Thursday, 27 November 2014

Our beloved, Jordan

Hari ini atau besok adalah tanggal yang diprediksi oleh dokter bahwa aku akan melahirkan bayiku. Aku sudah mempersiapkan hari ini semenjak dokter mengatakan hal itu kepadaku dan suami. Ya, seharusnya hari ini aku dan suami akan bertemu dengan anak kami, menyambut kehadirannya di kehidupan kami. Tapi, manusia hanya bisa berencana selebihnya Tuhan yang menentukan. Atas izin Tuhan, dia hadir dan tumbuh di dalam kandunganku selama 28 minggu. Atas izin Tuhan juga akhirnya dia lahir ke dunia lalu kemudian kembali kepadaNya.

Semuanya masih seperti mimpi bagiku. Terjadi begitu sangat tiba-tiba dan cepat. Menikah, hamil, melahirkan, bayiku meninggal, dan aku kehilangan pekerjaanku. Itu semua terjadi di dalam 28 minggu. Kehidupanku berjalan begitu sangat cepat. Belum puas aku merasakan sukanya, duka sudah datang menyerangku tepat di bagian yang tidak dapat kusembuhkan.
Memasuki bulan November 2014 ini, aku tidak pernah yakin bisa melaluinya tanpa air mata. Aku tidak bisa mengontrol air mataku dan menyadari bahwa bayiku telah kembali kepada Tuhan. Aku masih sangat ingin melahirkan dia hari ini atau besok, bukan dua bulan yang lalu. Bulan ini seharusnya menjadi momen pelengkap kebahagianku dan suami, bukan seperti ini, bulan yang penuh dengan air mata.

Ajaibnya, entah dari mana kekuatan itu datang, Sejak tanggal 24 November sampai hari ini aku tidak menangis lagi. Mungkin karena air mataku sudah kering dan kepalaku sudah mulai pusing. Yang tersisa adalah rasa jenuh di rumah, kekuatiran akan perekonomian kami, dan kekesalan setiap kali melihat tubuhku di cermin (berat badanku yang belum kembali normal). Dan tentu saja rasa iri melihat mereka yang memiliki kesempatan untuk melahirkan bayi mereka dengan sehat dan hidup.

Bayiku, anakku Jordan telah kembali kepada Tuhan. Kepergiannya kepada Tuhan, juga membawa kebencianku akan hidup, kebenciaanku akan lingkunganku, dan rasa frustasiku. Mungkin  bayiku Jordan tidak menyadarinya atau mungkin untuk itulah Tuhan menghadirkannya di dalam kandunganku, untuk aku bisa berdamai dengan masa laluku, berdamai dengan mereka yang membuatku tertekan, berdamai dengan kehiduapan yang telah Tuhan rencanakan. Karena setelah bayiku pergi, aku tidak merasakan kebencian itu lagi, rasa tertekan itu lagi, Setelah bayiku pergi, aku melepaskan semua sesak itu. Untuk sesaat aku pernah merasakan ketenangan, merasakan kenyamanan, dan kebebasan.

Akan tetapi sekarang aku kembali tertekan, aku kembali frustasi. Kesendirianku di rumah membuatku bosan dan penat. Belum lagi ketakutanku akan masa depan, bagaimana aku dan suami bisa melanjutkan hidup tanpa kehadiran uang, Biar bagaimanapun aku butuh pekerjaan untuk kami bisa melanjutkan hidup. Mungkin itu pula yang membuat air mataku berhenti ke luar karena aku masih harus memikirkan mendapatkan pekerjaan secepat mungkin demi berbagai macam tagihan harus dibayarkan, Sepertinya, badai itu belum berlalu di dalam kehidupan keluarga kecilku. Aku masih harus tetap berjuang mengahadapi badai selanjutnya. 

Apa yang kualami selama setahun ini, sangat berbeda jauh dari yang kuimpikan.

Impianku, aku akan menikah dimana orang tuaku akan memberikan dukungan psikologis. Moment memberikan ulos hela akan menjadi kenangan terindah yang akan kukenang sepanjang hidupku. Aku akan hamil dan melewatinya dengan penuh kebahagiaan karena akan banyaknya cinta yang kudapatkan dari orang tua, sahabat, dan lingkunganku. Aku akan melahirkan bayi yang sehat dan lucu. Pekerjaanku akan berjalan lancar dan aku akan dipromosikan. Impian yang sangat sederhana, bukan? Aku tidak berharap banyak, hanya dukungan dari mereka yang terkait denganku. Tapi semua impian itu hanyalah impian. Hanya ada di dalam otakku saja. Kenyataannya, pernikahanku menjadi sesuatu yang ingin kuhapus dari memoriku karena orang tuaku telah membuatnya menjadi momen terburuk di dalam hidupku. Hal itu pula yang menjadi salah satu penyebab betapa aku sangat tertekan ketika masa-masa kehamilanku. Satu-satunya dukungan psikologis yang kudapatkan hanya dari suami. Itupun tidak maksimal karena biar bagaimanapun dia adalah manusia biasa dengan segala keterbatasannya. Sahabat dan teman-teman sibuk dengan rutinitas mereka, lingkungan yang tidak ramah kepada ibu hamil, dan aku kehilangan pekerjaan.

Untuk ini semua, aku harus berdamai. Dan kepergiann anakku Jordan telah membantuku untuk berdamai walau aku tahu suatu hari kelak, badai ini akan datang kembali.
Aku hanya bisa menjalaninya saja dan berharap Tuhan masih akan bermuarah hati kepadaku dan suami. Aku tidak meminta banyak kepadaNya, hanya kekuatan, Kekuatan untuk melanjutkan hidup, kekuatan untuk bangun di pagi hari, kekuatan untuk turut berbahagia dengan mereka yang diberikan kesempatan membersarkan bayinya, kekuatan untuk bersyukur kepadaMu untuk setiap hal yang aku dan suami peroleh di dalam hidup ini, kekuatan untuk terus beriman dan berharap bahwa Kau adalah Tuhan yang akan selalu memberikan kami segala yang kami butuhkan. Hanya itu Tuhan, aku dan suami membutuhkan kekuatan itu.

Kamis, 27 November 2014
Sampai jumpa, anak kami Jordan

Tuesday, 25 November 2014

halak batak do ho? (4)

Setelah menikah, pasangan batak diwajibkan untuk mengikuti kegiatan adat, bukan hanya mengikuti tetapi juga mempelajari setiap prosesi adat. Sangat melelahkan dan menyita waktu, pikiran, materi, dan tentu saja mental. Karna bukan adat batak namanya kalau tidak dibumbui dengan konflik. Semegah apapun kegiatan adatnya atau selancar apapun kegiatan itu terlihat pasti akan selalu ada konflik di dalamnya. Tidak jarang, bagi kami para pasangan muda batak akhirnya banyak yang memilih untuk tidak terlibat terlalu jauh atau bahkan bersikap apatis dengan keberlanjutan budaya batak. Jauh lebih menyenangkan untuk mempelajari budaya bangsa lain dibandingkan melanjutkan budaya atau tradisi suku sendiri. Rumput tetangga selalu lebih hijau, bukan?

Aku dan suamiku adalah termasuk pasangan batak muda yang menarik diri dari kegiatan adat batak. Bukan karena kami tidak menyukai adat batak melainkan banyak dari kegiatan batak itu telah melenceng dari tujuan utama adat itu berlangsung. Apalagi dengan pola pikirku yang idealis, membuatku merasa tidak sudi untuk membagi waktu, tenaga, pikiran, dan bahkan materiku untuk mengikuti kegiatan adat batak. Aku bersedia melakukan sesuatu apabila itu memang cukup berharga untuk dilakukan. Aku bukan tipikal orang yang mau melakukan sesuatu yang sia-sia, dan mengikuti kegiatan adat batak menurutku salah satunya. Dan, puji Tuhan suamiku pun sependapat denganku. Bagi kami keluarga muda, menjalani kehidupan keluarga dengan saling beradaptasi satu sama lain adalah yang terutama. Kami fokus dengan kebahagiaan kami dulu untuk saat ini. Sekali lagi, kami bukannya anti dengan setiap kegiatan adat batak, hanya saja kami memiliki prioritas yang harus diutamakan terlebih dahulu. Dan aktif di kegiatan adat bukan menjadi prioritas kami saat ini. 

Adalah hal yang mustahil untuk mengembalikan kembali tujuan utama pelaksanaan adat batak. Aku bahkan memprediksi 50 tahun lagi, kegiatan adat batak akan punah, khususnya di kota-kota besar seperti Jakarta dan sekitarnya.  Aku telah melakukan observasi di setiap adat batak dilaksanakan. Para orang tua kami telah gagal melakukan regenerasi kepada kami mengenai prosesi adat. Dalam setiap kesempatan, aku nyaris tidak menemukan pasangan muda seperti kami yang bersedia untuk terlibat aktif di dalam adat. Sampai saat ini, kegiatan adat hanya fokus bagi para orang tua saja, sementara kami anak-anaknya sibuk berfoto-foto dan meng-upload-nya ke dunia maya. Kami tidak memperhatikan setiap prosesi dan peran yang harus dilakukan. Kegiatan itu sangat membosankan bagi kami. Jangankan untuk mengerti prosesi adat berlangsung, menggunakan bahasa batak dengan baik dan benar pun kami sudah tidak mampu.

Sejujurnya, aku sangat tertarik untuk tahu mengenai prosesi setiap adat batak. Hanya saja, karena aku perempuan, hampir di setiap prosesi adat aku diwajibkan untuk selalu berada di balik layar, mempersiapkan minuman dan makanan bagi para lelaki. Ya, itulah tugas perempuan batak, di belakang untuk melayani setiap kebutuhan laki-laki. Hanya lelakilah yang bisa tampil di dalam adat.
Inilah alasan pertam yang paling tidak kusetujui dalam pelaksanaan adat batak. Betapa kami para perempuan dijadikan sebagai pelayan saja. Apalagi kalau yang mengadakan pesta adalah pihak laki-laki dari marga si perempuan, dimana dalam adat batak disebut "boru", maka jangan harapkan bisa duduk manis selama pesta berlangsung. Para boru-lah yang repot ke sana-ke mari untuk mempersiapkan segala sesuatunya. Sementara mereka yang disebut dengan hula-hula duduk manis memberikan perintah. Jadi, bisa disimpulkan setiap kali kegiatan adat batak berlangsung yang paling lelah adalah perempuan. Apalagi perempuan yang melakukan pelayanan kepada pihak laki-laki itu menggunakan pakaian yang sungguh tidak menyenangkan, yaitu kebaya dan suji dan tentu saja dengan rambut disanggul. Pekerjaan untuk melayani para laki-laki selama kegiatan berlangsung menjadi semakin menyiksa karena pakaian yang tidak mendukung untuk menjadi pelayan.
Aku juga tidak tahu pasti sejak kapan dan mengapa kebaya menjadi sesuatu yang sangat penting bagi perempuan batak. Setiap kali kegiatan adat diadakan, maka akan disanalah parade kebaya, berlian, tas KW berlangsung. Sepertinya perempuan-perempuan batak menjadi langganan tetap Pasar Baru - Jakarta.

Yang kedua adalah biaya yang sangat mahal untuk sesuatu yang disebut ego. Sebenarnya, biaya untuk pelaksanaan adat batak itu bisa berlangsung dengan biaya yang tidak terlalu banyak dan sederhana. Akan tetapi, adanya titah dimana para hula-hula wajib untuk mendapatkan yang terbaik untuk mendapatkan berkat. Padahal, berkat kan bukan dari hula-hula, berkat itu datangnya dari Tuhan dan telah diberikan kepada setiap mereka yang percaya kepadaNya. Karna kita percaya kepada Yesus maka kita akan mendapatkan berkat. Bukan karena kita "menyuap" hula-hula maka kita akan mendapatkan berkat. Itu adalah pemikiran orang batak dahulu kala, sebelum mereka mengenal Yesus, dimana hula-hula-lah yang memberikan berkat kepada mereka boru. Sekarang orang batak sudah mengenal Tuhan dimana Tuhan datang ke dunia untuk menunjukkan bagaimana caranya untuk mengasihi setiap manusia, bukan hanya hula-hula saja, tapi semua yang hidup.  
Selain untuk menyenangkan hati hula-hula, biaya yang banyak untuk pelaksanaan adat batak juga untuk  mendapatkan pengakuan dari orang di sekitar. Mendapatkan pujian bahwa pestanya berjalan dengan mewah adalah kebanggan tersendiri dan meningkatkan harga diri orang batak. Apalagi kalau bisa memberikan olop-olop yang banyak kepada hula-hula. 
Aku tidak setuju dengan hal ini karena mostly  semua ini dilakukan hanya untuk show off. Dan ini menjadi tamparan yang sangat memalukan bagi mereka yang tidak memiliki cukup uang. Menjadikan mereka minder dan tidak percaya diri yang akhirnya menimbulkan gap yang berujung kepada konflik.

Yang ketiga, orang batak percaya bahwa dalam adat batak berlaku hukum memberi dan menerima. Apa yang kau berikan itupula yang akan kau dapatkan. Rajin mengikuti adat, maka orang-orang pun akan banyak yang datang ke acara adat kita. Tak jarang, orang-orang yang tidak aktif di adat akan dikucilkan dalam kehidupan bermasyarakat. Hal inilah yang nantinya akan terjadi kepada kami (aku dan suami) kalau kami tetap mempertahakan posisi kami untuk menarik diri dari adat. Aku tidak menyukai sistem ini. Bagiku, keikutsertaan kita ke dalam suatu adat batak, misalnya ke acara pemakaman, aku datang ke sana untuk memberikan dukungan psikologis kepada yang berduka bukan supaya nanti ketika aku berduka, dia pun akan datang kepadaku. Ironisnya, ketika aku tidak datang kepada mereka di saat mereka mengalami musibah, katakanlah karena aku ada kegiatan lain, aku wajib memberikan sesuatu sebagai gantinya, bila tidak maka aku akan dikucilkan, bahkan ketika aku lupa. Aku lebih baik memilih mereka tidak datang kepadaku kalau memang hanya mengharapkan agar nanti aku juga akan melakukan hal yang sama kepada mereka. Bisa disimpulkan adat batak adalah mengenai utang-piutang. 
Padahal bukankah di dalam Yesus dikatakan bahwa kasih itu harus tulus dan ikhlas, bukan pamrih?

Yang keempat, pelaksaanaan adat yang memakan durasi waktu yang panjang. Misalnya pernikahan, dimulai sejak pagi hari sampai malam hari. Memangnya kehidupan kita hanya untuk adat? Banyak pekerjaan rumah menjadi terbengkalai bukan hanya itu kebersamaan antara orang tua dan anak-anak pun menjadi terbatas hanya karena orang tua sibuk di adat sementara anak-anak dibiarkan melalui harinya dengan aktivitasnya. Inilah kehidupan orang batak, senin sampai dengan jumat kedua orang tua bekerja di kantor, berangkat pagi pulang malam. Hari sabtu mengikuti kegiatan adat dimana ini akan berlangsung sepanjang sabtu, besoknya ke gereja dan kebanyakan menghabiskan seharian juga karena akan banyak kegiatan di gereja, mulai dari rapat majelis, latihan paduan suara atau bahkan mengikuti arisan. Lalu kapan ada waktu untuk keluarga? Jangankan untuk keluarga, untuk diri sendiri pun nyaris tidak ada. Beginikah hidup yang diharapkan untuk menjadi pasangan keluarga batak? Aku dan suamiku sepakat untuk tidak menjalani kehidupan yang demikian. Kami berjanji di hadapan Tuhan untuk hidup menjadi pasangan yang saling berbagi bukan untuk aktif di kegiatan adat batak.

Sampai saat ini aku masih terus berpikir dan berpikir, bagaimana caranya untuk menerapkan adat batak tanpa harus mengorbankan seluruh kehidupanku untuk adat? Aku dan suami mencitai adat batak tapi kami berdua dengan tegas menolak untuk menjadi budak adat batak. Selain menjadi orang batak kami, kami juga bagian dari kelompok masyarakat lainnya. Kami memiliki komunitas di luar adat batak yang menuntut perhatian kami juga. Di atas semua itu, kami berkewajiban untuk menikmati kehidupan keluarga kami dengan berkualitas. Itulah tujuan utama kami menikah, untuk saling berbagi satu sama lain. Dan menjadi pasangan batak adalah bonus bagi kami, seperti layaknya bonus, kami memilih untuk menunda menggunakan bonus itu sekarang. 
Mungkin ini adalah pernyataan sombong dari kami jika kami mengatakan bahwa untuk saat ini, menjauh dan membatasi diri dari perkumpulan batak adalah yang terbaik bagi kami. Sejauh ini, sepertinya kami lebih nyaman untuk fokus dengan kehidupan keluarga, antara suami dan istri, dengan para ipar, dan mereka yang memiliki hubungan darah dengan kami.




Enjoy The Little Things

Untuk semua manusia di dunia ini, kematian mungkin menjadi sesuatu yang ingin dihindari. Nyaris tidak ada yang menginginkan kematian itu cepat datang. Kecuali apabila si manusia tersebut mengalami hal buruk dimana kematian menjadi salah satu cara pintu  ke luar. Pada umumnya, semua orang ingin hidup selama mungkin di dunia ini dan bahkan sesungguhnya banyak manusia juga yang berharap tidak mengalami kematian itu, ingin hidup abadi. Ilmu pengetahuan dan tingkat peradaban manusia semakin berkembang dimana tujuan implisitnya adalah  untuk menghindari kematian.Sampai sekarang, manusia masih terus berusaha mencari celah menghindari kematian, walaupun para filsuf dan tokoh agama sudah menyimpulkan bahwa satu-satunya yang tidak dapat dihindari oleh manusia adalah kematian. Kematian itu akan datang kepada setiap manusia.

Dua bulan yang lalu aku baru menyaksikan kematian anakku. Aku dan suami menjadi saksi utama dari setiap usaha untuk menghindari kematiannya. Kami mempercayakannya kepada para medis dan berbagai tretment-nya. Saat itu kami seperti berjudi, walaupun kami sudah tahu dan menyadari betul bahwa kematian tidak dapat dihindari akan tetapi sebagai orang yang percaya kepada Yesus, kami masih memiliki harapan bahwa kami bisa menghindari kematian itu. Ketika kematian itu datang, aku yang memiliki karakter logis langsung menggunakan kognitifku bahwa tidak ada yang bisa kami lakukan untuk menghindari kematian. Aku sangat menyadari posisiku saat itu. Berbaring di tempat tidur operasi, tanganku digenggam oleh suamiku, aku kedinginan, dan kesadaranku belum pulih benar akibat bius, sinar lampu ruang operasi yang sangat terang, dan kesunyian- yang ada hanya aku dan suami. Aku memulai memikirkan dari hal-hal kecil ketika dokter mengatakan bahwa paru-paru bayiku belum berkembang secara sempurna dengan demikian semua peralatan harus dicabut karena tidak ada gunanya. Peralatan dicabut artinya kematian. Atau mungkin bahkan sebelum peralatan dicabut, kematian sudah datang menjemput bayiku.

Seperti yang sudah-sudah, aku berusaha menenangkan diriku. Aku tidak ingin terlihat lemah di mata semua orang yang ada di rumah sakit. Bagiku, ini semua sudah direncanakan, aku tinggal menjalaninya saja. Tidak ada yang bisa kuperbuat untuk menghindari kematian itu. Dan untuk air mata, akan ada masanya setelah semua orang berlalu atau ketika aku sendirian. Bagiku menangis sendirian itu jauh lebih puas dibandingkan ditemani. Dan bukankah masa berkabung dimulai ketika setiap orang di sekitar kita sudah kembali ke rutinitas mereka. Saat itu, di pikiranku adalah aku harus cepat sehat, meninggalkan rumah sakit ini untuk mengurangi setiap rupiah yang akan kami habiskan di rumah sakit (biaya rumah sakit adalah tanggungan kami berdua, tidak ada BPJS dan tunjangan dari kantorku), dan melanjutkan hidup serta jangan pernah bertanya MENGAPA? Semua pertanyaan boleh diajukan, kecuali kata tanya itu karena sampai kapanpun aku tidak akan pernah mendapatkan jawabannya dan hanya akan membuat dampak dari kematian itu terasa semakin berdarah-darah.

Selama masa pemulihan aku berusaha untuk tampil tegar di depan semua orang. Memberikan senyuman dan semangat untuk beraktivitas. Membuat target di dalam hidupku bahwa aku harus cepat sembuh dan tidak mau menjadi beban bagi siapapun. Bagiku, orang-orang tidak perlu tahu betapa aku sangat terguncang dengan kematian bayiku ini. Aku harus tampil bahagia dan menunjukkan betapa bersyukurnya aku karena masih diberikan kesempatan untuk merasakan ini semua. Aku berusaha fokus dengan apa yang kumiliki sekarang. Aku tahu ini semua akan berlalu, tidak ada yang abadi. Oleh karena itu, aku harus terus melangkah dan melanjutkan hidupku dengan harapan aku pasti bisa melalui ini semua. Ini tidaklah sesulit yang aku pikirkan, aku pasti bisa.

Setelah semua orang di sekitarku kembali ke rutinitasnya, mertua dan ibuku pulang ke rumahnya, ipar-iparku kembali kuliah dan bekerja, dan suamiku kembali melanjutkan kuliahnya di Bandung, bahkan pembantuku pun minta izin untuk pulang kampung, tinggallah aku sendirian di rumah menikmati setiap detik perjalanan kehidupan setelah kematian menjemput anakku. Aku menangis, meratapi kesedihanku, dan mengenang setiap moment yang bisa kugali dari memoriku tentang perjalananku dengan bayiku ketika dia masih di dalam rahimku. Aku marah pada kondii tempatku tinggal yang tidak ramah pada ibu hamil, aku mengasihani diriku sendiri untuk setiap air mata yang ke luar, aku kecewa pada tenaga medis tempat kami selalu konsultasi mengenai kehamilanku, dan aku merasa gagal.

Aku menjalani dua bulan setelah bayiku meninggal dengan tetap berusaha hidup. Mendengarkan kicauan burung di pagi hari, merasakan hangatnya sinar matahari yang masuk ke dalam kamarku, memeluk kesunyian pagi, dan berdamai dengan diri sendiri. Suamiku selalu berkata tidak ada yang salah, ini semua sudah dituliskan bahwa bayi kami tidak bisa tinggal bersama dengan kami lebih lama lagi. Mungkin, bagian yang paling sulit untuk kuhadapi adalah ketika aku harus bahagia untuk mereka yang memiliki kesempatan mendengarkan suara bayinya, memeluknya, dan melihat dia tumbuh di dunia ini. Tak jarang aku menghindari untuk tidak menyaksikan hal ini secara langsung, cukup memantau dari jauh saja dan dengan tulus mendoakan agar mereka tidak merasakan apa yang terjadi padaku.

Setiap pagi, walau berat aku harus bangun dan melanjutkan hidupku. Aku memulainya dengan hal-hal kecil yang kusukai. Golek-golek di tempat tidur sambil menikmati kicauan burung dan sinar matahari, main game candy crush di handphone, menulis blog, nonton film korea, mandi, memasak (mencoba berbagai resep baru dari buku masakan), bersih-bersih rumah, mencabuti rumput taman di depan dan di belakang rumah, dan memeluk setiap hal yang mengingatkanku dengan keberadaan bayiku. Aku benar-benar berusaha untuk hidup baik-baik saja. Seperti kata suamiku, kapan lagi aku merasakan tiap hari seperti hari libur. Tidak perlu bangun pagi-pagi untuk berangkat ke kantor dan menghadapi kemacetan. Tidak ada tekanan pekerjaan dari kehidupan kantor. Tiap hari adalah hari libur, Aku bebas bangun jam berapapun tidak ada yang mengikat. Ya, inilah hal terbaik yang bisa kunikmati selama dua bulan terakhir ini, memiliki waktu tidur sesuka hati dan tidak menghadapi kemacetan jalan raya. Tapi sampai kapan? Aku bukan orang yang tercipta untuk berdiam diri di rumah. Aku adalah manusia pekerja.

Aku tak tahu akan hari esok. Aku juga tak tahu kapan badai ini akan berlalu. Yang aku tahu pasti badai ini pasti berlalu dan aku juga tak bisa memastikan apakah badai ini tidak akan datang kembali. Aku akan berusaha untuk baik-baik saja, tidak menjadi beban bagi siapapun, dan memeluk setiap kenanganku dengan bayiku dengan cinta dari suamiku. Enjoy the little things.


Sunday, 23 November 2014

Merantau

Di lingkungan dimana aku dibesarkan, merantau adalah sesuatu yang harus dilakukan dengan harapan untuk mendapatkan kehidupan yang lebih baik. Kedua orang tua dari orang tuaku pun melakukan hal yang sama. Kakek nenek dari pihak ayahku berasal dari desa kecil di Pulau Samosir, namanya desa Aek Rihit. Desa ini terletak di daerah pegunungan kurang lebih empat jam dari tepi Danau Toba dengan jalan kaki. Kehidupan di desa ini sangat jauh dari sejahtera. Kelangkaan air bersih, listrik belum masuk desa, dan tanah yang tidak subur. Keadaan hidup yang sangat memprihatinkan membuat kakek dan nenekku akhirnya memutuskan untuk membawa anak-anaknya merantau ke Balige, di desa Sangkar Nihuta.
Hal yang sama juga dilakukan oleh kakek dan nenekku dari pihak ibu. Mereka berasal dari Dolok Sanggul, desa Sigual. Keadaan yang kurang lebih sama dengan yang dialami oleh keluarga ayahku juga dialami oleh keluarga ibuku. Kelangkaan akan air bersih, belum terjangkau listrik, dan tanah yang tidak subur. Mereka pun merantau ke Balige, desa Sangkar Nihuta. Di desa inilah ayah dan ibuku bertemu dan memutuskan untuk menikah. Begitu juga denganku, di desa inilah aku mengenal suamiku. Bedanya, suamiku adalah putra desa dimana kami tinggal, bukan pendatang seperti keluargaku.

Masa kanak-kanak dan remajaku, aku habiskan di desa Sangkar Nihuta, Balige. Keadaan di desa ini memang sudah lebih baik dibandingkan dengan desa asal dari ayah maupun ibuku. Disini air bersih terjangkau, listrik sudah ada, dan tanahnya lebih subur walaupun kami tidak memiliki tanah untuk diolah (karna kami adalah pendatang di desa ini).  Keuntungan lainnya dari desa ini bahwa desa ini menjadi jalur darat utama antar kota maupun antar provinsi. Rumah orang tuaku tepat berada di pinggir jalan raya besar, yang diberi nama dengan Jalan Tarutung. Hal ini membuatku sudah terbiasa melihat bis-bis antar kota dan provinsi bahkan bis antar pulau melintas dari depan rumah orang tuaku. Bis-bis antar pulau adalah bis Antar Lintas Sumatera (ALS), bis PMH (saya lupa kepanjangannya), dan berbagai truk yang mengangkut bahan makanan dari Pematang Siantar ke Pulau Jawa.

Menjadi pendatang di desa ini tentu saja menjadikan orang tuaku tidak  memiliki tanah untuk diolah dan orang tuaku tidak cukup beruntung untuk menjadi karyawan kantor, maka mereka mencoba peruntungannya melalui jalur bisnis, yaitu berjualanan. Kondisi rumah orang tuaku yang strategis sangat dimanfaatkan baik oleh mereka untuk menjual makanan. Beberapa jenis makanan yang dijual oleh orang tuaku adalah mie gomak (masakan kuliner khas Batak), ketan, berbagai jenis gorengan (pisang goreng, ketan goreng, bubur kacang ijo goreng, bakwan, godok-godok, tahu isi, ubi goreng, dsb). Sementara untuk minuman, orang tuaku menyediakan kopi, teh manis, susu, teh susu, kopi susu, dan berbagai minuman kemasan lainnya. Banyaknya jenis jualan yang diperdagangkan oleh orang tuaku membuatku nyaris tidak pernah merasakan arti sebuah rumah karena rumah orang tuaku dimana aku dibesarkan adalah juga tempat orang tuaku membuka usaha mereka. Jadi, tidak heran apabila di rumah kami tidak ada ruang privacy karena apapun yang terjadi di rumah kami semua customer bisa menyaksikannya. Kehidupan kami seperti aquarium, tidak ada yang tersembunyi. 

Mungkin, dengan kondisi orang tuaku yang adalah perantau di desa ini dan seringnya bis-bis antar kota dan antar provinsi yang singgah di rumah orang tuaku membuatku banyak tahu tentang dunia luar dari desa ini. Tak jarang mereka yang singgah di rumah orang tuaku menceritakan kisah-kisah perjalanan mereka dan kehidupan suku-suku lain selain suku Batak Toba yang menjadi suku mayoritas di desa ini. Aku tidak ingat pasti, mungkin merekalah yang memperkenalkan berbagai jenis suku dan karakteristik dari suku-suku tersebut kepadaku selain dari pelajaran di sekolah dan surat kabar yang aku baca tentunya. Inilah salah satu keuntungan yang kumiliki menjadi anak penjual makanan, wawasanku mengenai kehidupan orang-orang yang berbeda suku dan agama denganku. Aku telah mengetahui keberadaan mereka melalui cerita-cerita para customer  orang tuaku.

Aku juga tidak yakin sejak kapan keinginanku untuk merantau lahir. Yang aku ingat, ketika aku kelas lima SD, aku sudah mengutarakan ke beberapa teman-temanku bahwa suatu hari nanti aku harus merantau. Aku tidak mau tinggal di desa itu selamanya. Dan satu-satunya alasan untuk merantau yang cukup elegan adalah study. Di Balige tidak ada universitas. Universitas adanya di Medan, ibukota provinsi Sumatera Utara. Akan tetapi entah mengapa sejak aku tahu keberadaan Medan, aku tidak pernah berniat untuk merantau ke sana. Sasaranku adalah Pulau Jawa. Merantau sejauh mungkin dan kalau Tuhan berkehendak ke Eropa atau Amerika.

Dan disinilah aku sekarang, di Pulau Jawa, provinsi Jawa Barat. Provinsi yang pertama sekali kuinjak ketika aku pertama sekali merantau. Sudah hampir sembilan tahun aku merantau. Tapi aku tidak merindukan desa dimana aku dilahirkan dan dibesarkan. Dan aku tidak memiliki keinginan yang kuat untuk pulang selain untuk hal-hal yang penting. Tidak ada satupun yang kurindukan dan yang mendesakku untuk pulang selain dari kewajiban. Mungkin sejak awal aku memang tidak pernah menjadi bagian dari desa dimana aku dilahirkan dan dibesarkan. Bagiku, desa Sangkar Nihuta hanyalah bagian dari sejarah kehidupanku tanpa ikatan emosi. Sepertinya aku telah menjadi perantau yang durhaka, perantau yang lupa akan kulitnya. Entahlah. Aku bangga menjadi orang Batak dan sungguh menyenangkan menjadi seorang perantau dan memiliki kampung halaman, tapi tidak untuk ditinggali.

Tahun ini, aku telah resmi menjadi warga Jawa Barat. Aku memiliki rumah dan belajar untuk bermasyarakat. Saat ini, aku memang menjadi warga minoritas dari suku dan agama di lingkungan yang sedang dan akan kujalani kelak. Berbeda dengan dimana aku dilahirkan dan dibersarkan, disana aku menjadi warga mayoritas baik dari suku dan agama. Dulu, aku tidak perlu sehati-hati sekarang dalam bermasyarakat. Disini aku harus belajar untuk sangat bertoleransi dan belajar untuk bertahan dengan kebisaan yang berbeda dari lingkungan dimana aku dibesarkan. Cukup menguras mental untuk bisa beriringan bersama-sama dengan mereka yang berbeda kebiasaan hidup. Kebiasaan orang batak dan Kristen memiliki perbedaan yang sangat besar dengan kebiasaan orang Sunda dan Islam. Tapi, inilah tantangannya, menjadi warga yang toleransi dan tenggang rasa. Terima kasihku untuk guru-guru SD-ku yang sangat eager untuk mengajarkan nilai-nilai ini kepadaku ketika aku masih di kampung halaman. Walau aku tidak yakin, apakah kelak aku bisa mengajarkannya kembali ke anak-anakku karena kondisi yang sangat berbeda. Kalau dulu, guru-guruku mengajarkan nilai-nilai itu ketika aku adalah warga mayoritas dan bahkan ketika tidak ada perbedaan itu selama keberadaanku di dunia ini. Sementara kelak, ketika aku memiliki anak dan mengajarkan nilai itu, kami berada di lingkungan minoritas dan telah ada contoh konkritnya.

Inilah tantangannya. 



Wednesday, 12 November 2014

Sendiri

Aku tidak ingat sejak kapan dan mengapa aku menjadi orang yang malu untuk minta tolong, sebelum kulakukan yang bisa kulakukan dan sebelum ada penawaran bantuan. Aku tidak seharusnya menjadi perempuan yang selalu tampil kuat dan tegar. Aku seharusnya menunjukkan kepada orang-orang bahwa aku tidak memiliki kekuatan untuk melanjutkan beban ini. Tidak seharusnya aku memaksakan diriku untuk memikulnya sendirian. Tapi, disinilah aku, memilih untuk menjalaninya sendiri dengan Tuhan. Aku menutup semua pertolongan yang aku yakin akan selalu ada untukku. Karna aku tahu, aku dikelilingi banyak cinta. Cinta yang hanya akan datang di saat aku memutuskan untuk memintanya. Dan aku memilih untuk menjalaninya sendiri.

Sesungghuhnya, aku tidak tahu hendak melakukan apa dengan hidupku. Aku merasa bersalah apabila tidak melakukan apapun di dalam 24 jam. Aku merasa bersalah menghirup oksigen gratis tanpa berkarya. Aku merasa bersalah karena aku tidak bisa menjadi ibu rumah tangga atau menjadi istri yang melakukan segala pekerjaan rumah tangga dengan sangat baik. Aku tidak terlahir untuk melakukan itu. Aku tidak memiliki semangat, bahkan untuk membersihkan rumahku sendiri. Aku bahkan tidak tahu, apakah aku harus membuka mataku ketika jam enam pagi tiba. 

Apa yang terjadi pada diriku? Aku ingin sendirian tapi tidak mau menjalaninya tanpa ada seorang pun manusia di dekatku. Aku tidak mau bangun tidur tapi aku juga tidak mau tidur seharian. Aku tidak mau membersihkan rumahku tapi aku juga tidak mau meminta orang lain melakukannya dan aku tidak suka dengan hal yang kotor dan bau. Aku tidak tahu apa yang aku inginkan. Aku ingin bekerja tapi aku tidak yakin apakah aku sanggup untuk menghadapi kemacetan Jakarta? Aku bosan di rumah, yang kuanggap tidak ada yang bisa kukerjakan di rumah sementara ada begitu banyak pekerjaan.
Sesungguhnya, aku tidak tahu apa yang kuinginkan. Aku sama sekali tidak memiliki rencana apapun di dalam hidupku. Sepertinya semuanya menguap entah kemana.

Aku bahagia karena aku memiliki rumah, aku masih bisa makan, aku memiliki tempat tidur yang nyaman. Aku bahagia karena aku memiliki suami yang menurutku sangat mencintaiku. Tapi, aku tidak bisa mengontrol air mataku. Aku tidak memiliki semangat untuk ke luar dari rumah bahkan hanya untuk merasakan sinar matahari. Sesungguhnya, aku bosan menghabiskan tiap detik di rumah saja, akan tetapi aku tidak memiliki keberanian untuk melihat dunia luar. Dan disinilah aku, menikmati kesendirianku di dalam rumah, sendiri.

APTB Ciputat - Kota



Hari ini adalah hari yang cukup berat untukku secara mental dan psikologis. Untuk pertama kalinya, setelah aku melahirkan bayiku dan mengikhlaskan kepergiannya, aku kembali menggunakan bis APTB jurusan Ciputat - Kota. Oh iya, sebelum saya berbagi mengapa hari ini menjadi hari yang berat untukku, saya akan memperkenalkan bis ini terlebih dahulu. Bagi masyarakat yang tinggal di Jakarta dan sekitarnya, mungkin sudah tahu apa itu APTB.  APTB adalah Angkutan Perbatasan Terintegrasi Bus Transjakarta. Bis ini merupakan salah satu karya dari Jokowi ketika beliau masih menjadi Gubernur DKI Jakarta. Seperti namanya, pengadaan bis ini bertujuan  mengajak masyarakat yang berdomisili di daerah pinggiran Jakarta (seperti Ciputat, Bekasi, Bogor, dsb) tapi bekerja di Jakarta, untuk tidak menggunakan kendaraan pribadi. Diharapkan dapat mengurangi kemacetan di Jakarta, khususnya di jam-jam kantor dan untuk di daerah perkantoran (Jl. Sudirman, Jl. Rasuna Said lebih dikenal dengan Kuningan, dan Jl. Gatot Subroto) di Jakarta. Ada banyak bis APTB dengan berbagai tujuan daerah untuk kota pinggiran di Jakarta, salah satunya adalah bis APTB yang biasa aku pergunakan, APTB jurusan Ciputat - Kota dengan rute perjalanan Ciputat - Lebak bulus - Pondok Indah - Radio Dalam - Blok M - Sudirman - Sarinah - Harmoni - Glodok - Kota. Tarif untuk menggunakan bis ini sekali jalan adalah Rp 8.000,00 dimana transaksinya dilakukan di dalam bis. Akan tetapi apabila kita menggunakan bis APTB dari Jakarta khususnya di Jalan Sudirman, maka kita harus membayar sebesar Rp 3.500,00 terlebih dahulu untuk bisa masuk ke dalam halte transjakarta dengan menggunakn e-ticket. Secara pribadi, aku sangat terberkati dengan adanya bis ini. Bis ini memudahkan kami yang tinggal di daerah pinggiran Jakarta dapat dengan mudah untuk berkunjung ke Jakarta. Walaupun pengadaan bis ini, ternyata belum memberikan hasil yang signifikan untuk mengajak masyarakat Jakarta dan sekitarnya beralih dari kendaraan pribadi ke bis massal seperti ini.

Aku ulangi kembali, aku sangat terberkati dengan pengadaan bis ini. Akan tetapi, seperti public transportation pada umumnya di Jakarta, bis ini masih belum bisa memberikan kenyamanan kepada para penumpangnya, khususnya untuk ibu hamil. Aku yakin, inilah alasan utama mengapa masyarakat yang menggunakan kendaraan pribadi ke kantor belum mau beralih menggunakan public transportation di Jakarta, masih jauh dari nyaman! Jujur, aku sendiri yang dibesarkan dengan kekurangan tidak merasa nyaman menggunakan public transportation di Jakarta, apalagi mereka yang telah dibesarkan dengan kemewahan? Seandainya saya mempu membeli kendaraan pribadi, aku akan 100% lebih memilih untuk menghadapi kemacetan Jakarta di dalam mobil dengan duduk manis sambil membaca buku dilengkapi dengan AC dan musik favoritku dibandingkan dengan menggunakan public transportation yang penuh sesak, berdiri, dan menunggu untuk kedatangan bis yang cenderung  lama. Sungguh sangat wasting time dan stressfull)

Kembali ke APTB, tidak seperti bis transjakarta, di bis ini tidak disediakan kursi khusus untuk ibu hamil. Jadi, bagi ibu hamil yang berdomisili di daerah pinggiran Jakarta dan berkantor di Jakarta, menggunakan bis ini pada jam-jam sibuk di Jakarta, saya pribadi tidak menyarankannya. Adalah saya salah satu penumpang yang mengalami ketidakramahan selama menggunakan bis ini. Selama saya hamil, saya nyaris tidak pernah bisa mendapatkan tempat duduk  dari halte dimana saya menaiki bis ini. Saya akan dapat tempat duduk, apabila para penumpang ada yang sudah turun. Selama tidak ada penumpang yang turun, maka saya harus berpuas diri dengan berdiri di dalam kesesakan tentunya. Di samping itu, pengadaan bis ini tidak terlalu banyak sehingga harus menunggu 30 - 60 menit bahkan lebih di dalam halte transjakarta. Dan ketika bis datang, para penumpang yang memiliki tujuan ke Ciputat belum tentu bisa masuk ke dalam bis. Hal ini disebabkan, pada jam-jam sibuk di daerah perkantoran ada begitu banyak orang yang menggunakan bis ini walaupun tujuan mereka bukanlah ke Ciputat. Hasil dari pengamatan saya, mereka yang masuk ke dalam bis ini, tujuan utama adalah Blok M, Radio Dalam, dan Pondok Indah. Selama saya menjadi penumpang APTB jurusan Ciputat - Kota, bis akan kosong ketika telah melewati daerah ini. Dan biasanya, di daerah inilah saya akan mendapatkan tempat duduk, setelah banyak penumpang yang turun.  Alhasil, mereka yang rumahnya di Ciputat seperti saya akhirnya tidak memiliki ruang di bis itu dan harus menunggu bis APTB berikutnya dengan harapan bisa masuk ke dalam bis walaupun tidak mendapatkan tempat duduk.

Di usia 27 minggu kehamilanku, aku menggunakan bis APTB jurusan Ciputat - Kota untuk berangkat dan pulang kantor. Ketika akan berangkat ke kantor, aku tidak memiliki masalah dengan tempat duduk, karena aku naik dari perhentian pertama bis dengan kata lain aku selalu mendapatkan tempat duduk. Akan tetapi, ketika pulang kantor, aku harus berkompetisi dengan penumpang yang lain untuk bisa masuk ke dalam bis. Tak jarang aku kalah dalam kompetisi itu dan menunggu bis selanjutnya 30 - 60 menit bahkan lebih dengan berdiri, tentu saja. Kondisi seperti ini aku alami berhari-hari dalam keadaan hamil dan endingnya adalah tubuhku tidak kuat, aku mengalami pecah ketuban dini dan anakku tidak bisa diselamatkan. Bis APTB adalah bis yang terakhir aku gunakan ketika kejadiaan itu menyerangku. Di dalam bis ini pula, aku dan bayi di dalam kandunganku berkompetisi untuk mendapatkan kenyamanan. Dan di dalam bis inilah kenangan terakhirku dengan anakku yang membuatku terkoneksi dengan dunia luar.

Hari ini, untuk pertama kalinya setelah anakku pergi, aku kembali menggunakan bis ini. Aku ingat, pertama kali menggunakan bis ini, aku belum menyadari keberadaan anakku yang telah hadir di dalam rahimku. Tapi dia sudah ada. Kami bersama-sama menggunakan bis ini untuk pertama kalinya. Dan hari ini, untuk pertama kalinya aku menggunakan bis ini dengan sendirian. Itu sangat menyakitkan. Setiap inci dari bis ini mengingatkanku dengan perjuangan kami di dalam bis ini untuk bertahan sampai kami tiba di tujuan akhir kami, yaitu di Ciputat. Berdesakan dengan penumpang yang lain, kedinginan ketika hujan turun, kemacetan yang luar biasa, kami jalani bersama-s ama. Kenangan itu mungkin akan menjadi kenangan yang manis, seandainya anakku bisa bersama-sama denganku sekarang. Akan tetapi yang terjadi adalah aku harus mengikhlaskan anakku bersamaNya, sementara aku disini kembali melanjutkan kompetisi untuk mendapatkan kenyamanan di dalam bis ini. Inilah yang menjadikan hariku semakin berat. Bukan karena aku menjadi sendiri sekarang di dalam bis ini, akan tetapi karena bis ini mengingatkanku dengan anakku.

Seiring dengan terpilihnya Bapak Jokowi menjadi Presiden, aku sangat berharap banyak kepada beliau. Menjadikan Indonesia untuk lebih nyaman dihuni. Aku tahu, aku bukanlah satu-satunya orang yang berjuang di dalam public transportation pada jam-jam kantor. Dan aku yakin, di luar sana masih banyak yang memiliki pengalaman lebih menyedihkan terkait dengan public transportation di Indonesia pada umumnya dan di Jakarta pada khususnya. Melalui tulisan ini, aku ingin membagi ide dengan harapan mampu menjadikan Indonesia untuk lebih baik lagi. 

Sebagai masyarakat yang belum mampu membeli kendaraan pribadi dan masih bergantung dengan public tranportation, aku memiliki saran agar masyarakat Jakarta tidak terlalu mencintai jalanan Jakarta.
  1. Public transportation yang nyaman. Tidak harus pakai AC. Pemerintah sebaiknya sudah harus memperketat kembali jumlah penumpang di dalam bis yang melebihi kapasitas. Memang, telah ada peraturan jumlah maksimal di dalam satu bis, akan tetapi sampai hari ini, saya belum pernah mendengar ada tindakan nyata yang diberikan oleh Pemerintah kepada bis yang mengangkut penumpang melebihi kapasitas. Dengan menggalakkan kembali jumlah maksimal penumpang di dalam satu bis, hal ini akan mengurangi tindakan kriminal yang banyak terjadi di dalam public transportation yang menjadi sorotan utama bagi mereka yang masih menggunakan kendaraan pribadi.
  2. Meningkatkan jumlah armada bis pada jam-jam sibuk dan mengurangi kapasitas kendaraan pribadi dengan cara mengubah  3 in 1 menjadi 5 in 1.
  3. Kendaraan pribadi tidak diizinkan untuk menggunakan BBM bersubsidi.
  4. Khusus untuk APTB Ciputat - Kota, saya tidak setuju apabila petugasnnya menaikkan penumpang yang tujuan akhirnya adalah Blok M dari Sudirman pada jam sibuk. Hal ini memperkecil kesempatan penumpang yang tujuan akhirnya ke Ciputat untuk bisa masuk. Bagi mereka yang tujuan akhirnya Blok M, pemerintah telah menyediakan transjakarta. Seharusnya mereka lebih baik menggunkan tranjakarta saja.
Dan yang paling penting adalah bagi seluruh masyarakat Indonesia, kita dikenal sebagai masyarakat yang ramah dan baik di dunia Internasional. Sebaiknya karakter ini bukan hanya kita tunjukkan kepada masyarakat luar negeri saja, akan tetapi juga terkhusus bagi kita sesama bangsa Indonesia. Sekeras apapun kehidupan yang telah kita jalani, seberat apapun beban yang ada di pundak kita, marilah dengan berempati untuk memberikan tempat duduk kepada ibu hamil, orang tua, dan berkebutuhan khusus. Jakarta sesungguhnya adalah kota yang indah jikalau kita manusia yang tinggal di dalamnya bersikap ramah.

Wednesday, 5 November 2014

Executive Search

     Bekerja adalah salah satu dan mungkin satu-satunya cara bagi manusia untuk dapat memenuhi kebutuhan sehari-hari. Dengan bekerja manusia akan mendapatkan upah, baik dalam bentuk uang maupun hal lainnya, misalnya kepuasan. Di dalam perkembangan dunia sekarang ini, bekerja di perkantoran adalah sebuah pekerjaan yang cukup bergengsi dibandingkan dengan pekerjaan yang tidak dapat dikategorikan ke dalam jenis apapun. Mayoritas orang menghabiskan waku, tenaga, pikiran, dan mungkin materi juga untuk bisa menjadi pekerja kantoran. Pekerja kantoran yang saya maksud di sini bukan hanya mereka yang bekerja di perusahaan swasta tapi juga di kantor pemerintahan atau lebih dikenal dengan Pegawai Negeri Sipil.
     Sebuah keberan saya kurang lebih tiga tahun memiliki pengalaman bekerja sebagai Human Resource Development (HRD). Saya ingin berbagi informasi bagi mereka yang sedang mencari pekerjaan karena saya yakin salah satu penyebab banyaknya pengangguran di Indonesia ini bukan hanya jumlah pekerjaan yang terbatas atau tidak sebanding dengan jumlah si pencari kerja, akan tetapi informasi mengenai pekerjaan tersebut tidak diketahui oleh si pencari kerja. Lebih jauh lagi, dalam tulisan ini saya akan memfokuskan dengan jenis pekerjaan yang bukan PNS atau yang kita kenal dengan pekerja swasta. Alasan utama saya karena jenis pekerjaan di swasta memiliki ruang yang lebih terbatas untuk diinformasikan kepada seluruh pencari kerja dengan alasan biaya, apalagi dengan perusahaan swasta yang memiliki budget terbatas. Berbeda halnya dengan pemerintah yang memiliki budget tidak terbatas sehingga informasi mengenai penerimaan calon PNS bisa diketahui oleh seluruh rakyat Indonesia.
     Proses perekrutan di perusahaan swasta sebenarnya kurang lebih memiliki kesamaan dengan yang dilakukan oleh pemerintah, yaitu melakukan pendaftaran terlebih dahulu, kalau beruntung akan mengikuti seleksi perekrutan, dan kalau jodoh akan bekerja di perusahaan tersebut. Itulah siklusnya secara kasar. Di zaman orang tua kita, untuk melakukan pendaftaran ke sebuah perusahaan mungkin prosesnya masih manual, yaitu dengan mendatangi setiap perusahaan dan meninggalkan CV di perusahaan tersebut. Atau mungkin di zaman kakak dan abang kita, harus mengirim berkas yang dibutuhkan lewat pos. Berbeda sekali dengan kondisi kita saat ini. Kita dipermudah dengan perkembangan teknologi, dimana berkas yang dibutuhkan di dalam pendaftaran untuk sebuah lowongan pekerjaan bisa dilakukan melalui email. Setiap orang di usia 20 - 30 tahun di tahun ini akan dianggap aneh bila tidak memiliki email.
Lebih detailnya lagi, proses pendaftaran ke perusahaan yang sedang mencari pekerjaan atau jenis perusahaan yang kita inginkan menjadi tempat kita bekerja bisa dilakukan dengan berbagai cara, yaitu :
  • Proses pendaftaran yang dilakukan oleh para calon karyawan melalui internet. yaitu melalui alamat web resmi dari perusahaan tersebut. Pihak perusahaan memberikan pengumuman dan cara untuk melakukan perndaftaran langsung tanpa adanya pihak ketiga di web mereka.
  • Masih berhubungan dengan internet, dengan kemajuan teknologi di zaman sekarang ini, banyak perusahaan perekrutan di dunia internet yang berkembang untuk mempertemukan pihak pemberi kerja dengan para pekerja di dunia internet. Mereka lebih dikenal dengan pihak ketiga. Contoh dari perusahaan yang bergerak di bidang ini adalah  JOBSTREET, JOB DB, CARIER.COM, LIONJOB, dsb. Cara kerja dari perusahaan pihak ketiga ini sangat membantu para calon pencari kerja. Cukup dengan mendaftarkan diri ke situs mereka dan mengisi data-data yang mereka minta, maka mereka akan mengirimkan jenis pekerjaan, nama perusahaan, requirement yang diharapkan, dan informasi yang terkait mengenai pekerjaan tersebut dimana informasi ini disesuaikan dengan data-data yang kita berikan kepada perusahaan pihak ketiga ketika kita melakukan pendaftaran. Setelah itu kita bisa melamar ke perusahaan tersebut secara langsung dengan alamat email kita atau bisa juga melamar ke pihak ketiga tersebut. Nantinya pihak ketiga yang akan meneruskan lamaran kita ke perusahaan yang kita lamar. Syarat utama dari proses ini adalah para calon pekerja diwajibkan untuk menjadi member di perusahaan ini. Dan data-data yang kita berikan adalah benar. Sebagai gantinya, mereka akan selalu mengirimkan  list perusahaan yang sedang mencari pekerja ke email si pencari kerja. Layanan ini gratis bagi para pencari kerja dan dikenakan tarif bagi perusahaan pencari kerja yang menggunakan layanan ini. Dari sudut pencari kerja, dengan adanya jenis perusahaan ketiga ini sangat menguntungkan dan membantu sekali. Para pencari kerja tinggal memilih jenis pekerjaan dan jenis perusahaan yang ingin dilamar sesuai dengan list perusahaan yang dikirimkan oleh pihak ketiga.
  • Masih dengan menggunakan email, saat ini juga telah berkembang sebuah jejaring profesional yang disebut dengan LINKED IN. Situs ini hampir mirip dengan jejaring sosial lainnya seperti FACEBOOK atau FRIENDSTER di zaman kakak dan abang kita. Perbedaannya terletak di profile yang kita share. Apabila di jejaring sosial kita bebas untuk men-share apapun, di situs ini kita sebaiknya hanya men-share segala sesuatu yang berhubungan dengan dunia kerja. Situs ini adalah situs dimana para pelaku market place berkumpul, baik itu pihak si pencari kerja, si pemberi pekerjaan, atau mereka yang sudah bertahun-tahun di market place  untuk saling sharing knowledge di bidang yang mereka tekuni. Cara untuk mendaftar ke situs ini juga gratis untuk level Business Service. Apabila kita ingin meng-upgrade level kita ke Premium level, maka akan dikenakan biaya. Akan tetapi untuk status sebagai seorang pencari kerja, level business service juga sudah cukup memadai. Ketika kita melakukan pendaftaran menjadi member di LINKED IN, para pencari kerja diwajibkan untuk mengisi profile dengan pengalaman bekerja dan informsai yang mendukung, misalnya latar belakang pendidikan (almamater dan jurusan), award yang pernah diraih, dan penilaian rekan-rekan yang pernah bekerja dengan kita. Yang paling penting jangan menampilkan hal-hal yang membuat orang lain menilai kita kekanak-kanakan, alay, dan tidak profesional. Sekali lagi, situs ini adalah network yang membantu kita di dalam market place bukan untuk tempat curhat atau tempat kita menunjukkan kelemahan kita, sebaliknya disini adalah tempat kita "menjual diri" secara profesional. Profile kita disitus ini memang akan terlihat seperti  resume (CV) dimana semua orang memiliki akses untuk membacanya, termasuk para pencari pekerja.
  • Dari pihak perusahaan mengadakan event di suatu tempat dan mengundang para calon karyawan untuk menghadiri event tersebut. Event ini lebih dikenal dengan JOB FAIR. Biasanya, event ini diadakan oleh pihak ketiga dengan mengundang berbagai jenis perusahaan-perusahaan untuk hadir di event itu dan bertemu langsung dengan  para pencari kerja. Perusahaan pihak ketiga yang paling sering mengadakan event seperti ini adalah JOBSTREET. Untuk mempermudah para pencari kerja memperoleh informasi seperti ini, sebaiknya para pencari kerja sudah memiliki account atau sudah menjadi member dari JOBSTREET. Hal ini juga akan membantu para pencari kerja ketika mengikuti JOB FAIR, dimana biasanya sebelum memasuki event JOBSTREET selain kita harus bayar sebesar Rp 30.000,00 untuk satu hari, kita diwajibkan untuk menjadi member JOBSTREET. Bagi yang belum menjadi member JOBSTREET, kita akan disuruh untuk mendaftarkan diri dulu dan antriannya pastinya panjang. Kalau tidak mau antri hanya untuk melakukan pendaftaran ketika JOB FAIR diadakan, sebaiknya sebelum menghadiri event, daftarkan diri dulu ke JOBSTREET.
  • Perekrutan dilakukan oleh pihak ketiga, hampir sama dengan yang dilakukan oleh perusahaan yang bergerak di dunia maya (pada point dua) dimana tujuannya adalah mempertemukan pihak si pemberi kerja dengan si pencari kerja. Mereka ini dikenal dengan Recuritment consultant atau Executitive Research. Lalu apa bedanya dengan pihak ketiga yang telah saya sebutkan di point kedua di atas? Bedanya pada point kedua, ketika kita sudah menjadi member dari perusahaan pihak ketiga, kita akan dikirimkan list nama-nama perusahaan dan posisi yang sedang ada, tanpa bertemu dengan mereka secara langsung. Sementara dengan pihak ketiga yang selanjutnya akan saya sebut Executive Research, langsung berhubungan dengan kita, baik melalui telepon maupun bertemu. Biasanya mereka akan langsung melakukan interview dengan pihak pencari kerja dan memberikan hasil interview tersebut ke perusahaan yang membutuhkan. Jadi, ada kalanya data pencari kerja akan menjadi database mereka dan sewaktu-waktu mereka memiliki klien (perusahaan pemberi kerja) membutuhkan pencari kerja, mereka akan menggunakan database tersebut.
     Dalam tulisan saya kali ini, saya ingin memaparkan mengenai keberadaan Executive Search yang begitu sangat menjamur di Jakarta akan tetapi untuk para pencari kerja masih banyak yang tidak menyadari keberadaan mereka.

     Executive Search adalah pihak ketiga yang menghubungkan antara pencari kerja dan pemberi kerja. Di dunia market place perusahaan ini lebih dikenal dengan Head Hunter. Seperti namanya, perusahaan ini bertujuan untuk mencari para pencari kerja yang nantinya akan ditempatkan di perusahaan klien mereka. Akhir-akhir ini dan dalam banyak kesempatan, yang menjadi target utama dari perusahaan ini adalah bukan lagi para pengangguran, melainkan mereka yang masih aktif  menjadi karyawan di sebuah perusahaan. Istilah kerennya adalah membajak karyawan perusahaan lain. Tidak jarang terjadi, bahkan dari perusahaan klien memberikan nama-nama kepada perusahaan Executive Search untuk dibajak. Nama-nama tersebut akan dihubungi oleh Executive Search dan ditawarkan benefit yang lebih baik apabila mereka bersedia meninggalkan perusahaan yang sekarang dan bergabung dengan perusahaan klien dari Executive Search. Untuk mencegah hal ini,beberapa perusahaan besar membuat semacam peraturan bahwa karyawan mereka tidak bisa pindah ke perusahaan kompetitor sesaat setelah mereka mengajukan permohonan diri dari perusahaan tersebut. Selain itu, ada juga beberapa perusahaan yang tidak mau menerima karyawan dari perusahaan kompetitornya dengan alasan dan memang bisa saja terjadi, seorang karyawan "direlakan" dibajak dengan tujuan untuk menjadi mata-mata di perusahaan kompetitor. Setelah si karyawan tersebut mengetahui strategi bisnis dari perusahaan kompetitior, maka dia diminta untuk kembali ke perusahaan sebelumnya. Itulah dunia bisnis.
     Menjadi karyawan yang akan diburu oleh Executive Search memang bukanlah hal mudah. Hal ini disebabkan standar yang cukup tinggi yang diperlakukan oleh para Head Hunter. Tentu saja, karena mereka dibayar mahal untuk itu oleh para kliennya. Berbeda dengan JOBSTREET, dimana mereka akan menerima semua resume dari para pencari kerja yang mendaftarkan diri ke mereka. Mereka hanya mengkatergorikan latar belakang pendidikan dan atau jenis pekerjaan yang diinginkan oleh si pencari kerja. Di samping itu, proses yang harus dilalui melalui JOBSTREET lebih lama dibandingkan dengan Executive Search. Tidak heran, bagi para pencari kerja yang sudah berpengalaman di bidangnya pada umumnya lebih mendekatkan diri ke Executive Research dibandingkan ke JOBSTREET. Walaupun, JOBSTREET masih tetap dibutuhkan, bahkan oleh Executive Search sendiri. Executive Search juga dalam banyak hal masih menggunakan jasa JOBSTREET untuk mendapatkan resume yang mungkin bisa diproses untuk kebutuhan klien mereka. Intinya, untuk mendapatkan orang yang terbaik, segala macam cara dilakukan oleh mereka yang bekerja di bagian perekrutan.
     Lalu, apa yang harus dilakukan oleh mereka si pencari kerja?
  1. Siapkan CV, tentunya CV yang menjual dan benar-benar menggambarkan Anda secara profesional. Dan rajinlah meng-updatenya serta simpanlah CV Anda di tempat yang mudah Anda jangkau, misalnya di handphone, email, tab, flash disk, dsb. Jangan menunda hari keberuntungan Anda lebih lama lagi.
  2. Tidak bisa dipungkiri saat ini memang ada begitu banyak penawaran-penawaran yang dilakukan melalui telepon, baik itu penawaran kartu kredit, asuransi, dan bahkan penipuan. Oleh karena itu, kita harus tetap konsentrasi ketika panggilan telepon itu datang. Biasanya para Executive Search akan menghubungi Anda di hari kerja dengan salam yang cukup menyenangkan. Apabila saat itu, Anda tidak berada dalam kondisi yang tepat untuk menerima panggilan, Anda bisa menundanya dan memberitahukan jadwal available Anda untuk dihubungi. Atau apabila, saat itu Anda masih nyaman dengan pekerjaan Anda yang sekarang, belum berniat untuk pindah, utarakan juga hal ini dengan sopan karena Anda tidak tahu mungkin saja suatu hari nanti Anda membutuhkan mereka. Ingat yang mereka tawarkan adalah pekerjaan dimana melalui pekerjaan itu Anda memiliki peluang untuk mendapatkan upah atau posisi yang lebih baik dari yang Anda dapatkan sekarang. Di samping itu, tidak ada ruginya untuk bersikap manis dan sopan kepada mereka yang menawarkan pekerjaan.
  3. Bersikaplah sopan di dalam setiap jejaring sosial, hubungan antar pribadi, dan di lingkungan dimana pun Anda. Apabila Anda ingin dilirik oleh para Head Hunter, penilaian orang-orang yang berada di sekitar Anda sangatlah penting. Banyak orang gagal meraih karir yang lebih tinggi disebabkan perilakunya yang tidak sopan dan sesuai dengan norma sosial. Dunia ini sebesar daun talas, kita tidak pernah tahu bahwa setiap orang yang kita temui setiap harinya saling terkoneksi.
     Memiliki pengalaman di bidang rekruitment, membuatku mampu menarik kesimpulan bahwa sesungguhnya yang menyebabkan jumlah pengangguran di Indonesia teramat banyak bukan hanya karena minimnya lapangan pekerjaan. Akan tetapi, tingkah laku manusia-manusia di Indonesia yang tidak memiliki jiwa profesional dan keinginan belajar yang masih di bawah rata-rata. Padahal ada begitu banyak posisi di perkantoran yang masih kosong, yang membutuhkan banyak sumber daya manusia untuk bekerja di sana. Anehnya, dari sekian ratus juta manusia di Indonesia ini, sangat minim ditemukan yang sesuai dengan kebutuhan perusahaan. Dimana, para pencari kerja tersebut banyak gagal bahkan ketika di seleksi pertama.


Monday, 3 November 2014

selepas kau pergi

     Besok, tanggal 4 November 2014 tepat dua bulan kau diangkat dari rahimku. Tepat dua bulan juga kau pergi meninggalkan kami, orang tuamu. Sampai saat ini, kami, khususnya aku ibumu masih berjuang untuk merelakanmu kembali kepadaNya. Meyakinkan diri kami bahwa inilah yang terbaik untuk kita semua. Terbaik untuk kami orang tuamu dan terbaik untukmu. Walau dalam banyak hal, aku masih sangat ingin melanjutkan kehamilanku. Aku masih berharap dapat melahirkanmu di bulan ini. Aku masih berharap diberikan kesempatan untuk mendengar suaramu, merasakan sentuhanmu, dan menghabiskan waktu bersamamu. Sampai saat ini, aku berusaha untuk tidak mempertanyakan mengapa kepada Tuhan, karena aku sudah tahu itu hanya akan membuatku semakin terpuruk di dalam dukaku untuk merelakanmu.
     Kau tahu, angka 4 adalah angka yang spesial untuk kami orang tuamu. Di tanggal 4 Aprillah aku dan papamu resmi menjadi sepasang kekasih setelah hampir 25 tahun kami saling mengenal sebagai seorang teman. Di tanggal itu pula, papamu mendapatkan SK PNS setelah setahun lebih menjadi CPNS. Dan kau menggenapinya dengan tanggal kelahiran dan kematianmu anakku. Ya, angka 4 akan selalu menjadi angka spesial bagi kami.
Selama dua bulan kau pergi, aku belum pernah mengunjungi makammu. Kau mau tahu mengapa? Karena aku belum siap bertemu denganmu. Kau yang pernah tumbuh bersamaku selama 28 minggu di rahimku, kau yang kurasakan melalui gerakanmu, kau yang kudengar melalui detak jantungmu, dan kau yang pernah singgah di dalam kehidupan kami. Aku tidak tahu hendak mengatakan apa kepadamu, selain betapa aku sangat merasa bersalah dan begitu dalamnya penyasalanku kepadamu.
     Kau yang tidak terlalu kuharapkan untuk hadir dengan begitu cepat, membuatku perlahan-lahan semakin menginginkanmu. Bahkan ketika waktu bisa terulang kembali, aku tidak tahu apakah aku bisa mencegah kepergianmu. Papamu selalu mengatakan agar aku berhenti menangisi kepergianmu. Tapi, aku belum bisa, belum bisa untuk merelakanmu bersama Tuhan. Keegoisanku masih mendominasiku. Aku menginginkanmu, bayi yang belum pernah kusentuh dan kulihat dengan mataku sendiri.
Jordan, anakku bila tiba waktunya kelak, kita dipertemukan olehNya di surga, apakah aku akan mengenalmu? Karena jujur, aku tidak memiliki naluri yang tajam untuk menjadi seorang ibu. 
     Bagaimana kabarmu disana, anakku? Apakah kau sering memperhatikan aku dan papamu dari sana? Aku akan membantumu untuk memahami keadaan kami. Saat ini, aku tinggal di rumah saja. Menunggu ada panggilan dari perusahaan yang baru. Oh iya, aku belum cerita kepadamu, kan ya? Aku sudah tidak bekerja di kantor yang dulu kita pernah bersama-sama itu. Aku sudah memutuskan untuk keluar di sana karena tekanan pekerjaan dan perjuanganku untuk ke kantor yang sangat berat. Seharusnya aku melakukannya sebelum kau pergi ya, anakku? Bagaimana menurutmu dengan keputusanku ini? Apakah kau setuju? Aku yakin kau pasti setuju, karena kau juga merasakan tekanan yang kualami kan selama aku bekerja di sana? Tapi sebenarnya alasan utamaku untuk keluar dari perusahaan itu adalah karena mereka tidak memberikan tunjangan melahirkan untukku. Itu adalah keputusan yang sangat menyakitkan untukku apalagi selepas kau pergi meninggalkan kami.
Aku sudah mengikuti proses seleksi di beberapa perusahaan. Hmm, kalau kau ada waktu bertemu dengan Tuhan, mungkin kau bisa menjadikanku topik pembicaraanmu denganNya. Sejauh ini, aku belum menjanjikan apapun untukmu. Aku tidak mau menjanjikan bahwa aku akan baik-baik saja disini selepas kau pergi, karena aku tahu aku tidak akan pernah baik-baik saja. Kau adalah bagian dari hidupku dan kau telah pergi. Aku hanya bisa berusaha meyakinkan diriku sendiri bahwa kau disana berada di tangan yang tepat.
    Papamu melanjutkan perkuliahannya. Dia tinggal di Bandung dan akan kembali di akhir minggu. Jadi, sekarang, aku sendirian di rumah. Kalau dulu ada kau di rahimku yang menemaniku, sekarang hanya aku dan semua kenangan tentang kehadiranmu. Jangan lupa untuk membicarakan papamu juga ya dengan Tuhan kalau kau sedang berbincang-bincang dengan Dia. Akhir-akhir ini, papamu sangat disibukkan dengan tugas-tugas dari dosennya. Walaupun demikian dia masih menyisakan ruang untuk mengkuatirkanku. Papamu sangat kuatir kalau aku akan menjadi gila selepas kau pergi. Dibandingkan papamu, sepertinya dia lebih kuat dariku. Aku jauh lebih sering menangisimu dibandingkan papamu. Tapi, bukan berarti dia tidak merasakan kehilangan juga. Dia terlihat lebih tegar daripada aku, karena dia tahu bahwa hanya dialah yang bisa menghapus air mataku selepas kau pergi.
     Saat ini, kami harus hidup sangat berhemat sekali. Aku tidak memiliki pekerjaan dan papmu kuliah dengan kata lain, pemasukan kami berkurang tiga perempat. Sekarang kami hanya hidup dari tabungan saja. Jadi, kau tahu kan betapa pentingnya pekerjaan itu untukku? Semoga kau bisa memahami mengapa aku memaksakan diri untuk tetap bekerja ketika kau tumbuh di dalam rahimku. Aku tidak memintamu untuk memaafkanku, akan tetapi aku hanya ingin kau tahu bahwa aku menginginkan pekerjaan itu untuk bisa menyambung kehidupan kita di perantauan ini. Aku tahu, aku tidak dapat dimaafkan. Ketidaknyamananmu selama kau tumbuh di dalam rahimku seutuhnya adalah kesalahanku.
     Anakku Jordan, aku merindukanmu. Baik-baik ya bersama Tuhan di sana. Kau harus tahu, aku dan papamu sangat menginginkanmu. Aku minta maaf untuk setiap ketidaknyamanan yang kau rasakan selama tumbuh di dalam rahimku. Aku akan selalu mengingatmu sebagai malaikat kecilku.
 
   

Sunday, 2 November 2014

Suamiku, Josua

   
     Melihat pernikahan orang tuaku dan tidak adanya karakter laki-laki yang bisa jadi panutan dalam hidupku membuatku memiliki keinginan untuk tidak menikah. Mungkin hal ini juga disebabkan  aku  memiliki Namboru yang tidak menikah, dimana beliau tinggal bersama-sama dengan kami di rumah orang tuaku (kami satu kamar). Walau aku beberapa kali merasa kasihan kepada beliau. Ketika dia hidup, aku sering sekali berharap dan mengatakan kepada dia agar dia mencari suami dan memulai hidup rumah tangga seperti mana yang diharapkan lingkungan sosial kami. Bahwa semua orang harus menikah. Jawaban beliau adalah hidup menikah itu tidak menyenangkan, lebih banyak ributnya dibandingkan dengan suasana damai. Dalam hati aku mengiyakannya, berkaca dengan kehidupan rumah tangga orang tuaku dan juga kehidupan rumah tangga yang ada di sekitar rumah orang tuaku. Dari hasil observasiku, sepertinya tidak ada yang terlihat sangat bahagia dengan pernikahannya. Semuanya dijalani hanya karena sudah seharusnya atau dan sudah berkomitmen.
     Kehidupan rumah tangga yang sering aku observasi selama 18 tahun hidupku di rumah orang tuaku membuatku sangat pesimis dengan kehidupan rumah tangga, dan tentu saja JANGAN MENIKAH DENGAN LELAKI BATAK. Walaupun beberapa temanku yang bukan Batak menyimpulkan bahwa lelaki batak itu lebih setia dibandingkan dengan lelaki dari suku lain, akan tetapi bagiku, lelaki batak sudah tidak ada dalam daftar harapanku apabila aku harus menikah. Aku sudah patah hati dengan lelaki batak bahkan sebelum hubungan romantis itu dimulai.
Beberapa karakter lelaki Batak yang paling sering kutemukan dan membuatku menghapus mereka dalam daftar harapanku untuk menikah dengan salah satu dari mereka adalah :
  1. Keengganan lelaki Batak untuk melakukan tugas rumah tangga, misalnya belanja bahan makanan ke pasar tradisional, memasak, mencuci dan menyetrika pakaian, dsb. Menganggap semua itu adalah pekerjaan yang tercipta untuk perempuan saja.
  2. Kecenderungan mereka untuk selalu dilayani, misalnya mengambilkan handuk mereka ketika mereka akan mandi, mempacking pakaian mereka ketika mereka akan melakukan perjalanan, menyediakan kaos kaki mereka, dsb.
  3. Keterlibatan mereka dalam mempersiapkan perlengkapan anak-anak mereka, misalnya gantian begadang mengurus bayi mereka, mempersiapkan susu dan makanan bayi mereka.
  4. Tanggung jawab mereka untuk menafkahi kehidupan anak-anak dan istri. Mereka cenderung lebih mengutamakan diri sendiri. 
  5. Jarang dan nyaris tidak bisa dijadikan teladan untuk melakukan ritual keagaamaan.
     Mungkin kelima hal ini tidak selalu ditemukan di setiap lelaki Batak. Akan tetapi disetiap lelaki Batak yang aku temukan di dalam hidupku, kelima atau empat dari hal ini selalu ada pada mereka. Apalagi poin nomor satu, lelaki Batak sepertinya sangat terusik harga dirinya apabila melakukan ini. Kalaupun ada yang melakukan ini, itu hanyalah di saat-saat tertentu, misalnya ketika istrinya sedang hamil, sedang sakit, atau mungkin ketika istrinya ulang tahun.
Aku tahu inilah penilalian yang tidak adil bagi lelaki Batak. Tapi aku tak bisa mengelak dari kondisi ini. Inilah salah satu dampak negatif yang aku dapatkan dengan menghabiskan 18 tahun pertama hidupku dengan tinggal di antara mayoritas orang Batak, yaitu di desa Sangkar Nihuta, Balige - Sumatera Utara. Observasiku terbatas hanya dengan satu suku ini karena suku Bataklah yang menjadi mayoritas di sana. 

     Di usiaku yang ke-25 tahun, aku dipertemukan kembali dengan Josua, yang adalah teman lelakiku semenjak kami SD. Kami menghabiskan masa-masa sekolah kami di sekolah yang sama dan kami dibesarkan di desa yang sama, Sangkar Nihuta. Aku akui, selama aku mengenal Josua, aku sangat menghargainya sebagai seorang teman lelaki dari desa yang sama. Kami tidak terlalu dekat, kami menghabiskan masa-masa remaja kami dengan kegiatan kami masing-masing. Akan tetapi ketika kami bertemu dan melakukan dialog, kami akan sangat dekat. Kami sangat nyambung satu sama lain. Aku ingat setiap kali kami berbincang-bincang, bagiku sendiri itu adalah hal yang menyenangkan. Hubungan kami selalu menyenangkan walaupun kami dipisahkan oleh jarak ketika masa-masa kuliah kami. Aku kuliah di Depok dan Josua di Semarang. Hubungan kami masih seperti sedia kala, tidak terlalu sering keep contact, akan tetapi setiap kali kontak terjalin, maka kami akan berpanjang lebar untuk saling berbagi, mungkin lebih tepatnya, aku yang bercerita dan Josua menjadi pendegarku. Ya, aku tidak ingat semenjak kapan, Josua selalu menjadi pendengar yang baik untukku. Aku pernah mengalami saat-saat yang meneganggkan di Depok, dimana desakan kehidupan yang sangat menyesakkan, aku menelepon Josua jam satu dini hari. Ajaibnya, Josua masih terjaga di kala itu. Aku kira, aku telah membangunkannya, mengganggu tidurnya, ternyata tidak. Dan seperti yang sudah-sudah, dia selalu ada untuk menjadi pendengarku. Dia mendengarkan keluh kesahku di kala itu.
     Sampai sekarang, apabila mengingat hal itu, aku selalu bertanya-tanya, mengapa aku menghubungi Josua di kala itu. Padahal saat itu kami sangat jarang berkomunikasi.. Kami berdua sudah disibukkan dengan aktivitas masing-masing. Bahkan pertemuan kami secara fisik setelah kami meninggalkan kampung halaman, bisa dihitung dengan jari. Ya, begitulah hubunganku dengan Josua, kami menjalani hidup kami masing-masing dengan tidak saling bersinggungan. Dan kami akan menjadi pasangan yang sangat menyenangkan ketika kami bertemu kembali. Ada-ada saja topik yang membuat kami bisa nyaman satu sama lain (menurutku). 
     Singkat cerita, setelah aku dan Josua sama-sama memiliki pekerjaan di Jakarta, secara dewasa aku pun menyadari kalau aku rasa respek dan hubungan nyaman yang selama ini kami berdua jalani bukanlah hanya sebatas karena kami berasal dari kampung halaman yang sama. Aku mulai merasionalkan hubungan kami selama ini, dan akhirnya logikaku pun dilumpuhkan. AKU JATUH CINTA PADA JOSUA. Mungkin awalnya bukan cinta pada pandangan pertama. Bukan cinta sesaat, tapi cinta yang didasarkan dengan rasa menghormati dan menghargai satu sama lain. Cinta yang mmebuatku ingin selalu bersama-sama dengan dia di dalam menjalani kehidupan ini. Cinta yang membuatku menjadi perempuan yang diinginkan, menjadi satu-satunya perempuan yang harus selalu diutamakan di atas kebutuhannya.
     Dua tahun sepuluh bulan adalah waktu yang cukup untuk kami berdua saling menguatkan komitmen untuk melangkah ke tahap selanjutnya. Di dalam rentang waktu ini, aku mengkomunikasikan kepada Josua mengenai hal-hal yang tidak kusukai dan hal-hal yang kusukai. Demikian halnya dengan Josua. Kami berdua belajar untuk bernegoisiasi karakter kami masing-masing. Tidak mudah, sampai sekarang proses itu masih tetap berlangsung, akan tetapi setiap hari kami belajar untuk saling mendahulukan dalam memberikan yang terbaik.
Josua adalah hadiah terindah yang kuterima dari Yesus selama 27 tahun hidupku. Dia mampu membuatku untuk melawan kepesimisanku dalam hidup, khususnya mengenai pernikahan dan lelaki Batak. Dia telah menunjukkan kepadaku bahwa di desa dimana aku dibesarkan yang membuatku menghapus lelaki Batak menjadi suamiku, dari tempat itulah Josua memperbaikinya. Di desa di mana kami sama-sama tumbuh, Josua hadir untuk membuat perubahan bahwa karakter yang aku sebutkan di atas harus dihapuskan dari karakter lelaki Batak. Bersama Josua, aku bisa dengan percaya diri untuk memasuki dunia pernikahan. Josualah yang membuatku perlahan-perlahan namun pasti menyadari bahwa dunia ini terlalu sayang untuk dijalani di dalam kesendirian. Dunia ini akan jauh lebih menyenangkan, segala hal yang sulit akan terasa mudah, rasa sepi akan menghilang, apabila kita menjalaninya bersama-sama. Hal inilah yang membawaku untuk bersumpah di hadapan Tuhan Yesus, untuk menjadikan Josua menjadi partnerku yang seimbang dan setara di menjalani kehidupan dunia ini.
Saat ini telah sembilan bulan berlalu semenjak sumpah itu terucap dari mulutku. Begitu banyaklah cerita yang telah kami tulis bersama. Suka-duka, sakit-sehat, dan saat tabungan kami di bank menuju angka nol, aku tetap bersyukur bahwa Josualah lelaki Batak yang telah Tuhan berikan untukku menjalani kehidupan ini. Josua menjadi lelaki yang meletakkanku menjadi prioritas hidupnya, yang mendahulukan kesenanganku di atas kesenangannya. Mengorbankan hal yang disukainya, demi kenyamananku. Lelaki yang berjuang untuk membuatku tersenyum dan berkicau. Dan yang pasti, yang memberikan cinta yang tak pernah aku dapatkan dari siapapun, kecuali dari dia. Di dunia ini, tidak ada seorang pun yang membuatku di posisi itu.
     Di kondisi ini, membuatku kembali ke percakapanku dengan almarhum Namboru Sonti. Dia pernah mengatakan bahwa kehidupan pernikahan itu lebih banyak ributnya dibandingkan rasa damainya. Dulu aku mengiyakannya karena itulah yang aku saksikan di keluarga-keluarga Batak dimana aku dibesarkan. Akan tetapi, dengan Josua menjadi suamiku, pengalaman kami di besarkan di desa yang sama, dan wawasan yang kami peroleh selama menjadi perantau di Pulau Jawa ini, mengasah kami untuk memiliki karakter yang lebih baik. Khusunya karakter untuk menjadi seorang suami, menjadi seorang ayah, dan menjadi seorang partner kehidupan. Aku memang tidak bahagia selama 24 tahun awal kehidupanku. Aku tidak memiliki pengalaman yang menyenangkan dan memuaskan. Di usia 25 tahun, ketika aku memutuhkan untuk mengkontruksikan hubunganku dengan Josua dengan tujuan utama pernikahan, membuatku untuk harus bahagia. Dan, disinilah aku bisa menyuarakannya, akhirnya setelah 26 tahun kehidupanku yang penuh dengan tekanan, sekarang hidupku sangat bahagia. Jawabannya hanya satu, karena aku menikah dengan Josua. Aku meninggalkan kehidupanku yang dulu dan menjalani kehidupan baru, menjadi Nyonya Sihotang dengan keluarga baru.
     Walaupun di tahun ini, kami mengalami masa berduka juga, dimana anak kami yang masih berusia 28 minggu dalam kandunganku akhirnya diambil oleh Tuhan lagi, aku tetap bersyukur bisa menjalaninya bersama Josua. Masa berduka ini terasa lebih mudah untuk kujalani dengan hadirnya Josua di dalam kehidupanku. Josua dan hanya karena Josualah yang membuatku memiliki kekuatan untuk bangun kembali di pagi hari di masa-masa berduka ini. Dengan adanya Josua yang menjadi suamiku, membuatku tegar dan tersenyum walau mataku menangis. Dengan Josua menjadi suamiku, aku mampu mengucap syukur kepada Tuhan dan mengatakan bahwa aku sangat bahagia.