Saturday, 16 May 2015

Haruskah aku iri hati karena Tuhan murah hati?

Matius 20:1-16
20:1 "Adapun hal Kerajaan Sorga sama seperti seorang tuan rumah yang pagi-pagi benar keluar mencari pekerja-pekerja untuk kebun anggurnya.
20:2 Setelah ia sepakat dengan pekerja-pekerja itu mengenai upah sedinar sehari, ia menyuruh mereka ke kebun anggurnya.
20:3 Kira-kira pukul sembilan pagi ia keluar pula dan dilihatnya ada lagi orang-orang lain menganggur di pasar.
20:4 Katanya kepada mereka: Pergi jugalah kamu ke kebun anggurku dan apa yang pantas akan kuberikan kepadamu. Dan mereka pun pergi.
20:5 Kira-kira pukul dua belas dan pukul tiga petang ia keluar pula dan melakukan sama seperti tadi.
20:6 Kira-kira pukul lima petang ia keluar lagi dan mendapati orang-orang lain pula, lalu katanya kepada mereka: Mengapa kamu menganggur saja di sini sepanjang hari?
20:7 Kata mereka kepadanya: Karena tidak ada orang mengupah kami. Katanya kepada mereka: Pergi jugalah kamu ke kebun anggurku.
20:8 Ketika hari malam tuan itu berkata kepada mandurnya: Panggillah pekerja-pekerja itu dan bayarkan upah mereka, mulai dengan mereka yang masuk terakhir hingga mereka yang masuk terdahulu.
20:9 Maka datanglah mereka yang mulai bekerja kira-kira pukul lima dan mereka menerima masing-masing satu dinar.
20:10 Kemudian datanglah mereka yang masuk terdahulu, sangkanya akan mendapat lebih banyak, tetapi mereka pun menerima masing-masing satu dinar juga.
20:11 Ketika mereka menerimanya, mereka bersungut-sungut kepada tuan itu,
20:12 katanya: Mereka yang masuk terakhir ini hanya bekerja satu jam dan engkau menyamakan mereka dengan kami yang sehari suntuk bekerja berat dan menanggung panas terik matahari.
20:13 Tetapi tuan itu menjawab seorang dari mereka: Saudara, aku tidak berlaku tidak adil terhadap engkau. Bukankah kita telah sepakat sedinar sehari?
20:14 Ambillah bagianmu dan pergilah; aku mau memberikan kepada orang yang masuk terakhir ini sama seperti kepadamu.
20:15 Tidakkah aku bebas mempergunakan milikku menurut kehendak hatiku? Atau iri hatikah engkau, karena aku murah hati?
20:16 Demikianlah orang yang terakhir akan menjadi yang terdahulu dan yang terdahulu akan menjadi yang terakhir."

Setiap kali membaca dan mengingat ayat Alkitab ini, sampai detik ini aku masih belum bisa merasakan kedamaian, khususnya ketika aku memposisikan diriku menjadi salah satu pekerja yang datang pertama sekali. Sebagian dari diriku mengiyakan apa yang dipertanyakan di dalam cerita ini, "Atau iri hatikah engkau, karena aku murah hati?" (Matius 20:15).
Iya, aku iri hati kepada mereka yang Tuhan berikan berkat yang sama atau bahkan yang menurutku melebihi berkat yang kuterima dari Tuhan. Sementara aku telah melakukan hal-hal yang menurutku lebih banyak kepadaNya dibandingkan dengan mereka yang hanya bekerja satu jam, akan tetapi justru mereka mendapatkan berkat yang sama denganku, itu sungguh tidak adil.
Berulang kali aku mencoba memikirkan ayat ini. Sesungguhnya apakah yang ingin disampaikan oleh Tuhan melalui ayat ini. Akhirnya, dengan hikmat yang dari padaNya, aku mengerti apa yang ingin Tuhan sampaikan melalui ayat ini.
Tuhan adalah pemilik kehidupan, pemilik segala sesuatunya, termasuk aku. Jadi, apa pun yang kumiliki di dunia ini, itu adalah milik Tuhan. Oleh karena itu, aku tidak memiliki kuasa apapun atas apapun yang ada padaku, termasuk berkat yang akan kuterima. Kesimpulannya, setiap berkat yang kuterima, aku bisa bernafas, merasakan cuaca yang nyaman, sinar matahari yang cukup, memiliki suami yang begitu mencintaiku, pekerjaan yang mendukungku untuk bertumbuh,semuanya itu bukan karena kerja kerasku. Melainkan hanya karena kasih karunia Tuhan. Jikalau pun di beberapa moment aku memposisikan diriku menjadi pekerja yang datang pertama kali dan mendapatkan upah yang sama dengan pekerja yang datang terakhir, toh memang seperti itulah perjanjianku dengan Tuhan di awal.
Jadi, kalau saat ini aku hanya diberikan kesempatan untuk mengandung anak, merasakan proses persalinan, dan dampak dari proses persalinan itu (bentuk dan berat badan berubah), sementara yang lain diberikan kesempatan untuk merasakan lebih, haruskah aku iri hati karena Tuhan murah hati mereka?
Jikalau orang-orang di sekitarku bisa bermanja-manja dengan orang tua dan saudara-saudara mereka, sementara aku harus tegar dan mandiri, menyelesaikan segala perkara sendiri, haruskah aku iri hari karena Tuhan murah hati kepada mereka?


No comments: