Friday, 5 June 2015

Ketika gajiku lebih besar dari gaji suamiku

Aku kira kehidupan yang akan kulalui akan semakin mulus. Cuaca yang kujalani akan menjadi cuaca yang menghangatkan badan dan menyejukkan hatiku. Akan tetapi, ternyata tidak, semakin ke sini, semakin berjalannya hari, kehidupan yang kujalani semakin memberatkan.

Dan aku semakin merasa sendirian. Aku sangat kecewa sekali dengan suamiku yang terlalu sangat bergantung kepada dirinya sendiri. Semula, aku memang sudah menduganya kalau dia bukanlah orang yang akan selalu mengandalkan Tuhan di dalam hidupnya. Aku kira, perlahan-lahan aku akan bisa membawa dia untuk menyadari bahwa kehidupan ini berada di bawah kendali Tuhan.

Aku semakin jatuh, ketika anak kami meninggal. Sahabat-sahabatku menghilang. Teman-temanku sibuk dengan berbagai kegiatan mereka. Mereka hanya datang kalau mereka membutuhkan bantuanku. Tetapi untuk menawarkan hati yang berdoa untukku, tidak ada. Padahal, hanya itu yang kuminta, agar mereka bersedia berdoa untukku. Demikian halnya dengan gereja dimana kami sudah terdaftar, mereka hanya mengharapkan uang saja dari kami, tanpa peduli dengan kehidupan rohaniku dan suami.

Aku benar-benar sendirian, semuanya menghimpitku dengan sangat ketat. Semunya semakin terasa berat, karena suamiku tidak bisa kuandalkan untuk bersama-sama berlutut dan memohon kepada Tuhan. Anak kami dipanggil Tuhan, kondisi keuangan kami yang berada di ujung tanduk, adaptasi dengan kantor baru di kantor, itu semuanya semakin berat untuk kujalani ketika suamiku tidak bisa kuandalkan untuk bersama-sama memohon kekuatan dari Tuhan. Di dalam kondisi aku yang tertatih-tatih, aku juga harus menopang suamiku.

Terkadang, aku merasa bahwa mungkinkah penghormatanku kepadanya dan betapa aku memuji setiap kebaikan-kebaikan kecil yang dia lakukan, membuatnya semakin besar kepala sehingga membuat dia semakin berbangga diri dan tidak membutuhkan Tuhan lagi?
Menjadi Pegawai Negeri Sipil, dengan uang yang banyak membuat dia menjadi orang yang sangat mengandalkan uang. Dan ketika dalam kondisi saat ini, dimana dia sedang tugas belajar dan uang yang dulunya mengalir dengan cukup baik sekarang tersumbat, lalu dia menyalahkan Tuhan. Padahal ketika dia mendapatkan hal-hal yang baik menurut dia, dia tidak sekalipun bersuka cita dengan sangat luar biasa kepada Tuhan.

Aku sungguh sangat frustasi dengan sikap dia kepada Tuhan. Berulang kali aku memohon kepada Tuhan, agar Tuhan pulihkan dia. Aku sangat takut sekali, kalau Tuhan sampai marah kepada dia.
Ketika anak kami meninggal, tak henti-hentinya aku memohon kepada Tuhan agar dia mengampuni dosa-dosa kami. Aku tahu kalau selama ini kami telah semakin jauh dari Tuhan, kami telah menaruh harapan kami kepada apa yang kami miliki. Kami nyaris tidak pernah meletakkan Tuhan di atas segala sesuatu yang kami miliki.

Bagaimana ini Tuhan?
Apa yang harus kulakukan?

Tuhan sumber cinta kasih, aku tidak mau munafik bahwa saat ini sesungguhnya aku tidak mengerti apa rencana yang telah dan yang akan Tuhan berikan kepadaku dan suamiku. Bila kumelihat ke belakang, ada begitu banyak air mata yang menemaniku. Ajari aku Tuhan untuk terus mengandalkan Engkau. Walaupun saat ini, aku tidak mendapatkan dukungan dari manusia manapun di dunia ini, tapi sepanjang Engkau bersamaku, aku tidak membutuhkan yang lain.
Aku bersyukur Tuhan untuk setiap air mata, ketengangan hidup, rasa frustasi, dan tuntutan dari berbagai pihak yang Tuhan izinkan untuk kujalani.

Selama empat tahun kuliah dengan penuh kekurangan secara materi dan dukungan sosial. Akan tetapi, Tuhan hadir mencukupi segala kebutuhanku. Aku percaya Tuhan yang sama, yang ada bersamaku sejak aku meninggalkan rumah orang tuaku, Tuhan yang sama, yang membuatku tertawa melihat mereka yang bahagia bersama bayi-bayi mereka, sementara bayiku diambil Tuhan, Tuhan yang sama, dimana setelah empat tahun aku ditindas di dalam perusahaan yang hanya mementingkan tenaga, otak, dan waktuku, menempatkanku  di organisasi yang begitu menerimaku dengan sangat baik, Tuhan yang sama juga yang akan memberkatiku dalam melewati masa-masa sulit ini.

Aku rindu, suamiku juga bisa memberikan pengakuan ini. Aku rindu suamiku juga bisa merasakan suka cita bersama Tuhan bahkan ketika seolah-olah tidak ada alasan untuk bersuka cita. Kerinduanku Tuhan, agar suamiku juga dapat mempercayaiMu dan kami bisa bersama-sama memujiMu.

BersamaMu Tuhan, kulewati air mata, duka cita, kesepian. BersamaMu Tuhan, kulewati suka cita dan alasan untuk aku hidup, yaitu untuk menjadi penyembahMu.



5 jumi 2015
11.30 pm

Ketika gajiku lebih besar dari gaji suamiku.

No comments: