Wednesday, 15 April 2015

EXODUS

Beberapa hari yang lalu suami, adik ipar, dan aku menonton film yang berjudul Exodus. Seperti judulnya, film ini menceritakan tentang perjalanan orang Israel yang dituntun oleh Tuhan melalui Musa untuk ke luar dari tanah Mesir dimana mereka menjadi budak. Secara umum, aku tidak setuju dengan bagaimana film itu dituangkan. Ada beberapa adegan yang menurutku tidak seperti yang ada di dalam Alkitab. Aku tidak tahu apa yang menjadi latar belakang dari sutradara film tersebut yang memodifikasi beberapa adegan di film itu dari teks aslinya (baca. Alkitab). Jujur, apabila aku memiliki anak kelak aku tidak akan mengizinkan mereka untuk menontonnya. Bukan karena film ini ajaran sesat atau sejenisnya, melainkan hanya karena  akan semakin sulit bagiku untuk menjelaskan kepada anak-anakku yang kemungkinan besar akan menanyakan mengapa adegan yang ada di dalam film itu tidak sesuai dengan apa yang dituliskan di dalam Alkitab.

Aku tidak akan membahas mengenai ketidaksejahteraan yang kualami ketika menonton film itu terkait dengan adegan yang telah dimofikasi dari Alkitab. Satu hal yang aku pelajari dari film itu adalah karakter-karakter yang dutunjukkan oleh setiap tokoh di dalam film itu dimana di dalam Alkitab hal itu tidak terpaparkan secara tertulis. Walau dalam hal pemeranan tokoh, menurutku para pemain belum bisa menjiwai perannya dengan maksimal. Mungkin efek membaca, dimana aku telah lebih dahulu mengenal para tokoh Alkitab itu jauh sebelum film ini ada sehingga aku berharap banyak dan merasa kecewa ketika apa yang telah terukir di otakku tidak sesuai dengan adegan di film ini.

Pembelajaran yang aku peroleh dari film ini adalah bahwa aku semakin memahami karakter Musa yang terlihat semakin nyata bagiku. Mungkin karena satu tahun terakhir ini aku berada dalam kondisi tertekan, jadi aku bisa merasakan apa yang terjadi pada Musa. Plus, aku yang memiliki latar belakang pendidikan psikologi membuatku semakin dibukakan dengan karakter dari Musa. Aku bisa memahami bagaimana depresinya Musa ketika mengetahui bahwa dia adalah keturunan budak (Israel), betapa kacaunya dan betapa terguncangnya dia ketika dia harus berdiri menentang Raja Firaun yang telah mengasihi dia selama 42 tahun hidupnya.
Aku membayangkan diriku di posisi Musa, bagaimana apabila aku di posisi itu? Aku dibesarkan penuh cinta oleh mereka yang adalah "lawan" dari kaumku? Dan demi darah yang mengalir di dalam tubuhku, aku harus menentang mereka yang telah mengasihiku selama 42 tahun hidupku.

Ini adalah perjalanan hidup yang tidak mudah menurutku. Karena adalah hal yang mustahil untuk membenci mereka yang telah memberikan limpahan kasih sayang selama 42 tahun! Berkaca dari perjalanan Musa, aku mendapatkan diriku bahwa hidup bersama Tuhan bukan hanya untuk mendapatkan hal-hal yang baik saja.
Selama 42 tahun, Musa diizinkan Tuhan untuk mendapatkan kasih sayang dan kelimpahan materi dari orang Mesir. Setelah itu, hidupnya diubahkan 180 derajat. Dimana Musa menjadi seorang buronan, kesulitan dalam memenuhi kebutuhan primer, tinggal sendirian di perbukitan sebelum akhirnya Tuhan menampakkan diri dan menyatakan maksudNya kepada Musa.

Seandainya Musa tidak menjadi buronan, seandaianya Musa  memilih untuk bunuh diri setelah dia membunuh prajurit Musa,mungkin nama Musa tidak akan masuk ke dalam Alkitab. Akan tetapi, yang terjadi adalah Musa bersedia taat dan diproses oleh Tuhan, di tengah-tengah rasa depresinya. Dan saat ini, itulah yang sedang kulakukan. Sama seperti Musa yang tidak mengerti maksud Tuhan, hanya percaya saja, seperti itulah aku saat ini. Di tengah-tengah depresi yang kualami, aku mau belajar taat dan fokus kepada Tuhan. aku memutuskan untuk tetap percaya kepadaNya. Aku semakin dikuatkan bahwa aku tidak sendirian, bahwa aku bukan manusia pertama yang mengalami depresi dengan rencana kehidupan yang Tuhan telah tuliskan.
Aku bukan hendak menyamakan posisiku dengan Musa, karena aku sungguh belum layak untuk sampai di posisi itu. Aku hanya mendapatkan pemahaman baru bahwa ketika kita memilih untuk bersedia diproses oleh Tuhan, maka percaya saja.

No comments: