Wednesday, 21 January 2015

Upah malas adalah kemiskinan

Memiliki rumah di Jabodetabek dengan hasil kerja keras sendiri, bukan pemberian orang tua atau hadiah orang lain adalah sebuah prestasi bagi generasi muda di zaman ini. Josua dan aku menjadi salah satu pasangan yang masuk ke dalam kategori tersebut (menyombongkan prestasi sekali-kali baik untuk kesehatan jiwa). Adalah karna Tuhan hingga Josua dan aku bisa berada pada tahap ini. Semuanya hanya karena DIA. Itu adalah fakta yang tidak akan pernah aku pungkiri.

Rumah yang Josua dan aku miliki, bukanlah rumah yang berukuran istana, bukan juga berukuran gubuk. Lingkungan fisik sangat menyenangkan dengan udara yang begitu segar untuk dihirup. Satu-satunya kekurangan dari rumah yang kami miliki ini adalah, orang-orang yang ada di sekitar perumahan kami ini. 

Aku tidak bisa menutup mata dan meniadakan kenyataan bahwa kehidupan perekonomian masyarakat yang ada di sekitar perumahan kami sangat jauh dari kata cukup. Tidak heran hal ini menimbulkan kecemburan sosial bagi masyarakat setempat. Kecemburuan mereka dituangkan dengan memalak kami para penghuni perumahan dengan sangat buas dan tamak.
Selama hampir satu tahun tinggal di perumahan ini, Josua dan aku sudah berulang kali dikecewakan oleh masyarakat setempat, mulai dari mereka yang berprofesi sebagai tukang kebun, tukang sampah, tukang ojek, pembantu, dan lain sebagainya. Hal ini membawa Josua dan aku ke kesimpulan untuk meminimalisir kontak dengan masyarakat setempat. Sebisa mungkin, apabila Josua dan aku membutuhkan bantuan, kami lebih memilih untuk merekrut mereka yang bukan masyarakat setempat.

Menurutku, adalah hal yang wajar penghuni perumahan memiliki perekonomian yang lebih baik karena kami bekerja keras untuk mendapatkannya. Bukan seperti mereka yang dari terbit matahari sampai tenggelamnya hanya bengong dan bersolek di rumah. Sungguh sangat tidak adil menurutku, mereka mengharapkan mendapatkan banyak uang hanya dengan melakukan pekerjaan ringan. Itupun kalau dikerjakan dengan benar. Dalam banyak situasi, mereka melakukannya hanya asal-asalan saja jauh dari standar yang telah disepakati.

Inilah salah satu dampak negatif dari kemalasan. Aku sangat prihatin menyaksikan fenomena ini. Begitu banyaknya masyarakat kita yang adalah pemalas akan tetapi memiliki hasrat yang besar utnuk mendapatkan uang banyak.
Apa yang terjadi di sekitar perumahan di mana Josua dan aku tinggal juga menjadi gambaran kasar kondisi msyarakat kita. Kita terlalu silau dengan kekayaan yang dimiliki oleh orang lain. Kita menutup mata dengan usaha yang telah mereka lakukan untuk mendapatkan kekayaan itu. Sampai saat ini, aku masih percaya bahwa mereka yang bukan pemalas akan selalu cukup dan kalau beruntung akan memiiliki kekayaan melimpah.

Aku sering sekali gregetan menyaksikan kehidupan masyarakat di mana aku tinggal. Kok bisa ya mereka bisa betah di rumah hanya dengan saling pandang-memandang? Kok bisa ya, otak mereka ga jalan untuk menghasilkan sesuatu? Kok bisa ya tubuh mereka tidak pegal tanpa aktivitas?
Kehadiran perumahan yang begitu banyak di sekitar pemukiman bukan menjadi cambuk buat mereka untuk berusaha lebih keras lagi di dalam menghasilkan sesuatu. Aku heran, bagaimana caranya otak mereka hanya bisa sampai untuk memalak kami yang tinggal di dalam perumahan?
Kami yang tinggal di perumahaan, harus bangun pagi-pagi, menghadapi kemacetan, pulang malam untuk bisa mendapatkan kehidupan yang nyaman. Sementara mereka? Mereka tidak melakukan apapun tapi mereka mengharapkan dapat upah yang besar. Logika darimanakah itu?

No comments: