Monday, 8 June 2015

Apakah aku telah menjadi orang yang bertanggung jawab

    Mengunjungi makam anak kami sekali dalam sebulan yaitu di minggu pertama akhir minggu masih menjadi kegiatan rutin kami (aku dan suami). Kami memilih minggu pertama tiap bulannya dikarenakan anak kami lahir dan meninggal di tanggal 4 September 2014. Oleh karena itu, kami selalu mengusahakan untuk datang di minggu pertama tiap bulannya. Tidak selalu tanggal 4, karena kondisi kami  tidak memungkinkan untuk selalu datang di tanggal itu.
Untuk memastikan kondisi makam anak kami selalu dalam keadaan baik, kami mengupah pengurus makam untuk selalu memperhatikan makamnya. Menyirami, memberi pupuk, dan menjaga agar tumbuhan liar tidak merusak rumput makam itu. Sesuai perjanjian, kami akan membayarkan Rp 50.000,00 per bulan untuk biaya pupuk dua kali sebulan dan perawatan minimal sekali sebulan.

    Kemarin, tanggal 6 Juni 2015, untuk kesekian kalinya kami datang untuk mengunjungi anak kami. Dan kesekian kali juga kami dikecewakan oleh pengurus makam yang tidak melakukan seperti yang sudah kami sepakati bersama. Selama ini, kami masih selalu mencoba untuk sabar dengan Bapak tersebut. Walaupun bulan lalu saya sudah sangat berniat untuk menggantinya. Akan tetapi suami saya tidak setuju dengan alasan tidak baik memecat orang, mari kita berikan kesempatan kepadanya untuk berubah. Setiap kali kami ke sana kondisi makam anak kami sangat jauh dari baik. Banyak tumbuhan liar di sekitar makam anak kami. Ketika suamiku mempertanyakan hal itu kepada Bapak pengurus makam, dia mengatakan bahwa karena musim hujan, jadi tanaman liar cepat tumbuh. Menurut pengakuannya, dia rutin datang untuk merawat makam itu dan bahkan beberapa hari lalu datang untuk memotong tanaman liar, menyiram rumput, dan memberi pupuk. Aku ingin sekali menyangkal pernyataannya tersebut karena faktanya tumbuhan liar itu tumbuh bukan dalam waktu beberapa hari melainkan telah satu bulan! Bagaimana mungkin kami begitu bodohnya tidak mengetahui perkembangan tanaman liar yang tumbuh dalam beberapa hari dan tanaman liar yang tumbuh dalam sebulan. Akan tetapi suamiku melarangku untuk mengatakan apapun. Suamiku memintaku untuk bersikap baik kepada pengurus makam itu dengan alasan itu adalah pemakaman, tidak baik ribut-ribut di pemakaman.
Yang paling menjengkelkan adalah ketika Bapak pengurus makam itu sama sekali tidak merasa bersalah bahkan mengatakan bahwa bayaran yang kami berikan terlalu sedikit dan apabila ingin datang, sebaiknya menghubunginya lebih dahulu minimal sehari sebelum kedatangan kami.  Dia bilang kalau ingin makamnya lebih intens diperhatikan harus dibayar Rp 100.000,00 bukan Rp 50.000,00 seperti yang telah kami bayarkan selama ini. Hal ini membuatku semakin kesal kepada Bapak tersebut. Kalau mau minta tambah seharusnya berikan performa yang baik dulu. Selain itu, mengapa tidak mengatakan sejak awal kalau biaya perawatan Rp 100.000,00.

Dan mengenai pernyataannya yang mengatakan bahwa kami harus memberitahukan dia terlebih dahulu, minimal sehari sebelum kedatang kami. Seharusnya kalau dia cukup pintar, dia bisa mempelajari pola kedatangan kami, yaitu setiap bulan di akhir minggu pertama. Dan tentu saja kami tidak pernah mau memberitahukan kedatangan kami kepadanya karena kami ingin memastikan bahwa makam anak kami dirawat minimal sekali seminggu seperti perjanjian di awal. Mengenai jumlah bayaran yang kami bayarkan, akhirnya kami menanyakan kepada pengurus makam yang lain yang kebetulan ada di sekitar makam anak kami. Dan ternyata dari dia kami tahu bahwa bayaran yang telah kami berikan kepadanya sudah lebih dari cukup. Pengurus makam yang lain itu mengatakan kalau dia dibayar Rp 30.000,00 per bulan, sudah termasuk untuk bayar pupuk, dua kali dalam sebulan.

    Kesabaranku  habis sudah. Kami merasa sangat tidak dihargai. Kami rutin memberikan uang agar makam anak kami dirapikan secara rutin dan kami yang terima adalah :







Rumput makam anak kami hangus, kemungkinan karena tidak rutin disiram. Aku dan suami sangat sedih melihat hal itu. Hangusnya rumput di makam anak kami menyebabkan rumputnya banyak yang mati hal ini seolah-olah anak kami meninggal dua kali. Tanaman-tanaman liar juga banyak tumbuh di sekitarnya. Kami semakin kecewa karena di sekitar makam anak kami, hanya makam anak kami yang mengalami kondisi demikian. Sementara makam yang lain tidaka ada yang rumputnya gosong karena para pengurus makam mereka rajin melakukan tugasnya.

Saat itu, aku dan suamiku langsung mengambil keputusan untuk mencari pengurus makam ke yang lain. Dan Puji Tuhan, kami mendapatkannya. Walaupun pengurus makam yang baru kami pekerjakan ini belum terbukti kinerjanya, tapi kami lega setidaknya dia berusaha memberikan solusi agar rumput makam anak kami yang telah hangus bisa diperbaiki kembali. Kami hanya berharap semoga pengurus makam yang baru ini bekerja lebih baik. Sebelum mempekerjakan dia, kami menanyakan bayarannya dan dia meminta untuk diupah Rp 50.000,00 per bulan sudah termasuk pemberian pupuk sebanyak dua kali dalam sebulan. Dan kami pun setuju.

Meskipun si pengurus makam yang baru menyarankankan agar kami memberitahukan kepada pengurus makam yang lama mengenai perpindahan tanggung jawab ini, suamiku mengatakan tidak akan menghubunginya. Suamiku sudah sangat kecewa sekali kepadanya, suami bilang untuk apa memberitahukan dia, dia saja tidak menghargai kita.

Dari kejadian ini, aku teringat bahwa ini bukan kali pertama kami tidak dihargai oleh mereka yang kami upah. Kami juga pernah mengalami hal yang sama dengan pembantu (orang yang kami minta untuk mencuci dan menyetrika pakaian kami). Dimana dia meminta bayaran Rp 400.000 per bulan, akan tetapi dengan alasan agar dia bekerja dengan baik kami memberikannya Rp 500.000,00 per bulan, yang ada dia semakin melonjak dan menyalahartikan kebaikan kami. Semakin kami baik kepada mereka, semakin mereka menyalahartikan kebaikan kami. Aku kecewa sekali mengapa ada orang seperti itu di dunia ini. Menyalahartikan kebaikan kami. Haruskah kami memang bersikap tidak ada rasa kasihan agar kami lebih dihargai? Entahlah, tapi semakin ke sini, aku semakin menyadari betapa banyaknya dari kita yang tidak bertanggung jawab terhadap peran kita. Bukan hanya petugas makam, tapi juga yang lainnya.

Aku mendapatkan pelajaran dari pengalamanku ini, apakah aku telah menjadi orang yang bertanggung jawab?




No comments: