Thursday, 21 May 2015

ANAK ≠ INVESTASI

Menjadi diri sendiri bukanlah hal yang mudah untuk dijalani oleh generasi muda di Indonesia saat ini. Tuntutan orang tua dan kontrol sosial adalah variabel yang menjadi hambatan utamanya. Ironisnya dengan alasan demi kebaikan, orang tua maupun lingkungan sosial membuat standar yang terlalu ideal dimana apabila ditanyakan secara jujur, standar itu tidak akan mungkin mampu untuk dicapai, bahkan oleh orang tua maupun masyarakat. Untuk menutupi kekurangan tersebut, orang tua dan masyarakat pun membela diri dengan pernyataan, “Setiap standar ataupun tuntutan yang diberlakukan oleh orang tua dan lingkungan sosial, semuanya itu untuk kebaikan dan karena  para orang tua gagal melakukannya maka dengan memberikan tuntutan kepada generasi selanjutnya menjadi solusi yang tepat, dengan harapan hal yang sama tidak terulang.” Hal lain yang dilakukan oleh orang tua di dalam menutupi kekurangannya adalah dengan memuji betapa luar biasanya mereka menjalani kehidupan mereka dulu dibandingkan dengan kehidupan anak-anak mereka sekarang (baca generasi muda). Apa yang dialami oleh generasi sekarang belum seberapa bila dibandingkan dengan apa yang telah mereka lalui, menurut mereka.
Sesuatu yang cukup membingungkan memang, dimana pada satu sisi, para generasi muda diminta untuk menjadi diri sendiri sementara di sisi yang lain, orang tua dan lingkungan sosial berusaha untuk membentuk pribadi setiap generasi muda tepat seperti yang mereka inginkan. Dimana  apa yang menjadi tuntutan dari orang tua tidak berbanding lurus dengan apa yang diharapkan oleh lingkungan sosial. Akhirnya terjadi kebingungan pada generasi muda. Terlalu banyak pihak yang harus disenangkan oleh generasi muda. Kondisi seperti inilah yang menjadikan banyak gerenasi muda di Indonesia berada pada kondisi kehilangan identitas. Dan tersesat di tengah-tengah perkembangan teknologi.
Keadaan semakin memburuk, ketika orang tua dan lingkungan sosial bukannya berusaha untuk memperbaiki kekurangan mereka sebagai suluh, melainkan menyalahkan dan merendahkan generasi muda. Tidak ada pengayoman apalagi keinginan untuk melakukan coaching kepada para generasi muda.

Sampai kapan kita para orang tua melulu menyalahkan dan merendahkan para generasi muda? Sampai kapan kita menutup mata, bahwa setiap perilaku dari generasi muda yang tidak berkenan di hadapan para generasi tua adalah karena kekurangan para orang tua, di dalam mencukupi apa yang menjadi kebutuhan mereka. Apabila kita memang peduli dengan kondisi bangsa ini, mari selamatkan bangsa ini dengan melahirkan dan membesarkan anak-anak yang bisa menjadi dirinya sendiri. Bukan menjadi anak-anak yang ada untuk memenuhi tuntutan orang tua dan juga lingkungan sosial.

No comments: