Wednesday, 11 June 2014

perjalanan anakku (2)

Sekarang usia kandunganku 15 minggu. Sejauh ini semuanya berjalan dengan baik. Mengenai jenis kelamin, mungkin akan kami ketahui di jadwal konsultasi berikutnya yaitu di akhir bulan Juni 2014. Terakhir kami konsultasi di tanggal 23 Mei 2014. Kami masih tetap mempercayakan konsultasi kami ke rumah  sakit Hermina. Kali ini kami berharap bahwa dokter yang akan kami kunjungi adalah dokter yang akan menjadi tempat konsul kami sampai proses melahirkan tiba.  Ini akan menjadi dokter kelima yang akan kami kunjungi di rumah sakit yang sama.

Setelah 'berwisata' dokter, akhirnya aku dan suami memutuskan untuk setia menggunakan jasa dr. Riyana yang praktek di rumah sakit Hermina Ciputat. Ketika kami konsultasi dengan beliau, beliau sangat komunikatif dan memaparkan banyak hal bahkan tanpa kami ajukan pertanyaan. Penampilannya yang sangat sederhana membuatku merasa bahwa kami memiliki aliran yang sama dan hal lain yang membuatku langsung klik karena dia juga suka yoga. Selain itu, dr. Riyana ini juga mampu memacu semangatku untuk menjadi ibu hamil yang tidak manja, melainkan harus bergerak aktif. Aku suka itu!

Selama 15 minggu masa kehamilanku, aku sangat menikmati setiap perubahan yang terjadi dalam tubuhku. Sungguh sangat menyenangkan rasanya setiap kali aku memandang kaca dan melihat betapa berubahnya aku sekarang. Satu masa telah terlewati! Aku bersyukur, aku bukan tipe orang yang mendewakan tubuhku sehingga aku tidak merasakan kehilangan bentuk tubuhku yang langsing. Aku sudah cukup puas dengan masa kegadisanku dengan bentuk tubuh yang menurutku masih bisa dipajang di account facebook-ku. Bagian-bagian tubuhku yang mengalami perubahan adalah :

  1. Rambut. Beberapa tahun sebelum aku hamil, aku sudah terbiasa dengan rambut rontokku. Tapi karena aku memiliki rambut yang tebal dan lebat, jadi kerontokan rambut yang kualami tidak terlalu signifikan untuk menjadikanku botak. Nah, setelah aku hamil, rambut rontokku berkurang. Memang masih ada beberapa rambut yang rontok, akan tetapi tidak sebanyak ketika aku belum hamil. Selain itu, biasanya aku selalu mencuci rambutku tiap hari, kalau tidak maka rambutku akan terlihat kusam. Setelah aku hamil karena keterbatasan waktu, aku mencucinya sekali dua hari, bahkan beberapa kali aku mencucinya satu kali dalam tiga hari, ajaibnya rambutku tidak terlihat kusam sama sekali. Aku saja yang tidak nyaman kalau lama-lama tidak mencuci rambut.
  2. Sejak aku tidak "kedatangan tamu" dan dokter memvonisku hamil, wajahku sudah dipenuhi dengan jerawat. Wajahku lebih tampak berminyak, padahal sebenarnya kulit wajahku bertipe kering. Sampai sekarang, aku masih menikmati tumbuhnya jerawat di sekitar alis,tulang pipiku, dan punggungku. Aku jadi teringat dengan masa remajaku, dimana aku diejek oleh teman-temanku yang mengatakan bahwa aku belum mengalami pubertas, karena di antara mereka hanya aku yang tidak memiliki jerawat. Aku sampai berdoa kepada Tuhan, nyaris sampai menangis untuk diberikan jerawat. Dan sekarang Tuhan menjawab doaku! Aku tidak melakukan apapun dengan jerawat-jerawat itu, aku menyambut mereka dengan sukacita.
  3. Menurut teman-teman kantor, hidungku makin membesaaaarrr :)
  4. Bila sikat gigi, aku masih sering mengalami gusi berdarah 
  5. Bulu mataku semakin lentik walaupun aku tidak memakai pelentik bulu mata.
  6. Ketiakku makin item 
  7. Pastinya payudaraku semakin besar dan area puting semakin gelap. Kalau sebelum menikah nomor braku adalah 32, sekarang 36.
  8. Ajaibnya, kulitku tidak kering padahal aku sering di AC dan aku sangat jarang memakai lotion. Mungkin karena aku banyak minum juga. Hampir setiap malam, dua-tiga kali aku harus terbangun ke mau pipis. Hasilnya, kulitku bersinar dengan indahnya.
  9. Perutku juga sudah semakin membuncit, demikian halnya dengan suamiku. Kami berpacu dalam kebuncitan.
  10. Kedua telapak atas kakiku terkadang bengkak, hanya kalau aku naik motor (dibonceng). Tapi setelah aku naikkan kakiku ke dinding di rumah selama 10 menit, kakiku kembali ke bentuk semula.
  11. Dan yang pasti, sekarang berat badanku 56 kg. Naik 10 kg dari sebelum aku hamil. Aku memulai kehamilanku dengan berat badan di 46 kg. Puji Tuhan!
Aku sangat menikmati kehamilanku. Walau terkadang aku sangat kesulitan dalam mengontrol emosiku. Aku sangat gampang membenci orang-orang yang menurut persepsiku tidak berperilaku seharusnya. Tekanan pekerjaan dan kemacetan di jalan membuatku tidak bisa menahan air mataku. Aku pernah menangis sepanjang perjalanan pulang kantor diboncengan suamiku karena kekacauan sistem kehidupan yang ada di Indonesia ini, khususnya di Jakarta. Aku merasa berdosa kepada Tuhan karena aku tidak bisa melakukan apapun dengan kekacauan ini. Aku bahkan tidak tahu hendak melakukan apa? Aku menangisi diriku, dunia seperti inikah yang akan kuperkenalkan kepada anakku kelak?

Secara umum, aku tidak mengalami gangguan dalam kehamilanku. Aku sangat bersyukur, aku tidak mengalami mual parah. Aku masih bisa mengontrol setiap kali mual itu akan tiba, yaitu dengan cara mengalihkan pikiranku dengan hal lain. Sejauh ini, aku baru dua kali mengalami yang namanya muntah, dan menurutku itu lebih dikarenakan aku mengalami masuk angin. Dua hal yang membuatku mual adalah apabila aku kelaparan dan merasa ngantuk. Memang di awal-awal kehamilanku aku tidak suka mencium aroma bumbu mentah. Memasuki bulan keempat aku tidak suka dengan makanan yang dijual di pinggir jalan. Itu membuatku ingin muntah. Aku lebih suka masakan rumah. Perlahan, aku juga sudah menyukai sayur. Di minggu ke 10 - 13 kehamilanku, aku sama sekali tidak bisa memakan sayur, karena memicu indra pengecap pahit di lidahku menjadi sangat aktif. Hall positifnya adalah buah masih tetap menjadi makanan favoritku. Tiada hari tanpa buah bagiku.

Kehamilan adalah masa-masa penuh berkat buatku. Aku bersyukur Tuhan sangat memuluskanku di hari-hari kehamilanku ini. Tapi, bukan hidup namanya kalau semuanya berjalan mulus. Aku bersyukur untuk setiap peristiwa yang boleh Tuhan izinkan terjadi kepadaku dan suami di dalam kehidupan kami. Dari kesiapan hati kami, aku dan suamiku, aku secara pribadi harus mengakui bahwa berkat yang diberikan Tuhan ini membuat kami terkejut. Kami yang baru membina rumah tangga sejak 8 Februari 2014, dimana kami seharusnya masih harus fokus dengan masa adaptasi kami satu sama lain dan dengan lingkungan baru (kami baru membeli rumah di Sawangan), tiba-tiba Tuhan memberikan berkat dengan menanamkan benih calon manusia di dalam kandunganku.
Dalam banyak kesempatan, kami sering kebingungan untuk mengambil keputusan karena (mungkin) kami terlalu disibukkan dengan kewajiban kami sesuai dengan peran kami, baik sebagai istri maupun sebagai suami. Mungkin di satu sisi, adalah sesuatu yang positif, kami jauh dari keluarga, dari orang tua kami masing-masing, yang memaksa kami untuk mandiri, bersikap luwes, dan menunjukkan karakter kami satu sama lain.

Kami harus mandiri. Baik dari ketergantungan fisik maupun dari materi. Dari setiap proses yang telah kami lalui, aku terus belajar dan mendoktrin diriku bahwa kemapanan dalam materi bukan menjadi "golden ticket" untuk memasuki dunia pernikahan. Walaupun dalam kenyataannya, banyak ditemukan bahwa kehidupan rumah tangga akan jauh lebih TERLIHAT bahagia selama kemapanan materi masih terjamin. Ini tidak akan mudah, itu pasti. Tapi dengan begitu banyaknya berkat yang Tuhan berikan dalam hidupku, membuatku merasa malu untuk mengeluh. Aku mau fokus dengan berkat itu, karena aku percaya Tuhan akan selalu bersama kami. Dan dengan Dia ada bersama lagi, apakah yang aku takutkan?

Tumbuhlah dengan sehat anakku dan semoga Tuhan memberkatimu.