Sunday, 25 January 2015

kubisikkan rinduku lewat sang surya

Mempersembahkan ilmu yang aku dapatkan adalah salah satu nazarku kepada Tuhan. Adalah perjuangan yang sangat berat bagiku untuk bisa mendapatkan kesempatan belajar dan mendapatkan pendidikan di perguruan tinggi. Aku tahu hanya dengan usahaku sendiri, aku tidak akan pernah bisa untuk mengecap pendidikan. Oleh karena itu, aku bernazar kepada Tuhan untuk mempersembahkan ilmuku ini kepadaNya sesaat setelah aku mendapatkannya.

Tempat yang tepat bagiku untuk mempersembahkan ilmuku kepadaNya menurutku adalah dengan mengaplikasikan ilmuku di bagian kemanusiaan. Dan aku memilih organisasi non profit atau orang-orang lebih mengenalnya dengan LSM (Lembaga Sosial Masyarakat) istilah kerennya, NGO (Non Goverment Organization). Aku memulainya dengan mengikuti kegiatan kemahasiswaan dalam program Pengabdian Masyarakat, setelah itu aku magang di LSM yang khusus menangani anak-anak berkebutuhan khusus. Dan setelah berkelana dari tiga perusahaan yang mengutamakan profit, di tahun kelima setelah saya melepaskan jaket kuning, Tuhan akhirnya memberikan saya kesempatan untuk menunaikan nazarku  berkarya di NGO. Sungguh anugrah yang luar biasa ketika Tuhan mengizinkan hal ini terjadi. Tidak tanggung-tanggung, Tuhan memberikanku kesempatan untuk melayaniNya di dalam organisasi yang besar dan sudah cukup memiliki brand di tengah-tengah masyarakat serta dengan posisi yang cukup strategis, yaitu menjadi Recruitment Coordinator.

Aku masih terus melanjutkan rasa syukurku kepada Tuhan karena Dia memberikan pekerjaan ini tepat ketika kondisi keuangan kami sudah di ujung tanduk dan keadaan emosiku yang terguncang. Iya, Tuhan memberikannya tepat pada waktunya. Seperti yang kuimani, Dia selalu tahu apa yang kubutuhkan.

Januari 2015, bulan keempat setelah anakku dipanggil kembali olehNya, Aku tidak pernah menyangka akan bisa melewati ini semua. Tidak mudah, tapi aku percaya dengan adanya Tuhan, aku percaya aku pasti akan bisa melewatinya.
Aku akui, aku masih sering menangis. Aku belum bisa 100 persen ikut bahagia untuk mereka yang melahirkan bayi mereka dengan sehat. Sakit, iya. Seperti yang sudah-sudah, aku tidak memiliki pilihan lain, selain menjalaninya.

Setidaknya, aku masih bangun di pagi hari. Menghirup udara pagi, merasakan sinar matahri, dan mengerjakan yang menjadi bagianku. Di samping itu, aku memiliki banyak tanggung jawab di kerjaan yang baru, yang memintaku untuk fokus dan memberikan yang terbaik. Setiap kali aku bekerja di kantor yang sekarang, aku memiliki kesempatan untuk meletakkan dukaku dan fokus untuk melayani Tuhan. Akhirnya aku bisa tertawa di tengah-tengah tangisku.

Satu hal yang kuimani, Tuhan tahu dan akan memberikan apa yang kubutuhkan. Dia sudah mencukupkan kebutuhanku selama 27 tahun, aku percaya Dia juga akan mencukupkan kebutuhanku untuk tahun-tahun kehidupanku kelak.
Dan buatmu, anakku Jordan, baik-baiklah bersama Tuhan di sana, sampai kita bertemu kembali. Walau aku tidak bisa menjanjikan bahwa aku dan papamu akan baik-baik saja di sini. Setidaknya kau tahu bahwa kami akan tetap bersama-sama menjalani ini semua. Aku sungguh ingin melihatmu tumbuh bersama aku dan papamu di sini. Ada banyak cerita yang ingin aku bagikan. Tapi, mungkin aku harus menyimpannya dulu.

Oh iya, hari ini nenekmu, ibunya papamu ulang tahun. Dialah yang memberikan nama Jordan untukmu. wanna say something to her? kau bisa melakukannya dengan mengunjunginya lewat mimpinya.

Yang pasti anakku, aku akan belajar untuk selalu mengucap syukur.

No comments: