sangat bahagia sekali. Aku sangat berterima kasih kepada mertuaku yang telah memberikan pola asuh yang sangat kubutuhkan yang menjadikan suamiku memiliki karakter yang kubutuhkan dalam masa-masa kehamilanku. Suamiku adalah laki-laki Batak langka yang bersedia turun ke dapur, membersihkan rumah, belanja, memanjakanku, dan paling tahu dengan segala sesuatu yang kubutuhkan melebihi diriku sendiri. Tidak banyak laki-laki Batak yang kutemukan seperti suamiku ini, bahkan dia adalah laki-laki Batak pertama yang mampu melakukan pekerjaan perempuan dengan sama baiknya yang pernah hadir dalam hidupku. Aku berdoa agar Tuhan memampukanku kelak untuk melahirkan laki-laki Batak yang juga mampu melakukan pekerjaan perempuan. Dan kalau dia perempuan, aku berharap dia bisa mandiri dan tidak bergantung kepada siapapun kecuali kepada Tuhan.

Perjalanan kami masih panjang, tak ada orang tua di sekitar kami, kami belajar dari pengalaman, buku, dan internet. Terkadang kami kebingungan, tak tahu harus mengadu ke siapa dan tak tahu apakah kami sudah di jalan yang benar. Tapi kami tetap komit, apapun yang terjadi, kami tahu bahwa kami tak pernah sendiri. Ada Tuhan yang selalu akan memberikan segala yang kami butuhkan. Dan kami percaya, sepanjang kami seia sekata, sepanjang kami saling percaya, dan saling mencintai maka bersama Tuhan di antara kami, apapun kondisinya, kami pasti bisa melaluinya. Hal itu jugalah yang selalu aku katakan kepada calon anak kami, bahwa kami bisa melaluinya karna Tuhan ada di antara kami.

Teruslah tumbuh dan tumbuh anak kami, sampai tiba saatnya nanti kau bertemu langsung dengan kami orang tuamu, tapi bukan kehendak kami, kehendakMu jadilah Bapa.